<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Penganyam Kata &#187; Peristiwa</title>
	<atom:link href="http://www.penganyamkata.net/category/peristiwa/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.penganyamkata.net</link>
	<description>The Untoldstories of Daniel Mahendra</description>
	<lastBuildDate>Fri, 30 Apr 2010 03:53:12 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
<image>
<link>http://www.penganyamkata.net</link>
<url>http://www.penganyamkata.net/wp-content/mbp-favicon/dmbd2.ico</url>
<title>Penganyam Kata</title>
</image>
		<item>
		<title>Negeri Sinisme (atawa Annisa Larasati)</title>
		<link>http://www.penganyamkata.net/2008/12/02/negeri-sinisme-atawa-annisa-larasati/</link>
		<comments>http://www.penganyamkata.net/2008/12/02/negeri-sinisme-atawa-annisa-larasati/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Dec 2008 09:51:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Daniel Mahendra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Peristiwa]]></category>
		<category><![CDATA[Annisa Larasati Pohan]]></category>
		<category><![CDATA[Antasari Azhar]]></category>
		<category><![CDATA[Aulia Pohan]]></category>
		<category><![CDATA[Deputi Gubernur Bank Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Kepala Kepolisian Republik Indonesia Jenderal Rusdihard]]></category>
		<category><![CDATA[Komisi Pemberantasan Korupsi]]></category>
		<category><![CDATA[KPK]]></category>
		<category><![CDATA[Susilo Bambang Yudhoyono]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.danielmahendra.com/?p=1478</guid>
		<description><![CDATA[Seorang terpelajar harus juga belajar berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi perbuatan (Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia, hal 52) Suatu hari, Windy, kawanku yang kini bermukim di Denpasar itu, pernah berkelakar seperti ini: “Rasanya Tuhan kok nggak adil ya, Dan.” “Hus! Nggak adil gimana? Sembarangan kamu!” “Coba kamu pikir, indah betul perjalanan hidup Annisa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><em>Seorang terpelajar harus juga belajar berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi perbuatan (Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia, hal 52)</em></p>
<p><a href="http://www.danielmahendra.com/wp-content/uploads/2008/12/annisa.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1479" title="annisa" src="http://www.danielmahendra.com/wp-content/uploads/2008/12/annisa.jpg" alt="" width="125" height="188" /></a></p>
<p>Suatu hari, Windy, kawanku yang kini bermukim di Denpasar itu, pernah berkelakar seperti ini:</p>
<p>“Rasanya Tuhan kok nggak adil ya, Dan.”<br />
“Hus! Nggak adil gimana? Sembarangan kamu!”<br />
“Coba kamu pikir, indah betul perjalanan hidup Annisa Larasati Pohan itu.”<br />
“Annisa? Indah bagaimana?”<br />
“Sudah cantik, anak pejabat BI, berpendidikan, penyiar radio, model, menikah dengan perwira TNI, yang bukan kebetulan bermertua presiden. Apa nggak indah itu?”<br />
“Hahaha! Jalan hidup orang kan beda-beda, Ndi. Jangan salah, banyak juga orang yang nggak seberuntung kamu.”<br />
“Justru itu aku bilang Annisa itu beruntung banget jalan hidupnya.”</p>
<p><span id="more-1478"></span></p>
<p>Aku jelas hanya ngakak mendengar kelakarnya. Tapi, betulkah seberuntung itu jalan hidup Annisa Larasati Pohan, model yang cantiknya memang gilang gemilang itu? Sulit untuk menjawabnya. Karena jalan hidup seseorang memang berbeda-beda. Dan untuk semua itu tak ada parameter setepat-tepatnya untuk mengukur jalan hidup seseorang beruntung atau buntung.</p>
<p>Seorang anak tukang patri akan merasa beruntung setengah mati bahwa selama sekolah ia mendapat beasiswa sehingga tak pernah membebani bapaknya yang tukang patri. Seorang anak konglomerat tak pernah pusing dari mana dapat uang dan bekeja di mana kelak. Karena ratusan perusahaan ayahnya siap diwariskan padanya. Seorang ibu yang ditinggal mati suaminya bisa bangga tiada tara ketika anak sulungnya sudah bekerja dan bisa membiayai sekolah adik-adiknya. Semua hanyalah contoh-contoh kecil betapa kita, manusia, bisa merasa beruntung dengan segala apa yang ada pada diri kita.</p>
<p>Beruntungkah Annisa? Tentu saja kita tidak bisa memberikan penilaian secara gegabah atas hidup orang lain. Ia memang putri Aulia Pohan, mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia. Ia juga memang menantu dari Presiden SBY. Namun kini Aulia Pohan, ayahnya, diciduk juga oleh Komisi Pemberantasan Korupsi dan ditahan di rumah tahanan Brimob Kelapa Dua, Jakarta. Aulia ditahan (di Blok B, satu blok dengan mantan Kepala Kepolisian Republik Indonesia Jenderal Rusdihardjo) dengan tuduhan terlibat dalam menetapkan putusan penggunaan dana Yayasan Pengembangan Perbankan Indonesia senilai Rp100 miliar (Tempo, Edisi 1-7 Desember 2008, hal 96-97).</p>
<p>Terlepas dari kasus itu, ini  memang menjadi preseden menarik di mana KPK berani melakukan penahanan atas besan Presiden Yudhoyono. Sesuatu yang barangkali merupakan hal yang mustahil di “zaman dulu” di negeri ini.</p>
<p>KPK memang lembaga independen. Seorang presiden sekalipun tak bisa begitu saja melakukan intervensi. Namun, sebegitu hebatkah Presiden SBY sehingga bisa membiarkan orang tua menantunya ditahan atas tuduhan kasus korupsi?</p>
<p>Secara pribadi aku menilai hal tersebut sebagai langkah jujur dan gagah. Baik pada lembaga yang dipimpin oleh Antasari Azhar maupun pada Presiden SBY itu sendiri. Bukankah ini jarang terjadi? Bukankah ini progres yang positif bagi atmosfir kehidupan bernegara di Indonesia? Seorang besan, bayangkan!</p>
<p>Tapi jangan lupa, kita hidup di negara yang menganut paham sinisme. Sinisme? Ya. Sinisme terhadap apa pun. Sesuatu yang positif di mata orang lain bisa dianggap sebagai olok-olok yang menggiurkan bagi sebagian orang. Tak sedikit kudengar suara-suara yang menganggap hal tersebut justru dijadikan bedak dan gincu bagi Presiden SBY dalam menghadapi suksesi 2009. Yang BBM diturunkan lah (meski tidak signifikan), hingga penahanan besan sendiri.</p>
<p>Jangan salah, aku bukan anggota Partai Demokrat, aku juga bukan pendukung Presiden SBY tanpa alasan. Aku hanya mendukung sesuatu yang baik bagi kehidupan negara. Apa pun itu. Siapa pun itu. Bukankah sesuatu yang baik layak untuk diperjuangkan?</p>
<p>Kalau sudah seperti itu, beruntungkah Annisa Larasati Pohan? Ah, tak perlu benar dijawab. Ini hanya diskusi kecil kok.</p>
<p>Bandung, 2 Desember 2008 | 16.50 wib</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.penganyamkata.net/2008/12/02/negeri-sinisme-atawa-annisa-larasati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>51</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum Tidak Tertulis</title>
