<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Penganyam Kata &#187; Pramoedya</title>
	<atom:link href="http://www.penganyamkata.net/category/pramoedya/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.penganyamkata.net</link>
	<description>The Untoldstories of Daniel Mahendra</description>
	<lastBuildDate>Fri, 30 Apr 2010 03:53:12 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
<image>
<link>http://www.penganyamkata.net</link>
<url>http://www.penganyamkata.net/wp-content/mbp-favicon/dmbd2.ico</url>
<title>Penganyam Kata</title>
</image>
		<item>
		<title>Idola dalam Hidupmu</title>
		<link>http://www.penganyamkata.net/2009/06/03/idola-dalam-hidupmu/</link>
		<comments>http://www.penganyamkata.net/2009/06/03/idola-dalam-hidupmu/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Jun 2009 12:23:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Daniel Mahendra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kunjungan]]></category>
		<category><![CDATA[Pramoedya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.penganyamkata.net/?p=1592</guid>
		<description><![CDATA[Nyaris setiap hari aku menyambangi blog Paulo Coelho. Sastrawan kaliber dunia yang akhir tahun kemarin baru saja merayakan 100 juta copy penjualan bukunya di seluruh dunia, dan Guinness Book of World Records mengganjarnya dengan penghargaan The Guinness Award For Most Traslated Living Author. Paulo memang melegenda lewat The Alchemist. Buku yang menginspirasi banyak manusia di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Nyaris setiap hari aku menyambangi <a href="http://paulocoelhoblog.com/" target="_blank">blog</a> <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Paulo_Coelho" target="_blank">Paulo Coelho</a>. Sastrawan kaliber dunia yang akhir tahun kemarin baru saja merayakan 100 juta <em>copy</em> penjualan bukunya di seluruh dunia, dan Guinness Book of World Records mengganjarnya dengan penghargaan <em>The Guinness Award For Most Traslated Living Author</em>.</p>
<p>Paulo memang melegenda lewat <em>The Alchemist</em>. Buku yang menginspirasi banyak manusia di muka bumi ini. Buku itu telah diterjemahkan ke dalam 67 bahasa dan tercatat sebagai <em>best-seller</em> di 74 negara. Ya, suka tidak suka, Paulo Coelho memang salah seorang pengarang terbesar dunia abad ke-20 dan ke-21 yang masih hidup.</p>
<p>Ada hal menarik dengan apa yang ia tulis di <a href="http://paulocoelhoblog.com/" target="_blank">blog-ny</a>a. Rupanya ia cukup rajin menulis di blog. Dari kegiatan sehari-hari, jadwal terbit bukunya, informasi peluncuran buku, hingga foto-foto mengenai bukunya yang dikirim pembacanya dari seluruh dunia.</p>
<p>Pada 1 Juni 2009 kemarin, ada hal cukup menggelitik yang berhasil membuatku tersenyum-senyum sendiri. Tulisan ini baru bisa ku-<em>posting</em> sekarang karena 1 Juni kemarin bertepatan dengan tanggal peluncuran ulang blog penganyamkata.net ini. Sehingga rasanya tak asyik kalau harus menerbitkan dua tulisan sekaligus bertepatan dengan waktu <em>launching</em> blog.</p>
<p><a href="http://paulocoelhoblog.com/2009/06/01/forum-secret-and-hidden-art/" target="_blank">Di sana</a> ia menulis seperti ini:</p>
<p><span id="more-1592"></span></p>
<blockquote><p>Sometimes we are afraid to say that we like some art… In my case, earlier on in my life, I loved ABBA &#8211; but it was politically incorrect to say that in public since it was considered a too sweet and low…</p>
<p>I also love writers such as Henry Miller and bestsellers such as Stephen King. It would probably be more politically correct to say that I love Baudelaire – which is not the case.</p>
<p>So, what are your secret, hidden artists that you like but believe others don’t?</p></blockquote>
<p>Setelah membaca postingannya itu, ada beberapa komentar yang mampu membuatku ngakak. Kuambilkan beberapa contohnya saja di sini. Selebihnya bisa kalian baca sendiri <a href="http://paulocoelhoblog.com/2009/06/01/forum-secret-and-hidden-art/" target="_blank">di sana</a>.</p>
<blockquote><p><strong>Neel</strong>a:<br />
Michael Jackson, Iron Maiden and Abdul basit, each in different situations.</p>
<p>.</p>
<p><strong>Paula</strong>:<br />
Yeah, I had this with Britney Spears…. I really like “Toxic” but never truly said to anyone</p>
<p>.</p>
<p><strong>Liza</strong>:<br />
Michael Jackson, Britney Spears and Pamela Anderson. I like and admire them a lot. In my circle of network, I won’t admit it publicly as these are eccentric people by nature and physical</p>
<p>.</p>
<p><strong>Mirela Baron</strong>:<br />
Yes,Paulo ,I like ABBA too,even in my area,when I´v saw the last MUSICAL with Maryl Strep,friends of me said IT WAS A KITCH!<br />
What I surly don`t like,better to say I´m afraid of things or people that love to HIDDEN!</p></blockquote>
<p>Setelah membaca postingannya itu aku jadi berpikir bahwa hal tersebut banyak benarnya juga. Aku tidak tahu bagamana dengan kalian, tapi terkadang kita memang memiliki seorang idola yang bahkan malu untuk menceritakannya pada orang lain.</p>
<p>Sejak SD aku menyukai Michael Jackson. Michael Jackson di tahun 80-an adalah <em>hero</em>. Maka menjadikannya sebagai idola adalah juga mengikuti trend musik. Nyaris apa pun yang berhubungan dengan MJ kudokumentasi. Kliping koran, kliping majalah, poster, kaset, CD, VCD, DVD, Video Beta, MP3, buku, bahkan sampai kumpulan <em>download</em> internet.</p>
<p>Tapi dunia berkembang. Manusia juga berubah. Sejalan dengan waktu, mengakui mengidolakan MJ adalah sebuah hal yang menggelikan bagi banyak orang. Paling tidak itu yang kurasakan. Seringkali aku ditertawakan atau merasa terintimidasi kalau ketahuan menyukai MJ. Padahal kesukaanku pada MJ sama sekali tidak mengganggui hak-hak individu orang lain.</p>
<p>Ada banyak argumen mengapa aku menyukai MJ. Dan semua itu berhubungan dengan relasi nilai antara diriku dengan MJ itu sendiri. Baik musiknya maupun kehidupan pribadinya. Yang kesemua itu dipandang dengan tatapan iba di mata banyak teman. Hingga akhirnya, dengan diam-diam aku menikmati MJ secara diam-diam pula.</p>
<p><a href="http://ladangkata.com/" target="_blank">Lisa Febriyanti</a>, sahabat baikku, pernah bertanya padaku demi melihat <em>list</em> lagu yang kuputar di winamp selalu memunculkan nama MJ di status YM-ku. Katanya:</p>
<p>“Aku kadang masih berpikir, di mana menariknya Michael Jackson. Oke, lirik-lirik lagunya memang bagus. Ada banyak pesan moral. Tapi sampai mengidolakan seperti kamu?”<br />
“Ada banyak relasi nilai, Lis, antara aku dengan MJ, yang belum tentu bisa disarakan oleh orang lain. Itu bukan soal logika. Itu soal rasa. Seperti halnya kamu dan ludruk.”<br />
“Hahaha. Sialan. Tapi tau nggak, dulu waktu acara tujuh belasan, aku dan anak-anak karang taruna pernah membawakan <em>dance Smooth Criminal</em> di panggung.”</p>
<p>Maka meledaklah tawaku demi mengolok-oloknya. <em>Smooth Criminal</em> adalah salah sebuah tembang MJ yang memiliki konsep tarian tersendiri dan khas. Dan Lisa Febriyanti, yang masa mudanya banyak dihabiskan di jalanan sebagai aktivis itu, membawakannya di atas pangung tujuh belasan (Ya Tuhan, semoga Lisa tak membaca postinganku kali ini. Amin). Hihihi.</p>
<p>Nah, aku tidak tahu bagaimana dengan kalian. Tapi rasanya MJ bukanlah satu-satunya sosok yang kuidolakan. Sebagaimana aku mengagumi Benyamin S, secara diam-diam, yang di mataku begitu kocak dan brilian. Dan tahukah kalian, sejak Pramoedya Ananta Toer dibebaskan dari Pulau Buru pada Desember 1979 serta dibekali secarik kertas: <em>tidak terlibat G30S/PKI</em> (apa arti dibuang dan kerja paksa di Pulau Buru tanpa pengadilan selama 14 tahun kalau begitu?), seluruh karya Pram diberangus oleh Orde Baru.</p>
<p>Buku-buku Pram tak boleh terbit dan dilarang beredar oleh pemerintah saat itu. Membaca atau menyimpan karya Pram bisa dikategorikan sebagai tindakan subversif (betapa menggelikannya sistem saat itu ya?). Sementara di banyak negara buku-bukunya dijadikan bacaan wajib dari tingkat SD hingga universitas. Tapi Pram dianggap musuh Orde Baru. Pram adalah sastrawan yang menjadi paria di negerinya sendiri.</p>
<p>Nah, lucunya, pada saat buku Pram, <em>Bumi Manusia</em> (1980) akan terbit, Joesoef Isak (editor buku-buku Pram) menyerahkan naskah awal ke Adam Malik yang saat itu wakil presiden. Adam menyatakan novel Pram bagus. Joesoef juga mendapat kabar dari Adam Malik, Ibu Tien Soeharto terpukau oleh novel berlatar belakang Wonorkomo, Surabaya, itu. Bahkan Adam meminta buku itu menjadi bacaan wajib sekolah. Tapi, begitu buku itu beredar, Seoharto melarang karena dianggap berbahaya bagi Orde Baru. (Majalah Tempo Edisi 1-7 Desember 2008).</p>
<p>Ibu Tien Soeharto menyukai <em>Bumi Manusia</em>? Hihihi. Lucu juga ya.</p>
<p><em>So</em>, sebagai penutup, aku ingin juga mengulang kalimat Paulo Coelho di atas: <em>what are your secret, hidden artists that you like but believe others don’t?</em></p>
<p>Salam…</p>
<p>Bandung, 3 Juni 2009 | 18.28 wib</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.penganyamkata.net/2009/06/03/idola-dalam-hidupmu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>58</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>30 April 2 Tahun Lalu</title>
		<link>http://www.penganyamkata.net/2008/04/30/30-april-2-tahun-lalu-2/</link>
		<comments>http://www.penganyamkata.net/2008/04/30/30-april-2-tahun-lalu-2/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Apr 2008 13:28:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Daniel Mahendra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kilas Balik]]></category>
		<category><![CDATA[Pramoedya]]></category>
		<category><![CDATA[Pramoedya Ananta Toer]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.danielmahendra.com/?p=925</guid>
		<description><![CDATA[Pramoedya Ananta Toer adalah satu dari sederet sastrawan Indonesia terdepan yang dimiliki negeri ini. Puluhan buku lahir dari tangannya. Sebagian besar telah diterjemahkan ke dalam lebih dari 40 bahasa di dunia.   Ia dilahirkan di Blora pada 6 Februari 1925. Sulit membicarakan sastra Insdonesia tanpa menyebut namanya. Sesulit membayangkan sebagai sastrawan internasional ia menjadi paria [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"><a href="http://www.danielmahendra.com/wp-content/uploads/2008/04/pram_muda1.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-926 alignleft" style="float: left;" title="pram_muda1" src="http://www.danielmahendra.com/wp-content/uploads/2008/04/pram_muda1.jpg" alt="" width="150" height="226" /></a>Pramoedya Ananta Toer adalah satu dari sederet sastrawan Indonesia terdepan yang dimiliki negeri ini. Puluhan buku lahir dari tangannya. Sebagian besar telah diterjemahkan ke dalam lebih dari 40 bahasa di dunia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Ia dilahirkan di Blora pada 6 Februari 1925. Sulit membicarakan sastra Insdonesia tanpa menyebut namanya. Sesulit membayangkan sebagai sastrawan internasional ia menjadi paria di negeri sendiri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Namun aku sedang tak bermaksud menceritakan tentang siapa dan bagaimana itu Pramoedya. Aku hanya sedang ingin mengingat 30 April 2 tahun lalu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">30 April 2006 Pram mengehembuskan nafas terakhirnya di Jakarta dan dimakamkan di pemakaman umum Karet-Bivak, Jakarta.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Dia telah pergi ke tempat ke mana setiap orang akan dan sedang pergi…</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.penganyamkata.net/2008/04/30/30-april-2-tahun-lalu-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Negeri Irasional Versus Cara Berpikir</title>
		<link>http://www.penganyamkata.net/2008/04/28/negeri-irasional-versus-cara-berpikir/</link>
		<comments>http://www.penganyamkata.net/2008/04/28/negeri-irasional-versus-cara-berpikir/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Apr 2008 16:50:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Daniel Mahendra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Esai]]></category>
		<category><![CDATA[Pramoedya]]></category>
		<category><![CDATA[Pramoedya Ananta Toer]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.danielmahendra.com/?p=921</guid>
