Archive for the 'Kado' Category

Kiriman Buku Bulan Ini

Hari ini Anda adalah orang yang sama dengan Anda di lima tahun mendatang, kecuali dua hal: orang-orang di sekeliling Anda dan buku-buku yang Anda baca
(Charles Jones)

Kalau ada yang bertanya: mau dikasih apa sebagai hadiah, kira-kira apa jawaban kalian? Pasti selera setiap individu bakal berbeda-beda. Ketika berulang kali mendapat pertanyaan yang sama, jawabanku pun tak pernah berubah: tak ingin apa-apa. Apa boleh buat, aku selalu sulit untuk meminta. Kalau pun dipaksa, semua kuserahkan pada yang memberi saja.

Nah-nah, bulan ini aku mendapatkan kiriman buku lagi. Pengirimnya? Dari negeri antah berantah. Dari berbagai sumber. Dari berbagai negara. Semua kuterima dengan senang. Sangat senang sekali malah. Karena berupa buku. Selain buku-buku itu sangat kuperlukan, kiriman itu makin menambah koleksi perpustakaan pribadi di rumah. Menjadi warga baru di kamar studi.

Selain buku, ada beberapa kiriman dalam bentuk lain yang tak mungkin kusebutkan di sini. Namun tetap kuhaturkan ribuan terima kasih atas hal tersebut. Semua tetap bermanfaat. Namun karena tema kali ini adalah buku (serta majalah), maka yang kutampilkan tentu hanya seputar hal itu.

Sekali lagi terima kasih atas bingkisannya. Sangat-sangat bermanfaat.
Jadi kalau ditanya: mau dikasih apa sebagai hadiah, kira-kira apa jawaban kalian?

Continue Reading »

Road To Sydney

Miliaran panah jarak kita, tak jua tumbuh sayapku. Satu-satunya cara yang ada, gelombang tuk ku bicara (Dewi Lestari, Recto Verso, Selamat Ulang Tahun)

Sydney tampak gemerlap, lebih benderang dari biasanya. Langit cerah berpendar, menampakkan gumpalan awan putih tipis di beberapa tempat. Angin berkesiur mendinginkan malam musim panas. Saat-saat menjelang natal begini, toko-toko tampak buka hingga malam hari. Dan kafe-kafe di saat weekend malah tumpah ruah sampai ke jalan. Sydney memang selalu menggoda pelancong untuk kembali dan kembali lagi walau sekadar untuk menciumi sisa semerbak Jacarandah yang kini tinggal daunnya saja yang menghijau.

Apa pertimbangan seseorang untuk tinggal dan menetap di sebuah kota? Karena sekolah? Bekerja? Keluarga? Orangtua? Ikut suami? Ikut istri? Pasrah tak tahu lagi apa mesti diusahakan? Atau dikutuk karena sejak bayi dilahirkan di sana, atau apa?

Tentu ada banyak ragam jawaban. Dan setiap jawaban berhak mempunyai pembenaran masing-masing. Namanya juga pilihan. Yang ironis kalaulah tak lagi punya pilihan. Pasrah pada nasib: mendiami sebuah kota selama dua abad tanpa tahu apa alasannya. Ya nggak?

Sama halnya dengan kita yang tinggal atau menetap di kota yang sekarang kita diami ini. Kita adalah wajah kota itu sendiri. So, daripada kepanjangan prolog, kita mulai saja: ada apa dengan road to Sydney? Baiklah. Aku mau cerita. Begini awal bin mulanya:
Continue Reading »

Bertambah Usia atau Berkurang Umur?

Ketika kita menjadi tua, waktu akan membuat kita dikelilingi oleh orang-orang yang mencintai kita, sebagai ganti dari orang-orang yang kita cintai. (J. Petit Senn)

Apakah kalian selalu mengucapkan ulang tahun pada seorang teman? Pada sahabat? Saudara? Atau mantan pacar, barangkali? Kalau iya, apa tujuannya? Membuatnya merasa senang? Agar ia tahu bahwa betapa kita mengingat keberadaannya? Atau adakah cukup diingat dalam hati saja? Aih, tentu saja kalian punya seribu ragam versi jawaban sebagai pengejawantahan perasaan.

