Archive for the 'Peristiwa' Category

Negeri Sinisme (atawa Annisa Larasati)

Seorang terpelajar harus juga belajar berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi perbuatan (Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia, hal 52)

Suatu hari, Windy, kawanku yang kini bermukim di Denpasar itu, pernah berkelakar seperti ini:

“Rasanya Tuhan kok nggak adil ya, Dan.”
“Hus! Nggak adil gimana? Sembarangan kamu!”
“Coba kamu pikir, indah betul perjalanan hidup Annisa Larasati Pohan itu.”
“Annisa? Indah bagaimana?”
“Sudah cantik, anak pejabat BI, berpendidikan, penyiar radio, model, menikah dengan perwira TNI, yang bukan kebetulan bermertua presiden. Apa nggak indah itu?”
“Hahaha! Jalan hidup orang kan beda-beda, Ndi. Jangan salah, banyak juga orang yang nggak seberuntung kamu.”
“Justru itu aku bilang Annisa itu beruntung banget jalan hidupnya.”

Continue Reading »

Hukum Tidak Tertulis

Jika dua orang sampai bersentuhan satu sama lain, tak dapat diragukan, mereka mempunyai kesamaan. Bagaimana burung akan terbang kalau tidak dengan sesamanya? (Jalaluddin Rumi)

Siapa nyana, di dunia ini ada hukum-hukum yang tidak tertulis, yang (sialnya) terlanjur beranjak menjelma stereotype pada banyak orang. Hukum tidak tertulis memang tidak pernah ditorehkan, apalagi dicanangkan secara legal formal. Namun ironisnya dengan mudah dijadikan rujukan bagi sebagian orang dalam membangun image pada jenis kelamin tertentu.

Dulu terkadang aku kerap berkelakar bahwa ada hukum tidak tertulis bahwa laki-laki wajib bisa main gitar. Entah dari mana asalnya, tapi lelaki yang tidak bisa main gitar adalah satu hal paling menggelikan yang pernah ada di bumi ini. Namanya juga kelakar, sudah barang tentu kelakar itu tidak mendasar dan tidak berkorelasi sama sekali dengan hal apa pun.

Sudah barang tentu, kawan-kawan perempuanku yang kekasih atau suaminya tak bisa menggemulaikan jemarinya pada dawai gitar meradang tak terima. Mereka berprotes bahwa lelaki yang tak bisa main gitar bukanlah suatu aib dalam kehidupan. Itu bisa dimengerti, karena memang tak ada perjanjian baik lisan maupun tulisan antara lelaki dan gitar. Keduanya tetap makhluk yang berbeda.

Itu pun terjadi pada perspektif lelaki dan bola. Apakah betul bahwa lelaki identik dengan sepak bola? Apakah semua lelaki mutlak bisa main bola atau harus gila bola? Apa boleh buat: tak ada kesepakatan antara lelaki dengan sepak bola.
Continue Reading »

Supersemar. Surat Perintah Apa?

42 tahun lalu pada 11 Maret 1966 Presiden Soekarno menandatangani sebuah surat yang konsepnya memberikan kekuasaan penuh kepada Mayor Jendral Soeharto selaku Panglima Angkatan Darat Republik Indonesia untuk mengambil tindakan yang perlu guna memulihkan keamanan dan ketertiban.

Inilah sebuah surat yang umum mahfum bahwa suka tidak suka, di sinilah titik tolak kontrol “kekuasaan” negara Indonesia berangsur hijrah ke tangan seorang bekas tentara KNIL, Soeharto.

Sejak itu, mandat yang dikeluarkan sementara (secara terpaksa?) oleh Presiden Soekarno kepada Mayjen Soeharto justru menjadi awal dari tindakan pengamanan (dengan segala ragam versi dan maknanya) digerakan secara serentak, holistik, sapu habis terhadap pihak-pihak yang dianggap berseberangan dengan kekuatan baru yang belakangan dinamakan: Orde Baru. Terlibat tidak terlibat, berhubungan langsung atau tidak, pejabat bukan pejabat, pihak-pihak yang dianggap oleh kekuatan baru itu berbau PKI (Partai Komunis Indonesia): dibersihkan! Tanpa pandang bulu!

Puluhan tahun kemudian, baru umum mahfum, keberadaan surat asli tersebut raib entah di mana, hingga saat ini. Padahal itulah surat sakti yang menimbulkan kesimpangsiuran atas berpindahnya kekuasaan suatu negara. Dengan kesimpangsiuran mengenai fakta tentang surat itu, kalangan sejarawan dan hukum Indonesia menilai: bahwa peristiwa G30S dan Supersemar adalah salah satu dari sekian sejarah Indonesia yang masih gelap.

Pada 11 Maret 2008 bertanya aku pada seorang muda usia 19 tahun:

“Apa yang kau ketahui tentang Supersemar?”

Jawabnya: “Emh, beasiswa ya?”

Akankah dibiarkan tetap gelap? Siapa pula berani menjawab?

Daniel Mahendra,
Penyuka yang Gelap-gelap.

Bandung, 11 Maret 2008.

Wafatnya Paman Gober

wafatnya-paman-gober.jpg

Minggu siang saat sedang nongkrong di kantor detik.com Bandung sembari menikmati cerpen Bertungkus Lumus karya Martin Aleida di Kompas Minggu 27 Januari 2008, tiba-tiba tersiar kabar Paman Gober wafat pada pukul 13.10 wib.

Sontak kantor redaksi ramai. Metro TV, SCTV, RCTI, dan chanel-chanel lain di tv pun dilalap habis untuk mengikuti kronologis berita wafatnya bebek terkaya di kota bebek tersebut. Tak berapa lama SMS demi SMS pun berdatangan dari berbagai kota, juga dari Cairo.

Yang cukup bikin gigi nyengir, beberapa kawan mengirim SMS berisi: Seluruh media di Kota Bebek dibanjiri berbagai berita tentang wafatnya Paman Gober… Atau: Paman gober pergi tuh… Whew!

Ya, akhirnya Paman Gober memang wafat. Seluruh keluarga bebek tentu akan berkumpul. Sahabat, rekan, handai taulan, serta para pejabat maupun para mantan pejabat Kota Bebek pun berduyun-duyun ke kediaman Paman Gober untuk ikut berbelasungkawa serta memberikan penghormatan terakhir. Tidak bisa tidak, komplek pemakaman keluarga Paman Gober di provinsi di luar Kota Bebek, Astana Giri Bebek, yang sejak beberapa minggu lalu telah memperlihatkan kesibukan, kini betul-betul disiapkan. Pemerintah Kota Bebek pun menetapkan hari berkabung nasional selama 7 hari sejak Paman Gober wafat.

Selamat jalan, Paman Gober.

dia telah pergi ke tempat setiap orang akan dan sedang pergi…

(P.A.T., Sastrawan Kota Bebek)

Anyaman Sepola:

Continue Reading »

Next Page »