		<description><![CDATA[Senin malam lalu seorang kawan bertanya padaku: kapan keputusan akan suatu hal bakal kusampaikan. Kukatakan: mestinya hari ini. Tapi tampaknya mesti kuendapkan dulu, agar keputusan yang telah diambil tak jadi sentimentil ketika disampaikan. “Kapan jadinyanya? tanyanya lagi. “Paling lambat besok Selasa.” “Lahir hari apa?” tanyanya tiba-tiba. “Ha? Halah! Mau menetapkan hari baik ya? Hahaha! Kamu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: ">Senin malam lalu seorang kawan bertanya padaku: kapan keputusan akan suatu hal bakal kusampaikan. Kukatakan: mestinya hari ini. Tapi tampaknya mesti kuendapkan dulu, agar keputusan yang telah diambil tak jadi sentimentil ketika disampaikan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: "> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;">
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: ">“Kapan jadinyanya? tanyanya lagi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: ">“Paling lambat besok Selasa.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: ">“Lahir hari apa?” tanyanya tiba-tiba.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: ">“Ha? Halah! Mau menetapkan hari baik ya? Hahaha! Kamu boleh pakai cara itu untuk dirimu, tapi teori semacam itu tak berlaku untukku.” tapi kusebutkan juga hari lahirku sekadar untuk berkelakar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: ">“Berarti jangan kau sampaikan hari Rabu.” ujarnya mantap.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: "> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;">
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: ">Ya ampun… Dalam hati aku berpikir: masih ada hitungan-hitungan seperti ini rupanya. Akhirnya kuajak saja ia berdiskusi. Tidak serius memang, tapi paling tidak aku mengemukakan argumenku.</span><span style="font-size: 10pt; font-family: "> </span></p>
<p><span style="font-size: 10pt; font-family: ">Kira-kira begini obrolan kami:</span></p>
<p><span id="more-921"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: ">Barangkali hitungan-hitungan semacam itu kalau ditelaah lebih jauh ada benarnya. Bisa jadi berangkat dari kebiasaan, perhitungan yang matang, dan kecenderungan manusia. Hal itu tak mungkin sekonyong-konyong keluar dari cara berpikir. Aku yakin, semua itu merupakan perjalanan budaya manusia dari satu generasi ke generasi selanjutnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: "> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;">
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: ">Hanya saja, cara penyampaiannya selalu dikaitkan dengan mistis, dianggap sebuah kelebihan manusia dalam meramal, dan pola berpikir masyarakat yang menganut bahwa orang yang lebih tua selalu benar dalam segala hal.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: "> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;">
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: ">Andai saja perhitungan-perhitungan semacam itu disampaikan dengan logika yang nyata, barangkali penerimaannya pun akan lebih terbuka dan cara berpikir secara kolektif tidak melulu menyandingkannya dengan sesuatu yang berdekatan dengan hal mistis.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: "> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;">
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: ">Adalah agama yang turun tangan dalam membedah kaitan-kaitan mistis di sana sebagai sesuatu yang mendekati musyrik. Tapi dalam hal ini aku tidak ingin menyodorkan agama sebagai parameter dalam melihat persoalan. Aku ingin membawanya pada logika berpikir manusia secara sederhana saja.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: "> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;">
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: ">“Mungkin begitu cara orang tua zaman dahulu menyampaikan. Sehingga terbawa terus.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: ">“Justru di situlah yang kumaksud mesti dilawan dengan sesuatu yang rasional. Mesti ada generasi yang memutuskan rantai cara berpikir irasional.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: "> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;">
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: ">Raja-raja Jawa kuno membangun pemikiran adanya Nyai Rorokidul yang menguasai laut selatan dan mereka menciptakan mitos kawin dengannya begitu mengetahui Jawa telah dikalahkan oleh Barat. Kenapa?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: "> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: ">Karena dalam budaya Jawa tak ada istilah kalah. Yang ada adalah: raja selalu menang dan benar. Maka diciptakanlah kerangka pikiran bahwa Raja Jawa masih berkuasa dan punya kekuasaan. Mereka sakti dan tetap memiliki kekuatan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: "> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;">
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: ">Dengan begitu, raja masih dianggap segala-galanya. Dan keluarga raja tetap berada di atas, populer, serta disegani. Keturunan raja sekadar menikmati sisa-sisanya. Semua berangkat dari mitos.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: "> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: ">Pramoedya Ananta Toer dalam roman-romannya nyaris melabrak segala sesuatu yang berbau mitos. Ia mencoba menyodorkan rasionalitas dalam cara berpikir melalui tokoh-tokoh rekaannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: "> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;">
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: ">Baru Klinting, tombak Ki Ageng Mangir ia wujudkan sebagai manusia dalam <em style="mso-bidi-font-style: normal;">Mangir</em>. Pram mencoba menghindari sesuatu yang membuat orang menjadi irasional dalam berpikir. Pram tahu, jika cara berpikir irasional terus dilestarikan, akan bermanifestasi pada tindakan yang irasional pula. Maka akan terjadilah budaya-budaya irasional, manusia-manusia irasional, dan terbentuklah sebuah negara irasional.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: "> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: ">Aku bukan menolak segala sesuatu yang diturunkan oleh orangtua-orangtua zaman dahulu. Sejauh itu dibawa dalam nampan rasionalitas cara berpikir, dan mampu menyodorkan argumen sebagai dasar alasan yang dapat dipertanggungjawabkan, kenapa tidak.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: "> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;">
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: ">Akan tetapi, analogi cara berpikir yang mengatakan bahwa: <em style="mso-bidi-font-style: normal;">jangan duduk di tengah pintu</em>,<em style="mso-bidi-font-style: normal;"> Kau bakal sulit jodoh</em>, ketika ditanyakan kenapa? tidak bisa menjawab, lalu ujung-ujungnya hanya menyisakan jawaban: “ya turuti saja, itu kata orangtua”, ya maaf saja kalau aku mesti meninggalkan cara berpikir orang macam itu sembari mungkin membatin: betapa kerdilnya cara berpikirnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: "> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;">
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: ">Aku bersyukur dilahirkan oleh orangtua yang moderat dari segi cara berpikir, juga diturunkan oleh kakek nenek yang juga telah berpikir moderat, di mana anak-anak serta cucunya mengecap pendidikan tinggi dan memasuki ranah pekerjaan yang tidak bias.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: "> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;">
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: ">Tetapi, nyatanya lingkungan keluarga bukanlah satu-satunya penentu cara berpikir seorang manusia. Lingkungan keluarga adalah ranah ideal, tetapi di situ pulalah kenyataan hidup dimulai.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: "> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: ">Namun, bukankah </span><span style="font-size: 10pt; font-family: ">manusia pun bisa mengusahakan lahirnya</span><span style="font-size: 10pt; font-family: "> </span><span style="font-size: 10pt; font-family: ">syarat-syarat baru, kenyataan baru, dan tidak hanya</span><span style="font-size: 10pt; font-family: "> </span><span style="font-size: 10pt; font-family: ">berenang di</span><span style="font-size: 10pt; font-family: "> </span><span style="font-size: 10pt; font-family: ">antara kenyataan-kenyataan yang telah</span><span style="font-size: 10pt; font-family: "> </span><span style="font-size: 10pt; font-family: ">tersedia</span><span style="font-size: 10pt; font-family: ">, kata Mingke (dalam roman <em style="mso-bidi-font-style: normal;">Rumah Kaca</em>, hal.</span><span style="font-size: 10pt; font-family: "> 339)</span><span style="font-size: 10pt; font-family: ">.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;">
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: "> </span></p>
<blockquote>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: ">…</span><span style="font-size: 10pt; font-family: ">kita semua harus menerima kenyataan, tapi menerima</span><span style="font-size: 10pt; font-family: "> </span><span style="font-size: 10pt; font-family: ">kenyataan saja adalah pekerjaan manusia yang tak mampu</span><span style="font-size: 10pt; font-family: "> </span><span style="font-size: 10pt; font-family: ">lagi berkembang. Karena manusia juga bisa membikin</span><span style="font-size: 10pt; font-family: "> </span><span style="font-size: 10pt; font-family: ">kenyataan-kenyataan baru. Kalau tak ada orang mau</span><span style="font-size: 10pt; font-family: "> </span><span style="font-size: 10pt; font-family: ">membikin kenyataan-kenyataan baru, maka “kemajuan”</span><span style="font-size: 10pt; font-family: "> </span><span style="font-size: 10pt; font-family: ">sebagai kata dan makna sepatutnya dihapuskan dari</span><span style="font-size: 10pt; font-family: "> </span><span style="font-size: 10pt; font-family: ">kamus umat manusia</span><span style="font-size: 10pt; font-family: ">…</span><span style="font-size: 10pt; font-family: "> (</span><em style="mso-bidi-font-style: normal;"><span style="font-size: 10pt; font-family: ">Rumah Kaca</span></em><span style="font-size: 10pt; font-family: ">, 436)</span><span style="font-size: 10pt; font-family: ">.</span></p>
</blockquote>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: "> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;">
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: ">Begitulah secuil diskusi dengan temanku itu.</span></p>
<p><span style="font-size: 10pt; font-family: ">Bandung, 28 April 2008, 23.37 wib.</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.penganyamkata.net/2008/04/28/negeri-irasional-versus-cara-berpikir/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Investigasi III</title>
		<link>http://www.penganyamkata.net/2008/01/19/pramoedya-ananta-toer-dan-sastra-investigasi-iii/</link>
		<comments>http://www.penganyamkata.net/2008/01/19/pramoedya-ananta-toer-dan-sastra-investigasi-iii/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 19 Jan 2008 17:09:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Daniel Mahendra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Esai]]></category>
		<category><![CDATA[Pramoedya]]></category>
		<category><![CDATA[Anak Semua Bangsa]]></category>
		<category><![CDATA[Daniel Mahendra]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Novel]]></category>
		<category><![CDATA[Pramoedya Ananta Toer]]></category>
		<category><![CDATA[Roman]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[Sastrawan]]></category>
		<category><![CDATA[Teeuw]]></category>
		<category><![CDATA[Tempo Doeloe]]></category>
		<category><![CDATA[Tetralogi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://danielcmahendra.wordpress.com/2008/01/19/pramoedya-ananta-toer-dan-sastra-investigasi-iii/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Daniel Mahendra Pada Bab 9 roman Anak Semua Bangsa (Hasta Mitra, Jakarta, 1980), kurang lebih dapat diceritakan: Minke dan Nyai Ontosorah tetirah ke Tulangan, Sidoarjo, Jawa Timur. Di sebuah perumahan pabrik gula di mana kakak kandung Nyai, Paiman alias Sastrowongso alias Sastro Kassier bekerja dan tinggal di sana. Nyai kaget demi melihat Surati, anak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><font size="2"></font><font size="2"></font><font size="2"></p>
