Archive for the 'Nukilan' Category

Epitaph (45-Tamat)

Bab 10

Sebelum Epilog

         

Senja masih memantulkan sinarnya yang misterius. Tanpa matahari, tanpa garis langit, tanpa awan yang menggelumbang. Hanya angin sore yang berkesiur mengirimkan sekabar kegetiran pada suasana pekuburan yang mulai senyap.

 

Aku masih berdiri di bawah sebatang beringin tua yang umurnya telah enggan berkembang lagi. Memandangi sebuah makam yang tergolek kesepian. Makam seorang gadis. Di kanan kiri makam berkeramik hitam itu mulai digodai dengan rumput-rumput liar yang mulai mencari perhatian. Seperti pada umumnya nisan, selalu memuat keterangan berupa nama, tempat tanggal lahir, serta tempat tanggal wafat. Namun nisan di hadapanku berpatrikan keterangan waktu yang tak lazim:

 

Laras Saraswati

Lahir: 01 Oktober 1972

Wafat: 22 Agustus 1994

Dimakamkan: 8 April 1996 

Aku terbelalak sejenak. Aku meraba nisan itu. Jadi semua ini benar? Jadi apa yang ditulis Haikal bukan sekadar cerita fantasi? Bukan sekadar khayali? Bukan sekadar imajinasi seseorang? Semua cerita ini sungguhan terjadi?

Continue Reading »

Epitaph (44)

9

Epitaph[47]

 

Sirine ambulan meraung-raung memasuki komplek perumahan Laras di Bandung bagian tenggara. Beberapa orang di rumah Laras yang mendengar raungan itu sontak berdiri dan mengabari atas kedatangan rombongan.

 

Di depan rumah Laras sendiri sudah dipasang tenda meneduhi jalan dengan kursi-kursi lipat untuk tetamu tersebar di bawahnya. Para tetangga, kawan Arman, kawan Ria, sanak saudara Laras serta beberapa kawanku tampak sudah berkerumun di sana.

 

Maka berhentilah ambulan tepat di depan pagar rumah Laras. Sirine masih juga meraung-raung. Bapak Laras turun. Humam segera membuka pintu belakang ambulan. Beberapa orang yang berdiri menyongsong di belakang ambulan telah siap dengan posisi tangan seolah hendak mengangkat peti mati. Namun ketika pintu belakang terbuka, mereka terkesiap, ternganga: karena tak menemukan peti mati yang mereka bayangkan!

 

“Lho, mana petinya?!” tanya mereka. 

Tak lama aku turun, membopong sebuah tas kecil berwarna hitam: berisi kerangka Laras. Semua yang melihat hanya tercengang. Belum tau apa musti dikata.

Continue Reading »

Epitaph (43)

Keluar rumah sakit pukul 01.00 dini hari. Mas Oki langsung menelpon bapak Laras di Bandung. Mengabarkan: hasil pembicaraan dengan pihak Kodam telah menghasilkan kesepakatan bahwa kerangka tersebut boleh dibawa pulang. Hanya untuk membawanya dibutuhkan surat izin jalan yang hanya bisa didapatkan dari dokter forensik.

 

Mas Oki meminta pada bapak Laras untuk membuat ‘surat kuasa’ atas kerangka Laras yang nantinya dikuasakan pada mas Oki guna membawanya. Setelah menelpon bapak Laras, mas Oki mengontak keluarga pak Birhi yang sudah berkumpul di Medan. Mengabarkan hal yang sama tanpa musti dilengkapi surat kuasa. 

Esok siangnya pukul 11.30 mas Oki kembali menelpon bapak Laras di Bandung, mengabarkan: saat ini ia sedang berada di rumah dokter Edi. Meminta bapak Laras agar segera mengirim surat kuasa tersebut pada alamat SATGAS SAR Pemda TK I Sumatra Utara dengan alamat Jalan Sei Belutu Medan.

Continue Reading »

Epitaph (42)

8

Negoisasi

 

SIAPA YANG bakal mengira jika prosesnya begitu menggila. Dua hari kami yang di Jakarta terkatung-katung tanpa keputusan jelas. Yang kami ketahui hanya kabar yang sambung-menyambung bahwa negoisasi sedang dilakukan.

 

Mas Oki dan kawannya memang telah bertemu dengan pihak Kodam I Bukit Barisan. Tetapi pihak Angkatan Darat tetap bertahan bahwa helikopter yang telah mereka evakuasi tak terdapat penumpang di dalamnya. Mereka memang mengakui bahwa helikopter yang diketemukan di Gunung Sibayak adalah milik Angkatan Darat. Namun tak membawa mahasiswa IKJ seperti yang tersiarkan media massa. Pantas saja, ketika pencarian dua tahun lalu, tim tentara tidak mau bergabung dengan tim SAR swasta yang terdiri dari pecinta alam mahasiswa. Mereka bersikukuh helikopternya yang hilang jatuh di sekitar lokasi rutin latihan mereka.

 

Kami tetap terkatung-katung dan hampir frustasi karena tidak adanya kejelasan kabar. Padahal, helikopter jelas-jelas sudah lagi ditemukan. Banyak media massa pun menyiarkan identitas penumpang. Apa sulitnya. Kami dari pihak keluarga toh tidak menuntut apa-apa. Tidak terniat menjadikan ini sebagai kasus. Biar itu jadi urusan intern Angkatan Darat. Tapi ini soal manusia.

 

Dan yang tak kalah dahsyat, saat kami yang di Jakarta maupun pihak keluarga belum lagi mendapat kepastian apakah kerangka Laras, Tedi, dan pak Birhi dapat dibawa pulang, kerangka pilot serta co-pilot helikopter itu justru telah diterbangkan dan dimakamkan pada keluarga masing-masing di Jawa. Hebat benar!

 

* * *

Continue Reading »

Next Page »