19 Oktober ini ada yang berkurang lagi umurnya. Berkurang dari apa? Tentu saja dari jatah yang telah ditetapkan oleh Tuhan. Berapa yang sudah ditetapkan oleh Tuhan itu? Tak seorang pun tahu. Bahkan orang yang lahir pada 19 Oktober itu pun sama sekali tak mengetahuinya.

Tapi, sebetulnya mana yang lebih tepat: berulang tahun? Bertambah usia? Atau berkurang umur? Adakah padanan yang lain? Atau sebetulnya bagaimana definisi setepatnya? Ah, kok aku jadi banyak bertanya. Lupakan.

Continue Reading »

Editor Sayang, Editor Malang

(Dari Harry Potter, Ayat-ayat Cinta, hingga Laskar Pelangi)

-sebuah kado kecil untuk hari ulang tahun Ibu Enny-

Hari Minggu pagi lalu aku sarapan di tempat tidur. Bukan sarapan dalam arti sebenarnya. Tapi lebih pada sarapan berupa obrolan akrab dengan bu Enny. Hampir satu jam kami berbincang di telpon soal blog, bank, manajemen keuangan (bayangin!), keluarga, suaminya, anak-anaknya, pekerjaan, pernikahan, pasangan hidup (aih!), sampai editor. Editor? Ya.

Suatu saat Bu Enny ingin bertemu denganku untuk bincang-bincang soal editor dan penulisan, tukasnya. Tiba-tiba, saat masih lagi berbincang dengan bu Enny, aku teringat tentang satu tema yang sudah hendak aku tulis. Tentang peran editor itu sendiri. Awalnya berangkat dari obrol-obrol santai dengan Pak Bambang Trim, Vice President Penerbit Salamadani, dan beberapa teman di Mie Aceh Buah Batu Bandung di satu sore yang cerah.

Awalnya kita sedang ngobrol santai tentang film Laskar Pelangi. Tiba-tiba obrolan berbelok tentang buku Laskar Pelangi. Berkembang menjadi siapa editor-editor penemu naskah Laskar Pelangi, Ayat-ayat Cinta, dan Harry Potter. Bagaimana peran editor dalam hal ini. Setelah kurangkum, dan kususun di sana sini, maka beginilah obrolan ringan tersebut:

Saat buku laris manis, penulis atau pengaranglah yang dielu-elukan dan memperoleh segudang penghargaan. Saat buku jeblok di pasar atau mengandung kesalahan maka orang yang kali pertama pantas dicari adalah editor!

Continue Reading »

Santap Malam Terakhir

Bagaimana sikap kalian menghadapi perpisahan? Berat? Sedih? Atau biasa saja? Barangkali tergantung pengalaman hidup seseorang juga. Tapi yang namanya perpisahan, tetap saja perpisahan. Ia bisa menyedihkan, bisa pula melegakan.

Adalah wajar merasa berat atau sedih. Mungkin selama ini terlampau terbiasa bersama-sama, sehingga ketika mesti berjarak, ada suatu rasa yang tak mungkin disembunyikan. Yang bersikap biasa-biasa barangkali tidak lantas berarti tidak peduli terhadap rasa-rasa seperti itu. Justru sebaliknya: pengalaman hidupnya telah mengajarkan bahwa perpisahan adalah satu episode dari hidup manusia juga.

Tak ada cinta tanpa cerca. Tak ada sembah tanpa caci. Tak ada puji tanpa maki. Semua berpasang-pasangan. Seperti halnya tak ada perjumpaan tanpa menyisakan perpisahan. Karena semua itu memang hukum alam. Kita tak bisa melawannya.

Postingan ini memang kutujukan bagi kawan-kawanku: Twindri Utari dan Donny Verdian. Namun juga bagi siapa saja yang mencintai kehidupan. Twindri Utari, Jum’at 19 September 2008 pagi hendak terbang ke Denpasar. Ia akan memulai hidup di kota baru bersama suaminya. Meninggalkan Jakarta.
Continue Reading »

Next Page »