<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Penganyam Kata &#187; Kilas Balik</title>
	<atom:link href="http://www.penganyamkata.net/category/kilas-balik/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.penganyamkata.net</link>
	<description>The Untoldstories of Daniel Mahendra</description>
	<lastBuildDate>Fri, 30 Apr 2010 03:53:12 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
<image>
<link>http://www.penganyamkata.net</link>
<url>http://www.penganyamkata.net/wp-content/mbp-favicon/dmbd2.ico</url>
<title>Penganyam Kata</title>
</image>
		<item>
		<title>KM 800</title>
		<link>http://www.penganyamkata.net/2008/12/22/km-800/</link>
		<comments>http://www.penganyamkata.net/2008/12/22/km-800/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 21 Dec 2008 18:28:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Daniel Mahendra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Harian]]></category>
		<category><![CDATA[Kilas Balik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.danielmahendra.com/?p=1511</guid>
		<description><![CDATA[Suatu kehidupan yang penuh kesalahan tak hanya lebih berharga namun juga lebih berguna dibandingkan hidup tanpa melakukan apa pun (George Bernard Shaw) Dalam sebuah pengembaraan elektronik (baca: blogwalking), aku sengaja mencoba tidak mengunjungi blog teman-teman yang biasa kudatangi. Blog teman-teman yang biasa kukunjungi barangkali merupakan santapan sehari-hari. Tiap hari bersapa, baik mengunyah tulisannya, berkomentar, atau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><em>Suatu kehidupan yang penuh kesalahan tak hanya lebih berharga namun juga lebih berguna dibandingkan hidup tanpa melakukan apa pun (George Bernard Shaw)</em></p>
<p>Dalam sebuah pengembaraan elektronik (baca: <em>blogwalking</em>), aku sengaja mencoba tidak mengunjungi blog teman-teman yang biasa kudatangi. Blog teman-teman yang biasa kukunjungi barangkali merupakan santapan sehari-hari. Tiap hari bersapa, baik mengunyah tulisannya, berkomentar, atau menerima komentar. Kali ini aku ingin ambil jalan lain.</p>
<p>Aku bertandang ke banyak blog kawan-kawan pekerja seni, penulis, penyair, budayawan, pemilik toko buku, distributor buku, pemain teater, sutradara, pelukis, editor, fotograger, wartawan, pemilik kafe, penyiar radio, sampai mantan pacar.</p>
<p>Memang, di blog teman-teman yang setiap hari kusantap pun terdiri dari berbagai macam profesi serta berangkat dari banyak disiplin ilmu. Hanya saja blog teman-teman yang kusebutkan di atas tadi merupakan habitat lamaku. Habitat di mana dulu begitu kental dengan hari-hariku. Namun ada sesuatu yang berbeda di sana. Apa itu?</p>
<p><span id="more-1511"></span></p>
<p>Ketika bertandang ke blog mereka, aku seperti menemukan atmosfir yang dulu begitu akrab dengan keseharianku. Nongkrong di toko buku, menyeruput kopi sembari diskusi kebudayaan, nonton teater, menikmati pagelaran pembacaan puisi, pameran lukisan, sampai pacaran.</p>
<p>Ada sesuatu yang tetap menyala di sana. Ada semangat yang terus mereka pancarkan. Aku sendiri heran: kenapa tiba-tiba terbangun atmosfir semacam itu ketika aku mengunjungi blog-blog mereka. Memang, mereka pun mulai berpencar ke segala penjuru mata angin. Bekerja di berbagai tempat dalam ranah kehidupan. Tapi aku seperti menangkap benang merah yang sama: spirit berkesenian yang tetap membara di antara mereka.</p>
<p>Lalu tiba-tiba aku membuka blog sendiri. Melongok-longok ke dalamnya seolah bagaikan orang lain yang mendatangi blog Penganyam Kata dengan pemiliknya bernama Daniel Mahendra. Kemudian aku bertanya: apa yang dilakukan si Daniel Mahendra ini? Menulis apa dia? Adakah sesuatu yang dia berikan? Bermanfaatkah tulisannya? Sudahkah ia menjadi penyuluh bagi pembaca?</p>
<p>Sepertinya si Daniel Mahendra yang kerap dipanggil DM ini suka asyik sendiri saja. Memuntahkan segala apa yang ada di kepalanya, dan dirawinya ke dalam postingan (Hih! Betapa tidak malunya makhluk bernama DM itu!). Adakah sesuatu yang menarik di sana? batinku bertanya-tanya.</p>
<p>Ya. Rupanya sudah sekian tahun aku nge-blog. Aku kurang tahu kapan tepatnya aku mulai nge-blog. Sejak di blogspot, lantas sempat mengisi blog di friendster, kemudian ke wordpress, mampir juga ke multiply, hingga menemukan sebidang tanah luas di pinggiran kota dan membangun sebuah <em>ranch</em> di sana: danielmahendra.com</p>
<p>Maka baru kuinsyafi, ini adalah postingan ke 800 di blog ini. D-e-l-a-p-a-n r-a-t-u-s. Hei, apa yang sudah kulakukan dengan angka 800? Adakah sesuatu yang menarik di sana? Sudahkah aku memberikan titik terang pada orang lain? Atau selama ini aku sekadar membual saja, mengusung tema yang dibalut dalam anyaman kata demi kata? Ah, aku tak berhak menjawabnya. Karena setiap blog tentu punya wajahnya masing-masing. Dan setiap wajah punya keelokannya tersendiri.</p>
<p>800 hanyalah angka. Ia tak berarti apa-apa jika tanpa makna di dalamnya. Dan dalam proses pemaknaan itulah diri kita ditimbang-timbang kadar kualitasnya. Sesuatu yang membuat kita sungguh berarti hidup di dunia ini. Namun satu hal pasti: aku merasa ada karena kalian juga, teman-teman blogger yang selama sekian purnama terus saling sapa dan menganyam hubungan yang apik bersama. Seperti ombak yang terus menjilati pantai…</p>
<p>Ribuan terima kasih, Kawan-kawan. Ini postingan ke-800.</p>
<p>Bandung, 21 Desember 2008 | 09.00 wib</p>
<p><a href="http://www.danielmahendra.com/wp-content/uploads/2008/12/dmblogspot.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-1512" title="dmblogspot" src="http://www.danielmahendra.com/wp-content/uploads/2008/12/dmblogspot-300x156.jpg" alt="" width="300" height="156" /></a></p>
<p>Blog DM ketika masih di blogspot.com</p>
<p><a href="http://www.danielmahendra.com/wp-content/uploads/2008/12/dmfriendster.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-1513" title="dmfriendster" src="http://www.danielmahendra.com/wp-content/uploads/2008/12/dmfriendster-300x232.jpg" alt="" width="300" height="232" /></a></p>
<p>DM mampir di blog friendster.com (yang menggelikan itu)</p>
<p><a href="http://www.danielmahendra.com/wp-content/uploads/2008/12/dmwordpress-01.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-1514" title="dmwordpress-01" src="http://www.danielmahendra.com/wp-content/uploads/2008/12/dmwordpress-01-300x198.jpg" alt="" width="300" height="198" /></a></p>
<p>Belum punya rumah sendiri. Numpang di wordpress.com</p>
<p><a href="http://www.danielmahendra.com/wp-content/uploads/2008/12/dmwordpress-02.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-1515" title="dmwordpress-02" src="http://www.danielmahendra.com/wp-content/uploads/2008/12/dmwordpress-02-300x168.jpg" alt="" width="300" height="168" /></a></p>
<p>Numpang mulu di wordpress.com</p>
<p><a href="http://www.danielmahendra.com/wp-content/uploads/2008/12/dmwordpress-03.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-1516" title="dmwordpress-03" src="http://www.danielmahendra.com/wp-content/uploads/2008/12/dmwordpress-03-300x234.jpg" alt="" width="300" height="234" /></a></p>
<p>Cukup lama juga numpang di wordpress.com</p>
<p><a href="http://www.danielmahendra.com/wp-content/uploads/2008/12/dmwordpress-04.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-1517" title="dmwordpress-04" src="http://www.danielmahendra.com/wp-content/uploads/2008/12/dmwordpress-04-300x230.jpg" alt="" width="300" height="230" /></a></p>
<p>Blog yang lain, juga di wordpress.com</p>
<p><a href="http://www.danielmahendra.com/wp-content/uploads/2008/12/dmmultiply.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-1518" title="dmmultiply" src="http://www.danielmahendra.com/wp-content/uploads/2008/12/dmmultiply-300x178.jpg" alt="" width="300" height="178" /></a></p>
<p>Punya juga apartemen di multiply.com</p>
<p><a href="http://www.danielmahendra.com/wp-content/uploads/2008/12/dmcom-01.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-1519" title="dmcom-01" src="http://www.danielmahendra.com/wp-content/uploads/2008/12/dmcom-01-300x263.jpg" alt="" width="300" height="263" /></a></p>
<p>Akhirnya membeli sebidang tanah luas di pinggiran kota</p>