<p align="justify"><strong><a href="http://www.danielmahendra.com/wp-content/uploads/2008/01/pat-mks2.jpg" title="pat-mks.jpg"><img align="left" src="http://danielcmahendra.files.wordpress.com/2008/01/pat-mks.thumbnail.jpg" alt="pat-mks.jpg" /></a>Oleh Daniel Mahendra</strong></p>
<p align="justify">Pada Bab 9 roman <i>Anak Semua Bangsa</i> (Hasta Mitra, Jakarta, 1980), kurang lebih dapat diceritakan: Minke dan Nyai Ontosorah tetirah ke Tulangan, Sidoarjo, Jawa Timur. Di sebuah perumahan pabrik gula di mana kakak kandung Nyai, Paiman alias Sastrowongso alias Sastro Kassier bekerja dan tinggal di sana.</p>
<p align="justify">Nyai kaget demi melihat Surati, anak gadis Sastro Kassier yang berarti kemenakannya, sudah berwajah bopeng, jauh dari kemanisannya dahulu. Hal itu disebabkan &#8220;keterpaksaan&#8221; Sastro Kassier menjual anaknya untuk dijadikan gundik Tuan Besar Kuasa Administratur Frits Homerus Vlekkenbaaij alias Plikemboh, bosnya di pabrik gula. Tentu Surati terkesiap: tak percaya bahwa bapaknya tega menjual dirinya sebagai gundik. Sesuatu yang pernah dilakukan kakeknya, Sastrotomo, ayah Sastro Kassier, terhadap bibinya, Nyai Ontosoroh. Akhirnya Surati pun berniat membunuh Plikemboh dengan cara menularkan cacar yang ada pada tubuhnya, yang dengan sengaja ia jangkitkan di sebuah dusun terkena wabah cacar dekat Tulangan.</p>
<p align="justify">Sepeninggal Annelies, terniat oleh Minke untuk pergi meninggalkan Wonokromo dan melanjutkan sekolah ke STOVIA di Betawi. Salah satu cara yang dapat Nyai lakukan guna menahan niat kepergian Minke itu ialah dengan cara menjodohkan Minke dengan Surati. Namun timbul keraguan pada diri Nyai setelah melihat apa yang dilakukan kakaknya terhadap kemenakannya. Saat terjadi pertengkaran antara Nyai, Sastro Kassier, dan Djumilah, istri kakaknya mengenai apa yang terjadi pada diri Surati, Minke pun memilih masuk ke dalam kamar dan mulailah menulis kisah tentang Surati.</p>
<p></font><span id="more-649"></span><font size="2"></font><font size="2"></font><font size="2"></p>
<p align="justify">Dalam buku yang sama pada halaman 201, di bawah beberapa paragraf percakapan antara Minke, Jean Marais dan Kommer terdapat kutipan sebagai sesuatu bahan yang diambil dari sumber tertentu. Kira-kira begini percakapan itu ditulis:</p>
<p></font><font size="2"></font><font size="2"></font><font size="2"></p>
<blockquote>
<p align="justify">Tapi yang lain, Tuan Kommer,&#8221; aku buka tasku dan kukerluarkan <i>Nyai Surati</i> yang pernah dibacanya. Kuulurkan, &#8220;Mau Tuan menerima naskah ini sebagai kenang-kenangan pada hari gelap ini?&#8221;</p>
<p align="justify">&#8220;Mengapa, Minke?&#8221; tanya Jean Marais. &#8220;Maksudmu untuk dimelayukan dan diterbitkan Tuan Kommer?&#8221;</p>
<p align="justify">&#8220;Tidak, Jean. Buat Tuan Kommer sendiri. Siapa tahu, Tuan Kommer pada suatu kali mempunyai waktu senggang untuk menggubahnya, sebagai kenang-kenangan pada persahabatan kita, dan pada hari ini.&#8221;*</p>
</blockquote>
<p></font><font size="2"></font><font size="2"></font><font size="2"></p>
<p align="justify">Sementara isi dari kutipan yang dimaksud adalah:</p>
<p></font><font size="2"></font><font size="2"></font><font size="2"></p>
<blockquote>
<p align="justify">* Lihat H. Kommer <i>Tjerita Nji Paina</i>, A. Veit &amp; Co., Batavia, 1900 dicetak ulang dalam Pramoedya Ananta Toer <i>Tempo Doeloe</i>, Hasta Mitra, Jakarta 1980.</p>
</blockquote>
<p></font><font size="2"></font><font size="2"></font><font size="2"></p>
<p align="justify">Sekarang, mari kita lihat tentang <i>Tjerita Nji Paina</i> karangan H. Kommer yang termuat dalam <i>Tempo Doeloe</i>. Halaman pertama sebelum cerita itu dimulai terdapat halaman keterangan yang menjelaskan secuil gambaran isi cerita, pengarangnya, dan penerbitnya:</p>
<p></font><font size="2"></font><font size="2"></font><font size="2"></p>
<blockquote>
<p align="justify">TJERITA NJI PAINA</p>
<p align="justify">SATOE ANAK GADIS JANG AMAT SATIA.</p>
<p align="justify">SATOE TJERITA AMAT INDAHNJA,</p>
<p align="justify">JANG BELON SEBRAPA LAMA SOEDAH TERDJADI DI DJAWA WETAN.</p>
<p align="justify">TERKARANG OLEH</p>
<p align="justify">TOEAN H. KOMMER.</p>
<p align="justify">BATAVIA</p>
<p align="justify">Tjitakan jang pertama kali.</p>
<p align="justify">TERTJITAK DI PERTJIKAN TOEN-TOEAN.</p>
<p align="justify">A. VEIT &amp; Co.,</p>
<p align="justify">BATAVIA</p>
<p align="justify">1900</p>
</blockquote>
<p></font><font size="2"></font><font size="2"></font><font size="2"></p>
<p align="justify">Dalam <i>Nyi Paina</i>, si protagonis membiarkan diri ketularan penyakit cacar dengan tujuan membunuh tuan Briot yang dibencinya, yang menuntut hak memiliki dia sebagai nyai. Alangkah jenakanya pembalikan sejarah sastra: cerita yang di-&#8221;curi&#8221; oleh Pramoedya dari tokoh nyata Kommer dihadiahkan oleh Minke kepada tokoh roman Kommer agar dapat digarap.</p>
<p align="justify"><font size="2">Nah, di luar semua cerita itu, mari kita tengok siapakah H. Kommer dan Siapakah Tuan Kommer. Menurut Pramoedya dalam <i>Tempo Doeloe</i> ada dua Kommer yang terkenal pada masanya, H. Kommer dan H.F.R. Kommer. Pram menduga H. dan H.F.R bukan satu tapi dua orang. G.H. von Faber dalam &#8220;Nieuw Soerabaia. De Geschiedenis van instelling 1906-1931&#8243; menyebutkan, bahwa H.F.R. Kommer mempunyai koleksi hewan di tempat kediamannya di Kaliondo, Surabaya. Setelah mendapat badan hukum pada 31 Agustus 1916 Perhimpunan Kebun Binatang Surabaya membeli koleksi tersebut dan menjadilah modal pertama Kebun Binatang Surabaya di Grundo. H.F.R. Kommer adalah redaktur harian <i>Pewarta Soerabaia</i> (terbit: Surabaya 1902-1942) dan kemudian juga <i>Primbon Soerabaia </i>(terbit dan mati: Surabaya 1900).</font></p>
<p align="justify"><font size="2">Sementara H. Kommer lebih dikenal sebagai sastrawan pada masanya dengan karyanya <i>Nji Paina </i>(Betawi, 1900) dan <i>Tjerita Njonja Kong Hong Nio</i> (Betawi, 1900). H. Kommer dengan <i>Nji Paina</i>-nya, sadar atau tidak telah melancarkan kecaman tajam terhadap kaum gula, sedang justru pada masanya kaum gula merupakan tulang punggung Hindia Belanda dalam mendapatkan devisa. Jelaslah <i>Nji Paina</i> mengandung nada anti kolonial dan sosial.</font></p>
<p></font><font size="2">Lantas siapakah Tuan Kommer dalam roman <i>Tetralogi</i>? Nama Kommer untuk pertama kali disebut dalam roman <i>Tetralogi </i>terdapat pada buku jilid pertama, <i>Bumi Manusia</i>:</font><font size="2"></font><font size="2"></font><font size="2"></font><font size="2"></font><font size="2"></p>
<blockquote>
<p align="justify">Tidak diduga dalam sebuah koran Melayu milik orang Eropa muncul tulisan yang membela diriku, ditulis oleh seorang yang mengaku bernama Kommers. (<i>Bumi Manusia</i>, Hasta Mitra, Jakarta, 1980, hal. 275).</p>
</blockquote>
<p align="justify">Entah terjadi kekeliruan pengetikan atau pengeditan atau barangkali ada pengertian lain, nama Kommer untuk pertama kali ditulis justru dengan akhiran s: Kommers, bukan Kommer. Kommer pertama kali bertemu Minke di saat pesta perkawinan Minke dengan Annelies.</p>
<p></font><font size="2"></font><font size="2"></font><font size="2"></p>
<blockquote>
<p align="justify">Ia seorang Indo yang ramah. Dari darah Eropa hanya bentuk kepala dan mancung yang diwarisinya. Sisanya Pribumi, mungkin juga pedalamannya. Ia jauh lebih tua daripadaku, mungkin beda sepuluh atau limabelas tahun. Gerak-geriknyanya gesit. Dari wajahnya nampak ia seorang yang bisa hidup di rumah. (<i>Bumi Manusia</i>, Hasta Mitra, Jakarta, 1980, hal. 309-310).</p>
</blockquote>
<p></font><font size="2"></font><font size="2"></font><font size="2"></p>
<p align="justify">Pertemuan kedua antara Kommer dengan Minke terjadi di rumah Jean Marais, saat Minke &#8220;diserang&#8221; untuk mulai menulis dalam Melayu, yang selama itu dianggap Minke sebagai bahasa miskin, bahasa yang belang-bonteng dengan kata-kata semua bangsa di seluruh dunia. Saat itu Kommer menunjukkan koran-koran berbahasa Melayu yang justru tidak ditulis oleh Pribumi. Dan Kommer mulai menyinggung soal di mana ia bekerja:</p>
<p></font><font size="2"></font><font size="2"></font><font size="2"></p>
<blockquote>
<p align="justify">&#8220;Aku sendiri masih seorang kacung dalam <i>Primbon Soerabaia</i>, Tuan. … &#8221; (<i>Anak Semua Bangsa</i>, Hasta Mitra, Jakarta, 1980, hal. 103).</p>
</blockquote>
<p></font><font size="2"></font><font size="2"></font><font size="2"></p>
<p align="justify">Ha! Coba perhatikan pengakuan Kommer yang merendah sebagai masih seorang kacung di <i>Primbon Soerabaia</i> dalam <i>Anak Semua Bangsa</i> dan H.F.R. Kommer sebagai redaktur harian <i>Primbon Soerabaia </i>dalam <i>Tempo Doeloe</i>.</p>
<p align="justify">Tak luput Kommer pun menunjukkan alasan mengapa ia memilih hidup sebagai penulis:</p>
<p></font><font size="2"></font><font size="2"></font><font size="2"></p>
<blockquote>
<p align="justify">&#8220;Hidup yang tak tertahankan, Tuan. Orang yang menyedari ini patut pengajaknya bicara. Bicara dari orang pada orang yang sebanyak itu jumlahnya tentu tidak mungkin, maka menulislah aku, seorang yang bicara pada banyak orang.&#8221; (<i>Anak Semua Bangsa</i>, Hasta Mitra, Jakarta, 1980, hal. 105).</p>
</blockquote>
<p></font><font size="2"></font><font size="2"></font><font size="2"></p>
<p align="justify">Lantas di tebing akhir pertemuan di rumah Jean Marais itu, Kommer berbasa-basi menawarkan Minke berkunjung kerumahnya:</p>
<p></font><font size="2"></font><font size="2"></font><font size="2"></p>
<blockquote>
<p align="justify">&#8220;Nah, Tuan Minke, ini bagan jebakan macan kumbang. Silakan singgah sekali-kali ke rumahku. Ada berbagai macam binatang kupelihara: macan, buaya, ular, monyet, burung-burung ….. senang memperhatikan tingkah-lakunya.&#8221; (<i>Anak Semua Bangsa</i>, Hasta Mitra, Jakarta, 1980, hal. 107).</p>
</blockquote>
<p></font><font size="2"></font><font size="2"></font><font size="2"></p>
<p align="justify">Lagi-lagi coba perhatikan paragraf barusan dengan penjelasan tentang H.F.R. Kommer yang mempunyai koleksi hewan di tempat kediamannya yang dijelaskan Pram di <i>Tempo Doeloe</i>. Juga kelanjutan mengenai hal itu kemudian saat Minke memerlukan datang ke rumah Kommer:</p>
<p></font><font size="2"></font><font size="2"></font><font size="2"></p>
<blockquote>
<p align="justify">Ternyata pelataran rumah Kommer cukup luas. Di mana-mana dapat kulihat kandang dengan penghuninya: pyton, sekelompok kancil, beruang, macan, ayamhutan, oranghutan. (<i>Anak Semua Bangsa</i>, Hasta Mitra, Jakarta, 1980, hal. 331).</p>
</blockquote>
<p align="justify">Dan pertautan Kommer dengan gula dapat dilihat di beberapa keterangan berikut ini:</p>
<p></font><font size="2"></font><font size="2"></font><font size="2"></p>
<blockquote>
<p align="justify">&#8220;Nyai, Tuan, sudah sepatutnya kalau Nijman berpihak pada gula, dia sendiri hidup dari gula. Korannya koran gula, dibiayai oleh perusahaan-perusahaan gula, untuk melindungi kepentingan gula.&#8221;</p>
<p align="justify">Aku terpesona oleh keterangan Kommer: Waktu ia masih kanak-kanak, baru saja lulus E.L.S. ia langsung bekerja pada koran mingguan<i> De Evenaar</i>. Koran itu kecil saja dan tidak berarti. Percetakannya kepunyaan pabrik gula. Kemudian ia ketahui juga: koran itu pun kepunyaan sang pabrik gula. (<i>Anak Semua Bangsa</i>, Hasta Mitra, Jakarta, 1980, hal. 199).</p>
</blockquote>
<p align="justify">Maka kekecewaan Kommer pada gula dapat dilihat pada paragraf di bawah ini:</p>
<p></font><font size="2"></font><font size="2"></font><font size="2"></p>
<blockquote>
<p align="justify">&#8220;… Aku sangat kecewa pada koranku sendiri. Aku tinggalkan pekerjaanku, … […] Tapi sama saja, yang dulu mau pun yang sekarang: dia suratkabar gula, harus pertahankan kepentingan gula. Semua boleh terjadi, asal gula selamat! Dengan tulisannya Tuan Minke telah masuk perangkap. Perangkap gula!&#8221; (<i>Anak Semua Bangsa</i>, Hasta Mitra, Jakarta, 1980, hal. 200).</p>
</blockquote>
