Archive for the 'Film' Category

Anda Bakal Ada di JiFFest?

Sudah satu dekade ajang Jakarta International Film Festival digelar. Dimulai sejak tahun 1999 melibatkan film besutan sineas-sineas nasional maupun internasional. Dan dalam sepuluh tahun terakhir ini bolehlah jika kita mulai tersenyum melihat progres film nasional setelah bangun dari “tidur sayup-sayupnya”.

Dalam sepuluh tahun terakhir, tercatat lebih dari 80 film panjang Indonesia digarap dan diputar di bioskop-bioskop layar lebar. Sebagian menyedot angka jutaan penonton. Sebagian mungkin hanya bertahan beberapa hari masa putar saja. Tapi rasanya tetap patut kita tersenyum, meski begitu banyak film hantu diproduksi, tapi dunia perfilman Indonesia mulai tampak binarnya kembali.

Tidak, tidak. Aku tidak sedang ingin membahas soal perkembangan film Indonesia lengkap dengan recovery image-nya. Aku hanya ingin mencuri-curi waktu apakah mungkin kabur ke Jakarta dan menyaksikan beberapa film yang sudah kuincar di JiFFest ke-10 ini.

Continue Reading »

Film yang Kalian Tonton Berulang Kali

I need to believe that something extraordinary is possible…

(ucapan Alicia pada John Nash dalam film A Beautiful Mind, 2001)

Adakah film yang kalian tonton sampai berulang-ulang namun tak pernah bosan? Tentu ada. Entah apa alasannya, pasti film itu punya keterikatan secara emosi yang kuat dengan diri kita. Melekat, membekas, dan selalu memanggil-manggil kita untuk kembali dan kembali lagi menonton.

A Beautiful Mind adalah salah sebuah film yang aku sendiri sudah tak mampu lagi menghitung berapa kali aku menyaksikan film yang menyabet 4 Oscar itu. Mungkin sudah ratusan. Mungkin lebih. Sampai aku begitu hapal adegan serta dialog setiap detiknya. Aku sudah tidak lagi tahu: filmnya yang gila atau akunya yang mendadak schizophernia. Haha!

Selalu ada hal baru yang kutemukan tiap kali mengulang akting Russel Crowe dan Jennifer Connelly dalam film besutan sutradara Ron Howard itu. Selaksa melihat sosok diri yang menari-nari di sana. Ada luapan rasa, tanpa sadar menahan nafas, tersentak, haru, hingga mata sebak (hei, menitikkan air mata masih lagi manusiawi toh?).

Tapi aku sedang tidak ingin membicarakan jalan cerita film itu. Karena sudah pernah kubahas pada bulan Februari 2008 lalu di blog ini (lalu kenapa mengajak bicara tentang film ini lagi?). Sebabnya adalah, akhir minggu ini aku membayangkan: tak ingin melakukan apa-apa. Santai. 21 September 2008 hendak kunikmati dengan tenang. Lagi pula ada ratusan DVD yang menungguku di rumah yang belum kontoton (bayangkan, ratusan yang belum kutonton! Sableng!).

Continue Reading »

200 Tahun Sejak 2008, Adakah yang Masih Mengenal Kita?

Kerap kali aku mengalami keadaan yang begitu bertepatan. Entah itu suatu keadaan, kejadian, atau peristiwa. Pada Desember 2005, untuk keperluan terbit ulang, aku baru saja selesai mengedit roman Anak Semua Bangsa, satu dari Tetralogi Pramoedya Ananta Toer, di teras samping rumahnya di desa Bojonggede, Kabupater Bogor, Jawa Barat.

 

Matahari sedang ramah. Suasana begitu sejuk, angin berkesiur menggelitiki daun-daun pepohonan yang melambai-lambai lembut minta perhatian. Ya, aku memang lebih memilih mengedit di rumah Pram di Bojonggede ketimbang di rumah Pram Utan Kayu, Jakarta. Alasannya sangat sederhana:

 

Di Jakarta sangat kota. Hiruk pikuk, panas, waktu terasa berjalan begitu bergegas, dan aku tak pernah bisa lepas dari kipas angin. Sementara di Bojong, atmosfirnya sangat pedesaan, seolah layaknya liburan. Sesekali main ke ladang yang terhampar luas di belakang rumah, menghirup udara sehat, dan yang tak kalah mengasyikan: setiap saat dapat bertemu Pram serta menyeruput kopi bersama di beranda rumah atau di ladang sembari menemaninya membakar sampah. Selain perpustakaan Pram di Utan Kayu sudah diboyong ke Bojong, untuk keperluan kerja, sudah barang tentu aku banyak menghabiskan waktu dengan tenggelam di dalamnya.

 

Nah, ketika baru saja sampai di halaman terakhir buku Anak Semua Bangsa, tertulis tahun penulisan: 1975. Aku terhenyak! Itu tahun aku lahir. Pada saat aku baru lagi lahir, Pram sedang dan sudah menyelesaikan roman besarnya itu yang telah diterjemahkan ke dalam 42 bahasa di seluruh dunia. 

Aku masih lagi terpaku pada halaman terakhir buku itu. Tahun 2005 berarti sudah 30 tahun usia novel itu. Sama persis dengan usiaku pada saat itu. Tidak pernah kusangka sama sekali bahwa 30 tahun kemudian, aku mengedit karya sastrawan besar Indonesia yang berkali-kali diganjar nominasi penghargaan Nobel sastra itu. Aku tidak pernah mengira bahwa Pram menulis karya itu pada tahun 1975, sama dengan tahun lahirku. 30 tahun kemudian, 2005, aku mengedit karya itu, di 30 tahun usiaku. Aku menyebutnya sebuah keadaan yang bertepatan. Aku termasuk orang yang tidak percaya pada kebetulan. Bukan bermaksud sentimentil, tapi aku tahu: Tuhan mengirimku pada keadaan yang bertepatan seperti itu untuk juga belajar.

Continue Reading »

Cheng Ho dan Yusril Ihza Mahendra

Semalam menyaksikan tayangan Kick Andy di Metro TV. Pembicara tamunya: Yusril Ihza Mahendra, Slamet Rahardjo Djarot, Nurul Arifin, dan Betharia Sonata (selain itu aku tidak tahu. Tidak kutonton hingga tuntas).

 

Slamet Rahardjo barangkali tak perlu kubahas lagi. Sebagai orang film, ia tak perlu kuragukan lagi eksistensinya. Tapi aku tertarik pada Yusril Ihza Mahendra yang mantan menteri itu memerankan tokoh Laksamana Cheng Ho atau Zheng He dalam film Cheng Ho.

 

Film ini memang dahsyat. Kolosal. Dan dibuat oleh beberapa negara. Tak mungkin bagiku untuk tidak menyaksikannya kelak. Kenapa? Karena aku mengagumi tokoh Cheng Ho itu sendiri. Seorang Laksamana muslim utusan Kaisar Ming Chui Ti yang bertugas melakukan ekspedisi guna menjalin hubungan persahabatan dengan negara-negara di luar Tiongkok selama 28 tahun (sekitar tahun 1406 sampai tahun 1434 Masehi). 

Belum lama aku mengenal tokoh Laksamana ini. Baru sekitar tahun 2004 kalau aku tak salah ingat. Saat itu aku diminta menjadi moderator dalam diskusi bedah buku Sam Po Kong bersama Remy Sylado di Sasana Budaya Ganesha, ITB.

Continue Reading »

Next Page »