<p><a href="http://www.danielmahendra.com/wp-content/uploads/2008/12/dmcom-02.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-1520" title="dmcom-02" src="http://www.danielmahendra.com/wp-content/uploads/2008/12/dmcom-02-300x221.jpg" alt="" width="300" height="221" /></a></p>
<p>Di sana membangun <em>ranch</em> bernama danielmahendra.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.penganyamkata.net/2008/12/22/km-800/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>73</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Beranikah Kita Mendefinisikan Sejarah?</title>
		<link>http://www.penganyamkata.net/2008/11/10/beranikah-kita-mendefinisikan-sejarah/</link>
		<comments>http://www.penganyamkata.net/2008/11/10/beranikah-kita-mendefinisikan-sejarah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 Nov 2008 08:15:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Daniel Mahendra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kilas Balik]]></category>
		<category><![CDATA[Kunjungan]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[10 November]]></category>
		<category><![CDATA[bangsa]]></category>
		<category><![CDATA[Bung Tomo]]></category>
		<category><![CDATA[G30S]]></category>
		<category><![CDATA[Hari Pahlawan]]></category>
		<category><![CDATA[Hindia Belanda]]></category>
		<category><![CDATA[Imelda Coutrier Miyashita]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[kemerdekaan]]></category>
		<category><![CDATA[negeri]]></category>
		<category><![CDATA[Pablo Casals]]></category>
		<category><![CDATA[pahlawan]]></category>
		<category><![CDATA[Pahlawan Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Pangeran Diponegoro]]></category>
		<category><![CDATA[pejuang]]></category>
		<category><![CDATA[Ratu Adil]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Serangan Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.danielmahendra.com/?p=1439</guid>
		<description><![CDATA[Mencintai sebuah negara adalah hal yang baik. Tapi mengapa cinta itu harus berhenti di perbatasan? (Pablo Casals) Sejatinya tulisan ini hanyalah komentarku atas tulisan Sebutan Itu di blog Imelda Coutrier Miyashita. Namun karena pikiran ini kerap semau-maunya sendiri kalau sudah bertemu dengan tema yang menarik, sehingga jari sudah di luar kendali tuannya lagi. Menggerus keyboard [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><em>Mencintai sebuah negara adalah hal yang baik. Tapi mengapa cinta itu harus berhenti di perbatasan? (Pablo Casals)</em></p>
<p>Sejatinya tulisan ini hanyalah komentarku atas tulisan <em><a href="http://imelda.coutrier.com/2008/11/10/sebutan-itu/" target="_blank">Sebutan Itu</a></em> di blog <a href="http://imelda.coutrier.com/" target="_blank">Imelda Coutrier Miyashita</a>. Namun karena pikiran ini kerap semau-maunya sendiri kalau sudah bertemu dengan tema yang menarik, sehingga jari sudah di luar kendali tuannya lagi. Menggerus keyboard tanpa kenal ampun. Maka adalah merupakan kegatalan tersendiri untuk memposting tulisan yang sejatinya merupakan komentar, di blog sendiri. Bukan bermaksud hendak tidak praktis, namun sudah barang tentu akan lebih lengkap jika sebelumnya membaca tulisan <em><a href="http://imelda.coutrier.com/2008/11/10/sebutan-itu/" target="_blank">Sebutan Itu</a></em> tersebut di blog <a href="http://imelda.coutrier.com/" target="_blank">Imelda Coutrier Miyashita</a>.</p>
<p>Menurutku sejarah tidak baku sifatnya. Dia elastis mengikuti perkembangan zaman, sejauh ditemukan fakta-fakta baru yang mendukung akan suatu hal. Meski tak bisa dinafikan: sejarah terkadang ditentukan juga oleh siapa yang menang.</p>
<p>Di Indonesia kita bisa lihat pada kejadian-kejadian Tragedi G30S misalnya. Atau Serangan Umum di Yogyakarta. Tiba-tiba ada tokoh atau nama yang diangkat ke permukaan. Kenapa nama itu jadi terangkat dan seolah memegang peran penting? Karena pemerintah yang berkuasa saat itu sedang pegang peran.</p>
<p>Jika sudah demikian, jelaslah, definisi atau cara berpikir tentang siapa yang disebut pahlawan tidaklah baku atau kaku. Setiap negara, bahkan setiap kepala bisa punya frame tersendiri tentang pahlawan.</p>
<p><span id="more-1439"></span></p>
<p>Menurut pemerintah Indonesia Pangeran Diponegoro adalah pahlawan. Tapi menurut pemerintah Hindia Belanda, adalah pemberontak. Tokok subversif terhadap pemerintahan yang sah menurut versinya. Pertanyaannya adalah: andai makam keluarga Diponegoro tidak akan dijadikan jalan oleh pemerintah Hindia Belanda, akankah ia angkat senjata dan mengajak rakyat pribumi untuk melawan Belanda? Kukira aku tidak dalam kapasitas menjawab pertanyaan tersebut.</p>
<p>Ketika aku menulis bahwa Bung Tomo baru diberi gelar Pahlawan Nasional pada 10 November 2008, aku pun baru menemukannya dan terhenyak. Artinya, aku pun baru mengetahui dan menyadari hal tersebut. Sehingga setiap 10 November diperingati sebagai Hari Pahlawan terkesan menggelikan.</p>
<p>Tapi betul kata suami Mbak Imel: ini Indonesia. Indonesia butuh alat pemersatu. Dan alat itu bisa diambil dari mana pun. Dan setiap negara boleh menggunakan alat tersebut dengan versinya masing-masing. Ingat dengan istilah Ratu Adil? Logika berpikir sehat akan berkata itu hanyalah mitos belaka. Tapi apa boleh buat, dulu negeri ini butuh mitos. Butuh sosok yang ditunggu-tunggu kedatangannya. Entah agar orang tetap percaya bahwa akan ada sesuatu yang lebih baik lagi di depan atau bagaimana. Dan raja-raja Jawa itu, selalu dipercaya menikah dengan Ratu Laut Selatan. Mengapa? Agar umum mahfum: bahwa raja-raja itu masih lagi memiliki kekuatan dibanding dengan kumpeni, betapa pun hal tersebut sangat irasional.</p>
<p>Sehingga, kita memang butuh sosok. Negeri ini butuh sosok. Dan sosok itu bisa digunakan sebagai alat apa pun dalam konteks bernegara.</p>
<p>Aku pribadi sudah tidak lagi berenang-renang dalam kolam pemikiran siapa pahlawanku. Aku sudah tahu itu. Tapi aku lebih berpikir: apakah aku bakal menjadi pahlawan bagi orang lain. Siapa pun orang lain itu.</p>
<p>Tabik!</p>
<p>10 November 2008 | 14.01 wib</p>
<p><strong>Catatan</strong>: mungkin bersambung, mungkin juga tidak. Tadinya hendak menambahi tentang R.M. Tirto Adhisoerjo, tokoh pers nasional yang juga tokoh kebangkitan nasional (sudah banyak kubahas juga di blog ini pada masa-masa lalu).</p>
<p>Boemipoetra pertama yang menerbitkan koran berbahasa Melayu (Medan Prijaji, 1907-1912), pendiri Sarekat Dagang Islamiyah (1909), Sarekat Dagang Islam (1911). Korannya menjadi corong dalam menyuarakan ketidakadilan. Tulisannya tajam menusuk penuh kritik, sementara organisasi yang dipimpinnya membludak secara massal dengan ribuan anggota di seluruh Hindia Belanda.</p>
<p>Khawatir akan sepak terjangnya yang menggurita, tanpa pikir panjang: ia pun dibuang pemerintah Hindia Belanda dari pulau Jawa, dan sejarah tentangnya dihapus secara sistematis. Sejak pemerintahan kolonial Hindia Belanda, masa kemerdekaan, Orde Lama, juga Orde Baru, tak banyak orang tahu siapa Tirto Adhisoerjo. Tak aneh. Perannya memang sengaja ditenggelamkan.</p>
<p>Seorang individu pemula di awal pergerakan negeri ini yang kobar menyerukan kebangkitan. Hingga baru pada 1973, pemerintah mengukuhkan Tirto sebagai Bapak Pers Nasional. Baru pada 3 November 2006, pemerintah memberi gelar sebagai Pahlawan Nasional.</p>
<p>Lihatlah, butuh 100 tahun bagi sebuah pemerintahan untuk memberi gelar pahlawan pada seseorang.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.penganyamkata.net/2008/11/10/beranikah-kita-mendefinisikan-sejarah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>31</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Setangkai Bendera</title>
		<link>http://www.penganyamkata.net/2008/10/29/setangkai-bendera/</link>
		<comments>http://www.penganyamkata.net/2008/10/29/setangkai-bendera/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Oct 2008 09:39:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Daniel Mahendra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kilas Balik]]></category>
		<category><![CDATA[Kunjungan]]></category>
		<category><![CDATA[Bandung]]></category>
		<category><![CDATA[Banjarsari]]></category>
		<category><![CDATA[Presiden Soeharto]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.danielmahendra.com/?p=1427</guid>