		<link>http://www.penganyamkata.net/2008/11/01/hukum-tidak-tertulis/</link>
		<comments>http://www.penganyamkata.net/2008/11/01/hukum-tidak-tertulis/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 31 Oct 2008 19:08:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Daniel Mahendra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Peristiwa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.danielmahendra.com/?p=1428</guid>
		<description><![CDATA[Jika dua orang sampai bersentuhan satu sama lain, tak dapat diragukan, mereka mempunyai kesamaan. Bagaimana burung akan terbang kalau tidak dengan sesamanya? (Jalaluddin Rumi) Siapa nyana, di dunia ini ada hukum-hukum yang tidak tertulis, yang (sialnya) terlanjur beranjak menjelma stereotype pada banyak orang. Hukum tidak tertulis memang tidak pernah ditorehkan, apalagi dicanangkan secara legal formal. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center"><em>Jika dua orang sampai bersentuhan satu sama lain, tak dapat diragukan, mereka mempunyai kesamaan. Bagaimana burung akan terbang kalau tidak dengan sesamanya? (Jalaluddin Rumi)</p>
<p></em></p>
<p>Siapa nyana, di dunia ini ada hukum-hukum yang tidak tertulis, yang (sialnya) terlanjur beranjak menjelma <em>stereotype</em> pada banyak orang. Hukum tidak tertulis memang tidak pernah ditorehkan, apalagi dicanangkan secara legal formal. Namun ironisnya dengan mudah dijadikan rujukan bagi sebagian orang dalam membangun <em>image</em> pada jenis kelamin tertentu.</p>
<p>Dulu terkadang aku kerap berkelakar bahwa ada hukum tidak tertulis bahwa laki-laki wajib bisa main gitar. Entah dari mana asalnya, tapi lelaki yang tidak bisa main gitar adalah satu hal paling menggelikan yang pernah ada di bumi ini. Namanya juga kelakar, sudah barang tentu kelakar itu tidak mendasar dan tidak berkorelasi sama sekali dengan hal apa pun.</p>
<p>Sudah barang tentu, kawan-kawan perempuanku yang kekasih atau suaminya tak bisa menggemulaikan jemarinya pada dawai gitar meradang tak terima. Mereka berprotes bahwa lelaki yang tak bisa main gitar bukanlah suatu aib dalam kehidupan. Itu bisa dimengerti, karena memang tak ada perjanjian baik lisan maupun tulisan antara lelaki dan gitar. Keduanya tetap makhluk yang berbeda.</p>
<p>Itu pun terjadi pada perspektif lelaki dan bola. Apakah betul bahwa lelaki identik dengan sepak bola? Apakah semua lelaki mutlak bisa main bola atau harus gila bola? Apa boleh buat: tak ada kesepakatan antara lelaki dengan sepak bola.<br />
<span id="more-1428"></span><br />
Beberapa hari lalu aku memangkas rambut yang sudah menggondrong. Sudah 15 tahun aku pangkas di sana. 15 tahun! 15 tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk mengenal satu sama lain dua pribadi yang berbeda jiwa. Dan selama 15 tahun itu cukup membuatku mafhum apa yang selalu dicerocoskan kedua tukang pangkas tua itu sembari memangkas: melulu sepak bola!</p>
<p>TV selalu memutar pertandingan sepak bola. Dan koran yang dibaca adalah halaman-halaman yang memuat pertandingan demi pertandingan. Rasanya hidup mereka sudah cukup bahagia dengan diselingi pertandingan sepak bola. Namun selama 15 tahun itu, mereka selalu membangun <em>frame</em> bahwa setiap lelaki adalah penyuka bola. Sehingga merasa wajar-wajar saja jika tiba-tiba terlontar pertanyaan:</p>
<p>“Ari peuting saha nu meunang?” (kalau tadi malam siapa yang menang?) tanya pak Endang dalam Sunda sembari menyibak rambutku.</p>
<p>Siapa yang menang? batinku dalam hati. Kenapa juga ditanyakan padaku siapa yang menang? Sebegitu pentingkah pertanyaan itu sehingga ia berani  memastikan bahwa ada perjanjian tertulis antara aku yang laki-laki ini dengan makhluk bernama sepak bola? Dalam hati aku hanya tersenyum geli. Tapi di luar hati aku hanya nyengir sebagai tanda peduli. Maka ia pun nyerocos soal AC Milan.</p>
<p>Malam harinya sepulang berpangkas, aku kembali ke kantor. Tak lama seorang <em>lay outer</em> datang, hendak meneruskan pekerjaan. Ketika bertemu, kalimat pertama yang ia sodorkan sebagai salam pembuka adalah: “Tadi Persib gimana, Pak?”</p>
<p>Tadi Persib gimana? Kenapa juga aku mesti tahu bagaimana keadaan Persib? Kesebelasan asal Bandung itu. Sore tadi memang kudengar kawan-kawan di kantor meributkan pertandingan Persib yang tak disiarkan TV. Tidak seru kalau sekadar mendengarkan melalui radio, menurut mereka. Tapi soal Persib bagaimana?</p>
<p>Pertanyaannya hanya kujawab dengan cengiran masygul, bahwa aku tak tahu sama sekali soal bola.</p>
<p>“Oh, Bapak nggak suka bola?” dan aku hanya tersenyum menggeleng.</p>
<p>Ia adalah bukti bangun paling nyata yang telah menyusun kerangka dalam bingkai pikirannya bahwa setiap lelaki mutlak suka bola. Sehingga menurutnya adalah wajar pertanyaan semacam itu dilontarkan begitu saja tanpa mengecek terlebih dahulu apakah seorang lelaki suka bola atau tidak.</p>
<p>Sama halnya dengan perempuan. Apakah perempuan mutlak bisa masak? Dan apakah perempuan mesti berambut panjang? Juga apakah kulit putih adalah salah satu syarat kecantikan? Semua itu nyatanya hanya bangunan cara berpikir yang kadung mengendap di <em>frame</em> banyak orang, yang ironisnya menjelma menjadi patokan dalam memandang jenis kelamin. Bukankah demikian?</p>
<p>Maka, adakah di antara kalian memiliki anggapan-anggapan secara tidak tertulis bahwa lelaki mesti bisa ini-itu. Begitu pun perempuan mesti bisa begini-begitu. Adakah?</p>
<p>Selamat pagi!</p>
<p>1 November 2008 | 02.04 wib</p>
<p><strong>Catatan</strong>: Ini adalah tulisan pertama di bulan November 2008. Dan merupakan postingan ke-777 dalam sejarah blog ini (halah!).</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.penganyamkata.net/2008/11/01/hukum-tidak-tertulis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>45</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Supersemar. Surat Perintah Apa?</title>
		<link>http://www.penganyamkata.net/2008/03/11/supersemar-surat-perintah-apa/</link>
		<comments>http://www.penganyamkata.net/2008/03/11/supersemar-surat-perintah-apa/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 11 Mar 2008 17:48:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Daniel Mahendra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ceritera]]></category>
		<category><![CDATA[Peristiwa]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Kilas Balik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://danielcmahendra.wordpress.com/?p=1247</guid>