<p align="justify">Nah, dapatlah dikatakan bahwa Pramoedya memang berusaha menghidupkan sederet catatan fakta ke dalam rumah fiksi. Rujukan-rujukan tentang kisah hidup, pekerjaan, juga hasil karya seorang Kommer nyata seolah-olah kembali hidup dalam tokoh Kommer roman. Kecuali Kommer, Pram biasanya mengaburkan nama tokoh-tokoh nyata dalam dunia realita dengan nama samaran atau nama yang secara persinggungan dapat kita tebak kembali.</p>
<p></font><font size="2">Ambil contoh Minke. Saat memulai karirnya sebagai jurnalis, ia kerap menggunakan inisial nama T.A.S. Meski Pram tidak dengan terang-terangan menyebutkan T.A.S. adalah tokoh pers pribumi Tirto Adhisoerjo, dapatlah kita simpulkan Minke alias T.A.S. memanglah RM. Tirto Adhisoerjo dengan <i>Sarikat Prijaji</i>-nya, atau koran <i>Medan Prijaji</i>-nya<i>.</i></font><font size="2"></font><font size="2"></p>
<p align="justify">Maka Minke memang menjelma sebagai <i>alter ego</i> Tirto. Pembaca agak tahu menahu nama-nama semisal: Van Heutsz, Gubernur Jenderal dan pengarang Marie van Zeggelen, sosialis Belanda Van Kol yang dalam roman bernama Kollewijn, atau Kartini dan surat-suratnya yang diterbitkan Tuan Abendanon dengan judul <i>Door Duisternis tot Licht</i> (<i>Habis Gelap Terbitlah Terang</i> dalam terjemahan Armijn Pane), yang disebut <i>De Zonnige Toekomst</i> (‘Masa depan yang bersinar terang’, dalam <i>Anak Semua Bangsa</i>). Kita mengenal kembali <i>Boedi Oetomo</i> dan dua pendirinya, dokter Jawa Wahidin dan Soetomo. Kita tahu bahwa Hadji Samadi dalam roman mewakili Samanhoedi, salah seorang pemimpin awal <i>Sarekat Islam</i>. Doewager sudah tentu harus diidentikan dengan E.F.E Douwes Dekker, pendiri <i>Indische Partij</i> yang kemudian terkenal dengan nama Setiabudhi, sedangkan Marko dapat disamakan dengan Mas Marco Kartodikromo, aktivis politik kiri dan pengarang berbagai roman. Bahkan roman <i>Hikayat Siti Aini</i> dengan pengarangnya Hadji Moeloek, yang memang tidak terdapat dalam buku-buku sejarah sastra Melayu/Indonesia, ternyata bukan produk fantasi, melainkan penyamaran yang mudah terbongkar dari roman <i>Hikayat Siti Mariah</i>, karangan penulis abad kesembilan belas Hadji Mukti.</p>
<p align="justify">Maka dalam konteks sastra investigasi, Pramoedya dalam proses kreatifnya mencoba membangun gunung cerita roman <i>Tetralogi</i> bukan tidak mungkin tidak melakukan riset, penelitian, serta pembongkaran sejarah tentang peristiwa dan fakta-fakta yang betul memang terjadi. Pramoedya mencebak dari bawah debu sejarah dan berusaha menerbitkannya kembali. Bukan hanya nama-nama dan tokoh-tokoh, melainkan juga golongan-golongan dan organisasi-organisasi, fakta dan peristiwa, terbitan dan karangan diketahui dan dikenal kembali. Kronologi sejarah diperhatikan dengan cukup cermat, bahkan angka-angka tahun bukan tak ada. Seperti apa yang disebut Prof A. Teeuw:</p>
<blockquote>
<p align="justify">Pembaca dengan minat ilmiah dapat melacak secara detail apa yang cocok atau apa yang tidak cocok dari segi sejarah, hal-hal mana yang dapat dibuktikan dari sumber-sumber dan apa yang nampaknya direka-reka atau diputarbalikkan. (A. Teeuw, <i>Citra Manusia Indonesia Dalam Karya Sastra Pramoedya Ananta Toer</i>, hal 250, Pustaka Jaya, Jakarta, 1997).</p>
</blockquote>
<p align="justify">Begitulah.</p>
<p align="justify">___________________________________________</p>
<p></font></p>
<h6 align="justify"><em>Tempo Doeloe</em>. Antologi Sastra Pra-Indonesia adalah antologi karya-karya pengarang yang dihasilkan dalam kurun waktu di perlintasan abad 19 ke abad 20, yang oleh Pramoedya karya-karya tersebut tidak dimasukan ke dalam golongan cerita Indonesia sekali pun terjadi di bumi Nusantara. Pram cenderung memasukannya ke dalam golongan Melayu lingua franca, sastra assimilatif atau pra-Indonesia. Diterbitkan pertama kali oleh Hasta Mitra, Jakarta, 1982, kemudian oleh Lentera Dipantara, Jakarta, 2003).</h6>
<p><font size="2"></font><font size="2"></font><font size="2"></font><font size="2"></font><font size="2"></font><font size="2"></font><font size="2"></font><font size="2"></font><font size="2"></font><font size="2"></font><font size="2"></font><font size="2"></font><font size="2"></font><font size="2"></font><font size="2"></font><font size="2"></font><font size="2"></font><font size="2"></font><font size="2"></font><font size="2"></font><font size="2"><b><font size="2"></font></b></font><font size="2"></font><font size="2"></font><font size="2"></font><font size="2"></font><font size="2"></font><font size="2"></font><font size="2"></font><font size="2"></font><font size="2"></font><font size="2"></font><font size="2"></font><font size="2"></font><font size="2"></font><font size="2"></font><font size="2"></font><font size="2"></font><font size="2"></font><font size="2"></font><font size="2"></font><font size="2"></font><font size="2"><b><font size="2"></p>
<p align="justify">Sumber Pustaka:</p>
<p></font></b></font></p>
<h6 align="justify">Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia, Hasta Mitra, Jakarta, 1980.</h6>
<h6 align="justify">_________, Anak Semua Bangsa, Hasta Mitra, Jakarta, 1980.</h6>
<h6 align="justify">_________, Tempo Doeloe, Hasta Mitra, Jakarta, 1982.</h6>
<h6 align="justify">_________, Jejak Langkah, Hasta Mitra, Jakarta, 1985.</h6>
<h6 align="justify">_________, Sang Pemula, Hasta Mitra, Jakarta, 1985.</h6>
<h6>A. Teeuw, Citra Manusia Indonesia Dalam Karya Sastra Pramoedya Ananta Toer, Pustaka Jaya, Jakarta, 1997.</h6>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.penganyamkata.net/2008/01/19/pramoedya-ananta-toer-dan-sastra-investigasi-iii/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Detik-detik Soeharto dan Pramoedya</title>
		<link>http://www.penganyamkata.net/2008/01/14/detik-detik-soeharto-dan-pramoedya/</link>
		<comments>http://www.penganyamkata.net/2008/01/14/detik-detik-soeharto-dan-pramoedya/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Jan 2008 14:44:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Daniel Mahendra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Koran Pagi]]></category>
		<category><![CDATA[Pramoedya]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Pramoedya Ananta Toer]]></category>
		<category><![CDATA[Sastrawan]]></category>
		<category><![CDATA[Soeharto]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://danielcmahendra.wordpress.com/2008/01/14/detik-detik-soeharto-dan-pramoedya/</guid>
		<description><![CDATA[Ketika saat-saat kritis berulangkali dialami Pramoedya Ananta Toer selama terbaring sakit di rumah sakit St.Carolus, Jakarta pada April 2006 silam, tim dokter mengajak keluarga Pram berunding. Opsi yang ditawarkan: Pram akan dipasangi alat bantu agar paru-parunya tetap dapat berfungsi, tapi tentu menyakitkan. Atau, sebaliknya. Saat itu keluarga Pram tidak langsung mengiyakan tawaran tim dokter yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><font size="2">Ketika saat-saat kritis berulangkali dialami Pramoedya Ananta Toer selama terbaring sakit di rumah sakit St.Carolus, Jakarta pada April 2006 silam, tim dokter mengajak keluarga Pram berunding. Opsi yang ditawarkan: Pram akan dipasangi alat bantu agar paru-parunya tetap dapat berfungsi, tapi tentu menyakitkan. Atau, sebaliknya. Saat itu keluarga Pram tidak langsung mengiyakan tawaran tim dokter yang menangani Pram. Semua tentu ingin yang terbaik, namun tetap dengan tidak &#8220;merugikan&#8221; si penderita.</font></p>
<p><font size="2">Sampai dengan hari ini Soeharto masih lagi dipasangi alat ventilator untuk membantu pernafasannya, setelah keluarga dan tim dokter memutuskan memasang alat bantu tersebut. Dan pemasangan alat itu bukan tidak dengan konsekuensi. Soeharto mesti ditidurkan atau dibius, karena pemasangan alat itu dalam keadaan sadar akan menimbulkan nyeri yang tak terkira. Di luar kuasa Tuhan, tim dokter memerkirakan kemungkinan Soeharto bertahan hidup: 50-50.</font></p>
<p><span id="more-630"></span></p>
<p><font size="2">Di penghujung April 2006 silam, setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit, Pram merengek minta pulang. Seharian Pram sudah minta keluar dari rumah sakit. Akhirnya keluarga memutuskan memulangkan Pram dari St.Carolus setelah sebelumnya mendapat persetujuan dari tim dokter. Semua alat yang terhubung pada tubuh Pram pun dipreteli. Pram pulang pukul 19 malam.</font></p>
<p><font size="2">Semalaman itu beberapa kali Pram kembali mengalami keadaan kritis di kamar depan rumah Utan Kayu, Jakarta. Namun satu-satu yang terhubung pada tubuh Pram tinggalah infus, selain tabung oksigen untuk keadaan genting. Keluarga sudah mengikhlaskan yang terbaik bagi Pram. Yasinan pun tak putus dibacakan.</font></p>
<p><font size="2">Pagi harinya Pram meninggal dunia dengan tenang, setelah semua alat yang terhubung pada tubuhnya dicopot sejak dari rumah sakit.</font></p>
<p><font size="2">Sampai dengan <a target="_blank" href="http://www.detiknews.com/indexfr.php?url=http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2008/bulan/01/tgl/14/time/211808/idnews/878953/idkanal/10">jam ini</a>, keadaan Soeharto masih tetap memprihatinkan, meski pihak keluarga sudah menyerahkan sepenuhnya pada tim dokter yang menangani Soeharto.</font></p>
<p><font size="2">Hidup memang sebuah pilihan. Namun terkadang, mati pun menjadi pilihan tersendiri. Apakah jika seluruh alat yang menempel di tubuh Soeharto dipreteli, Soeharto akan meninggal?</font></p>
<p><font size="2">Tuhan memang sudah berencana, tetap manusia yang menentukan.</font></p>
<p><font size="2">Bandung, 14 Januari 2008, 21.41 wib.</font></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.penganyamkata.net/2008/01/14/detik-detik-soeharto-dan-pramoedya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Surat Soeharto untuk Pramoedya Ananta Toer</title>
		<link>http://www.penganyamkata.net/2008/01/13/surat-soeharto-untuk-pramoedya-ananta-toer/</link>
		<comments>http://www.penganyamkata.net/2008/01/13/surat-soeharto-untuk-pramoedya-ananta-toer/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Jan 2008 05:06:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Daniel Mahendra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Koran Pagi]]></category>
		<category><![CDATA[Pramoedya]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Pramoedya Ananta Toer]]></category>
		<category><![CDATA[Sastrawan]]></category>
		<category><![CDATA[Soeharto]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://danielcmahendra.wordpress.com/2008/01/13/surat-soeharto-untuk-pramoedya-ananta-toer/</guid>
		<description><![CDATA[Mengikuti saat-saat kritis mantan Presiden Soeharto di RSPP (Rumah Sakit Pusat Pertamina) Jakarta melalui detik.com pada 11-12 Januari lalu, seolah tergambar betul bagaimana suasana di rumah sakit saat itu. Apalagi beberapa teman mulai SMS: apakah kamu sedang touch dengan internet? Tolong chek, aku denger infor pak harto meninggal. (olala, dia sudah mengangkatku jadi operator ilegal [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><font size="2">Mengikuti saat-saat kritis mantan Presiden Soeharto di RSPP (Rumah Sakit Pusat Pertamina) Jakarta melalui <a target="_blank" href="http://www.detik.com/">detik.com</a> pada 11-12 Januari lalu, seolah tergambar betul bagaimana suasana di rumah sakit saat itu. Apalagi beberapa teman mulai SMS: <i>apakah kamu sedang touch dengan internet? Tolong chek, aku denger infor pak harto meninggal</i>. (olala, dia sudah mengangkatku jadi operator ilegal rupanya, sementara dia sedang jingkrak-jingkrak di Stadion Mandala Krida Yogyakarta, nonton konser 11 Januari-nya Gigi. Hehehe!).</font></p>
<p><font size="2">Oke, balik lagi ke Soeharto. Ya, aku bisa membayangkan bagaimana suasana di rumah sakit saat itu. Tatkala keluarga berkumpul dan menunggu dengan cemas saat-saat kritis itu. Sementara (ratusan) wartawan di luar tak kalah hebohnya. Hal ini mengingatkan aku pada jam-jam ketika ikut menunggui sakitnya Pramoedya Ananta Toer di rumah sakit St.Carolus, Salemba, Jakarta, pada April 2006 silam.</font></p>
<p><font size="2"></font><font size="2">Saat itu aku bersama keluarga besar Pram. Sementara wartawan dari berbagai media hilir mudik memantau perkembangan kondisi Pram, selain bertemu banyak kawan sastrawan dan aktivis juga (tentang ini sudah pernah kurawikan ke dalam 2 episode tulisan dan kuturunkan di milis <a target="_blank" href="http://groups.yahoo.com/group/membacapramoedya/">membacapramoedya</a>).</font></p>
