Archive for the 'Editologi' Category

Editor Sayang, Editor Malang

(Dari Harry Potter, Ayat-ayat Cinta, hingga Laskar Pelangi)

-sebuah kado kecil untuk hari ulang tahun Ibu Enny-

Hari Minggu pagi lalu aku sarapan di tempat tidur. Bukan sarapan dalam arti sebenarnya. Tapi lebih pada sarapan berupa obrolan akrab dengan bu Enny. Hampir satu jam kami berbincang di telpon soal blog, bank, manajemen keuangan (bayangin!), keluarga, suaminya, anak-anaknya, pekerjaan, pernikahan, pasangan hidup (aih!), sampai editor. Editor? Ya.

Suatu saat Bu Enny ingin bertemu denganku untuk bincang-bincang soal editor dan penulisan, tukasnya. Tiba-tiba, saat masih lagi berbincang dengan bu Enny, aku teringat tentang satu tema yang sudah hendak aku tulis. Tentang peran editor itu sendiri. Awalnya berangkat dari obrol-obrol santai dengan Pak Bambang Trim, Vice President Penerbit Salamadani, dan beberapa teman di Mie Aceh Buah Batu Bandung di satu sore yang cerah.

Awalnya kita sedang ngobrol santai tentang film Laskar Pelangi. Tiba-tiba obrolan berbelok tentang buku Laskar Pelangi. Berkembang menjadi siapa editor-editor penemu naskah Laskar Pelangi, Ayat-ayat Cinta, dan Harry Potter. Bagaimana peran editor dalam hal ini. Setelah kurangkum, dan kususun di sana sini, maka beginilah obrolan ringan tersebut:

Saat buku laris manis, penulis atau pengaranglah yang dielu-elukan dan memperoleh segudang penghargaan. Saat buku jeblok di pasar atau mengandung kesalahan maka orang yang kali pertama pantas dicari adalah editor!

Continue Reading »

Tips Mengikuti Seleksi Editor

Memang sudah musimnya editor lagi banyak dicari karena pertumbuhan penerbit sedang baik. Makhluk bernama editor menjadi sebuah kebutuhan karena diperlukan untuk mendorong sukses sebuah buku. Jika kebetulan Anda berminat menjadi editor, Anda memang tidak bisa sim salabim dalam satu malam seolah pantas menjadi editor. Namun, ada dasar-dasar yang bisa menjadi bekal Anda untuk dapat lolos dalam seleksi editor.

  1. Kegilaan atau minat baca Anda yang di atas rata-rata akan sangat diperhitungkan. Namun, jangan lupa Anda paling tidak bisa menyebutkan buku-buku apa saja yang telah Anda baca dalam tiga bulan terakhir. Lebih baik lagi jika Anda bisa menyebutkan judul, penulis, dan penerbitnya.
  2. Kemampuan Anda menulis menjadi nilai tambah dan jangan pernah melamar kalau Anda tidak bisa menulis sama sekali. Berikan portofolio karya tulis Anda yang sudah pernah dipublikasikan.
  3. Wawasan Anda tentang perbukuan sangat dibutuhkan. Untuk itu, cepat-cepatlah cari majalah Matabaca, Bukune, di Gramedia. Atau Anda juga bisa membuka website Ruang Baca Tempo di internet.
  4. Jadilah anggota milist perbukuan yang populer, seperti pasarbuku@yahoogroups.com dan lain-lain.
  5. Kuasai penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Mulai dengan membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia dan Tesaurus Indonesia.
  6. Baca buku-buku yang berkenaan dengan dunia tulis-menulis serta dunia perbukuan.
  7. Kunjungi toko buku besar semacam Gramedia, Gunung Agung dan catatlah beberapa buku-buku best seller di rak pajang agar Anda punya bahan untuk wawancara.
  8. Kuasai penggunaan tanda-tanda koreksi standar. Anda bisa mendapatkannya di buku-buku penerbitan ataupun mencari di internet dalam tajuk correction mark atau tanda-tanda koreksi.

Akhirnya, selamat mengikuti tes. Sebaiknya memang Anda bisa mengikuti beberapa kursus editing yang kini juga banyak diselenggarakan.

7 Kriteria Naskah Buku Baik

Seorang editor mesti jeli ketika menghadapi sebuah naskah. Untuk melihat bernilai tidaknya sebuah naskah, setidaknya ada 7 kriteria naskah buku yang dianggap baik:

  1. Naskah benar-benah mengandung ide orisinal, mutakhir (terkini), atau kontroversial yang diprediksi akan diperlukan atau menimbulkan antusias banyak orang.
  2. Naskah benar-benar bisa digarap dengan kemampuan, keahlian, serta wawasan yang dimiliki dan dikuasai penulis.
  3. Naskah dilengkapi dengan pengayaan (enrichment) dari berbagai sumber terpercaya, termasuk memasukkan pengalaman orang lain. Salah satu indikator buku berbobot memang dapat dilihat dari seberapa banyak referensi yang digunakan oleh pengarang/penulis dalam bukunya.
  4. Naskah isinya harus mudah dijual (saleable) karena dibutuhkan banyak orang sehingga investasi yang dikeluarkan dapat tertutupi.
  5. Naskah diposisikan lebih unggul daripada buku sejenis lain yang sudah lebih dulu terbit. Untuk itu, penulis/penerbit akan melakukan riset kompetitor (pesaing) untuk buku tersebut.
  6. Naskah ditulis dengan gaya penulisan yang tepat. Penulis/pengarang bisa menggunakan gaya-gaya revolusioner dalam menulis seperti yang dilakukan oleh Robert Kiyosaki (Rich Dad Poor Dad) atau Ken Blancard bersama Spencer Johnson (One Minute Manager) yang menulis buku manajemen dengan gaya bercerita seperti cerita pendek.
  7. Naskah harus terprediksi jelas siapa pembaca sasarannya. Semakin jelas pembaca sasaran yang dituju, akan semakin menggaet daya jual buku. Pembaca sasaran dapat dibagi atas: 1) jenis kelamin (gender); 2) tingkat usia (anak, remaja, dewasa, orang tua); 3) profesi (dokter, insinyur, seniman dsb.); 4) pendidikan (SD, SMP, SMA, mahasiswa, sarjana, pascasarjana); 5) kelas sosial (bawah, menengah, atas).

5 Keputusan Editing

Dalam hal editing naskah, editor secara umum melakukan lima keputusan editing sebagai berikut:

  1. pengabaian yaitu membiarkan bagian naskah apa adanya karena sudah baik dan benar;
  2. perbaikan yaitu menyesuaikan bagian naskah dengan kaidah bahasa yang berlaku atau gaya selingkung penerbitan;
  3. pengubahan yaitu melakukan perubahan bagian naskah dalam hal kalimat rancu atau bertele-tele, penempatan paragraf ataupun struktur bab;
  4. penghilangan yaitu menghilangkan bagian teks karena memang tidak diperlukan, mengepasan halaman (kelipatan 8 karena jumlah halaman buku habis dibagi 8), atau demi efisiensi halaman;
  5. penambahan yaitu menambahkan bagian naskah karena dianggap penting, pengepasan, atau demi melengkapi substansi naskah.

Continue Reading »

Next Page »