		<description><![CDATA[42 tahun lalu pada 11 Maret 1966 Presiden Soekarno menandatangani sebuah surat yang konsepnya memberikan kekuasaan penuh kepada Mayor Jendral Soeharto selaku Panglima Angkatan Darat Republik Indonesia untuk mengambil tindakan yang perlu guna memulihkan keamanan dan ketertiban. Inilah sebuah surat yang umum mahfum bahwa suka tidak suka, di sinilah titik tolak kontrol &#8220;kekuasaan&#8221; negara Indonesia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"><font size="2">42 tahun lalu pada 11 Maret 1966 Presiden Soekarno menandatangani sebuah <a target="_blank" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Supersemar">surat</a> yang konsepnya memberikan kekuasaan penuh kepada Mayor Jendral Soeharto selaku Panglima Angkatan Darat Republik Indonesia untuk mengambil tindakan yang perlu guna memulihkan keamanan dan ketertiban.</font></p>
<p align="justify"><font size="2">Inilah sebuah surat yang umum mahfum bahwa suka tidak suka, di sinilah titik tolak kontrol &#8220;kekuasaan&#8221; negara Indonesia berangsur hijrah ke tangan seorang bekas tentara <a target="_blank" href="http://id.wikipedia.org/wiki/KNIL">KNIL</a>, Soeharto.</font></p>
<p align="justify"><font size="2">Sejak itu, mandat yang dikeluarkan sementara (secara terpaksa?) oleh Presiden Soekarno kepada Mayjen Soeharto justru menjadi awal dari tindakan pengamanan (dengan segala ragam versi dan maknanya) digerakan secara serentak, holistik, sapu habis terhadap pihak-pihak yang dianggap berseberangan dengan kekuatan baru yang belakangan dinamakan: <a target="_blank" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Orde_Baru">Orde Baru</a>. Terlibat tidak terlibat, berhubungan langsung atau tidak, pejabat bukan pejabat, pihak-pihak yang dianggap oleh kekuatan baru itu berbau <a target="_blank" href="http://id.wikipedia.org/wiki/PKI">PKI</a> (Partai Komunis Indonesia): dibersihkan! Tanpa pandang bulu!</font></p>
<p align="justify"><font size="2">Puluhan tahun kemudian, baru umum mahfum, keberadaan surat asli tersebut raib entah di mana, hingga saat ini. Padahal itulah surat sakti yang menimbulkan kesimpangsiuran atas berpindahnya kekuasaan suatu negara. Dengan kesimpangsiuran mengenai fakta tentang surat itu, kalangan sejarawan dan hukum Indonesia menilai: bahwa peristiwa <a target="_blank" href="http://id.wikipedia.org/wiki/G30S">G30S</a> dan <a target="_blank" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Supersemar">Supersemar</a> adalah salah satu dari sekian sejarah Indonesia yang masih gelap.</font></p>
<p align="justify"><font size="2">Pada 11 Maret 2008 bertanya aku pada seorang muda usia 19 tahun:</font></p>
<blockquote><p><font size="2">&#8220;Apa yang kau ketahui tentang Supersemar?&#8221;</font></p>
<p><font size="2">Jawabnya: &#8220;Emh, beasiswa ya?&#8221;</font></p></blockquote>
<p><font size="2">Akankah dibiarkan tetap gelap? Siapa pula berani menjawab?</font><font size="2"></font><font size="2"></p>
<p align="right"><strong>Daniel Mahendra</strong>,<br />
<em>Penyuka yang Gelap-gelap.</em></p>
<p>Bandung, 11 Maret 2008.</p>
<p></font></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.penganyamkata.net/2008/03/11/supersemar-surat-perintah-apa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Wafatnya Paman Gober</title>
		<link>http://www.penganyamkata.net/2008/01/27/wafatnya-paman-gober/</link>
		<comments>http://www.penganyamkata.net/2008/01/27/wafatnya-paman-gober/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 27 Jan 2008 10:36:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Daniel Mahendra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Harian]]></category>
		<category><![CDATA[Ceritera]]></category>
		<category><![CDATA[Koran Pagi]]></category>
		<category><![CDATA[Peristiwa]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://danielcmahendra.wordpress.com/?p=1098</guid>
		<description><![CDATA[Minggu siang saat sedang nongkrong di kantor detik.com Bandung sembari menikmati cerpen Bertungkus Lumus karya Martin Aleida di Kompas Minggu 27 Januari 2008, tiba-tiba tersiar kabar Paman Gober wafat pada pukul 13.10 wib. Sontak kantor redaksi ramai. Metro TV, SCTV, RCTI, dan chanel-chanel lain di tv pun dilalap habis untuk mengikuti kronologis berita wafatnya bebek [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><font size="2"><strong><a href="http://www.danielmahendra.com/wp-content/uploads/2008/01/wafatnya-paman-gober.jpg" title="wafatnya-paman-gober.jpg"></p>
<div style="text-align:center;"><img src="http://www.danielmahendra.com/wp-content/uploads/2008/01/wafatnya-paman-gober.jpg" alt="wafatnya-paman-gober.jpg" /></div>
<p></a></strong></font></p>
<p><font size="2"></font><font size="2">Minggu siang saat sedang nongkrong di kantor <em><a target="_blank" href="http://www.detik.com/">detik.com</a> </em>Bandung<em> </em>sembari menikmati cerpen <i>Bertungkus Lumus</i> karya Martin Aleida di <i><a target="_blank" href="http://www.kompas.com/">Kompas</a></i> Minggu 27 Januari 2008, tiba-tiba tersiar kabar Paman Gober wafat pada pukul 13.10 wib.</font></p>
<p><font size="2">Sontak kantor redaksi ramai. Metro TV, SCTV, RCTI, dan chanel-chanel lain di tv pun dilalap habis untuk mengikuti kronologis berita wafatnya bebek terkaya di kota bebek tersebut. Tak berapa lama SMS demi SMS pun berdatangan dari berbagai kota, juga dari Cairo.</font></p>
<p><font size="2">Yang cukup bikin gigi nyengir, beberapa kawan mengirim SMS berisi: <i>Seluruh media di Kota Bebek dibanjiri berbagai berita tentang wafatnya Paman Gober&#8230;</i> Atau: <i>Paman gober pergi tuh&#8230; </i>Whew!</font></p>
<p><font size="2">Ya, akhirnya Paman Gober memang wafat. Seluruh keluarga bebek tentu akan berkumpul. Sahabat, rekan, handai taulan, serta para pejabat maupun para mantan pejabat Kota Bebek pun berduyun-duyun ke kediaman Paman Gober untuk ikut berbelasungkawa serta memberikan penghormatan terakhir. Tidak bisa tidak, komplek pemakaman keluarga Paman Gober di provinsi di luar Kota Bebek, <em>Astana Giri Bebek</em>, yang sejak beberapa minggu lalu telah memperlihatkan kesibukan, kini betul-betul disiapkan. Pemerintah Kota Bebek pun menetapkan hari berkabung nasional selama 7 hari sejak Paman Gober wafat.</font></p>
<p><font size="2">Selamat jalan, Paman Gober.</font></p>
<p><font size="2"><i><font color="#800000">dia telah pergi ke tempat setiap orang akan dan sedang pergi&#8230;</font></i></font></p>
<p><font color="#800000">(P.A.T., Sastrawan Kota Bebek)</font></p>
<p><strong>Anyaman Sepola</strong>:</p>
<ul>
<li><a target="_blank" href="http://danielcmahendra.wordpress.com/2008/01/24/kematian-paman-gober/">Kematian Paman Gober, 24 Januari 2008</a></li>