<p><font size="2"></font><font size="2"></font><font size="2">Lalu apa hubungannya antara Soeharto dan Pramoedya?</font></p>
<p><font size="2"></font><font size="2"></font><font size="2"><span id="more-629"></span></font></p>
<p><font size="2"></font><font size="2"></font><font size="2"></font><font size="2">Begini. Soeharto dan Pram adalah dua manusia seangkatan. Soeharto dilahirkan pada tahun 1921, sementara Pramoedya tahun 1925. Dua-duanya sama-sama pernah mengenyam kemiliteran. Bedanya, Pram memutuskan keluar dari militer dengan pangkat terakhir Letnan Dua, karena ketidakjelasan, sementara Soeharto meneruskan hingga jendral (bahkan jendral bintang lima), serta&#8221;menclok&#8221; jadi Presiden RI.</font></p>
<p><font size="2">Soeharto dan Pram sama-sama <i>socialite</i> dalam dunia yang berbeda. Soeharto di kemiliteran dan tokoh pemerintahan kaliber internasional, sementara Pram di dunia sastra dan tokoh sastrawan (yang juga) kaliber internasional.</font></p>
<p><font size="2">Perbedaan paling mencolok pada keduanya adalah: Soeharto-lah yang membuat Pram dibuang ke penjara dan kerja paksa selama 14 tahun di zaman orde baru, karena dituduh PKI, tanpa pengadilan. Di pembuangan di <a target="_blank" href="http://www.detiknews.com/indexfr.php?url=http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2008/bulan/01/tgl/14/time/203102/idnews/878941/idkanal/10">Pulau Buru</a>, Soeharto menulis surat pada Pram yang isinya nasihat agar setiap manusia mesti bertanggung jawab pada perbuatannya (termuat di buku <i>Nyanyi Sunyi Seorang Bisu</i>). Di bawah todongan pistol tentara, Pram dipaksa membalas surat Presiden RI itu dengan kata-kata yang manis, penuh hormat, dan disensor. (saat menuliskan balasan surat itu, Pram mengaku menitikkan air mata karena mesti menulis sesuatu yang tak ada kesesuaian dengan kata hatinya).</font></p>
<p><font size="2">Soeharto pun mengaku telah mengirimkan sebuah mesin ketik khusus untuk Pram, agar dapat terus menulis (meski mesin ketik itu -bisa diramalkan, tak pernah sampai ke tangan Pram).</font></p>
<p><font size="2">Setelah keluar dari pembuangan (karena tekanan internasional, negara-negara investor mengancam akan menstop investasi di Indonesia jika tahanan politik masih dipertahankan pemerintahan orde baru), Pram dibekali secarik kertas resmi yang menerangkan: tidak terlibat G30S/PKI. Hanya secarik kertas! Seolah pembuangan selama 14 tahun penjara tidak berarti sama sekali. Ingat, tanpa pengadilan!</font></p>
<p><font size="2">Semenjak itu, Pram dianggap salah seorang musuh utama Soeharto beserta jajaran pemerintahan orde baru. Ia masih diwajibkan melapor seminggu sekali ke Instansi Militer. KTPnya mesti dicantumi tanda ET yang berarti Eks Tapol. Ia tak diperbolehkan ke luar negeri, dan semua karya-karyanya dilarang beredar di bumi Indonesia. Kalau saja ada yang berani membaca karya Pram, pasal subversif sontak dituduhkan. Tak masuk di akal!</font></p>
<p><font size="2">Setelah Soeharto turun pada 1998, Pram mengingatkan Soeharto akan isi surat yang pernah ditulisnya tersebut (melalui harian <i><a target="_blank" href="http://www.kompas.com/">Kompas</a></i>): agar setiap manusia mesti bertanggung jawab pada perbuatannya.</font></p>
<p><font size="2">Setelah dirawat beberapa hari St.Carolus, Pram meninggal, tahun 2006 pada usia 81 tahun, karena komplikasi terutama infeksi paru-paru. Selepas Soeharto lengser, karya-karyanya kembali diterbitkan secara bebas, dicetak ulang, dan terus diterjemahkan ke dalam lebih dari 40 bahasa di seluruh dunia.</font></p>
<p><font size="2">Sementara Soeharto? Aku bukan Tuhan!</font></p>
<p><font size="2">Bandung, 13 Januari 2008, 11.51 wib.</font></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.penganyamkata.net/2008/01/13/surat-soeharto-untuk-pramoedya-ananta-toer/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Investigasi II</title>
		<link>http://www.penganyamkata.net/2008/01/13/pramoedya-ananta-toer-dan-sastra-investigasi-ii/</link>
		<comments>http://www.penganyamkata.net/2008/01/13/pramoedya-ananta-toer-dan-sastra-investigasi-ii/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Jan 2008 01:31:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Daniel Mahendra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Esai]]></category>
		<category><![CDATA[Pramoedya]]></category>
		<category><![CDATA[Daniel Mahendra]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Novel]]></category>
		<category><![CDATA[Pramoedya Ananta Toer]]></category>
		<category><![CDATA[Putu Wijaya]]></category>
		<category><![CDATA[Roman]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[Sastrawan]]></category>
		<category><![CDATA[Seno Gumira Ajidarma]]></category>
		<category><![CDATA[Tetralogi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://danielcmahendra.wordpress.com/2008/01/13/pramoedya-ananta-toer-dan-sastra-investigasi-ii/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Daniel Mahendra Ketika mulai menggulirkan ide dengan cara berdiskusi bagi buku yang sedang kususun, Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Investigasi, berjubel komentar datang tumpang tindih. Dari yang tumpah tindih itu, aku pilah beberapa masukan sebagai bahan tulisan kali ini. Seorang kawan misalnya, sudah sejak awal mengkhawatirkan bakal terjadi penggelinciran makna antara kajian ilmu sastra [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><font size="2"></font><font size="2"></font><font size="2"></font><font size="2"></font><font size="2"></font><font size="2"></p>
<p align="justify"><strong><a href="http://www.danielmahendra.com/wp-content/uploads/2008/01/pat-buku-21.jpg" title="pat-buku-2.jpg"><img align="left" src="http://danielcmahendra.files.wordpress.com/2008/01/pat-buku-2.thumbnail.jpg" alt="pat-buku-2.jpg" /></a>Oleh Daniel Mahendra</strong></p>
<p align="justify">Ketika mulai menggulirkan ide dengan cara berdiskusi bagi buku yang sedang kususun, <i>Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Investigasi</i>, berjubel komentar datang tumpang tindih. Dari yang tumpah tindih itu, aku pilah beberapa masukan sebagai bahan tulisan kali ini.</p>
<p align="justify">Seorang kawan misalnya, sudah sejak awal mengkhawatirkan bakal terjadi penggelinciran makna antara kajian ilmu sastra dan jurnalistik. Dengan cepat ia menegaskan bahwa sastra adalah fiksi. Sementara jurnalistik selalu asyik bermain dengan fakta-fakta. Tentu kekhawatiran semacam itu dapat kumengerti. Mengingat jurnalistik memang bermain dalam area realita. Sesuatu yang sungguh terjadi, dan dikabarkan sebagai peristiwa yang benar terjadi. Tetapi kawanku tadi memunyai asumsi lain lagi tentang jurnalistik. Baginya: sebuah sastra yang diambil dari fakta-fakta realita, tetap merupakan fiksi. Namun, sebuah berita di halaman satu sebuah harian nasional sekalipun, jika sudah ditulis dalam bentuk teks, ia pun menjelma sebagai fiksi. Karena menurutnya, jurnalistik kerap merujuk pada pola <i>past tense</i>: sesuatu yang sudah tejadi. Ia terjadi, ditulis, dan diberitakan. Jadi, ketika ia ditulis kembali, ia sudah menjadi sesuatu yang berbentuk <i>present tense</i>, meski menceritakan <i>past tense</i> sekalipun. Lalu aku bertanya: di manakah batasan fiksi dan fakta?</p>
<p align="justify"><span id="more-626"></span></p>
<p></font><font size="2"></font><font size="2"></font><font size="2"></p>
<p align="justify">Orang berikutnya yang kuajak berbagi pendapat tentang bukuku adalah seorang dosen Jurnalistik yang telah menelurkan berbagai buku Jurnalistik yang cukup apik. Menurutnya, investigasi mutlak memunculkan fakta-fakta baru. Sebut saja sebuah kasus korupsi di kalangan kepolisian terhadap truk-truk yang melintas di jalur Pantura, misalnya. Desas-desus menyebutkan, truk-truk yang melitasi jalur Pantura kerap diberhentikan oknum polisi untuk dimintai uang sekadarnya (baca: berbagi rejeki!). <i>Sassus</i> pungli (pungutan liar) di Pantura ini dapat dibuktikan dengan teknik investigasi, dan publik serta pihak-pihak yang terkait bakal terperangah demi melihat bukti yang terjadi di lapangan. Maka Investigasi memang memunculkan fakta baru dari fakta-fakta yang selama ini ada di permukaan. Dengan hasil investigasi, fakta-fakta yang, katakanlah <i>past tense</i>, gugur demi fakta baru tersebut.</p>
<p align="justify">Dari dua kawanku di atas, tampak sekali bahwa bagi mereka, investigasi masih lagi bertautan kuat dengan apa yang disebut jurnalisme. Seorang kawan yang lain, yang bukunya, <i>Sabda dari Persemaiaman</i>, diterbitkan penerbit Grasindo mengongkosi secuil masukan: kalau kita menengok kebelakang sesaat, sebetulnya investigasi bahkan hanya merupakan monopoli kepolisian, katakanlah reserse. Ia tidak diajarkan dalam kurikulum jurnalistik. Barangkali polisi khawatir, ada intervensi dalam teknis kerja antara polisi dan wartawan. Jurnalistik justru hanya mengenal apa yang disebut <i>dept reporting</i>. Situasi berubah manakala pers membutuhkan sesuatu teknik kerja yang lebih jauh serta mendetail ketimbang <i>dept reporting</i>. Kawanku kurang tahu, apakah di Jurusan Krimonologi Fakultas Psikologi Universitas Indonesia investigasi menjadi mata kuliah atau tidak. Menurutnya sih, tidak. Investigasi pada akhirnya menjadi kajian jurnalisme juga. Dan diajarkan sebagai mata kuliah di Jurusan Jurnalistik program S1 dengan nama <i>Jurnalisme Investigasi</i>.</p>
<p align="justify">Dari tiga pendapat di atas, tampak aku masih lagi berbagi pendapat dengan kalangan jurnalistik, yang kebetulan kawan-kawan sendiri. Tentu berbeda penilaiannya ketika aku melakukan hal serupa pada kalangan dari dispilin-disiplin ilmu lain, yang menurut hematku, belum memiliki kesempatan untuk kumasukan dalam tulisanku saat ini.</p>
<p align="justify">Yang perlu kutegaskan adalah, Sastra Investigasi yang kususun bukanlah sebuah keinginan menelurkan kajian ilmu baru. Sastra investigasi yang kumaksud tak lebih dari sebuah teknik kerja, dalam hal ini sebut saja sastrawan, dalam berproses kreatif. Pramoedya misalnya, jika dilihat dari apa yang dirawikan dalam karya-karyanya, aku sangsi jika ia tak melakukan investigasi. Tentu investigasi yang kumaksud di sini tidak merujuk pada disiplin ilmu apa pun. Semata-mata merujuk pada arti investigasi itu sendiri:</p>
<blockquote>
<p align="justify">Penyelidikan dengan mencatat atau merekam fakta, melakukan peninjauan, percobaan, dsb, dengan tujuan memperoleh jawaban atas pertanyaan (tt peristiwa, sifat atau khasiat suatu zat, dsb; penyidikan). (<i>Kamus Besar Bahasa Indonesia</i>, Departemen Pendidikan Nasional Balai Pustaka, Jakarta, 2001).</p>
</blockquote>
<p align="justify">Maka, jika kawanku yang dosen tadi mengatakan, bahwa investigasi (dalam Jurnalistik) mutlak memunculkan fakta baru guna menggugurkan fakta-fakta sebelumnya, apakah Pram tidak memunculkan fakta baru? Empat roman <i>Tetralogi</i> jelas-jelas memunculkan fakta baru, katakanlah tentang Kebangkitan Nasional di luar <i>mainstream, </i>misalnya. <i>Panggil Aku Kartini Saja</i> merubah pandangan orang tentang &#8220;Ibu Kita Kartini&#8221; yang terlanjur kita sanjung-sanjung keningratannya. <i>Arok Dedes</i> tidak saja merubah penilaian orang terhadap cerita Ken Arok dan Ken Dedes yang genit membatu sebagai legenda. <i>Arus Balik</i> justru menyadarkan kita akan kekuasaan dan kedigdayaan Majapahit yang merangsur runtuh. Belum lagi <i>Calon Arang</i> atau <i>Mangir</i> yang selama ini hanya bergelumbang dari mulut ke mulut sebagai sastra lisan.</p>
<p align="justify">Pramoedya menuliskannya, tetapi ada yang lebih penting dari itu semua: ia membalikkan fakta-fakta <i>mainstream</i> dan menyajikannya dalam logika berpikir yang rasional sebagai bacaan sastra.</p>
<p align="justify"><font size="2"><strong>Masalah Fiktif dan Tak Fiktif</strong></font></p>
<p align="justify"><font size="2">Seno Gumira Ajidarma mungkin saja pernah jengah dengan manajemen majalah <i>Jakarta-Jakarta</i> tempat di mana ia bekerja dulu. Ia mengaku &#8220;ditekan&#8221; untuk tidak menulis secara blak-blakkan tentang peristiwa Timor Timur yang kini sudah merdeka. Ia berpendapat, ketika Jurnalisme dibungkam, sastra-lah yang harus berbicara (oleh Yayasan Bentang Budaya pada 1997 dibukukan dengan judul <i>Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara)</i>.</font></p>
