Archive for the 'Ranah Kerja' Category

Antara Bekerja dan Pernikahan

Jenius adalah satu persen inspirasi dan sembilan puluh sembilan persen keringat. Tidak ada yang dapat menggantikan kerja keras. Keberuntungan adalah sesuatu yang terjadi ketika kesempatan bertemu dengan kesiapan. (Thomas Alfa Edison)

Dulu, dahulu kala, rasanya aku terlampau keras dalam bersikap. Lamaran pekerjaan yang masuk ke meja kerja, jika statusnya sudah menikah, sudah dengan cepat kusingkirkan. Pikiran negatifku selalu mengatakan: akan mengganggu keleluasaan bekerja! Entah itu laki-laki atau perempuan.

Apa boleh buat, ini semata berangkat dari pengalaman bahwa orang yang sudah menikah rata-rata memiliki keterbatasan waktu karena ada keluarga di rumah. Entah itu mesti pulang cepat, anak tiba-tiba sakit, menemani suami ke dokter, istri sudah terus-terusan menelpon, atau dia sendiri jadi mudah sakit (karena mungkin enak kalau sakit ada yang memanjakan).

Tapi di sisi lain aku kerap terkagum-kagum pada invidivu yang tetap kobar dalam bekerja sementara ia sudah lagi menikah.
“Istrimu nggak pa-pa?” sering aku bertanya seperti itu pada lay outer yang lembur.
“Ouw, dia sudah tau betul bagaimana saya, Pak.”
Atau,
“Suamimu nggak masalah kamu sampai selarut ini?” tanyaku pada seorang editor.
“Oh, itu kenapa dia menikahi saya, Pak.”
Great!

Namun lama-kelamaan sikapmu mulai lebih melunak terhadap hal-hal seperti itu. Apa boleh buat, orang (orang lain) memang mesti menikah dan memiliki keluarga. Sehingga hal-hal seperti itu tak bisa dihindari. Meski kalau diperhatikan, banyak juga perusahaan yang pada awalnya masih menetapkan status lajang tatkala penerimaan karyaawan.

Continue Reading »

Antara Jakarta, Surabaya, Bandung, dan Frankfurt

Hidup adalah pilihan? Aku setuju. Dan untuk sebuah pilihan, seseorang memang mesti berani mengambil keputusan. Apapun konteksnya. Entah itu soal pendidikan, pekerjaan, karir, sosial, pernikahan, bahkan agama.

 

Satu hal yang tidak bisa kita pilih adalah bahwa kita terlahir sebagai manusia. Apa boleh buat, Tuhan telah menciptakan kita lahir dan dilahirkan oleh manusia. Bukan setan, jin, atau iblis. Sudah barang tentu tugas kita sebagai manusia, ya menjadi manusia. Ya toh?

 

Bicara soal pilihan hidup serta manifestasinya dalam bentuk keputusan, akhirnya hari Jum’at 11 Juli 2008 kemarin aku telah memutuskan untuk mengambil satu keputusan yang bakal mempengaruhi perjalanan hidupku ke depan, setelah mendapat tawaran dari penerbit Surabaya dan Jakarta.

 

Beratkan pilihan itu? Tidak juga. Namun paling tidak membuat sebuah perbedaan yang signifikan dalam tahun-tahun ke depan jika aku memilih salah satu dari tawaran itu. Ada sebuah perbedaan yang sangat mendasar jika aku memutuskan bekerja dan hidup di Surabaya, seperti halnya jika memutuskan bekerja dan hidup di Jakarta.

Continue Reading »

Bekerja, Pekerja, dan Mentalitet Kerja

Aku suka pada orang yang bekerja. Apa pun pekerjaannya. Kalau dia bekerja, di mataku dia lebih terhormat dari orang yang hidup tanpa bekerja. Karena ia makan dari keringatnya, bersuka karena usahanya, dan maju karena pengalamannya.

 

Bagiku, bakerja bukan soal pendapatan. Karena menurutku, uang praktis mengikuti sejauh apa yang kita usahakan. Tapi bekerja membentuk karakter seseorang. Ia punya konsep dan hidupnya berpola.

 

Mengapa bangsa ini lebih cenderung konsumtif ketimbang produktif? Karena produktivitas tidak berlaku jamak pada setiap orang. Pada setiap keluarga. Jangan mengelak, akui saja. Bangsa ini lebih dijadikan pasar negara-negara besar ketimbang menjual kemampuannya sendiri. 

Memang, kita tidak bisa menafikan atau menutup mata pada individu-individu cemerlang yang memiliki bargaining position di ranah pekerjaan, baik nasional maupun internasional. Tapi, berapa persen? Berapa banyak?

Continue Reading »

Anak Zaman

Kamis siang kemarin datang berkunjung ke kantor rombongan mahasiswa Jurusan Editing Universitas Padjadjaran. Muda-muda, semangat-semangat, dengan penampilan khas mahasiswa semester-semester awal.

 

Mereka melakukan kunjungan praktek atau apalah namanya. Kami pun menyambut, memperkenalkan diri, dan bincang-bincang. Hal pokok yang kami perbincangan seputar editing dan yang paling utama: dunia penerbitan.

 

Di tengah obrolan, satu per satu kutanyai mereka: mengapa mengambil Jurusan Editing, dan apa proyeksinya ke depan setelah lulus nanti. Dan yang membuatku tersenyum geli tentu saja jawaban masing-masing dari mereka.

Continue Reading »

Next Page »