<li><a target="_blank" href="http://danielcmahendra.wordpress.com/2008/01/16/andai-bung-karno-pak-harto-sekarang/">Andai Bung Karno Pak Harto Sekarang, 16 Januari 2008</a></li>
<li><a target="_blank" href="http://danielcmahendra.wordpress.com/2008/01/14/detik-detik-soeharto-dan-pramoedya/">Detik-detk Soeharto dan Pramoedya, 14 Januari 2008</a></li>
<li><a target="_blank" href="http://danielcmahendra.wordpress.com/2008/01/13/surat-soeharto-untuk-pramoedya-ananta-toer/">Surat Soeharto untuk Pramoedya Ananta Toer, 13 Januari 2008</a></li>
</ul>
<p><span id="more-678"></span><font size="2">Bandung, 27 Januari 2008</font></p>
<p><font size="2">Sumber image: <a href="http://www.bpib.com/illustra2/barks5.jpg">http://www.bpib.com/illustra2/barks5.jpg</a></font></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.penganyamkata.net/2008/01/27/wafatnya-paman-gober/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Agenda Setting (2)</title>
		<link>http://www.penganyamkata.net/2007/04/10/agenda-setting-2/</link>
		<comments>http://www.penganyamkata.net/2007/04/10/agenda-setting-2/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Apr 2007 09:10:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Daniel Mahendra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kliping]]></category>
		<category><![CDATA[Peristiwa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://danielcmahendra.wordpress.com/2007/04/30/agenda-setting-2/</guid>
		<description><![CDATA[  Jika helikopter yang hilang pada 22 Agustus 1994 telah ditemukan pada 2 April 1996, dan para korban yang dikuatkan dengan berbagai identitas diri itu telah dimakamkan, adalah wajar jika terhenyak ketika pada 20 Maret 2007 ditemukan kembali sebuah reruntuhan helikopter di sebuah lembah di Gunung Sibayak Sumatra Utara di mana pada reruntuhan itu ditemukan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: center;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"><a href="http://www.danielmahendra.com/wp-content/uploads/2008/06/dm-03.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-1142" title="dm-03" src="http://www.danielmahendra.com/wp-content/uploads/2008/06/dm-03-300x243.jpg" alt="" width="300" height="243" /></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Jika helikopter yang hilang pada 22 Agustus 1994 telah ditemukan pada 2 April 1996, dan para korban yang dikuatkan dengan berbagai identitas diri itu telah dimakamkan, adalah wajar jika terhenyak ketika pada 20 Maret 2007 ditemukan kembali sebuah reruntuhan helikopter di sebuah lembah di Gunung Sibayak Sumatra Utara di mana pada reruntuhan itu ditemukan pula sekumpulan tulang-belulang yang berserakan serta sebuah identitas diri yang mengacu pada salah seorang nama korban.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Media yang kali pertama menurunkan berita ini, sejauh yang dapat kucatat adalah: <em>Kompas, Pikiran Rakyat, </em>dan <em>detikcom.</em> Esoknya tak pelak, puluhan media berhamburan datang ke rumah korban untuk melakukan konfirmasi serta klarifikasi. Media-media tersebut meliputi:</span><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"> </span></p>
<p><em><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-fareast-font-family: Calibri; mso-fareast-theme-font: minor-latin; mso-bidi-font-family: 'Times New Roman'; mso-bidi-theme-font: minor-bidi; mso-ansi-language: EN-US; mso-fareast-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA;">Detikcom, Trans TV, Pikiran Rakyat, Sindo, Lativi, Anteve, Kompas, Tribun Jabar, Trans 7, Metro TV, Indosiar, Radar Bandung, Tempo, RCTI, TPI, Elshinta, Galamedia, Nova, dan Nyata. </span></em><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-fareast-font-family: Calibri; mso-fareast-theme-font: minor-latin; mso-bidi-font-family: 'Times New Roman'; mso-bidi-theme-font: minor-bidi; mso-ansi-language: EN-US; mso-fareast-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA;">Satu media lagi tak sempat kucatat. Kuperkirakan <em>SCTV </em>karena di antara TV nasional hanya <em>SCTV </em>dan <em>Global TV </em>yang tak ada. Khusus <em>Elshinta </em>sudah barang tentu tak datang langsung ke rumah korban melainkan melakukan wawancara via telpon yang langsung disiarkan secara on air. Total 20 media &#8220;menyantroni&#8221; rumah korban.</span></p>
<p><span id="more-36"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Bisa ditebak, mulai sore itu hingga keesokan harinya, media-media tersebut menurunkan hasil liputannya, melalui program berita tv, radio, serta cetaknya. 20 media secara serentak! Belakangan kembali kucatat: media lain yang turut mengangkat berita yang sama meliputi:<em>Serambi, Media Bisnis Online, Waspada, Rakyat Merdeka, Kompas Cyber Media, Duta Masyarakat, Portal CBN Cybernews, News.Indonsiar.Com, Indosat M2, Harian Sibolangit, Kaltim Post News Cyber, kontras.org, okezone.com, kaskus.us, Harian Analisa, Harian Global, </em>serta <em>Jawa Pos.</em><span style="mso-no-proof: yes;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Total jendral 36 media menyiarkan kejadian ini dalam waktu beberapa hari sejak pertama kali diturunkan secara berturut-turut. (ini belum termasuk media-media yang terbit di Kalimantan maupun Sulawesi di mana beberapa kawan turut mengiformasikan telah membaca berita tersebut, dan kiriman kliping medianya belum kuterima).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Melihat jumlah media yang menurunkan kejadian ini secara berturut-turut di setiap harinya, aku mulai berpikir dan timbul pertanyaan seperti yang kutulis pada <em>lead</em> pertama tulisan ini: Sejauh mana sebuah kejadian layak diangkat sebagai berita?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Persoalannya adalah: mengapa pada satu hari pertama 20 media serentak melakukan wawancara atas kejadian ini. Lantas diikuti dengan puluhan media lainnya. Belum lagi detikcom yang dalam hal ini terhitung yang paling gencar menindaklanjuti perkembangan kejadian ini. Puluhan <em>breakingnews</em> memang diturunkan oleh detikcom.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Apa yang menggerakan semua ini? Ada apa di balik semua ini? Semata-mata memberitakan kejadian ditemukannya kembali helikopter yang sudah pernah ditemukan lagi kah? Atau apa? Kalau sekadar memberitakan ditemukannya helikopter yang sudah pernah ditemukan, mengapa begitu gencar?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Belum lagi jika kuanalisa, dari puluhan media yang menurunkan berita ini, tercatat <em>Kompas, Tempo, Jawa Pos</em>, serta <em>Detikcom</em> yang terhitung cukup &#8220;blak-blakan&#8221; menurunkan judul serta isi berita. Lainnya terhitung biasa-biasa saja (maaf, bukan bermakud menafikan peran media-media lain tersebut).