<blockquote>
<p align="justify"><font size="2">&#8220;…bila jurnalisme bicara dengan fakta, sastra berbicara dengan kebenaran. Menutupi fakta adalah tindakan politik, menutupi kebenaran adalah perbuatan paling bodoh yang bisa dilakukan manusia di muka bumi…&#8221;.</font></p>
</blockquote>
<p align="justify"><font size="2">Maka cerpen-cerpen Seno yang kemudian dibukukan dalam <i>Saksi Mata </i>(Yayasan Bentang Budaya, 1994), bisa jadi merupakan bentuk perlawanan dari perdebatan antara fiksi dan fakta itu sendiri. Dalam <i>Ketika Jurnaliseme Dibungkan Sastra Harus Berbicara </i>Seno menulis:</font></p>
<blockquote>
<p align="justify"><font size="2">Timor Timur adalah fakta. Cerpen adalah fiktif. Sebuah cerpen bisa mengutip desertasi S3 yang tidak terbantah, namun ia tetap saja sebuah cerpen, apalagi kalau ia cuma <i>berbau</i>. Bahwa sebuah fiksi dianggap cukup bisa mengundang masalah, sehingga perlu ditegur karena bau fakta, sudah merupakan suatu hal yang sulit digolongkan sebagai akal sehat: ternyata ada kecenderungan kuat untuk menganggap fiktif sebagai fakta. Padahal, untuk berpikir goblok-goblokan, sampai ke pengadilan pun secara hukum tidak pernah akan ada fiksi yang disahkan sebagai fakta –meski siapa sih yang bisa mengingkarinya sebagai kebenaran? (hal 100-101).</font></p>
</blockquote>
<p align="justify"><font size="2">Lantas pertanyaannya: adakah Pramoedya menyusun buku sejarah? Dalam salah sebuah wawancara dengan Martin Aleida yang dimuat dalam <i>Jurnal Prosa</i>, edisi 2, tahun 2002, terbitan <i>Metafor</i>, Pram berujar:</font></p>
<blockquote>
<p align="justify"><font size="2">&#8220;Menulis sejarah? Nggak dibaca orang! Siapa yang membaca sejarah, sih? […] Yang ada hanya sejarah yang formal. Banyak analisis, tapi dari itu ke itu saja. Tidak ada penemuan-penemuan sejarah. Yang saya tulis adalah penemuan-penemuan saya sendiri.&#8221;</font></p>
</blockquote>
<p align="justify"><font size="2">Jadi, adakah pembatas atau jika hendak menggunakan bahasa goblok-goblokan (meminjam istilah Seno), adakah parameter untuk mengukur sesuatu disebut fiksi dan sesuatu disebut fakta?</font></p>
<p align="justify"><font size="2">Akhirnya, di tebing akhir tulisan ini kucuplikan pendapat Putu Wijaya dalam <i>Bor</i> (Yayasan Bentang Budaya, 1999):</font></p>
<blockquote>
<p align="justify"><font size="2">…sebagaimana diakui oleh pandangan sejarawan-sejarawan baru: bahwa novel, bukan hanya karya-karya fiktif, namun juga rekaman sejarah sosial, sudah dipraktikan meskipun tanpa pengakuan formal. (hal 21).</font></p>
</blockquote>
<p align="justify"><font size="2">Maka jika karya-karya Pramoedya yang nyaris melulu berangkat dari fakta-fakta sejarah disebut fiksi, nampaknya di situlah perdebatan akan dimulai. Terlepas ia diangkat dari tetesan realita sekalipun, bukan fiksi dan non fiksinya yang menjadi titik pemikiranku dalam menyusun <i>Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Investigasi</i>. Tapi lebih pada teknik kerja penyusunan bahan sejarah dalam proses kreatif itu sendiri. Karena bahan yang disusun Pramoedya adalah bahan sejarah, mau tak mau, persinggungan antara fakta dan fiksi akan cukup kental untuk diperdebatkan. Begitulah!</font></p>
<p align="justify"><font size="2">______________________________</font></p>
<p></font><font size="2"></font><font size="2"></font><font size="2"></font><font size="2"></font><font size="2"></p>
<p align="justify"><strong>Sumber Pustaka</strong>:</p>
<p></font></p>
<h6 align="justify">Seno Gumira Ajidarma, Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara, Bentang Budaya, Yogyakarta, 1997.</h6>
<h6 align="justify">Putu Wijaya, Bor, Yayasan Bentang Budaya, Yogyakarta, 1999.</h6>
<h6 align="justify">Jurnal Prosa, Oposisi, Seks, Amerika, Edisi 2, Metafor, 2002.</h6>
<h6 align="justify">Daniel Mahendra, Pramoedya Ananta Toer: Kumpulan Wawancara Pilihan, Malka, Bandung, 2003.</h6>
<h6 align="justify">Kamus Besar Bahasa Indonesia, Departemen Pendidikan Nasional Balai Pustaka, Jakarta, 2001.</h6>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.penganyamkata.net/2008/01/13/pramoedya-ananta-toer-dan-sastra-investigasi-ii/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Investigasi I</title>
		<link>http://www.penganyamkata.net/2008/01/11/pramoedya-ananta-toer-dan-sastra-investigasi-i/</link>
		<comments>http://www.penganyamkata.net/2008/01/11/pramoedya-ananta-toer-dan-sastra-investigasi-i/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Jan 2008 13:21:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Daniel Mahendra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Esai]]></category>
		<category><![CDATA[Pramoedya]]></category>
		<category><![CDATA[Daniel Mahendra]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Novel]]></category>
		<category><![CDATA[Pramoedya Ananta Toer]]></category>
		<category><![CDATA[Roman]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[Sastrawan]]></category>
		<category><![CDATA[Teeuw]]></category>
		<category><![CDATA[Tetralogi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://danielcmahendra.wordpress.com/2008/01/11/pramoedya-ananta-toer-dan-sastra-investigasi-i/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Daniel Mahendra Membaca Pramoedya seolah membaca sejarah. Terlepas itu karya maupun sosoknya, memperbincangkan Pram adalah memperbincangkan sejarah itu tersendiri. Dalam sebuah kesempatan Pram mengatakan, &#8220;Saya menulis dengan tujuan membangun bangsa dan membentuk karakternya. Semua jiwa dalam tulisan saya dilatarbelakangi keinginan itu,&#8221; tukasnya. Karya-karyanya meski bertamasya dalam dunia prosa, tak dapat dipungkiri bahwa Pram berangkat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><font size="2"></font><font size="2"></font><font size="2"></p>
<p align="justify"><strong><a href="http://www.danielmahendra.com/wp-content/uploads/2008/01/pat-mks2.jpg" title="pat-mks.jpg"><img align="left" src="http://danielcmahendra.files.wordpress.com/2008/01/pat-mks.thumbnail.jpg" alt="pat-mks.jpg" /></a>Oleh Daniel Mahendra</strong></p>
<p align="justify">Membaca Pramoedya seolah membaca sejarah. Terlepas itu karya maupun sosoknya, memperbincangkan Pram adalah memperbincangkan sejarah itu tersendiri. Dalam sebuah kesempatan Pram mengatakan, <i>&#8220;Saya menulis dengan tujuan membangun bangsa dan membentuk karakternya. Semua jiwa dalam tulisan saya dilatarbelakangi keinginan itu,&#8221;</i> tukasnya. Karya-karyanya meski bertamasya dalam dunia prosa, tak dapat dipungkiri bahwa Pram berangkat dari fakta-fakta sejarah. Ia menyelam dalam data-data yang bertebaran di buminya Indonesia, yang terkadang luput dari perhatian sejarawan sekalipun.</p>
<p align="justify"><i>Tetralogi </i>misalnya, ia bangun dari tetesan elemen sejarah hidup R.M. Tirto Adhi Soerjo (1880-1918), yang pada kalangan terbatas hanya dianggap sebagai Tokoh Pers Indonesia. Riset dan pembongkaran sejarah yang dilakukan Pram justru membuka jendela yang lebih luas. Tirto yang menjelma sebagai <i>Minke</i> dalam <i>Tetralogi</i>, Pram sajikan dalam baki prosa.</p>
<p align="justify"><span id="more-622"></span></p>
<p></font><font size="2"></font><font size="2"></p>
<p align="justify">Tirtolah jurnalis pribumi pertama yang menggunakan bahasa Melayu lingua-franca, sebagai &#8220;bahasa bangsa-bangsa yang terperintah&#8221;, dan dengan sadar serta aktif ia gunakan sebagai bahasa perjuangan dan bahasa pemersatu. Dialah pendiri organisasi modern pribumi pertama: <i>Sarikat Prijaji</i>, kemudian <i>Sarikat Dagang Islamijah</i> yang berkembang menjadi <i>Sarekat Islam</i>. Dia juga yang pertama menggunakan pers sebagai senjata pembela keadilan bagi si kecil dan dia pula sang perintis kewiraswastaan pribumi dan banyak lagi lembaga-lembaga baru lainnya; kesemuanya ditanganinya dengan ekstensitas yang kobar di tengah-tengah cengkeram kolonialisme yang sedang sampai pada puncak kejayaannya. Dialah tokoh inisiator kebangkitan kesadaran nasional, penganjur bahasa persatuan, demikian pun pemrakarsa emansipasi wanita, namun dia pulalah menjadi perintis kebangkitan nasional dari patriot sebangsa yang dilupakan dan terlupakan. Sesuatu yang dipahami kalangan terbatas sekalipun sebagai tokoh yang dikenal tak lebih sekadar permukaannya belaka. Karena bukan suatu kebetulan, Tirto, oleh pejabat-pejabat kolonial secara sistematis memang didiskreditkan dan digelapkan dalam penulisan sejarah, sehingga orang yang demikian besar peranannya dalam penggerakan kesadaran bangsa bisa menjadi seorang <i>non-person</i> dalam sejarah kebangkitan nasional bangsanya sendiri. Semua itu oleh Pram dihidupkan kembali dalam roman yang legit getir namun ketat dengan sumber sejarah.</p>
<p align="justify">Onghokham, sejarawan Indonesia, mengakui, kira-kira pada permulaan 1960-an, ia melihat beberapa mahasiswa dan mahasiswi sedang tekun mengumpulkan bahan-bahan dari koran-koran lama yang terbit pada sekitar permulaan abad ke-XX di Perpustakaan Museum Pusat di Jalan Merdeka Barat No. 12 Jakarta. Ketika Onghokham bertanya gerangan apa yang sedang mereka kerjakan, mereka menjawab bahwa dosen sejarah mereka di Universitas Res Publica (sekarang Trisakti), Pramoedya Ananta Toer, menyuruh mereka mencatat peristiwa-peristiwa politik, sosial, dan kondisi rakyat pada zaman tersebut. Dari catatan-catatatan koran lama inilah, Pramoedya menyusun kuliah-kuliahnya tentang zaman yang kita kenal sebagai zaman &#8220;kebangkitan nasional&#8221;. Secara konvensional dalam penulisan sejarah Indonesia, suatu jaman yang dilambangkan dengan berdirinya Budi Utomo (1908) yang diberi nama &#8220;Kebangkitan Nasional&#8221;.</p>
<p align="justify">Bahan kuliah Pramoedya tersebut pernah terbit dalam bentuk stensil, dan untungnya diberikan pada beberapa sarjana asing, antara lain Dr. Ruth McVey dan Harry J. Benda sehingga tersimpan di beberapa perpustakaan universitas di Amerika Serikat seperti Yale University dan Cornell University. Onghokham sendiri ternyata masih sempat memakainya ketika menyusun desertasi di Universitas Yale. (jauh setelah itu, Pramoedya sendiri rupanya tidak memiliki lagi kopi dari kuliah-kuliah tersebut).</p>
<p align="justify">Bahan-bahan yang dicatat oleh para mahasiswa, dan dipakai sebagai bahan-bahan kuliah, kemudian juga dipakai oleh Pramoedya untuk menulis salah satu karya terbesarnya, <i>Tetralogi</i>, tentang zaman Kebangkitan Nasional. Dalam karya-karyanya tersebut, Pramoedya berdialog secara intensif dengan sejarah Kebangkitan Nasional, suatu zaman dalam penindasan kolonial yang juga melahirkan orang Indonesia sebagai warga suatu bangsa.</p>
<p align="justify">&#8220;Saya ini SMP saja tidak selesai. Bagaimana mungkin mengajar kuliah?&#8221; kenang Pramoedya saat diminta mengajar kelas di Universitas Res Publica. &#8220;Ya dari bahan-bahan yang dikumpulkan mahasiswa itu, lahirlah <i>Tetralogi</i>. Ya itu berkat dosen gadungan!!&#8221; ujarnya terbahak.</p>
<p align="justify">Di sini nampak, studi sejarah yang dilakukan Pram merupakan fondasi awal dari gunung cerita yang hendak dibangunnya. Tokoh-tokohnya nyaris nyata, ada, dan tercatat dalam sejarah. Tokoh baik itu penulis maupun karyanya berseliweran dalam naskah fiksinya. Sementara kita sadar <i>Student Hijo</i> karya Marco Kartodikromo yang pertama kali terbit tahun 1918 bukan merupakan fantasi. Juga Pangemanann, G. Francis, serta H. Kommer, lalu-lalang dalam <i>Tetralogi</i>. Sesuatu yang dapat kita temui dalam <i>Tempo Doeloe</i>, 1982.</p>
<p align="justify">Pencatatan yang terhitung pelik barangkali apa yang disajikan Pram dalam bab-bab awal <i>Rumah Kaca</i> (1988). Dirawikan bagaimana tahun 1912 merupakan tahun terberat bagi pribadi Gubernur Jendral Indenburg, pengganti Van Heutsz. Penutur cerita berbalik arah, bukan lagi Minke, tapi Pangemanann (dengan dobel n), seorang pejabat Gubermen. Kata ganti orang pertama (Minke) sebagai ‘<i>aku</i>’, sudah berganti menjadi orang kedua, ‘<i>dia</i>’. Pangemanan oleh atasannya, Komisaris Besar Donald Nicolson, ditugasi membacai koran dan majalah terbitan Hindia, membikin interpiu, mempelajari dokumen, serta menyusun naskah kerja, yang kesemuanya semata-mata untuk mengawasi gerak-gerik timbulnya kesadaran tentang nasionalisme di kalangan <i>inlander</i>. Dan Minke, jelas merupakan tokoh terdepan serta yang paling berpengaruh dalam hal ini.</p>
