Nina Tak Butuh Diancam
You may give them your love but not your thoughts. For they have their own thoughts. You may house their bodies but not their souls, For their souls dwell in the house of tomorrow, which you cannot visit, not even in your dreams (The Prophet, Children, Kahlil Gibran)
Pernahkah kalian menyadari bahwa sejak kecil ada sebagian besar anak di Indonesia yang hidup dan tumbuh di bawah ancaman orangtuanya? Para orangtua tersebut sama sekali tak menyadari bahwa apa yang telah mereka lakukan adalah salah sebuah bentuk ancaman yang halus dan sangat tidak kentara.
Barangkali pada era sekarang hal itu sudah mulai jarang terjadi. Itu terjadi pada era orangtua zaman dulu ketika hendak menidurkan anaknya. Namun sejauh orang masih menyanyikan lagu Nina Bobo, maka ancaman halus nan lembut tersebut masih dilanggengkan. Coba simak lirik lagu Nina Bobo di bawah ini:
Nina bobo, oh Nina bobo
Kalau tidak bobo, digigit nyamuk
Hanya sepuluh kata. Sepuluh kata! Tak lebih. Tapi cobalah simak 3 kata pada kalimat kedua: kalau tidak bobo. Sadarkah kita bahwa 3 kata itu mengandung ancaman? Kalau tidak bobo. Dengan diikuti kata selanjutnya berupa hasil dari ancamannya: digigit nyamuk.
Adalah wajar jika sebagian dari kalian akan mentertawakan analisa serampangan semacam itu. Dan adalah wajar jika lantas berkata: “Ah, itu kan hanya lagu. Ada-ada saja.” Baik. Tapi hal sederhana namun mematikan seperti itulah yang justru sungguh sangat berbahaya. Karena itu dinyanyikan terus-menerus setiap hari, ketika hendak tidur, dan masuk ke dalam alam bawah sadar si anak. Sekali lagi: alam bawah sadar anak kecil. Maka ancaman tersebut akan lestari secara permanen di otaknya.