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Empat media yang kumaksud dengan terang-terang dan jelas menulis judul: ‘<em>Reruntuhan Helikopter di Gunung Sibayak Milik TNI AD</em>’.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Dibanding dengan media lain, empat media tersebut terlihat sangat menonjolkan kepemilikan helikopter yang milik TNI AD. Sementara media lain, meski tetap menyebutkan kepemilikan heli, namun tidak menjadikannya sentral utama pemberitaan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Ada apa dengan TNI AD? Ada apa dengan militer? Inilah yang sebetulnya cukup menggangguku. Ditemukannya kembali tulang-belulang yang berserakan di antara puing-puing reruntuhan heli sudah tidak menyita perhatianku lagi. Karena ternyata masing-masing keluarga korban memiliki keyakinan serta sampai pada satu kesimpulan:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Jika pada reruntuhan yang ditemukan pada 20 Maret 2007 ditemukan tulang-belulang yang berserakan, jelas: tulang-belulang itu sulit dipastikan milik siapa saja. Bisa milik pilot, copilot atau juga milik kru film yang tiga orang itu. Kesimpulan lain: berarti evakuasi pada April 1996 tidak dilakukan secara bersih serta menyeluruh. Buktinya, pada April 1996 keluarga sudah mendapatkan kerangka korban, kalau sekarang masih ditemukan tulang-belulang lagi, tidak bisa tidak: evakuasi pada 1996 tidak dilakukan secara bersih dan ada kesan sekadar formalitas belaka.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Dengan demikian, bisalah diraba-raba: tidak ada jaminan 100% bahwa kerangka yang diterima keluarga korban pada April 1996 belum tentu milik keluarganya secara utuh. Bisa jadi tempurung kepalanya milik si A, badannya milik si B, tulang tangannya milik si C, dan tulang kakinya milik si D. Begitu pun sebaliknya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Tidak bisa tidak, ini memang sudah murni sebuah kasus yang berusaha untuk ditutupi. Hingga mencuat kembali di tahun 2007 secara serentak di-blow up media. Beberapa wartawan di medan serta beberapa saksi mengakui tempat ditemukannya heli pada 2007 sama persis di tempat ditemukannya heli pada 1996. Yang lebih tak terbantahkan lagi: nomor seri heli yang ditemukan pada 2007 sama persis dengan nomor seri heli yang ditemukan pada 1996.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Pihak keluarga korban pun tak menyia-nyiakan lagi kesempatan untuk mempublish foto-foto heli yang jelas-jelas menunjukkan siapa-siapa saja yang naik heli tersebut pada 1994 sebagai bukti. Foto-foto itu pada 1994 dan 1996 tak mungkin disiarkan pada pers, karena jelas tak mungkin ada media yang berani memuat. Tapi kini jaman memang sudah berubah. Foto-foto yang disimpan oleh keluarga sebagai bukti itu kini bertebaran di beberapa media.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Lalu kembali pada analisa: ada apa dengan TNI AD? Ada apa dengan militer? Adakah pihak-pihak tertentu yang ingin mendeskritkan nama TNI AD dan militer Indonesia? Dengan mencuatkan beberapa kasus-kasus tersembunyinya? Ditemukannya &#8220;kembali&#8221; heli TNI AD pada 2007 yang jelas sudah ditemukan pada 1996 cukup menimbulkan pertanyaan. Meski jika dikaitkan dalam skala skenario yang lebih besar, penemuan heli ini hanyalah secuil remah-remah kecil saja.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Ketika berita heli ditemukan pada Maret 2007, bersamaan dengan itu berita-berita &#8220;miring&#8221; berkenaan tentang militer Indonesia sedang mewarnai media-media nasional. Aku menilai ini seperti bola salju yang makin menggelinding ke bawah, semakin besar bulatannya. Dan jangan lupa, pemilu serta pemilihan presiden sudah nyaris di depan mata. Tak sedikit tokoh-tokoh mantan petinggi militer yang siap turun laga. Apakah memang ada pihak-pihak tertentu yang sengaja hendak membuka kasus-kasus militer yang tertutup? Agar publik luas makin tau wajah militer Indonesia jaman Orde Baru? Atau,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Ini hanyalah sebagian kecil dari perseturuan intern TNI yang sengaja dicuatkan ke publik?</span><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"> </span></p>
<p><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-fareast-font-family: Calibri; mso-fareast-theme-font: minor-latin; mso-bidi-font-family: 'Times New Roman'; mso-bidi-theme-font: minor-bidi; mso-ansi-language: EN-US; mso-fareast-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA;">Bandung, 10 April 2007, 09.10 am.</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.penganyamkata.net/2007/04/10/agenda-setting-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Agenda Setting (1)</title>
		<link>http://www.penganyamkata.net/2007/04/10/agenda-setting-1/</link>
		<comments>http://www.penganyamkata.net/2007/04/10/agenda-setting-1/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Apr 2007 00:20:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Daniel Mahendra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kliping]]></category>
		<category><![CDATA[Peristiwa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://danielcmahendra.wordpress.com/2007/04/30/agenda-setting-1/</guid>
		<description><![CDATA[    Sejauh mana sebuah kejadian layak diangkat sebagai berita? Apa parameter untuk mengukur bobot, kadar, serta kualitas sebuah kejadian perlu diangkat sebagai berita serta diekspos? Jawabannya bisa macam-macam. Dan tentu setiap media punya jawabannya.   Obat apa yang diminum Tamara Bleszynski hari ini mungkin menarik bagi salah sebuah infotainment di tv. Tapi apa pun [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: center;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"><a href="http://www.danielmahendra.com/wp-content/uploads/2008/06/dm-023.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-1141" title="dm-023" src="http://www.danielmahendra.com/wp-content/uploads/2008/06/dm-023-300x193.jpg" alt="" width="300" height="193" /></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Sejauh mana sebuah kejadian layak diangkat sebagai berita? Apa parameter untuk mengukur bobot, kadar, serta kualitas sebuah kejadian perlu diangkat sebagai berita serta diekspos? Jawabannya bisa macam-macam. Dan tentu setiap media punya jawabannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Obat apa yang diminum Tamara Bleszynski hari ini mungkin menarik bagi salah sebuah infotainment di tv. Tapi apa pun merek obatnya, menjadi tak penting samasekali untuk ditayangkan di Metro TV. Itu sekadar salah sebuah contoh bahwa setiap media tak melulu sama dalam memandang sebuah kejadian. Begitu pun kasus perceraian seorang artis anu, sudah pasti akan diangkat oleh seluruh program infotainment yang tayang menyapa pemirsa dari pagi hingga sore.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Ketika untuk kali pertama mendengar ditemukannya kembali sebuah helikopter yang jatuh pada 22 Agustus 1994 di lembah Gunung Sibayak Sumatra Utara, memang terbit rasa terhenyak. Bukan apa-apa, soalnya adalah helikopter tersebut sudah pernah ditemukan pada 2 April 1996. Kalau kemudian ditemukan kembali pada 20 Maret 2007, tentu menimbulkan pertanyaan: lalu apa yang ditemukan pada 2 April 1996?</span></p>