<p align="justify">Dari mana Pram mendapatkan variabel cerita seperti itu, sehingga saat kita membaca <i>Tetralogi</i>, yang ada dalam pikiran kita bukan lagi sebuah roman, meski betapa pun hebatnya, tetap musti dianggap fiksi. Ternyata kertas kerja <i>Sang Pemula</i> memungkinkan itu semua. Pram tidak saja membongkar arsip-arsip lama. Ambil contoh, ia membacai setiap inci dari halaman demi halaman koran <i>Medan Prijaji</i>. Ia pelajari berita-beritanya. Ia pelajari kasus-kasusnya. Ia pelajari kondisi sosial, politik, ekonomi, serta budaya pada masa itu. Kesemuanya tidak serta merta Pram pindahkan ke dalam naskah fiksi. Pram sekedar mengambil semangatnya. Sekedar semangatnya! Selebihnya ia campurkan dengan tetesan elemen ego yang, menurut Pram, berkembang dan berproses dengan sendirinya: mewujud menjadi benang merah cerita.</p>
<p align="justify">Investigasi, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia terbitan Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional Balai Pustaka, Edisi Ketiga, tahun 2001, merupakan penyelidikan dengan mencatat atau merekam fakta, melakukan peninjauan, percobaan, dsb, dengan tujuan memperoleh jawaban atas pertanyaan (tt peristiwa, sifat atau khasiat suatu zat, dsb). Jelaslah di sini bahwa apa yang dibangun Pram dalam sebuah karya fiksi sekalipun, meski berangkat dari fakta sejarah, dilakukan lewat proses investigasi data yang ketat.</p>
<p align="justify">Dalam bab-bab selanjutnya dari tulisan ini, akan terjadi pembongkaran naskah meliputi <i>Tetralogi</i> secara keseluruhan, <i>Arus Balik </i>(1995), <i>Arok Dedes</i> (1999), <i>Panggil Aku Kartini Saja</i> (1962),<i> Hoakaiu di Indonesia</i> (1960), <i>Cerita dari Digul</i> (2001), <i>Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer</i> (2001), <i>Nyanyi Sunyi Seorang Bisu I &amp; II </i>(1995 &amp; 1997)<i>, Cerita dari Blora </i>(1952), <i>Bukan Pasar Malam</i> (1951), <i>Larasati</i> (2000), dll, yang kesemuanya dapatlah dikatakan berangkat dari kenyataan, baik sejarah maupun pribadi Pramoedya. Namun titik berat pembahasan tentu lebih berpihak pada fakta sejarah itu sendiri.</p>
<p align="justify"><b><font size="2">_____________________________________________</font></b></p>
<p align="justify"><b><font size="2">Sumber Pustaka:</font></b></p>
<p></font></p>
<h6 align="justify">Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia, Hasta Mitra, Jakarta, 1980.</h6>
<h6 align="justify">_________, Anak Semua Bangsa, Hasta Mitra, Jakarta, 1980.</h6>
<h6 align="justify">_________, Jejak Langkah, Hasta Mitra, Jakarta, 1985.</h6>
<h6 align="justify">_________, Rumah Kaca, Hasta Mitra, Jakarta, 1988.</h6>
<h6 align="justify">_________, Tempo Doeloe, Hasta Mitra, Jakarta, 1982.</h6>
<h6 align="justify">_________, Sang Pemula, Hasta Mitra, Jakarta, 1985.</h6>
<h6 align="justify">_________, Koesalah Soebagyo Toer, Ediati Kamil, Kronik Revolusi Indonesia Jilid I (1945), KPG, Jakarta, 1999.</h6>
<h6 align="justify">A. Teeuw, Citra Manusia Indonesia Dalam Karya Sastra Pramoedya Ananta Toer, Pustaka Jaya, Jakarta, 1997.</h6>
<h6 align="justify">Daniel Mahendra, Pramoedya Ananta Toer: Kumpulan Wawancara Pilihan, Malka, Bandung, 2003.</h6>
<h6 align="justify">Kamus Besar Bahasa Indonesia, Departemen Pendidikan Nasional Balai Pustaka, Jakarta, 2001.</h6>
<h6 align="justify">Orasi Budaya Pramoedya, Aku dan Indonesia-Sebuah Pengakuan, Jakarta, 6 Februari 2003, Rekaman Dalam Bentuk MP3.</h6>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.penganyamkata.net/2008/01/11/pramoedya-ananta-toer-dan-sastra-investigasi-i/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pram, Eforia Masa dan Massa:</title>
		<link>http://www.penganyamkata.net/2008/01/09/pram-eforia-masa-dan-massa/</link>
		<comments>http://www.penganyamkata.net/2008/01/09/pram-eforia-masa-dan-massa/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Jan 2008 17:34:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Daniel Mahendra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Esai]]></category>
		<category><![CDATA[Pramoedya]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Daniel Mahendra]]></category>
		<category><![CDATA[Franz Magnis Budiman SUdjatmiko]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Jurnal Prosa]]></category>
		<category><![CDATA[Martin Aleida]]></category>
		<category><![CDATA[Metafor]]></category>
		<category><![CDATA[Novel]]></category>
		<category><![CDATA[Pembaca]]></category>
		<category><![CDATA[Pramoedya Ananta Toer]]></category>
		<category><![CDATA[Roman]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[Sastrawan]]></category>
		<category><![CDATA[Wawancara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://danielcmahendra.wordpress.com/2008/01/09/pram-eforia-masa-dan-massa/</guid>
		<description><![CDATA[Betulkah Karya Pramoedya Menggerakkan Pembacanya? Oleh Daniel Mahendra Pasca sebuah masa yang acap disebut ‘reformasi’ pada tahun 1998, rasa-rasanya semua orang seperti ingin membuka keran-keran yang dirasa mampet selama itu. Politik, ekonomi, sosio budaya seakan-akan bergejolak. Ekspresi mengeluarkan pendapat dikeluarkan sebebas-bebasnya seperti arti kata bebas itu sendiri. Seorang anak muda berpenampilan funky (?) bisa dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h4 align="justify"><a href="http://www.danielmahendra.com/wp-content/uploads/2008/01/pat-buku-21.jpg" title="pat-buku-2.jpg"><img align="left" src="http://danielcmahendra.files.wordpress.com/2008/01/pat-buku-2.thumbnail.jpg" alt="pat-buku-2.jpg" /></a>Betulkah Karya Pramoedya Menggerakkan Pembacanya?</h4>
<p><font size="2"></font><font size="2"></font><font size="2"></font><font size="2"></p>
<p align="justify"><strong>Oleh Daniel Mahendra</strong></p>
<p align="justify">Pasca sebuah masa yang acap disebut ‘reformasi’ pada tahun 1998, rasa-rasanya semua orang seperti ingin membuka keran-keran yang dirasa mampet selama itu. Politik, ekonomi, sosio budaya seakan-akan bergejolak. Ekspresi mengeluarkan pendapat dikeluarkan sebebas-bebasnya seperti arti kata bebas itu sendiri.</p>
<p align="justify">Seorang anak muda berpenampilan funky (?) bisa dengan santai membaca buku <i>Das Kapital untuk Pemula</i> di sebuah restoran McDonald, sementara ia mengenakan kaus bergambar Che Guevara di dadanya. Banyak penerbit merasa ketiban rejeki saat menerbitkan buku-buku berbau &#8220;kiri&#8221; (entah apa pengertian kiri saat itu!). Bahkan dalam sebuah perkunjungan ke LP Cipinang tahun 1999 lalu, (mantan) Ketua Partai Rakyat Demokratik (PRD), Budiman Sudjatmiko sempat terkaget-kaget ketika kukabarkan bahwa Franz Magnis baru saja mengeluarkan buku dengan judul <i>Pemikiran Karl Marx</i>. Barangkali memang begitulah secuil gambaran Indonesia pasca masa yang banyak disebut dengan nama ‘reformasi’ itu: bebas!</p>
<p><span id="more-618"></span></p>
<p></font><font size="2"></font><font size="2"></p>
<p align="justify">Tak terkecuali karya-karya Pramoedya Ananta Toer. Di tahun 80-an, ketika pemerintah Orba lewat Kejaksaan Agung kembali melarang karya-karya Pram, orang-orang justru menjadi penasaran dan bertanya: sebetulnya seperti apa sih buku itu, kok dilarang? Orang pun mulai kasak-kusuk mencari bagaimana caranya mendapatkan buku-buku tersebut. Yang lebih parah, ketika beberapa mahasiswa mulai mendiskusikannya (bahkan sekadar menyimpannya!), sebuah pasal subversif diajukan pemerintah pada mereka (sebuah tuduhan yang tidak mendasar sama sekali!). Para aktivis itu pun dipenjara dan dipecat dari universitasnya.</p>
<p align="justify">Lantas, ketika orang bisa dengan bebas membaca hampir seluruh karya Pram yang kembali terbit, apa yang terjadi? Apakah orang menjadi bersemangat dan terinspirasi setelah membaca karya Pram? Atau sekadar mengikuti eforia sesaat yang menggelumbang di mana-mana? Atau menjadi bacaan yang biasa-biasa saja, seperti halnya buku-buku lain yang bisa dengan mudah didapatkan?</p>
<p align="justify">Seorang saudari sepupu yang mulai beranjak gadis memerlukan bertanya kepadaku ketika melihat puluhan buku Pram yang berderet di perpustakaanku, &#8220;Kayak apa sih buku Pram, kok banyak diomongin di mana-mana?&#8221;</p>
<p align="justify">Aku yakin pertanyaan seperti itu terbit akibat banyaknya seliweran berita tentang karya Pram yang mampir ke kupingnya. Jika ia lantas melanjutkannya dengan membaca satu judul saja: ia sudah mulai mengikuti eforia yang ia dengar di mana-mana. Lantas setelah itu apa? Tak ada yang tahu. Dan mengapa pula kita musti tahu reaksi seseorang setelah membaca karya Pram? Seperti halnya kita membaca <i>Supernova</i>-nya Dewi Lestari. Eforia yang menggelumbang membuat orang penasaran dan berbondong-bondong membacanya. Setelah itu? Ya tidak ada istilah ‘setelah itu’. Kalau sudah baca, ya sudah. Namanya juga <i>ngikuti</i> eforia kok.</p>
<p align="justify">Lantas, pada posisi manakah kita? Membaca karya Pram karena percaya: tulisan-tulisannya mampu menggerakkan kita akan humanisme, keadilan, semangat, serta keberanian? Atau sekadar mengikuti eforia belaka: tak mau dibilang ketinggalan karena teman, pacar, saudara, tetangga kita mulai membaca buku Pram? Percayalah, satu pilihan di antara dua tersebut tidak membuat kita menjadi <i>nobody</i>. Tak ada salahnya mengikuti eforia. Di masa di mana orang masih kerasan dengan dunia mimpi, dunia bermain-main, dan dunia beriang-riang: mengikuti eforia baik-baik saja. Tak ada yang menyalahkan. Kukutip salah sebuah wawancara Pram dengan Martin Aleida yang dimuat di <i>Jurnal Prosa</i>, edisi 2, terbitan <i>Metafor</i>, 2002:</p>
<p align="justify"><i>Bagaimana Bung mengharapkan orang membaca karya-karya Bung –sebagai pemberi ilham atau apa?</i></p>
<p align="justify"><font color="#800000">Waktu menyambut tahun baru yang lalu, banyak wakil dari grup-grup pemuda yang datang ke mari. Mereka mengatakan, &#8220;Kami ini bersatu karena membaca buku-buku Bung Pram.&#8221; Itu yang mereka katakan. Ada pula yang bilang karya-karya saya membangkitkan keberanian mereka.</font></p>
<p align="justify"><font color="#800000">Sudah pernah mendengar cerita dari Buru? Ceritanya begini. Salah seorang teman, setelah membaca rancangan <i>Bumi Manusia</i>, dia lantas lari, menghilang. Teman-teman sengaja tidak melapor kepada petugas tentang hilangnya orang itu. Dicari ke mana-mana, berhari-hari, <i>nggak </i>kelihatan. Akhirnya dia ditemukan di salah satu bagian hutan. Diseret, dibawa pulang. Orang itu ditanyai, &#8220;Mengapa lari?&#8221; Dia menjawab, &#8220;Saya mau menjadi Minke!&#8221; Sendirian dia lari (<i>Pram tertawa</i>). Ya, itu memang kejadian luar biasa.</font></p>
<p align="justify"><i>Pengaruh seperti itu yang Bung harapkan?</i></p>
<p align="justify"><font color="#800000">Yang saya harapkan supaya mereka menyadari lingkungan historisnya. Menyadari lingkungan hidup mereka, lingkungan yang bukan dalam arti pohon-pohonan.</font></p>
<p></font></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.penganyamkata.net/2008/01/09/pram-eforia-masa-dan-massa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Manifestasi Karya Pramoedya dalam Kehidupan Sehari-hari Pembacanya</title>
		<link>http://www.penganyamkata.net/2008/01/08/manifestasi-karya-pramoedya-dalam-kehidupan-sehari-hari-pembacanya/</link>
		<comments>http://www.penganyamkata.net/2008/01/08/manifestasi-karya-pramoedya-dalam-kehidupan-sehari-hari-pembacanya/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Jan 2008 15:33:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Daniel Mahendra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Esai]]></category>
		<category><![CDATA[Pramoedya]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Daniel Mahendra]]></category>
		<category><![CDATA[Ideologi]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Minke]]></category>
		<category><![CDATA[Novel]]></category>
		<category><![CDATA[Pembaca]]></category>
		<category><![CDATA[Pramoedya Ananta Toer]]></category>
		<category><![CDATA[Roman]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[Sastrawan]]></category>
