Archive for the 'Cerpen' Category

Anak Macan Bu Lastri Mahal Sekali

Apa parameter kekayaan seseorang? Rumah, mobil, uang, tanah, saham, kuda? Nyaris tak pernah ada pakem yang setepat-tepatnya untuk mengukurnya. Orang yang terbiasa naik angkot melihat Avanza seharga Rp150 juta rasanya sudah mewah sekali. Orang yang biasa naik Avanza melihat BMW 750Li seharga Rp2,5 miliar rasanya sudah selangit sekali. Orang yang biasa naik BMW 750Li melihat Bentley Pinnacle 728 Limousine seharga Rp16,5 miliar bisa berdecak berkali-kali. Namun tetap: sulit mengukur bagaimana seseorang disebut kaya. Di atas langit tetap ada langit bukan…

Begitu pun dengan ragam bendawi lainnya di muka bumi ini. Orang boleh bebas menentukan bagaimana ia merasa kaya atau tidak. Kaya materi, kaya hati, kaya ilmu, atau kaya apa pun yang dapat menentukan seseorang merasa hidup dan mengisi kehidupan. Demikian pula dengan Bu Lastri.

Bu Lastri, dalam pandangan umum ia mungkin tampak makmur. Ia punya mobil mewah, rumah megah seharga Rp60 miliar, beberapa tempat penjualan bensin 2 taks di pinggir jalan desa, serta uang bertumpuk-tumpuk banyaknya. Tapi dengan itu semua Bu Lastri tetap (ngotot) ingin dianggap sebagai kaum cilik. Yaitu orang yang selalu (merasa) berada di garda terdepan rakyat kebanyakan. Sulit memang untuk mengamini. Tapi itulah Bu Lastri.

Namun itu semua belum memuaskan Bu Lastri. Ia masih ingin mencalonkan diri lagi sebagai Lurah Desa Wingko. Dulu ia memang pernah jadi lurah. Tapi bukan lurah yang dipilih warga desa. Melainkan lurah yang naik jabatan setelah Pak Lurah Desa Wingko turun dari jabatan lurah. Maka sebagai wakil lurah, Bu Lastri naik panggung menggantikan Pak Lurah. Jadinya masa jabatannya memang sebentar. Tapi yang sebentar itu justru sempat membuat kocar-kacir usaha di Desa Wingko. Banyak aset di Desa Wingko yang dibeli desa lain. Privatisasi bahasa kerennya.

Continue Reading »

Sukimin Ingin Jadi Lurah

Entah kena sambet setan mana, tiba-tiba Sukimin ingin jadi lurah. Ya, lurah. Ia ingin jadi pemimpin di desa Wingko yang bukan kebetulan akan melaksanakan suksesi. Masalahnya bukan Sukimin tak pantas. Tapi setelah dipecat sebagai koordinator salah satu divisi hansip karena terlibat sederet kasus, tanpa tersentuh pengadilan, Sukimin pergi dari desa. Kabar burung mendesuskan ia hijrah ke ibukota. Katanya jadi pengusaha di sana.

Setelah sekian lama menghilang, ketika Desa Wingko hendak melakukan pergantian pemimpin, Sukimin tiba-tiba nongol, jadi Ketua Perhimpunan Pedagang Beras, me-recovery image sebagai penasehat, pelindung,serta pengayom banyak organisasi di desa. Bergepok uang ia gelontorkan untuk memuluskan jalannya. Dan orang seperti lupa atas apa yang pernah ia lakukan di masa lalu terhadap para pemuda desa.

Dulu Sukimin memang ganteng, badannya tegap, sikapnya tegas, namun tatapan matanya lembut. Sebuah tatapan yang mampu melumerkan hati banyak perempuan desa. Tapi Sukimin bukan tipikal play boy apalagi Don Juan. Ia tak begitu suka memanfaatkan ketampanan atau memainkan perasaan perempuan. Satu-satunya gadis yang mampu membuatnya jatuh hati adalah anak lurah zaman ia masih lagi menjabat sebagai koordinator salah satu pasukan keamanan desa.

Maka sejak Sukimin menikahi anak lurah, karirnya dengan cepat sekali melesat. Ia meninggalkan banyak teman-teman hansip seangkatannya. Namun di luar itu, Sukimin memang memiliki segudang kecakapan. Otaknya cerdas. Ia gesit bergerak seperti macan tutul ketika harus menangkap maling. Tak aneh kalau ia memang tampak cemerlang di antara teman-teman sebaya.

Continue Reading »

Beker

Dalang: Ki Daniel Mahendra

Tak pernah terbersit sebelumnya dalam pikiran Sapar Sapari bahwa kini ia betul-betul jengkel pada beker. Ibarat muak, eneknya pada beker sudah sampai ke ubun-ubun. Tinur Tinuri, istrinya, sampai tak habis pikir, mengapa suaminya jadi begitu benci pada beker. Apa ada yang salah pada beker?

Saking jengkelnya, Sapar Sapari sampai mencari di berbagai ensiklopedia, buku pintar, hingga googling di internet: gerangan siapa penemu beker! Tetap tak ketemu jua.

“Harus kutemukan siapa penemu beker, Mah!” tukas Sapar Sapari pada istrinya di malam sebelum tidur.
“Buat apa sih, Pah? Kok kurang kerjaan. Memangnya kalo sudah tau siapa penemunya, mau diapakan?”
“Beker itu benda yang paling tidak menyehatkan kualitas hidup manusia, Mah. Mestinya orang itu bisa bangun dari tidur dengan sehat. Dengan tenang. Tapi sejak ada beker, hidup manusia jadi terpola, terkontrol.”
“Ya ampun, Pah… kok malah diseriusi.”
“Lho, ya harus, Mah. Bayangkan seratus sampai dua ratus tahun dari sekarang, gimana kualitas hidup manusia kalau setiap pagi, sedang enak-enaknya tidur, tiba-tiba; RRRRIIIIINGGGGGG!!!! Apa sehat itu?”
“Ah, nggak tau, Pah ah. Mamah ngantuk. Jangan lupa pasang bekernya, Pah. Nanti kesiangan lagi.”
Dalam hati Sapar Sapari menggerutu: Beker lagi! Beker lagi!

Continue Reading »

Pradnya Putri Sesiapa

Cinta hanya dapat tumbuh dalam kebebasan. Orang yang sungguh-sungguh mencintai akan mengusahakan kebaikan orang yang dicintai. Untuk mengusahakan itu, yang utama adalah memberikan kebebasan bagi orang yang dicintai (Anthony de Mello).

Setiap bu guru membacakan daftar hadir di depan kelas, ia selalu mengernyitkan dahi ketika tiba untuk menyebutkan nama Pradnya. Ia selau bingung antara menggunakan intonasi bertanya apakah Pradnya hadir atau intonasi bertanya Pradnya itu anak siapa?

“Pradnya Putri Sesiapa…”
“Saya, Bu…” jawab Pradnya lantang sembari mengangkat tangan dari bangku kelas 1 SD.

Entah bagaimana awalnya, mama Pradnya memberi nama seperti itu: Pradnya Putri Sesiapa.

Setiap pulang dari sekolah, Pradnya berlari-lari menubruk mamanya, dan bertanya:
“Mama, Pradnya putri siapa?”

Continue Reading »

Next Page »