<p><span id="more-35"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Sejak hilang pada 22 Agustus 1994, memang tak banyak media yang mengulas secara tuntas atas hilangnya helikopter tersebut. Barangkali yang bisa kucatat dari media-media tersebut meliputi: <em>Kompas, Media Indonesia, Republika, Pikiran Rakyat, Waspada</em>, <em>Suara Pembaruan, Bintang</em>, <em>Wanita Indonesia, Mingguan Dobrak, </em>serta <em>Serambi Indonesia.</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Kenapa media-media tersebut tak memberitakan secara tuntas, sangat bisa dipahami karena saat itu jaman Orde Baru, di mana wajah pers musti sangat-sangat paham betul kondisi realitas penguasa, sehingga dalam memberitakan sesuatu musti hati-hati benar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Media memang memberitakan telah hilangnya sebuah helikopter milik TNI AD yang terbang pada pukul 10.00 wib dari bandara Polonia Medan. Media pun memberitakan: bersamaan dengan itu, telah hilang pula 3 orang kru film dari Jakarta yang sedang melakukan pengambilan gambar dari udara menggunakan helikopter di daerah Gunung Sibayak. Tapi media samasekali tidak memberitakan bahwa helikopter milik TNI AD yang hilang tersebut juga berisi kru film dari Jakarta.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Mengapa bisa demikian? Apakah wartawan tidak mengetahui bahwa helikopter TNI AD yang hilang tersebut juga berisi kru film? Sangat tidak mungkin wartawan tak mengetahuinya. Namun kenapa dalam pemberitaan ditulis secara berbeda dan dikesankan hilang secara bersamaan? Jawabannya mudah ditebak: karena rezim yang berkuasa pada saat itu, di mana militer sangat-sangat bisa menentukan wajah sebuah media.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Bisa dibayangkan jika pers berani membuka secara terang-terangan apa yang sebetulnya terjadi, masyarakat luas akan tau: bahwa TNI AD Kodam I/Bukit Barisan telah melakukan komersialisasi terhadap inventaris negara berupa peminjamkan helikopter untuk kepentingan sipil. Dan hal itu tentu akan menjadi sebuah kasus yang serius. Mengingat pada jaman itu, media tentu &#8220;tak perlu&#8221; mengambil resiko dengan mengangkat berita terlalu gamblang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Para pejabat TNI (saat itu ABRI) yang menjabat baik di Medan maupun di Jakarta, sudah bisa dipastikan merespon kejadian tersebut dengan jawaban-jawaban standar seperti: &#8220;Kita telah menerjunkan tim SAR&#8221; atau &#8220;Kita tunggu hasil pencarian yang sedang dilakukan&#8221; juga &#8220;Tak ada penumpang sipil dalam helikopter tersebut.&#8221; dan &#8220;Heli itu terbang dalam rangka pengcoveran rutin&#8221;.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Jelas sekali, pihak TNI AD ingin mengesankan bahwa tak ada hubungannya antara hilangnya helikopter AD dengan hilangnya kru film dari Jakarta, meski hilang pada waktu bersamaan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Seminggu pencarian oleh tim SAR yang terdiri dari personel TNI AD, staf pemerintahan daerah, dan pihak-pihak terkait tak membuahkan hasil, membuat pencarian pun dihentikan. Tak puas dengan keadaan itu, pihak keluarga kru film yang hilang, didukung oleh seniman-seniman Medan serta para pecinta alam dari beberapa perguruan tinggi di Indonesia sepakat melanjutkan pencarian hingga satu bulan penuh. Meski toh juga tanpa hasil.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Pencarian pun dihentikan. Helikopter itu tak ditemukan. Pencarian balik kanan bubar jalan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Hingga pada 2 April 1996 helikopter itu ditemukan di sebuah lembah di kaki Gunung Sibayak Sumatra Utara. Sejauh yang dapat kucatat, media yang mengulas atas penemuan tersebut meliputi: <em>Kompas, Media Indonesia</em>, <em>Republika, Pikiran Rakyat, Waspada, Suara Pembaruan, Merdeka, Sinar Pagi, Analisa, Medan Pos, RCTI, </em>serta <em>TPI.</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Kali ini media-media tersebut mulai memberitakan bahwa pada puing-puing reruntuhan heli yang hilang pada 22 Agustus 1994 itu ditemukan 5 kerangka manusia disertai identitas diri berupa KTP, SIM, KTM (Kartu Tanda Mahasiswa), ATM, Paspor, dll. Meksi nyaris dua tahun hilang, identitas diri tersebut masih sangat jelas terbaca dan dapat dijadikan bukti bahwa: heli yang hilang pada 1994 yang diawaki pilot dan copilot dari TNI AD memang berpenumpang kru film yang sempat dibantah oleh pihak TNI AD ketika hilang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Tapi apa setelah itu? Media pun selesai memberitakan sampai pada ditemukannya heli tersebut. Lalu bagaimana tentang 3 orang kru film yang ikut heli tersebut sebagai penumpang? Lebih baik lupakan saja. Karena pasca ditemukannya heli tersebut, evakuasi serta identifikasi sudah diambil alih oleh pihak TNI AD.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Jenasah Pilot dan Copilot TNI AD pun diterbangkan ke Jawa, diserahkan pada keluarga dan dimakamkan. Ketika pihak keluarga kru film hendak menindaklanjuti kerangka korban miliknya, apa yang terjadi? Pihak TNI AD menyatakan tidak mengakui bahwa helikopter tersebut berpenumpang. Wow! Tapi bukankah media telah melansir berita kerangka siapa-siapa saja yang turut ditemukan pada reruntuhan heli tersebut? Media boleh saja menulis berita seperti itu, tapi tindak lanjut kejadiannya kemudian tetap berada di tangan militer.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Lewat sebuah pembicaran yang alot dan tak gampang, akhirnya pihak TNI AD Kodam I/BB mau mengakui bahwa, ya, 3 kerangka kru film yang ikut dalam helikopter tersebut memang disimpan atau diamankan (baca: disembunyikan) oleh pihak TNI AD. Keluarga boleh membawa pulang kerangka-kerangka tersebut untuk dimakamkan. Namun dengan beberapa syarat. Syarat? Ya, syarat. Syarat apa saja itu:</span><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"> </span></p>
