Archive for the 'Pramoedya' Category

Idola dalam Hidupmu

Nyaris setiap hari aku menyambangi blog Paulo Coelho. Sastrawan kaliber dunia yang akhir tahun kemarin baru saja merayakan 100 juta copy penjualan bukunya di seluruh dunia, dan Guinness Book of World Records mengganjarnya dengan penghargaan The Guinness Award For Most Traslated Living Author.

Paulo memang melegenda lewat The Alchemist. Buku yang menginspirasi banyak manusia di muka bumi ini. Buku itu telah diterjemahkan ke dalam 67 bahasa dan tercatat sebagai best-seller di 74 negara. Ya, suka tidak suka, Paulo Coelho memang salah seorang pengarang terbesar dunia abad ke-20 dan ke-21 yang masih hidup.

Ada hal menarik dengan apa yang ia tulis di blog-nya. Rupanya ia cukup rajin menulis di blog. Dari kegiatan sehari-hari, jadwal terbit bukunya, informasi peluncuran buku, hingga foto-foto mengenai bukunya yang dikirim pembacanya dari seluruh dunia.

Pada 1 Juni 2009 kemarin, ada hal cukup menggelitik yang berhasil membuatku tersenyum-senyum sendiri. Tulisan ini baru bisa ku-posting sekarang karena 1 Juni kemarin bertepatan dengan tanggal peluncuran ulang blog penganyamkata.net ini. Sehingga rasanya tak asyik kalau harus menerbitkan dua tulisan sekaligus bertepatan dengan waktu launching blog.

Di sana ia menulis seperti ini:

Continue Reading »

30 April 2 Tahun Lalu

Pramoedya Ananta Toer adalah satu dari sederet sastrawan Indonesia terdepan yang dimiliki negeri ini. Puluhan buku lahir dari tangannya. Sebagian besar telah diterjemahkan ke dalam lebih dari 40 bahasa di dunia.

 

Ia dilahirkan di Blora pada 6 Februari 1925. Sulit membicarakan sastra Insdonesia tanpa menyebut namanya. Sesulit membayangkan sebagai sastrawan internasional ia menjadi paria di negeri sendiri.

 

Namun aku sedang tak bermaksud menceritakan tentang siapa dan bagaimana itu Pramoedya. Aku hanya sedang ingin mengingat 30 April 2 tahun lalu.

 

30 April 2006 Pram mengehembuskan nafas terakhirnya di Jakarta dan dimakamkan di pemakaman umum Karet-Bivak, Jakarta.

 

Dia telah pergi ke tempat ke mana setiap orang akan dan sedang pergi…

Negeri Irasional Versus Cara Berpikir

Senin malam lalu seorang kawan bertanya padaku: kapan keputusan akan suatu hal bakal kusampaikan. Kukatakan: mestinya hari ini. Tapi tampaknya mesti kuendapkan dulu, agar keputusan yang telah diambil tak jadi sentimentil ketika disampaikan.

“Kapan jadinyanya? tanyanya lagi.

“Paling lambat besok Selasa.”

“Lahir hari apa?” tanyanya tiba-tiba.

“Ha? Halah! Mau menetapkan hari baik ya? Hahaha! Kamu boleh pakai cara itu untuk dirimu, tapi teori semacam itu tak berlaku untukku.” tapi kusebutkan juga hari lahirku sekadar untuk berkelakar.

“Berarti jangan kau sampaikan hari Rabu.” ujarnya mantap.

Ya ampun… Dalam hati aku berpikir: masih ada hitungan-hitungan seperti ini rupanya. Akhirnya kuajak saja ia berdiskusi. Tidak serius memang, tapi paling tidak aku mengemukakan argumenku.

Kira-kira begini obrolan kami:

Continue Reading »

Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Investigasi III

pat-mks.jpgOleh Daniel Mahendra

Pada Bab 9 roman Anak Semua Bangsa (Hasta Mitra, Jakarta, 1980), kurang lebih dapat diceritakan: Minke dan Nyai Ontosorah tetirah ke Tulangan, Sidoarjo, Jawa Timur. Di sebuah perumahan pabrik gula di mana kakak kandung Nyai, Paiman alias Sastrowongso alias Sastro Kassier bekerja dan tinggal di sana.

Nyai kaget demi melihat Surati, anak gadis Sastro Kassier yang berarti kemenakannya, sudah berwajah bopeng, jauh dari kemanisannya dahulu. Hal itu disebabkan “keterpaksaan” Sastro Kassier menjual anaknya untuk dijadikan gundik Tuan Besar Kuasa Administratur Frits Homerus Vlekkenbaaij alias Plikemboh, bosnya di pabrik gula. Tentu Surati terkesiap: tak percaya bahwa bapaknya tega menjual dirinya sebagai gundik. Sesuatu yang pernah dilakukan kakeknya, Sastrotomo, ayah Sastro Kassier, terhadap bibinya, Nyai Ontosoroh. Akhirnya Surati pun berniat membunuh Plikemboh dengan cara menularkan cacar yang ada pada tubuhnya, yang dengan sengaja ia jangkitkan di sebuah dusun terkena wabah cacar dekat Tulangan.

Sepeninggal Annelies, terniat oleh Minke untuk pergi meninggalkan Wonokromo dan melanjutkan sekolah ke STOVIA di Betawi. Salah satu cara yang dapat Nyai lakukan guna menahan niat kepergian Minke itu ialah dengan cara menjodohkan Minke dengan Surati. Namun timbul keraguan pada diri Nyai setelah melihat apa yang dilakukan kakaknya terhadap kemenakannya. Saat terjadi pertengkaran antara Nyai, Sastro Kassier, dan Djumilah, istri kakaknya mengenai apa yang terjadi pada diri Surati, Minke pun memilih masuk ke dalam kamar dan mulailah menulis kisah tentang Surati.

Continue Reading »

Next Page »