		<description><![CDATA[Sejatinya tulisan ini adalah merupakan komentarku terhadap sebuah tulisan di mana pemilk blog-nya telah bertandang ke blog-ku dan meninggalkan komentar. Saat berbalas beranjang ke sana dan hendak meninggalkan komentar pula, rupanya aku mendapatkan kesulitan untuk login di tempanya. Sejak pertengahan Oktober hingga saat ini, masih juga belum bisa. Daripada tidak memberikan respon, ada baiknya tulisan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sejatinya tulisan ini adalah merupakan komentarku terhadap sebuah <a href="http://irna1001.wordpress.com/2008/10/14/kakak-dan-hut-tni-ke-63/" target="_blank">tulisan</a> di mana pemilk <a href="http://irna1001.wordpress.com/" target="_blank">blog</a>-nya telah bertandang ke blog-ku dan meninggalkan komentar. Saat berbalas beranjang ke sana dan hendak meninggalkan komentar pula, rupanya aku mendapatkan kesulitan untuk login di tempanya. Sejak pertengahan Oktober hingga saat ini, masih juga belum bisa. Daripada tidak memberikan respon, ada baiknya tulisan tersebut ku-posting di blog sendiri dengan memberikan tautan terhadapnya.</p>
<p>Maka beginilah tulisan yang sejatinya merupakan komentar itu:</p>
<p>Membaca tulisan ini, aku jadi teringat saat SD dulu.</p>
<p>Waktu itu Presiden Soeharto hendak ke Bandung. Salah satu jalan yang hendak dilewati adalah Jalan Merdeka, persis melewati SD-ku. SD Banjarsari.</p>
<p>Guru-guru di sekolah mengharuskan anak-anak membuat bendera kecil di rumah, agar besok saat rombongan presiden lewat, kami diminta berbaris di trotoar depan pagar sekolah, dan melambai-lambaikan bendera menyambut rombongan presiden.</p>
<p><span id="more-1427"></span></p>
<p>Esok harinya, bukan hanya setangkai bendera yang kubawa, tapi beberapa tangkai sengaja kubuat dan kubawa dari rumah. Karena aku yakin: pasti ada yang tidak bikin dan tidak bawa.</p>
<p>Bendera-bendera itu kujual. Seperti dugaanku: ternyata memang banyak yang beli. Aku girang sekali. Setelah bendera-bendera habis terjual, kusisakan satu untukku sendiri. Kusimpan di bawah meja, di sudut laci.</p>
<p>Setelah istirahat, tidak berapa lama rombongan presiden pun hendak lewat. Seluruh murid diminta segera ke luar kelas, berbaris di trotoar depan pagar sekolah, membawa bendera.</p>
<p>Dengan cepat aku menuju mejaku, merogoh laci di mana aku menyimpan setangkai bendera yang kusisakan untuk diriku sendiri. Tapi apa yang terjadi? Olala!! Ternyata bendera itu telah raib!! Tidak ada!! Kucari kemana-mana, tetap tidak ada! Aku kalut! Sementara panggilan guru-guru sudah makin lantang untuk segera berbaris di trotoar depan sekolah. Rasanya aku geram sekali saat itu.</p>
<p>Akhirnya dengan langkah gontai aku menuju ke sana. Tapi di sana, bukannya memandangi rombongan presiden lewat, melainkan menyaksikan sorak dan tawa kawan-kawanku yang melambai-lambaikan bendera bikinanku. Bendera bikinanku!</p>
<p>Aku hanya tersenyum kecut saat itu. Akhirnya rombongan presiden pun berlalu. Menyisakan sirene yang meraung-raung di kejauhan.</p>
<p>Setelah dewasa, aku suka geli kalau mengingat kejadian itu. Betapa naifnya.</p>
<p>Dan ketika membaca tulisan ini, ingatanku jadi terlempar ke kejadian bodoh puluhan tahun lalu itu.</p>
<p>14 Oktober 2008</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.penganyamkata.net/2008/10/29/setangkai-bendera/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>38</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Seandainya Gajah Mada Memutuskan Menikah!</title>
		<link>http://www.penganyamkata.net/2008/09/11/seandainya-gajah-mada-memutuskan-menikah/</link>
		<comments>http://www.penganyamkata.net/2008/09/11/seandainya-gajah-mada-memutuskan-menikah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Sep 2008 18:30:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Daniel Mahendra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kilas Balik]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Amangkubhumi]]></category>
		<category><![CDATA[Aryo Tadah]]></category>
		<category><![CDATA[Bhayangkara]]></category>
		<category><![CDATA[Gajah Mada]]></category>
		<category><![CDATA[Gula Kelapa]]></category>
		<category><![CDATA[Hindia Belanda]]></category>
		<category><![CDATA[Jawa Timur]]></category>
		<category><![CDATA[Koleris yang Kuat]]></category>
		<category><![CDATA[Mahapatih]]></category>
		<category><![CDATA[Majapahit]]></category>
		<category><![CDATA[Menikah]]></category>
		<category><![CDATA[Mojokerto]]></category>
		<category><![CDATA[Nagarakretagama]]></category>
		<category><![CDATA[Nusantara]]></category>
		<category><![CDATA[Pararatron]]></category>
		<category><![CDATA[Republik Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Sumpah Palapa]]></category>
		<category><![CDATA[Tribhuwanatunggadewi]]></category>
		<category><![CDATA[Trowulan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.danielmahendra.com/?p=1332</guid>
		<description><![CDATA[  Mari berandai-andai!   Bagaimana kiranya jika dulu Gajah Mada, Mahapatih Amangkubhumi Majapahit itu menikah? Apakah ia tetap akan memegang teguh Sumpah Palapa-nya? Bakal di bawah bendera Gula Kelapa Majapahitkah Nusantara? Apakah Republik Indonesia yang secara geografis merupakan tindak lanjut teritori Hindia Belanda bakal mewarisi wilayah Nusantara yang sedemikian luas?   Isi Sumpah Palapa yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Mari berandai-andai!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Bagaimana kiranya jika dulu Gajah Mada, Mahapatih Amangkubhumi Majapahit itu menikah? Apakah ia tetap akan memegang teguh Sumpah Palapa-nya? Bakal di bawah bendera Gula Kelapa Majapahitkah Nusantara? Apakah Republik Indonesia yang secara geografis merupakan tindak lanjut teritori Hindia Belanda bakal mewarisi wilayah Nusantara yang sedemikian luas?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"><span style="mso-spacerun: yes;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Isi Sumpah Palapa yang dilantangkan pada tahun 1258 Saka (1336 Masehi) bertepatan dengan hari pengakatannya sebagai Mahapatih Majapahit oleh Ratu Tribhuwanatunggadewi, memang mengerikan. Orang dengan akal waras bakal menahan nafas ketika mendengar kalimat sumpah semacam itu. Siapa yang tak bakal terhenyak ketika telinganya menangkap seseorang mengucapkan hal yang sungguh-sungguh di luar nalar manusia pada saat itu:</span><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"> </span></p>
<blockquote>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><em><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">&#8220;Lamun huwus kalah nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seran, Tañjung Pura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti palapa&#8221;.</span></em></p>
</blockquote>
<blockquote><p><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-fareast-font-family: Calibri; mso-fareast-theme-font: minor-latin; mso-bidi-font-family: 'Times New Roman'; mso-bidi-theme-font: minor-bidi; mso-bidi-font-style: italic; mso-ansi-language: EN-US; mso-fareast-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA;">(&#8220;Jika telah mengalahkan Nusantara, saya [baru akan] melepaskan puasa. Jika mengalahkan Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, demikianlah saya [baru akan] melepaskan puasa&#8221;.)</span></p></blockquote>