<ol>
<li>
<div class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Kerangka musti langsung dimakamkan</span></div>
</li>
<li>
<div class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Untuk dua kerangka yang akan dibawa ke Jawa, tidak ada penyambutan di bandara secara besar-besaran dan yang terpenting: tak ada pers yang dihubungi.</span></div>
</li>
<li>
<div class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Tak ada semacam upacara &#8220;mampir&#8221; di kampus di mana dua kerangka yang dibawa ke Jawa kuliah di kampus tersebut.</span></div>
</li>
<li>
<div class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Kerangka tidak dimasukkan ke dalam peti mati, melainkan dibungkus dalam sebuah bungkusan yang telah disediakan dan dimasukan ke dalam travel bag serta tidak masuk ke dalam cargo pesawat melainkan ditenteng ke dalam kabin penumpang.</span><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"> </span></div>
</li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Kalau syarat-syarat ini dapat dipenuhi, kerangka-kerangka tersebut boleh dibawa pulang oleh pihak keluarga.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Maka, keluarga korban pun membawa kerangka-kerangka tersebut, secara &#8220;sembunyi-sembunyi&#8221; untuk dimakamkan di kota masing-masing. Bungkusan berisi kerangka dalam travel bag memang pada akhirnya dimasukkan ke dalam peti mati ketika hendak dikuburkan, namun tak dibuka terlebih dahulu. Hanya beberapa bagian kecil dibuka, ditempel beberapa kepalan tanah agar tersentuh dengan tanah. Alhasil pihak keluarga tak pernah tau: apakah kerangka-kerangka itu lengkap/utuh tidak susunannya, tidak pernah tau.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Selain kerangka dalam bungkusan, keluarga korban menerima identitas diri seperti disebutkan di atas tadi. Dengan demikian masing-masing keluarga memang yakin: kerangka yang mereka terima memang merupakan keluarganya yang hilang selama hampir dua tahun.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Bersambung…</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Bandung, 10 April 2007, 00.20 am.</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.penganyamkata.net/2007/04/10/agenda-setting-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>The Epitaph Trilogy</title>
		<link>http://www.penganyamkata.net/2007/03/25/the-epitaph-trilogy/</link>
		<comments>http://www.penganyamkata.net/2007/03/25/the-epitaph-trilogy/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Mar 2007 00:00:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Daniel Mahendra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kliping]]></category>
		<category><![CDATA[Kunjungan]]></category>
		<category><![CDATA[Peristiwa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://danielcmahendra.wordpress.com/2007/04/30/the-epitaph-trilogy/</guid>
		<description><![CDATA[  &#8220;Kematian Diaz Barlean Dituangkan dalam Novel Epitaph&#8221;   25/03/2007   Erna Mardiana &#8211; detikcom   Kematian Diaz Barlean memang sudah 13 tahun yang lalu. Meski menyisakan banyak tanya di benak keluarga, namun mereka pasrah. Penemuan puing-puing heli di Deli Serdang, kembali menguak misteri kematiannya. Adik kandungnya, Daniel Mahendra yang merupakan penulis, bahkan telah rampung [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: center;"><strong><span style="font-size: 10pt; color: #000000;"><a href="http://www.danielmahendra.com/wp-content/uploads/2008/06/bolco3.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-1138" title="bolco3" src="http://www.danielmahendra.com/wp-content/uploads/2008/06/bolco3-292x300.jpg" alt="" width="292" height="300" /></a></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: center;"><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: center;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><strong><span style="font-size: 10pt; color: #000000;">&#8220;Kematian Diaz Barlean Dituangkan dalam Novel Epitaph&#8221;</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: "> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: ">25/03/2007</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: "> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: ">Erna Mardiana &#8211; detikcom</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: "> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: ">Kematian Diaz Barlean memang sudah 13 tahun yang lalu. Meski menyisakan banyak tanya di benak keluarga, namun mereka pasrah. Penemuan puing-puing heli di Deli Serdang, kembali menguak misteri kematiannya. Adik kandungnya, Daniel Mahendra yang merupakan penulis, bahkan telah rampung menyusun sebuah novel mengenai kematian Diaz. &#8220;Saya menulisnya November 2006 lalu dan selesai dalam satu bulan. Menuangkannya dalam tulisan memang relatif cepat, namun saya butuh 10 tahun untuk mengumpulkan bahan dan riset,&#8221; tutur pria kelahiran 1 Agustus 1975 ini saat ditemui </span><strong><span style="font-size: 10pt; color: #000000;">detikcom</span></strong><span style="font-size: 10pt; font-family: "> di toko bukunya, Jalan PHH Mustofa Bandung, Minggu (25/3/2007).</span></p>
<p><span id="more-34"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: ">Novel dengan judul &#8220;Epitaph&#8221; (tulisan duka di batu nisan) ini menceritakan kronologis kepergian dan menghilangnya Diaz bersama dua rekannya saat melakukan syuting sebuah film dokumenter proyek sebuah BUMN, hingga penemuannya kembali jenazah Diaz dkk pada 1996.&#8221;Mengenai waktu, saya samakan persis dengan kejadiannya. Namun nama-namanya saya samarkan untuk menjaga privasi para korban maupun pejabat TNI yang saat itu menjabat,&#8221; tuturnya.Menurut Daniel, novel ini tidak melulu berbicara mengenai peristiwa tragis kematian Diaz dkk namun juga mengenai sejarah kemunculan film di Indonesia. Tebalnya novel mencapai 150 halaman dan akan segera diluncurkan dalam waktu dekat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: "> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: ">Rencananya novel ini akan menjadi trilogi. &#8220;Novel kedua akan berbicara mengenai penemuan kembali bangkai pesawat dan tulang belulang korban,&#8221; tuturnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: "> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: ">Daniel mengaku, dirinya cukup kaget dengan berita penemuan kembali heli yang kemungkinan besar sama dengan temuan pada 1996 lalu. Dalam benaknya, hampir tidak pernah terbersit jika peristiwa tragis kakaknya akan kembali terkuak dan menyeret nama TNI AD di dalamnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: "> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: ">&#8220;Saya pikir sudah habis momentum mengenai peristiwa kematian Diaz untuk diangkat ke permukaan,&#8221; ucap pria lajang ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: "> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: ">Namun ternyata nasib berbicara lain, hanya sekitar tiga bulan dia merampungkan novelnya misteri hilangnya Diaz dkk kembali terkuak. &#8220;Saya juga benar-benar tak habis pikir,&#8221; pungkasnya.</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.penganyamkata.net/2007/03/25/the-epitaph-trilogy/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ketika Bangkai Pesawat Itu Ditemukan</title>