		<category><![CDATA[Tetralogi Buru]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://danielcmahendra.wordpress.com/2008/01/08/manifestasi-karya-pramoedya-dalam-kehidupan-sehari-hari-pembacanya/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Daniel Mahendra Dalam Jurrnal Prosa (edisi #2) yang diterbitkan Metafor, terdapat wawancara Martin Aleida bersama Pramoedya Ananta Toer. Ada cerita menarik di sana. Yaitu ketika Pram bercerita tentang reaksi orang setelah membaca karyanya. Salah satu ceritanya begini: saat Pram mendekam di Pulau Buru, dan setelah mendapat kebebasan untuk kembali menulis, naskah asli Bumi Manusia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><font size="2"></font><font size="2"></font><font size="2"></font><font size="2"></p>
<p align="justify"><strong><a href="http://www.danielmahendra.com/wp-content/uploads/2008/01/pat-mks2.jpg" title="pat-mks.jpg"><img align="left" src="http://danielcmahendra.files.wordpress.com/2008/01/pat-mks.thumbnail.jpg" alt="pat-mks.jpg" /></a>Oleh Daniel Mahendra</strong></p>
<p align="justify">Dalam <i>Jurrnal</i> <i>Prosa</i> (edisi #2) yang diterbitkan <i>Metafor</i>, terdapat wawancara Martin Aleida bersama Pramoedya Ananta Toer. Ada cerita menarik di sana. Yaitu ketika Pram bercerita tentang reaksi orang setelah membaca karyanya. Salah satu ceritanya begini: saat Pram mendekam di Pulau Buru, dan setelah mendapat kebebasan untuk kembali menulis, naskah asli <i>Bumi Manusia</i> beredar secara sembunyi-sembunyi dari tangan ke tangan para tahanan. Naskah karya Pram praktis menjadi hiburan tersendiri bagi para tapol yang hidup dalam tekanan dan penindasan.</p>
<p align="justify">Diceritakan, salah seorang tapol muda kabur dan lari ke dalam hutan. Berhari-hari ia tidak pulang. Setelah dilakukan pencarian, si tapol muda pun berhasil ditemukan dan diseret pulang. Ketika ditanya, kenapa dia kabur dan berhari-hari tidak pulang, si tapol muda menjawab: &#8220;Aku ingin jadi Minke!&#8221; jawabnya. Sebuah jawaban yang sungguh di luar dugaan Pram. <i>Aku ingin menjadi Minke!</i></p>
<p align="justify">Betulkah karya sastra Pramoedya membuat orang &#8220;tergerak&#8221; setelah larut di dalamnya? Sebegitu dahsyatkah karya Pram, sehingga pantulan sikap, karakter, serta keberanian tokoh-tokoh dalam novelnya menjadi inspirasi bagi orang yang hanyut membacanya?</p>
<p align="justify"><span id="more-614"></span></p>
<p></font></p>
<p align="justify"><font size="2">Pram sendiri mengaku, ia tidak pernah bermuluk-muluk dalam membuat karya sastra. Baginya, menulis adalah tugas nasional. Sebuah tugas yang harus ia tunaikan sebagai warga negara. Sebuah kenyataan hidup manusia, lengkap dengan tingkah polah sosio-budayanya, yang harus ia sampaikan kepada sesama manusia. Adapun karyanya membuat orang &#8220;tergerak&#8221; baik dalam sikap, karakter serta cara berpikir, Pram menyerahkan sepenuhnya pada pembaca. Ia tak pernah mau mencampuri dunia pembaca. Karena ia percaya, baginya menulis adalah soal keberanian. Satu orang menghadapi ribuan orang. Dan masing-masing (dari ribuan itu) berhak mencaci, mengejek, juga memuji.</font></p>
<p align="justify"><font size="2">Namun Pram tidak pernah menampik bahwa jika seseorang, satu orang saja, merasa &#8220;tergerak&#8221; setelah membaca karya sastranya, baginya itu sudah cukup. Karena menurutnya, jangan sepelekan satu individu sekalipun. Karena individu-individu, jika ia bersatu, ia akan berubah menjadi gelombang kekuatan yang maha dahsyat. Dan diakui atau tidak: itulah yang terjadi setelah orang berhasil menamatkan buku-buku karya Pramoedya Ananta Toer.</font></p>
<p align="justify"><font size="2">Aku sendiri barangkali adalah orang yang &#8220;kesasar&#8221; saat pertama kali membaca karya Pram. <i>Jejak Langkah</i>, buku ketiga dari empat buku seri <i>tetralogi</i> adalah buku pertama yang kubaca. Di dalam kebingungan seperti itu, karena tak pernah berkenalan dengan latar belakang si tokoh dalam dua buku pertamanya yaitu <i>Bumi Manusia</i> dan <i>Anak Semua Bangsa</i>, aku terperosok, hanyut, dan tenggelam ke dasar. Sudah sejak halaman pertama, buku setebal itu tak bisa kutinggalkan barang sedetikpun. Berulangkali aku berkomentar: Gila! Gila! Ini buku gila!</font><font size="2"> </font></p>
<p align="justify"><font size="2">Bagaimana tidak, Pram membangun karakter Minke sebegitu hidup dan nyata. Seperti menonton media visual yang penuh ketegangan, haru biru, dan perjuangan. Yang lebih dahsyat lagi, Pram berhasil menyeret pembaca: seolah-olah ‘aku’ sebagai kata ganti orang pertama (Minke) adalah aku sendiri yang sedang membaca <i>Jejak Langkah</i>. Praktis emosi, perasaan, daya khayali, dan pikiran susul-menyusul berebut tempat selama melahap novel <i>Jejak Langkah</i>. Bisa ditebak selanjutnya: aku mulai kelimpungan mencari <i>Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, </i>dan buku keempat<i> Rumah Kaca</i>, yang saat itu masih lagi jadi barang langka dan penuh ditempeli &#8220;cap-cap&#8221; ideologi yang tak pernah jelas pembuktiannya.</font></p>
<p align="justify"><font size="2"><strong>Tergerak Sebagai Suatu Rangsang</strong></font></p>
<p align="justify"><font size="2">Apa yang membuat seseorang &#8220;tergerak&#8221; dan kenapa orang menjadi &#8220;tergerak&#8221;? Sebuah aksi tak pelak menimbulkan reaksi. Hampir di semua karya Pram, nilai-nilai humanisme selalu berkilauan. Terpantul-pantul seperti tak pernah mau dibungkam akan segala kenyataan dan kebenaran. Serta keberpihakannya pada orang kecil, orang tertindas, orang-orang kebanyakan, yaitu orang-orang yang terlindas suatu sistem yang tak pernah sudi berpihak kepadanya. Pram berdiri di sana. Dan membela dengan tulisan atas mereka.</font></p>
<p align="justify"><font size="2">Tokoh-tokoh dalam karyanya bukan hero-hero yang maha penyelamat bangsa. Bukan juga pahlawan-pahlawan yang membebaskan manusia dari segala bentuk persoalan. Tokoh-tokohnya justru berdiri pada posisi proses. Posisi dimana sebuah perjuangan sedang berlangsung. Tokoh-tokohnya tidak dibangun sebagai orang yang membuat rasa lapar menjadi kenyang. Bukan seseorang yang memberi ikan pada orang lain yang sedang kelaparan. Tetapi lebih pada perbuatan: bagaimana cara memancing sehingga si orang kelaparan menjadi tau cara memancing dan tergerak untuk memancing. Alhasil dari cara memancing itu, si orang kelaparan bisa mendapatkan ikan dari hasil tangkapannya sendiri. Lebih dahsyat lagi, karena si orang kelaparan itu diajari bagaimana cara memancing, sudah barang tentu ia bisa mengajarkan pada orang lain lagi bagaimana cara memancing untuk mendapatkan ikan. Terus seperti itu. Jadi, bukan hero yang dibangun oleh Pram. Tapi proses itu sendiri. Proses di mana perjuangan sedang berlangsung.</font></p>
<p align="justify"><font size="2">Pola-pola seperti itulah yang bermunculan pada tokoh-tokoh dalam karya Pram melalui karakter, sikap, juga perbuatan. Dan satu hal yang tak mungkin tak dikedepankan: yaitu teknis penulisan Pram itu sendiri. Meksi Pram tak begitu setuju dengan hal ini, bahwa menulis bukan terletak pada keindahan bahasanya, tapi justru kepada siapa tulisan itu berpihak. Maka diakui atau tidak, itulah salah satu alasan kenapa orang bisa larut saat membaca karya Pram, selain keindahan bahasa yang Pram gunakan. Pembaca merasa masuk dan ikut &#8220;menjadi&#8221; di dalamnya. Karakter, sikap, cara berpikir, tingkah-laku, serta perbuatan si tokoh mulai berpendar-pendar dalam diri si pembaca. Dan pembaca sontak tiba-tiba berteriak, &#8220;Akulah Minke!&#8221; Hingga pembaca lupa, ia sedang membaca buku karya Pramoedya Ananta Toer.</font></p>
<p align="justify"><font size="2"><strong>Manifestasi Sebagai Gelombang Arus Balik</strong></font></p>
<p align="justify"><font size="2">Sampai saat ini, pelarangan buku Pram belum pernah dicabut oleh pemerintah. Lucunya, kini, buku-buku Pram tersebar di mana-mana. Di toko buku besar, hingga pasar-pasar buku kecil. Dan yang lebih menggelikan lagi adalah: sikap sinisme sebagian orang terhadap karya Pram, dimana mereka belum atau tidak pernah sudi membaca bukunya. Sungguh suatu yang amat menggelikan: orang membenci sesuatu tanpa pernah tau apa yang ia benci. Lebih parah lagi: ia membenci sesuatu yang tak pernah bisa ia dibuktikan.</font></p>
<p align="justify"><font size="2">Sebagaimana Pram sebagai individu yang ditempeli berbagai macam &#8220;cap&#8221; ideologi, dan tak pernah terbuktikan, begitupun buku-buku karyanya. Alhasil, mendengar nama atau karyanya saja, sebagian orang mulai pasang tembok perisai: buku itu berisi propaganda terlarang!</font><font size="2"> </font></p>
<p align="justify"><font size="2">Apanya yang dilarang? Apakah pembelaan serta keberpihakkan terhadap yang tertindas, terbelenggu, teraniaya adalah sebuah kesalahan maha besar? Apakah pembelaan serta keberpihakkan kepada kebenaran, keadilan, dan kemanusiaan adalah sebuah salah langkah? Maka pertanyaannya adalah: siapa sesungguhnya yang tersesat di jalanan? Bukankah keberpihakkan pada asas kebenaran serta keadilan bila termanifestasi pada kehidupan individu justru merupakan pembelaan pada dunia kemanusiaan itu sendiri?</font></p>
<p align="justify"><font size="2">Nyaris dalam setiap wawancara Pram selalu berkata, alasan mengapa ia menulis novel-novel sejarah tak lain adalah usaha Pram untuk menjawab mengapa manusia Indonesia sebegitu rendah budayanya. Budaya rendah yang dimaksud tak lain adalah sikap, pola pikir serta tingkah laku para pemegang kekuasaan negara, para pemegang perangkat negara, para pengambil keputusan, serta manusia Indonesia itu sendiri yang melacurkan diri dari asas kebenaran, keadilan dan kosa kata tanggung jawab. Itulah satu dari sekian alasan mengapa ia mencoba merunut sejarah Nusantara sejak jaman monarki, kolonialisme, kebangkitan pergerakan nasional, serta masa revolusi. Semua itu merupakan usaha Pram untuk mengenal mentalitet manusia Indonesia: <i>past, present, and future</i>.</font></p>
<p align="justify"><font size="2">Maka, tidak membaca satu buku pun dari karya Pram, memang bukan suatu persoalan hidup yang berarti. Bahkan tidak mengenal nama Pramoedya Ananta Toer sekalipun, hidup seseorang tetap terus berlangsung. Namun satu hal: menolak karya Pram dengan alasan &#8220;cap-cap&#8221; yang tertempel (secara serampangan, sembarangan, dan tanpa bukti itu) baik pada diri Pram maupun karyanya, justru merupakan tindakan pengkerdilan intelektual pada diri sendiri. Hal tersebut tentu tak berlaku bagi orang-orang yang berani mencoba untuk membuktikannya, ketimbang orang yang tak pernah mau mencoba sama sekali. Karena manifestasi dari sikap pembelaan serta keberpihakkan pada kebenaran dan keadilan justru merupakan penghormatan pada asas kemanusiaan itu sendiri. Sebuah sikap yang berpendaran di hampir setiap karya-karya Pram.</font></p>
<p align="justify"><font size="2">Sejak membaca karya-karya Pram, sontak segala sejarah yang kupelajari mulai dari bangku SD hingga dewasa luluh-lantak berantakan pamit pergi. Apalagi Pram merunut periode Nusantara sejak jaman monarki, kolonialisme, kebangkitan pergerakan nasional, serta masa revolusi. Betapa <i>Arok Dedes, Arus Balik, </i>serta <i>Tetralogi</i> mengobrak-abrik tatanan sejarah baku yang praktis diperkenalkan rezim Orba. Ada alternatif pemikiran tentang sejarah lewat wajah roman.</font></p>
<p align="justify"><font size="2">Yang terjadi, tokoh-tokoh dalam karya Pram mengetuk pintu pola pikir, permisi datang, menyublim, dan mengendap dalam dunia asas. Maka jika sikap serta karakter tokoh-tokohnya bermanifestasi dalam kehidupan sehari-hari si pembacanya, adalah merupakan sebuah kewajaran yang lambat laun bermetamorfosis menjadi sebuah kekuatan. Keberanian, keadilan, kebenaran, keberpihakkan pada cita-cita kemanusiaan yang mengendap sebegitu kuat pada diri si pembaca, bukankah itu sesuatu yang menarik? Bahkan kasarnya, tanpa mengenal nama Pramoedya Ananta Toer sekalipun, asas-asas itu mutlak dimiliki seorang individu yang menghormati cita-cita kemanusiaan.</font></p>
<p align="justify"><font size="2">Dan Pramoedya telah hadir untuk itu.</font></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.penganyamkata.net/2008/01/08/manifestasi-karya-pramoedya-dalam-kehidupan-sehari-hari-pembacanya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