<p><span id="more-1332"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Berapa jarak waktu dari Trowulan (Ibukota Majapahit, sekitar Mojokerto-Jawa Timur sekarang) menuju Bali saat itu? Bisa berhari-hari dengan kuda, kendaraan tercepat saat itu. Bagaimana mungkin ada orang bercita-cita mempersatukan pulau-pulau di Nusantara yang jaraknya bermil-mil dengan kekuatan maritim besar tanpa telpon, tanpa faksimili, tanpa telegram, bahkan tanpa internet. Sudah sebegitu gilakah orang itu?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"><span style="mso-spacerun: yes;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Dan untuk mimpi besarnya itu ia memastikan diri untuk tidak mencicipi kenikmatan duniawi. Sesuatu yang paling getol dikejar manusia hingga akhir zaman. Gerangan apa yang bersarang di balik batok kepala mantan prajurit Bhayangkara itu? Nyatanya tak satu pun kitab, entah itu Pararatron maupun Nagarakretagama yang mencatat kehidupan pribadi seorang Gajah Mada. Baik adanya pernikahan maupun keturunan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Gajah Mada tergambarkan sebagai seorang dengan karakter <em style="mso-bidi-font-style: normal;">Koleris yang Kuat</em>, pendiam, tegas, mengerikan, miskin canda, serta berwibawa. Ia jarang tersenyum, apalagi terlihat tertawa terbahak-bahak. Bicaranya menetak dan langkahnya tegap. Orang dengan kekuatan mental rata-rata akan gemetar dan jatuh tersungkur harga dirinya jika mesti berbicara dengan menatap mata Gajah Mada.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Tak pernah terlihat Gajah Mada berkumpul bersama pejabat-pejabat pemerintahan, minum tuak, santap berlebihan, serta ngobrol <em style="mso-bidi-font-style: normal;">ngalor-ngidul</em> semalaman suntuk sembari cekikikan. Di malam-malam sunyi, ia memilih duduk bersila, mengolah diri, atau berdiri di pendopo istana, termenung seorang diri sembari matanya memandang jauh, jauh ke depan… </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Pikirannya tak lain hanya berisi soal kerajaan dan kehidupan kawula di bawah pemerintahan negara. Di tangannya ia perintahkan penaklukan kerajaan-kerajaan besar dan kecil Nusantara. Majapahit menjelma sebagai negara maritim yang digdaya. Dan raja Hayam Wuruk tersohor sebagai raja Majapahit masa keemasan. Nyatanya hanya Gajah Mada yang mampu melakukan itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Andai Gajah Mada hidup di Eropa, bukan tak mungkin ia persatukan seluruh Eropa di bawah titahnya. Kekuatan yang mampu membuat bahkan seorang raja manggut-manggut menurut. Karisma Gajah Mada memang luar biasa. Tidak setiap abad lahir sosok manusia semacam Gajah Mada.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Aryo Tadah, Mahapatih Majapahit saat itu, terperanjat ketika mendengar penuturan Gajah Mada saat ia berniat mengundurkan diri dan mengusulkan Gajah Mada sebagai penggantinya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">“Tidak salahkah telingatku ini mendengar, Gajah Mada?! Kau tak berniat menikah?!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">“Tidak Mahapatih. Pernikahan selamanya menuntut tanggung jawab yang besar. Apalagi sebagai seorang suami.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">“Bukankah memang seharusnya demikian?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">“Betul, Mahapatih. Semetara pikiranku hanya tertuju pada kerajaan semata. Bagi kemajuan Mahapahit di masa mendatang. Tak mungkin bagiku memikirkan pernikahan apalagi bersenang-senang.” jawab Gajah Mada tegas tanpa ekspresi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Sontak betapa terkejutnya Mahapatih Tadah mendengar sikap Gajah Mada yang keras kepala dan tetap pada pendiriannya itu. Namun dalam hati, Mahapatih Tadah merasa bahwa ia telah menemukan sosok yang cocok untuk menggantikan posisinya sebagai Mahapatih bagi Majapahit mendatang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Kenyataannya tidak seluruh pulau maupun kerajaan di Nusantara masuk dan ditaklukan oleh Majapahit. Namun Gajah Mada tetap memegang sumpahnya. Sebagian besar Nusantara telah lagi berada di bawah panji-panji kerjaan yang didirikan oleh Raden Wijaya itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Lantas bagaimana kiranya jika dulu Gajah Mada menikah?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Maaf, ini hanya pengandaian.</span><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"> </span></p>
<p><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-fareast-font-family: Calibri; mso-fareast-theme-font: minor-latin; mso-bidi-font-family: 'Times New Roman'; mso-bidi-theme-font: minor-bidi; mso-ansi-language: EN-US; mso-fareast-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA;">11 September 2008 | 01.04 wib</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.penganyamkata.net/2008/09/11/seandainya-gajah-mada-memutuskan-menikah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>48</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>200 Tahun Sejak 2008, Adakah yang Masih Mengenal Kita?</title>
		<link>http://www.penganyamkata.net/2008/08/18/200-tahun-sejak-2008-adakah-yang-masih-mengenal-kita/</link>
		<comments>http://www.penganyamkata.net/2008/08/18/200-tahun-sejak-2008-adakah-yang-masih-mengenal-kita/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 17 Aug 2008 21:05:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Daniel Mahendra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Film]]></category>
		<category><![CDATA[Kilas Balik]]></category>
		<category><![CDATA[Anak Semua Bangsa]]></category>
		<category><![CDATA[Bandung]]></category>
		<category><![CDATA[Bernie Ijdis]]></category>
		<category><![CDATA[De Groote Posweg]]></category>
		<category><![CDATA[Herman Willem Daendels]]></category>
		<category><![CDATA[Ibu Maemunah Thamrin]]></category>
		<category><![CDATA[Jalan Raya Pos]]></category>
		<category><![CDATA[Pramoedya Ananta Toer]]></category>
		<category><![CDATA[Sastrawan]]></category>
		<category><![CDATA[Tetralogi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.danielmahendra.com/?p=1278</guid>
		<description><![CDATA[Kerap kali aku mengalami keadaan yang begitu bertepatan. Entah itu suatu keadaan, kejadian, atau peristiwa. Pada Desember 2005, untuk keperluan terbit ulang, aku baru saja selesai mengedit roman Anak Semua Bangsa, satu dari Tetralogi Pramoedya Ananta Toer, di teras samping rumahnya di desa Bojonggede, Kabupater Bogor, Jawa Barat.   Matahari sedang ramah. Suasana begitu sejuk, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Kerap kali aku mengalami keadaan yang begitu bertepatan. Entah itu suatu keadaan, kejadian, atau peristiwa. Pada Desember 2005, untuk keperluan terbit ulang, aku baru saja selesai mengedit roman <em style="mso-bidi-font-style: normal;">Anak Semua Bangsa</em>, satu dari Tetralogi Pramoedya Ananta Toer, di teras samping rumahnya di desa Bojonggede, Kabupater Bogor, Jawa Barat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Matahari sedang ramah. Suasana begitu sejuk, angin berkesiur menggelitiki daun-daun pepohonan yang melambai-lambai lembut minta perhatian. Ya, aku memang lebih memilih mengedit di rumah Pram di Bojonggede ketimbang di rumah Pram Utan Kayu, Jakarta. Alasannya sangat sederhana:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Di Jakarta sangat kota. Hiruk pikuk, panas, waktu terasa berjalan begitu bergegas, dan aku tak pernah bisa lepas dari kipas angin. Sementara di Bojong, atmosfirnya sangat pedesaan, seolah layaknya liburan. Sesekali main ke ladang yang terhampar luas di belakang rumah, menghirup udara sehat, dan yang tak kalah mengasyikan: setiap saat dapat bertemu Pram serta menyeruput kopi bersama di beranda rumah atau di ladang sembari menemaninya membakar sampah. Selain perpustakaan Pram di Utan Kayu sudah diboyong ke Bojong, untuk keperluan kerja, sudah barang tentu aku banyak menghabiskan waktu dengan tenggelam di dalamnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Nah, ketika baru saja sampai di halaman terakhir buku <em style="mso-bidi-font-style: normal;">Anak Semua Bangsa</em>, tertulis tahun penulisan: 1975. Aku terhenyak! Itu tahun aku lahir. Pada saat aku baru lagi lahir, Pram sedang dan sudah menyelesaikan roman besarnya itu yang telah diterjemahkan ke dalam 42 bahasa di seluruh dunia.</span><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"> </span></p>
<p><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-fareast-font-family: Calibri; mso-fareast-theme-font: minor-latin; mso-bidi-font-family: 'Times New Roman'; mso-bidi-theme-font: minor-bidi; mso-ansi-language: EN-US; mso-fareast-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA;">Aku masih lagi terpaku pada halaman terakhir buku itu. Tahun 2005 berarti sudah 30 tahun usia novel itu. Sama persis dengan usiaku pada saat itu. Tidak pernah kusangka sama sekali bahwa 30 tahun kemudian, aku mengedit karya sastrawan besar Indonesia yang berkali-kali diganjar nominasi penghargaan Nobel sastra itu. Aku tidak pernah mengira bahwa Pram menulis karya itu pada tahun 1975, sama dengan tahun lahirku. 30 tahun kemudian, 2005, aku mengedit karya itu, di 30 tahun usiaku. Aku menyebutnya sebuah keadaan yang bertepatan. Aku termasuk orang yang tidak percaya pada kebetulan. Bukan bermaksud sentimentil, tapi aku tahu: Tuhan mengirimku pada keadaan yang bertepatan seperti itu untuk juga belajar.</span></p>
