Archive for the 'Penulisan' Category

Hati-hati dengan Apa yang Kau Tulis!

When you want something, all the universe conspires in helping you to achieve it
[Paulo Coelho, The Alchemist]

Bagi sebagian pembaca blog ‘Penganyam Kata’, mungkin masih lagi ada yang mengingat tulisan dengan judul ‘Who Are You?’ dalam serial ‘The Waiting Is Almost Over’. Tulisan itu di-posting pada 3 Mei 2009 jam 20.00 malam.

Tulisan ‘Who Are You?‘ berkisah tentang seorang lelaki bernama Dan yang datang ke almamater SMA-nya dan memberikan pelatihan penulisan kreatif pada siswa-siswa di sana. Kisah itu tentu saja fiksi belaka. Semata hasil karanganku saja. Membayangkan pada suatu hari aku ingin kembali ke SMA dan menularkan pengalaman tentang dunia tulis menulis.

Siapa nyana, nyaris setahun kemudian hal itu betul-betul terjadi persis seperti apa yang kutulis. Memang tidak di SMA-ku, melainkan di SMA Terpadu Krida Nusantara – Boarding School, Bandung. Ceritanya, pada acara bincang novel di Pesta Buku Bandung 23 Februari 2010 lalu, seorang lelaki bernama Pak Wildan menawariku dan Lisa Febriyanti (penulis novel Iluminasi) untuk memberikan pelatihan menulis kreatif seputar pengalaman menulis novel di SMA-nya. Setelah beberapa kali kontak, gayung pun bersambut.

Continue Reading »

Menulis: Dari Blog ke Buku

Kepada Ersis Warmansyah Abbas

Aku yakin sebelum ada media bernama blog, Pak Ersis Warmansyah Abbas sudah menjadi penulis dengan banyak buku. Tetapi dosen di FKIP Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin yang sedang mengambil program doktor di Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung ini memang kukenal melalui blog.

Sejak kali pertama (kira-kira tahun 2008) berkunjung ke blognya, aku sudah bisa menduga: tulisan-tulisan Pak EWA, begitu biasa ia disapa, selalu punya kans untuk terbit sebagai buku. Dan ketika ia mulai rajin mengirimiku buku-buku karyanya (sudah enam buku yang kuterima), tak syak lagi: tulisan-tulisan di dalam buku tersebut memang banyak yang berupa materi dari blog-nya (www.webersis.com)

Apakah Pak EWA menulis blog untuk bisa diterbitkan sebagai buku, atau menulis buku yang untuk sementara di-share melalui blog terlebih dahulu, sudah tak penting lagi. Karena prinsip Pak EWA sudah jelas: menulis, menulis, dan menulis!

Sulit dibantah, Pak EWA memang motivator penulisan yang tangguh. Begitu banyak kutemui penulis maupun orang penerbitan di Indonesia ini, tapi belum pernah kujumpai seseorang yang tanpa lelah mendengungkan untuk terus menulis, menulis, dan menulis pada orang lain. Bahkan, di status-status facebook-nya, tak jarang kujumpai ia sekadar menuliskan satu kalimat: Selamat malam jama’ah fesbukiyah. Menulis apa malam ini? Setiap hari!

Continue Reading »

Bisakah Hidup dari Menulis?

Terkadang, untuk mengetahui cara berpikir seseorang aku kerap memasuki pendalamannya saat berbincang. Yang awalnya ia ingin tanya banyak hal, tanpa kuminta ia malah bercerita tentang dirinya sendiri. Ya, kebanyakan orang memang lebih suka menceritakan perihal dirinya bukan? Kalau sudah seperti itu aku selalu senang untuk “bermain-main” dengan lawan bicaraku.

Ketika harus menyambangi rumah Ketua RW di komplek untuk suatu keperlauan tanda tangan, sang Ketua RW bertanya padaku:

“Kerja di mana, Dik?”
“Saya menulis, Pak.”
“Menulis? Menulis apa?”
“Menulis apa saja. Apa saja yang bisa menghasilkan uang.”
“Apa penghasilannya tetap?”
“Tergantung pesanan, Pak. Kalau order ramai, ya uang melimpah.” *
“Kalau sepi?”
“Ya harus mulai hemat.”
“Apa nggak riskan, Dik? Apa bisa hidup dari menulis? Nggak ada penghasilan tetap.”

Continue Reading »

Menulis adalah Soal Keberanian, Eh?

Pabila cinta memanggilmu, ikutilah ia walau jalannya terjal berliku-liku. Dan pabila sayapnya merangkummu, pasrahlah serta menyerah, walau pedang tersembunyi di sela sayap itu melukaimu (The Prophet, Kahlil Gibran)

Suatu malam, aku ditelpon oleh seseorang. Ia seorang blogger yang sebentar lagi bukunya akan diterbitkan oleh sebuah penerbit Jakarta. Tapi apa yang ia sodorkan pada kalimat pertamanya di telpon membuatku mengernyitkan dahi. Untuk memudahkan, kita sebut saja dia dengan panggilan Zus. Begini kira-kira isi telpon si Zus itu:

“Aku nih sebetulnya sedang ketakutan, Mas.”
“Ketakutan?”
“Ya.”
“Kenapa?”
“Bukuku bentar lagi terbit…”
“Lha? Kenapa ketakutan?”
“Nggak bisa ngebayangin, apa kata orang-orang nanti…”
“Lha, gimana kamu ini. Belum-belum kok malah sibuk dengan apa kata orang nanti.”
“Ya nggak tau, takut aja kalau nanti bukuku dicela orang. Hu-hu-hu. Gimana dong, Mas…”
“He, Zus, dengar ya: menulis itu soal keberanian!”
“Keberanian gimana maksudnya?”

Continue Reading »

Next Page »