		<link>http://www.penganyamkata.net/2007/03/23/kematian-diaz-barlean-dituangkan-dalam-novel-epitaph/</link>
		<comments>http://www.penganyamkata.net/2007/03/23/kematian-diaz-barlean-dituangkan-dalam-novel-epitaph/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Mar 2007 00:00:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Daniel Mahendra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kliping]]></category>
		<category><![CDATA[Kunjungan]]></category>
		<category><![CDATA[Peristiwa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://danielcmahendra.wordpress.com/2007/04/30/kematian-diaz-barlean-dituangkan-dalam-novel-epitaph/</guid>
		<description><![CDATA[  Ketika sedang googling, aku menemukan sebuah blog yang menulis hal di bawah ini. Beribu terima kasih kuhaturkan kepada pengelola blog tersebut.   Sumber: Blog Bergerak, 23 March 2007.   Selamat Datang di Pengadilan. Saya teringat lagi dengan buku kumpulan cerpen karya Daniel Mahendra yang saya baca zaman kuliah dulu. Banyak cerita heroik di dalamnya, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: center;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"><a href="http://www.danielmahendra.com/wp-content/uploads/2008/06/copy-of-heli-2.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-1137" title="copy-of-heli-2" src="http://www.danielmahendra.com/wp-content/uploads/2008/06/copy-of-heli-2-300x204.jpg" alt="" width="300" height="204" /></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Ketika sedang <em>googling</em>, aku menemukan sebuah blog yang menulis hal di bawah ini. Beribu terima kasih kuhaturkan kepada pengelola blog tersebut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"><strong>Sumber: </strong><a href="http://bergerak.blogspot.com/2007_03_01_archive.html" target="_blank"><span style="color: blue;"><strong>Blog Bergerak</strong></span></a><strong>, 23 March 2007.</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Selamat Datang di Pengadilan. Saya teringat lagi dengan buku kumpulan cerpen karya Daniel Mahendra yang saya baca zaman kuliah dulu. Banyak cerita heroik di dalamnya, khas aktifis mahasiswa, yang selalu ingin melihat negerinya semakin baik. Cerita yang penuh semangat, dibumbui kisah cinta, dan juga menyelipkan kisah kelam negeri ini yang tentu saja menimbulkan kegeraman Daniel yang ketika itu aktif bergelut di dunia pers mahasiswa di Bandung. Saya sudah menduga, salah satu atau bahkan hampir seluruh cerpen di buku itu diangkat dari kisah nyata keseharian aktifis yang tak pernah jauh dari buku, cinta dan demonstrasi. Tapi saya sama sekali tidak menyangka, cerita tentang pesawat jatuh dan mayat korban yang ditenteng dalam travel bag adalah kisah nyata yang dialami sendiri oleh kk dari Daniel (atau hanya kesamaan nama ya???). Ketika itu, saya benar2 menangis membacanya, rasanya maraaaaaah banget. Marah dengan kelakuan cecurut, aparat yang sibuk berbisnis, tapi tak berbuat apa2 saat satu per satu pulau negeri ini lepas karena dicaplok negara lain.</span></p>
<p><span id="more-33"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Serapih apapun menyembunyikan borok, pasti ketahuan juga akhirnya. Dan kemarin, bangkai pesawat yang hilang 13 tahun lalu itu ditemukan di Deli Serdang. Saya terhenyak sejenak. Ini rupanya yang ada dalam cerpen Daniel itu. Tapi terlalu banyak keanehan di sana. Mulai dari kalung Wanadri yang diduga milik Diaz Barlean, kartu mahasiswa, penemuan tulang belulang dan sebagainya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Padahal, pada 1996, dua tahun setelah peristiwa jatuhnya pesawat itu, keluarga Diaz telah diserahi bukti2 meyakinkan berupa KTP, KTM, dompet, topi, ikat pinggang, dll, yang disertakan dalam tas berisi tulang belulang Diaz. Paket serupa juga diterima keluarga Ori Rahman, Petinggi LSM Kontras, karena almarhum Burhan Piliang, ayahandanya, adalah salah satu korban tewas bersama Diaz.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Mereka, para penerima &#8220;paket tulang dalam peti mati yang tak semestinya&#8221; juga menerima pesan penting dari pemilik (atau merasa memiliki) Helikopter Bolco TNI AD itu. Jenazah boleh diambil, apabila pihak keluarga menyetujui sejumlah persyaratan yakni: <strong>tidak boleh mempublikasikan ke media massa dan tidak boleh ada upacara apa pun di Kampus </strong>Institut Kesenian Jakarta (IKJ), tempat kuliah Diaz. Bahkan Ori mengatakan, mereka juga <strong>tidak dibolehkan membuka &#8220;peti mati&#8221;</strong>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Mengapa??? Mengapa butuh waktu 2 tahun untuk menemukan heli yang ditumpangi Diaz Barlean dkk? Karena (alasan ini juga terdapat dalam cerpen karya Daniel Mahendra), waktu itu TNI AD menyangkal bahwa heli yang mereka pakai disewa dari tentara, jadi pencariannya tidak serius. Ya, penyewaan helikopter milik negara itu, tentu saja tidak dibenarkan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Saya bergidik memikirkan beberapa kemungkinan saat itu. Apa iya, tulang belulang yang diserahkan ke keluarga korban, benar tulang belulang milik mereka? Siapa yang bisa menjamin, mengingat waktunya sudah dua tahun, kondisi tas mayat yang tidak boleh dibuka, dan…aaarrggghhh…ga ada yang ga mungkin dalam sebuah bangsa yang fasis dan korup.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><em><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><em><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">*) mohon maaf jika tulisan ini membuka kembali luka lama keluarga korban</span></em><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.penganyamkata.net/2007/03/23/kematian-diaz-barlean-dituangkan-dalam-novel-epitaph/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