<p><span id="more-1278"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Pada bulan Agustus 2005, dengan kereta malam aku melesat ke Jakarta. Dengan taksi menuju rumah Pram di Utan Kayu pada pukul 23 malam. Mbak Astuti Ananta Toer (putri pertama Pram dari Ibu Maemunah Thamrin) membuatkan limun dingin dan menyiapkan kamar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">“Tidur saja dulu, Mas. Besok saja kerjanya.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">“Aku masih belum ngantuk, Mbak. Kubaca-baca saja dulu naskahnya.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Dan Mbak Astuti menyodorkan segepok naskah <em style="mso-bidi-font-style: normal;">Jalan Raya Pos</em> masih dalam bentuk ketikan mesin ketik. Wauw! Aku gemetar menerima naskah itu. Ini naskah Pram dalam bentuk asli. Ketikan Pram sendiri dan belum lagi diterbitkan (pada Oktober 2005 terbit sebagai buku oleh Penerbit Lentera Dipantara).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Akhirnya aku menggelosor di ranjang kamar lantai 2 rumah Utan Kayu sembari membaca-bacai naskah keramat tersebut. Hingga tertidur pulas masih dalam keadaan memeluk manuskrip <em style="mso-bidi-font-style: normal;">Jalan Raya Pos</em>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Naskah <em style="mso-bidi-font-style: normal;">Jalan Raya Pos</em> sendiri pernah dijadikan film oleh sutradra Belanda, Bernie Ijdis, dengan judul <em style="mso-bidi-font-style: normal;">De Groote Posweg</em> pada tahun 1995 di mana Pram mengisi narasi untuk film tersebut. Aku sendiri sampai berkali-kali menyaksikan film itu. Ketika mendapat kesempatan untuk mengeditnya dalam rangka keperluan bakal diterbitkan sebagai buku, aku seolah mempelajari kembali sejarah pembangunan jalan raya tersohor itu. Pada bulan Agutus 2005 itu aku seolah berangkat ke masa silam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Umum mengetahui, Jalan Raya Pos panjangnya mencapai 1000 km. Terbentang sepanjang Pulau Jawa sejak Anyer hingga Panarukan. Dibangun atas perintah Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels. Meliputi kota-kota seperti Anyer, Serang, Tangerang, Jakarta, Bogor, Cianjur, Bandung, Sumedang, Cirebon, Brebes, Tegal, Pemalang, Pekalongan, Kendal, Semarang, Demak, Kudus, Rembang, Tuban, Gresik, Surabaya, Sidoarjo, Pasuruan, Probolinggo, sampai Panarukan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Dibangun dengan melibatkan rakyat di daerah setempat dengan cara mewajibkan penguasa pribumi memobilisasi penduduk di sekitarnya. Polanya tentu saja kerja paksa. Ada target tersendiri, yang jika gagal, dibunuh! dengan kepala digantung di pucuk-pucuk pepohonan di kanan kiri jalan. Suka tak suka: proses pembangunan jalan tersebut termasuk deretan genosida besar di Nusantara.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Jauh sebelum aku mengenal Pram, dan mundur ke belakang sebelum aku mengedit buku tersebut, aku memang sudah tertarik dengan sejarah pembangunan Jalan Raya Pos. Karena jalan itu pulalah kota Bandung berada di tempat sekarang ini (saat itu letak kota justru berada di dearah Dayeuhkolot, selatan kota Bandung saat ini).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Ada yang menarik dari Jalan Raya Pos yang melewati kota Bandung (Jalan Sudirman, Jalan Asia Afrika, Jalan Ahmad Yani, dll). Di zaman Hindia Belanda, jalan itu dianggap sebagai pemisah antara penduduk pribumi dan pemukiman Eropa. Para irlander menempati sisi kota sebelah utara jalan raya. Sementara inlander menempati bagian selatan jalan raya. Di tengah-tengahnya pemerintah kota menempatkan penduduk Tionghoa. Kenapa Tionghoa? Karena kaum Cinalah yang dapat menjembatani komunikasi di antara kedunya. Mereka bisa masuk pada kaum Eropa, namun mereka juga akrab dengan pribumi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Hingga saat ini, jika diperhatikan, sisa-sisa bangunan lama di belahan utara kota Bandung sangat Eropa sekali. Sementara bangunan-bangunan di bagian selatan bergaya setempat. Dan di tengah-tengahnya banyak pertokoan Cina. Hingga saat ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Jauh sebelum mengenal Pram, untuk kecucukanku (keingintahuanku) itu, aku sampai mendatangi Sejarawan Unpad, Mansyur Suryanegara. Juga yang tak mungkin kulewatkan: Almarhum Haryoto Kunto, si Kuncen Bandung yang dianggap mengetahui betul seluk beluk berdiriya kota Bandung. Tentu saja aku banyak mendapat amunisi dari kedua orang tersebut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Kini, jalan itu barangkali menjadi jalan raya biasa saja. Tak beda jauh dengan jalan raya di kota-kota lain yang dilewati jalan tersebut. Dari Anyer hingga Panarukan. Daendels memang mengerikan. Dengan tangan besi jalan itu selesai dibangun dalam masa 1 tahun. Satu tahun! Jangan lupa, tahun 1808! Membangun jalan raya sepanjang 1000 km dalam kurun waktu 1 tahun.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: right;" align="right"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Kini (2008) sudah 200 tahun usia jalan itu. Sudah barang tentu jalan tersebut merekam berbagai kandungan politik, sosio-budaya, dan perkembangan masyarakat lengkap dengan keadaan ekonomi di sepanjang jalan 1000 km itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">200 tahun bukanlah masa yang sebentar. Di dunia ini ada berapa bangsa atau negara yang dapat bertahan selama lebih dari 200 tahun? Dan Indonesia, sebagai sebuah nasion masih lagi berusia 63 tahun. Herman Willem Daendels mungkin memang kejam dan bertangan besi. Meski ia tersohor atas pembangunan <em style="mso-bidi-font-style: normal;">De Groote Posweg</em> tersebut. Namun namanya hingga kini masih dikenal dan tercatat dalam sejarah. Sudah 200 tahun sejarah mencatat namanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Aku, kamu, kita semua, adakah yang masih mengenal kita 200 tahun dari 2008? Sebagai apa? Cukup dijawab dalam hati saja.</span><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"> </span></p>
<p><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-fareast-font-family: Calibri; mso-fareast-theme-font: minor-latin; mso-bidi-font-family: 'Times New Roman'; mso-bidi-theme-font: minor-bidi; mso-ansi-language: EN-US; mso-fareast-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA;">18 Agustus 2008 | 03.24 wib</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.penganyamkata.net/2008/08/18/200-tahun-sejak-2008-adakah-yang-masih-mengenal-kita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>31</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Eh Ujan Gerimis Aje…</title>
		<link>http://www.penganyamkata.net/2008/06/28/eh-ujan-gerimis-aje%e2%80%a6/</link>
		<comments>http://www.penganyamkata.net/2008/06/28/eh-ujan-gerimis-aje%e2%80%a6/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Jun 2008 00:31:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Daniel Mahendra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kilas Balik]]></category>
		<category><![CDATA[Aktor]]></category>
		<category><![CDATA[Benyamin Sueb]]></category>
		<category><![CDATA[Betawi]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Penyanyi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.danielmahendra.com/?p=1214</guid>
		<description><![CDATA[Tidak ada penyanyi sekaligus aktor yang begitu kukagumi seperti Benyamin Sueb. Cara bernyanyi dan improvisasi dalam berakting sungguh memukau. Lagu-lagu serta filmnya selalu kuburu untuk kunikmati. Benyamin terlanjur memiliki arti tersendiri bagiku.   Lagu-lagunya dinyanyikan begitu ringan dan terkesan asal, tapi justru di situlah kharismanya keluar. Apalagi tembang-tembang duetnya bersama Ida Royani, aih, bikin mabuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"><a href="http://www.danielmahendra.com/wp-content/uploads/2008/06/bangben.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-1215 alignright" style="float: right;" title="bangben" src="http://www.danielmahendra.com/wp-content/uploads/2008/06/bangben.jpg" alt="" /></a>Tidak ada penyanyi sekaligus aktor yang begitu kukagumi seperti Benyamin Sueb. Cara bernyanyi dan improvisasi dalam berakting sungguh memukau. Lagu-lagu serta filmnya selalu kuburu untuk kunikmati. Benyamin terlanjur memiliki arti tersendiri bagiku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Lagu-lagunya dinyanyikan begitu ringan dan terkesan asal, tapi justru di situlah kharismanya keluar. Apalagi tembang-tembang duetnya bersama Ida Royani, aih, bikin mabuk kepayang. Mereka sejoli yang asyik untuk didengarkan.</span><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"> </span></p>
<p><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-fareast-font-family: Calibri; mso-fareast-theme-font: minor-latin; mso-bidi-font-family: 'Times New Roman'; mso-bidi-theme-font: minor-bidi; mso-ansi-language: EN-US; mso-fareast-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA;">Film-filmnya tak kalah bikin perut terkocok. Dengan segala akting dan tingkah lakunya, mengagumi Benyamin tidaklah membuat diri kita menjadi norak bahkan bangga memiliki aktor seperti Benyamin.</span></p>
<p><span id="more-1214"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Sulit dibayangkan bahwa ternyata Benyamin telah mengeluarkan 75 biji album musik serta main di lebih dari 53 film. Wow! Sungguh sebuah angka yang dahsyat. Dan dari kesemuanya itu hampir rata-rata ia tetap membangun karakter yang begitu melekat pada dirinya: Betawi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Adalah tidak berhak mengatakan: sayang, Benyamin telah pergi begitu cepat di usia 59 tahun. Rupanya sayang Tuhan melebihi pengagum Benyamin sekalipun. Tetapi apa mau dikata, selain Bing Slamet, sulit menyejajarkan aktor lain seperti Benyamin sekarang ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Adakah?</span><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"> </span></p>
<blockquote>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><em style="mso-bidi-font-style: normal;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Eh ujan gerimis aje</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><em style="mso-bidi-font-style: normal;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Ikan teri diasinin</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><em style="mso-bidi-font-style: normal;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Eh jangan menangis aje</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><em style="mso-bidi-font-style: normal;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Yang pergi jangan dipikirin</span></em><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"> </span></p>
</blockquote>
<p><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-fareast-font-family: Calibri; mso-fareast-theme-font: minor-latin; mso-bidi-font-family: 'Times New Roman'; mso-bidi-theme-font: minor-bidi; mso-ansi-language: EN-US; mso-fareast-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA;">28 Juni 2008 | 07.26 wib</span></p>
<p><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-fareast-font-family: Calibri; mso-fareast-theme-font: minor-latin; mso-bidi-font-family: 'Times New Roman'; mso-bidi-theme-font: minor-bidi; mso-ansi-language: EN-US; mso-fareast-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA;"><a href="http://www.geocities.com/yudifiles8/bangben-sarungan1979.jpg" target="_blank">Sumber foto</a>.</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.penganyamkata.net/2008/06/28/eh-ujan-gerimis-aje%e2%80%a6/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>38</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Seandainya Keluarga Koeswoyo Tak Pernah Ada</title>
		<link>http://www.penganyamkata.net/2008/06/23/seandainya-keluarga-koeswoyo-tak-pernah-ada/</link>
		<comments>http://www.penganyamkata.net/2008/06/23/seandainya-keluarga-koeswoyo-tak-pernah-ada/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Jun 2008 01:37:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Daniel Mahendra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kilas Balik]]></category>
		<category><![CDATA[Band Legendaris]]></category>
		<category><![CDATA[Koes Bersaudara]]></category>
		<category><![CDATA[Koes Plus]]></category>
		<category><![CDATA[Musik Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[The Beatles]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.danielmahendra.com/?p=1202</guid>
		<description><![CDATA[Aku tidak tahu dari mana asal mula ketiban cinta pada band legendaris Indonesia itu: Koes Plus. Generasiku praktis tidak mengenal Koes Bersaudara. Tapi seiring perjalanan waktu, mencintai Koes Plus praktis bersentuhan dengan Koes Bersaudara.  Sejak kecil almarhum bapak tidak pernah mengenalkan Si Koes itu pada telinga anak-anaknya. Paling yang diperdengarkan bapak berupa tembang-tembang semacam The [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: "><a href="http://www.danielmahendra.com/wp-content/uploads/2008/06/koesplus.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-1203 alignleft" style="float: left;" title="koesplus" src="http://www.danielmahendra.com/wp-content/uploads/2008/06/koesplus-300x200.jpg" alt="" width="300" height="200" /></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: ">Aku tidak tahu dari mana asal mula ketiban cinta pada band legendaris Indonesia itu: Koes Plus. Generasiku praktis tidak mengenal Koes Bersaudara. Tapi seiring perjalanan waktu, mencintai Koes Plus praktis bersentuhan dengan Koes Bersaudara.</span><span style="font-size: 10pt; font-family: "> </span></p>
<p><span style="font-size: 10pt; font-family: ">Sejak kecil almarhum bapak tidak pernah mengenalkan Si Koes itu pada telinga anak-anaknya. Paling yang diperdengarkan bapak berupa tembang-tembang semacam The Bee Gees atau The Mercys di tape mobilnya (bapak jarang memutar kaset di rumah). Tapi sebagai penggila musik, sulit bagiku untuk tidak berkenalan dengan musik Si Koes itu.</span></p>
<p><span style="font-size: 10pt; font-family: "><span style="font-size: 10pt; font-family: ">Praktis perkenalan dengan Si Koes kudapatkan dari kawan-kawan sepermainan sebagai sesama penggila musik, yang mulai mengenalkan grup-grup band legendaris Indonesia. Kata seorang kawan waktu itu: “Jangan mengaku pecinta musik Indonesia kalau tidak mengenal Koes Plus.” Saat itu aku tidak paham apa makna perkataannya.</span></span></p>
<p><span id="more-1202"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: ">Band yang digawangi oleh Tonny Koeswoyo, Yon Koeswoyo, Yok Koeswoyo, dan Murry ini memang kerap dianggap sebagai pelopor musik pop dan rock ‘n roll di Indonesia. Koes Bersaudara sendiri terdiri dari ketiga bersaudara Tonny, Yon, Yok, ditambah John Koeswoyo dan Nomo Koeswoyo, minus Murry. Ketika Koes Bersaudara “bubar”, masuklah Murry yang bukan dari keluarga Koewoyo. Jadilah Koes <em style="mso-bidi-font-style: normal;">plus</em> Murry.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: "> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: ">Aku ingat, suatu hari aku berkunjung ke rumah almarhum kakek. Di gudang kerjanya yang sudah tak lagi dipakai untuk melukis, aku menemukan harta karun yang tak terhingga nilainya. Berupa setumpuk album-album Si Koes dalam format kaset rekaman awal.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: "> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: ">Kuingat betul, saat itu mataku nyaris mencelat keluar. Bukan main girangnya. Bukan apa-apa, sejak beranjak remaja, praktis tembang-tembang Koes Plus yang kudengar berupa aransemen ulang tembang-tembang lawas oleh Koes Plus sendiri. Dan aku merasa ada sesuatu yang kurang di sana, meski dibawakan oleh Koes Plus sendiri. Ada <em style="mso-bidi-font-style: normal;">taste</em> yang hilang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: "> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: ">Album-album dari rekaman awal memang memberikan nuansa tersendiri. Bagaimana gebukan drum, cabikan bas, kocokan gitar, suara organ, serta cara bernyanyi saat itu jelas memiliki cita rasa yang tak bisa digantikan dengan rekaman baru meski oleh band yang sama sekalipun*.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: "> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: ">Saat menemukan volume-volume lawas Si Koes itu, aku langsung menyisihkannya dari sekumpulan kaset-kaset tua lainnya dan menumpuknya hingga setinggi lutut kaki orang dewasa saking banyaknya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: "> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: ">Saat itu kakek masuk ke gudang dan berkata: “Bawa saja yang kau suka. Sudah nggak pernah kudengarkan lagi.” Mendengar itu bukan main girangnya aku. Tanpa disuruh pun aku memang bakal memaksanya untuk kumiliki dan kugondol pulang ke Bandung.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: "> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: ">Kini meski koleksi album Si Koes-ku tak lengkap-lengkap benar, tapi aku senang karena aku pernah mendengarkan langsung tembang-tembang Si Koes dari versi asli rekaman volume-volume awal. Bahkan seorang kawan sesama penggila Si Koes dengan rajin memindahkannya ke format MP3 (tentu saja semata untuk koleksi pribadi).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: "> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: ">Sulit memang membayangkan warna musik Indonesia tanpa melibatkan band satu ini. Sesulit berbicara perjalanan musik dunia tanpa menyinggung The Beatles. Suka tidak suka, Si Koes telah memberikan kontribusi warna yang tak bisa diremehkan perannya sebagai salah satu batu fondasi musik Indonesia dengan segala perkembangannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: "> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: ">Ngak-ngik-ngok? Ah, itu kan dulu…</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"> </p>
<blockquote>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><em style="mso-bidi-font-style: normal;"><span style="font-size: 10pt; font-family: ">Seperti harapan dalam hati</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><em style="mso-bidi-font-style: normal;"><span style="font-size: 10pt; font-family: ">Selalu datang hari demi hari</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><em style="mso-bidi-font-style: normal;"><span style="font-size: 10pt; font-family: ">Terlalu sedih berkali-kali</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><em style="mso-bidi-font-style: normal;"><span style="font-size: 10pt; font-family: ">Tapi jangan berulang lagi</span></em><span style="font-size: 10pt; font-family: "> </span></p>
</blockquote>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: ">23 Juni 2008 | 04.00 wib</span><span style="font-size: 10pt; font-family: "> </span></p>
<p><span style="font-size: 10pt; font-family: "><a href="http://img522.imageshack.us/img522/3300/koesplus3tu.jpg" target="_blank">Sumber gambar</a>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 9pt; font-family: ">*Soal mengapa Koes Plus melakukan rekaman ulang tembang-tembang lawasnya memang memiliki alasan tersendiri berkaitan dengan perusahaan rekaman yang merekam lagu-lagu awal mereka. Namun karena tulisan ini bukan berbentuk artikel, hanya berupa opini, aku tidak berniat untuk mengulasnya lebih jauh di sini.</span></p>
<p> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.penganyamkata.net/2008/06/23/seandainya-keluarga-koeswoyo-tak-pernah-ada/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>43</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kusno</title>
		<link>http://www.penganyamkata.net/2008/06/06/kusno/</link>
		<comments>http://www.penganyamkata.net/2008/06/06/kusno/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Jun 2008 08:07:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Daniel Mahendra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kilas Balik]]></category>
		<category><![CDATA[Soekarno]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.danielmahendra.com/?p=1121</guid>
		<description><![CDATA[Ia dijadikan panutan, dibuang, dikagumi, dipenjara, dielu-elukan, dipaksa, dihormati, diejek, dicintai, dicaci-maki, dirindukan, dikucilkan, didengar, dilarang, diikuti, dihargai, tapi juga dibenci.   Namun itu semua yang menjadikannya besar dan tetap ada. Ia memang bukan manusia sempurna, tapi ia telah berbuat sesuatu yang orang lain tak buat. Dia berani melakukan sesuatu di mana orang lain bahkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: "><a href="http://www.danielmahendra.com/wp-content/uploads/2008/06/kusno.jpg"></a><a href="http://www.danielmahendra.com/wp-content/uploads/2008/06/kusno2.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-1161 alignleft" style="float: left;" title="kusno2" src="http://www.danielmahendra.com/wp-content/uploads/2008/06/kusno2-210x300.jpg" alt="" width="210" height="300" /></a>Ia dijadikan panutan, dibuang, dikagumi, dipenjara, dielu-elukan, dipaksa, dihormati, diejek, dicintai, dicaci-maki, dirindukan, dikucilkan, didengar, dilarang, diikuti, dihargai, tapi juga dibenci.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: "> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: ">Namun itu semua yang menjadikannya besar dan tetap ada. Ia memang bukan manusia sempurna, tapi ia telah berbuat sesuatu yang orang lain tak buat. Dia berani melakukan sesuatu di mana orang lain bahkan masih kecut untuk memikirkannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: "> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: ">Ia berani teriak untuk melakukan sesuatu yang baru ketimbang terus bercokol di bawah pemerintah Hindia Belanda, berani melakukan apa yang disebut revolusi, berani mengambil risiko dari sebuah keputusan, berani menantang negara-negara besar yang ia anggap agresor, berani menyetrika Amerika, berani melinggis Inggris.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: "> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: ">Tak kurang, ia pun berani berbuat salah, berani berbuat keliru, berani kalah, berani menanggung risiko, dan berani mati seorang diri. Itu semua yang membuat ia menjadi manusia yang tak mungkin dinafikan keberadaannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: "> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: ">Ribuan referensi dapat dibaca dan didengar tentangnya. Tapi hari ini, aku menuliskan ini tak lain sekadar ingin menghormati seseorang yang pernah dilahirkan ke bumi Indonesia, yang hingga kini: belum ada lagi seorang ibu yang melahirkan seseorang seperti dirinya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: "> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: ">Sepuluh jari setangkup sembah: tabik Bung Karno!</span><span style="font-size: 10pt; font-family: "> </span></p>
<p><span style="font-size: 10pt; font-family: ">6 Juni 1901-21 Juni 1970</span></p>
<p><span id="more-1121"></span></p>
<p><span style="font-size: 10pt; font-family: ">6 Juni 2008 | 14.54</span></p>
<p><span style="font-size: 10pt; font-family: ">Foto: KITLV.</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.penganyamkata.net/2008/06/06/kusno/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>30 April 2 Tahun Lalu</title>
		<link>http://www.penganyamkata.net/2008/04/30/30-april-2-tahun-lalu-2/</link>
		<comments>http://www.penganyamkata.net/2008/04/30/30-april-2-tahun-lalu-2/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Apr 2008 13:28:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Daniel Mahendra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kilas Balik]]></category>
		<category><![CDATA[Pramoedya]]></category>
		<category><![CDATA[Pramoedya Ananta Toer]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.danielmahendra.com/?p=925</guid>
		<description><![CDATA[Pramoedya Ananta Toer adalah satu dari sederet sastrawan Indonesia terdepan yang dimiliki negeri ini. Puluhan buku lahir dari tangannya. Sebagian besar telah diterjemahkan ke dalam lebih dari 40 bahasa di dunia.   Ia dilahirkan di Blora pada 6 Februari 1925. Sulit membicarakan sastra Insdonesia tanpa menyebut namanya. Sesulit membayangkan sebagai sastrawan internasional ia menjadi paria [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"><a href="http://www.danielmahendra.com/wp-content/uploads/2008/04/pram_muda1.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-926 alignleft" style="float: left;" title="pram_muda1" src="http://www.danielmahendra.com/wp-content/uploads/2008/04/pram_muda1.jpg" alt="" width="150" height="226" /></a>Pramoedya Ananta Toer adalah satu dari sederet sastrawan Indonesia terdepan yang dimiliki negeri ini. Puluhan buku lahir dari tangannya. Sebagian besar telah diterjemahkan ke dalam lebih dari 40 bahasa di dunia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Ia dilahirkan di Blora pada 6 Februari 1925. Sulit membicarakan sastra Insdonesia tanpa menyebut namanya. Sesulit membayangkan sebagai sastrawan internasional ia menjadi paria di negeri sendiri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Namun aku sedang tak bermaksud menceritakan tentang siapa dan bagaimana itu Pramoedya. Aku hanya sedang ingin mengingat 30 April 2 tahun lalu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">30 April 2006 Pram mengehembuskan nafas terakhirnya di Jakarta dan dimakamkan di pemakaman umum Karet-Bivak, Jakarta.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Dia telah pergi ke tempat ke mana setiap orang akan dan sedang pergi…</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.penganyamkata.net/2008/04/30/30-april-2-tahun-lalu-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Si Kendi dan Harinya</title>
		<link>http://www.penganyamkata.net/2008/03/28/si-kendi-dan-harinya/</link>
		<comments>http://www.penganyamkata.net/2008/03/28/si-kendi-dan-harinya/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 28 Mar 2008 19:20:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Daniel Mahendra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ceritera]]></category>
		<category><![CDATA[Kado]]></category>
		<category><![CDATA[Kilas Balik]]></category>
		<category><![CDATA[Catatan Harian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://danielcmahendra.wordpress.com/?p=1308</guid>
		<description><![CDATA[Twindri Utari bakal ulang tahun Minggu 30 Maret besok. Kelahiran tahun berapa dia? Ah, lupa. Mungkin 76. Atau mungkin 77. Ah, betul-betul lupa. Pokoknya kalau tidak 31, ya 32 usianya. Tapi ada yang lebih menarik ketimbang mengingat hari ulang tahunnya yang saban tahun bakal tiba itu. Apalagi kalau bukan tanggal 29 Maret. Ada apa? Ternyata [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><font size="2"><a href="http://www.danielmahendra.com/wp-content/uploads/2008/03/kendi.jpg" title="kendi.jpg"></a></font><font size="2"><a href="http://www.danielmahendra.com/wp-content/uploads/2008/03/kendi.jpg" title="kendi.jpg"></a></font><font size="2"><a href="http://www.danielmahendra.com/wp-content/uploads/2008/03/kendi.jpg" title="kendi.jpg"></a></font><font size="2"></font><font size="2"></font><font size="2"></p>
<div style="text-align:center;"><img src="http://www.danielmahendra.com/wp-content/uploads/2008/03/kendi.jpg" alt="kendi.jpg" /></div>
<p>Twindri Utari bakal ulang tahun Minggu 30 Maret besok. Kelahiran tahun berapa dia? Ah, lupa. Mungkin 76. Atau mungkin 77. Ah, betul-betul lupa. Pokoknya kalau tidak 31, ya 32 usianya.</p>
<p>Tapi ada yang lebih menarik ketimbang mengingat hari ulang tahunnya yang saban tahun bakal tiba itu. Apalagi kalau bukan tanggal 29 Maret. Ada apa? Ternyata setelah melakukan perhitungan hari baek, 29 Maret 2008 adalah hari pernikahannya. Ai-ai&#8230;</p>
<p>Setelah pacaran selama 14 tahun (sableng!), jadi juga mereka nikah. Hihihi! Soal putus-nyambung, barangkali itu soal biasa (14 tahun. Kebayang!).</p>
<p><span id="more-819"></span></font><font size="2"><a href="http://www.danielmahendra.com/wp-content/uploads/2008/03/kendi-02.jpg" title="kendi-02.jpg"></p>
<div style="text-align:center;"><img src="http://www.danielmahendra.com/wp-content/uploads/2008/03/kendi-02.jpg" alt="kendi-02.jpg" /></div>
<p></a></font></p>
<p><font size="2"><a target="_blank" href="http://windykei.multiply.com/">Twindri Utari</a> sahabatku itu tentu saja kupanggil Kendi saja biar praktis. Karena seperti itulah aku memanggilnya: &#8220;Ndi, Kendi!&#8221;. Tahun berapa ya kenal dia? 2005 atau 2006? Lupa (males liat catatan harian). Kenalnya via <i>mailing-list</i> pula. Hihihi!</font></p>
<p><font size="2">Suatu hari kawan-kawan <i>mailing-list</i> sepakat melakukan perkunjungan ke rumah Pramoedya Ananta Toer. Kunjungan nyaris tinggal beberapa hari lagi, eh, Pram masuk rumah sakit, dan wafat pada 30 April 2006.</font></p>
<p><font size="2">Akhirnya kawan-kawan sepakat bertemu di pemakaman Pram saja. Sialnya, saat pemakaman, kedua hp-ku mati total. Tak bisa dihubungi dan menghubungi. Jadinya kami sama-sama berada di pemakaman yang sama, tapi tak bisa saling mengenal yang mana kawan-kawan <em>mailing-list</em>. Sungguh sial.</font></p>
<p><font size="2">Singkat cerita, di hari-hari kemudian jadi juga kita bertemu. Entah aku yang ke Jakarta atau si Kendi yang ke Bandung. Di samping Kendi ada satu orang lagi anggota <i>mailing-list</i> yang tinggal di Yogyakarta. <a target="_blank" href="http://www.donnyverdian.net/">Donny Verdian</a> namanya (si Kendi biasa memanggilnya: si Jawir! Hihihi). Ia pun berada di pemakaman Pram di Karet Bivak, Jakarta saat itu.</font></p>
<p><font size="2">Setiap hari, kami bertiga selalu <i>chating</i> di YM. Saling SMS dan telpon. Isinya: caci-maki semata. Hahaha! Kalau bukan Kendi yang sewot sama si Donny, ya Donny yang mulai berseteru dengan si Kendi. Aku? Biasanya jadi tempat lalu lintas caci maki mereka berdua. Hehe! Namun demikian persahabatan kami makin menjadi saja.</font></p>
<p><font size="2">Yang unik, kami bertiga belum pernah betul-betul bertemu bertiga secara langsung. Sementara si Kendi pernah ke Yogya dan bertemu dengan Donny. Begitu pun kalau dia ke Bandung pasti bertemu denganku. Tapi bertiga, belum pernah terjadi. Setiap ada rencana bertemu bertiga di Jakarta atau di Bandung atau di Yogya, selalu gagal.</font></p>
<p><font size="2">Awal Maret kemarin Donny baru saja melangsungkan pernikahan di Australia. Eh, giliran akhir Maret si Kendi yang melangsungkan pernikahan. Di bulan dan tahun yang sama pula (aku kapan? Brengsek kalian!).</font></p>
<p><font size="2">Nah, karena si Kendi nikah, tentu saja tak mungkin baik Donny maupun aku tidak datang. Akhirnya kita sepakat untuk bertemu di pernikahan Kendi. Tapi dasar Kendi, nikahnya bikin susah orang. Perhelatan diselenggarakan di Puncak. Di sebuah Vila di daerah Cipayung. Bagiku mungkin tak soal. Bandung-Puncak toh relatif dekat. Tapi bagi Donny? Ia yang ndeso banget itu memang bisa naik pesawat Yogya-Jakarta. Tapi (dasar ndeso!) ia kebingungan mesti naik apa Jakarta-Puncak? (Ndeso&#8230; Ndeso&#8230;).</font></p>
<p><font size="2">Kemarin malam si Kendi sempat menelponku, menanyakan riwayat keberangkatan Donny yang kebingungan. Kubilang: &#8220;Kamu juga sih, ndi, nikah pake di Puncak. Naik bis mungkin bisa, tapi tetap aja menuju vilanya jauh dari jalan besar. Bikin susah orang.&#8221;</font></p>
<p><font size="2">Dasar Kendi, jawabannya tak kalah sableng: &#8220;Bukan gue salah pilih tempat, Dan, tapi salah pilih temen. Orang susah semua! Hahaha!!&#8221; jawabnya berkelakar. Dasar Kendi sableng!</font></p>
<p><font size="2">Akhirnya Donny kuminta ke Bandung saja. Hingga aku merawi tulisan ini, posisi Donny sedang dalam perjalanan Yogya-Bandung naik kereta malam (ia ngotot mau naik pesawat Yogya-Bandung tapi kularang. Ndeso tapi ngotot!). Pagi nanti ia sampai Bandung, ngaso-ngaso sejenak, dan kita siap meluncur ke Puncak menggunakan mobil.</font></p>
<p><font size="2">Nah, Ndi, tulisan ini sebagai kado pernikahanmu. Juga kado ulang tahunmu lusa nanti (digabung jadi satu aja ya, biar irit! <img src='http://www.penganyamkata.net/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> ). Insya Allah jadi juga kita bertemu bertiga.</font></p>
<p><font size="2">Selamat ya, Kendi. Bahagia selalu.</font></p>
<p><font size="2"><em><a href="http://www.danielmahendra.com/wp-content/uploads/2008/03/hari-kendi.jpg" title="hari-kendi.jpg"><img align="left" src="http://danielcmahendra.files.wordpress.com/2008/03/hari-kendi.thumbnail.jpg" alt="hari-kendi.jpg" /></a>Love</em>,</font></p>
<p><font size="2">D.M.</font></p>
<p><font size="2">29 Maret 2008, 02.13 wib.</font></p>
<p><font size="2">Ai, indahnya persahabatan&#8230;</font></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.penganyamkata.net/2008/03/28/si-kendi-dan-harinya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
