Archive for the 'Renungan' Category

Nektar

Kehormatan manusia adalah pengetahuannya. Orang-orang bijak adalah suluh yang menerangi jalan setapak kebenaran. Di dalam pengetahuan terletak kesempatan manusia untuk keabadian. Sementara manusia bisa mati, kebijakan hidup abadi.
(Khalifah Saidina Ali bin Abu Thalib)

Apa yang abadi di dunia ini? Pertanyaan itu nyaris sudah ribuan kali disodorkan pada manusia, dan tak seorang pun bisa benar-benar menjawab: apa yang abadi di dunia ini, selain perubahan. Ya, apa yang abadi? Hampir tak ada, kecuali perubahan itu sendiri. Dari zaman nabi hingga saat ini segala sesuatu senantiasa berubah. Dari gelap menjadi terang, dan dari terang kembali menjadi gelap. Terus seperti itu.

Tak ada kekuasaan yang langgeng seumur hidup bumi. Tak ada raja yang tak mangkat. Tak ada cinta yang seratus persen melekat. Tak ada manusia yang tak mati. Semua silih berganti mengalami perubahan demi perubahan. Kabar baiknya, tak ada kegagalan yang abadi. Kabar buruknya, tak selamanya sukses mampir bertubi-tubi. Semua ada masanya, dan senantiasa terus berubah.

Dulu waktu aku kecil, aku bisa mengayuh sepeda dengan bebas saat keluar komplek perumahan tanpa khawatir ada kendaraan lain yang melintas memotong jalan. Kini, setiap keluar komplek, minimal kendaraan harus berhenti, tengok kanan kiri, baru bisa melaju dengan aman, karena sekarang begitu ramainya jalan di depan perumahan. Semua serba berubah.

Lima sampai empat tahun lalu, mungkin tak banyak orang yang membuka laptopnya di ruang publik, karena penggunanya masih terbatas. Kini? Laptop, notebook, desktop dan yang terkini netbook banyak mewarnai ruang publik. Sembari menunggu jadwal keberangkatan (pesawat), membuka portable komputer bukanlah sesuatu yang dikategorikan unjuk kepemilikan. Sudah biasa.*

Continue Reading »

This Is It!

Yesterday is a memory. Tomorrow is a mystery. Today is a gift. That’s why they call it the present (Kung Fu Panda)

Pernahkan kalian membeli buku namun belum sempat membacanya? Aku sering kali mengalami hal seperti itu. Membeli setumpuk buku, dan dari yang setumpuk itu ada saja yang terselip belum terbaca. Entah masih enggan, belum tergerak untuk membacanya, atau memang belum butuh. Waktu membeli, yang terbersit dalam pikiran hanyalah: suatu saat aku pasti memerlukannya (Kebiasaan buruk memang. Jangan kalian tiru. Beli lah sesuatu yang kita butuhkan saja).

Beberapa hari lalu, tanpa sengaja aku melihat punggung sepucuk buku yang masih nongkrong di tumpukan yang masuk dalam daftar antrian baca. Terbaca olehku judulnya yang besar-besar: HARI INI PENTING. Judul aslinya Today Matters, karya John C. Maxwell, yang diterjemahkan oleh penerbitnya menjadi Hari Ini Penting.

Hari ini penting? tanyaku dalam hati. Tiba-tiba ada keinginan untuk menarik buku itu lantas membacanya. Tapi waktu sedang tak memungkinkan. Mesti buru-buru pergi. Jadinya sepanjang jalan aku terngiang-ngiang judul buku itu. Hari ini penting! Memang, konsep dari buku itu sudah lagi kupelajari. Tapi tetap belum membacanya toh. Betapa pun demikian, konsep dari HARI INI PENTING membuatku tertarik dan memikirkannya.

Hari ini penting! Seberapa pentingkah hari ini sehingga seakan tak ada waktu yang sebegitu pentingnya selain hari ini? Sebagai seorang yang tumbuh dengan karakter Melankolis yang Sempurna, yang kerap kali menunda-nunda banyak hal, konsep dari HARI INI PENTING selalu menarik perhatianku (namun tak pernah lulus untuk mempraktekannya!). Ya, aku kerap kali menunda pekerjaan, sampai sesuatu kurasa tepat untuk dikerjakan (alasan halus untuk tidak menyebutkan: baru tergerak kalau sudah didesak deadline!).

Continue Reading »

Taksu

Orang bilang ada kekuatan-kekuatan dahsyat tak terduga yang bisa timbul pada samudera, pada gunung berapi dan pada pribadi yang tahu benar akan tujuan hidupnya.
(Rumah Kaca, Pramoedya Ananta Toer)

Ketika mengikuti acara Ubud Writers and Readers Festival 2009 di Bali, mobil yang kami tumpangi beberapa kali melewati sebuah art galeri bernama Taksu. Saking seringnya melewati tempat itu membuat kami bertanya pada Pak Putu, sopir kami: apa arti taksu.

Taksu menurut Pak Putu yang asli desa Pajeng, Ubud, bisa diartikan semacam aura atau karisma yang dimiliki seseorang. Hal itu bisa mengejawantah pada diri seseorang ketika ia melakukan sesuatu. Seperti penari Bali misalnya.

Ada penari yang latihan begitu disiplin. Memeragakan gerakan tari tanpa cacat. Namun ketika tampil di atas pentas malah terasa biasa saja. Ada pula penari yang saat latihan justru biasa-biasa saja. Kedisiplinannya tak semahir penari pertama. Namun begitu tampil, penonton seperti terbius oleh gemulainya. Mata penonton seperti tersihir oleh penampilannya. Si penari kedua memancarkan aura atau karisma yang membuat penonton berdecak kagum. Menurut Pak Putu, si penari kedua bisa jadi telah memiliki taksu. Orang Bali menyebutnya telah mengalami mataksu-taksu.

Continue Reading »

Pulang…

Petualang mana yang tak rindu pulang? Induk lebah mana yang tak kembali ke sarang? Mereka mendifinisikan rumah dalam ragam pemaknaan yang berlipat macam. Karena di sanalah sesungguhnya cinta bersemayam. Kasih tak berkesudahan yang menjelma dalam ragam pengejawantahan.

Bukankah para avatar telah mengajarkan kita arti dari dialektika hidup di dunia. Kita tau betul arti merindu ketika pernah pergi melangkah. Kita memahami arti dari memiliki ketika pernah merasa kehilangan. Kita begitu menghargai sehat ketika pernah merasakan sakit. Bukankah semesta tercipta dari ketiadaan. Begitu pun masa dianggap ada ketika kita tau ada yang tak bermasa.

Terkadang kita kerap tersedu ketika terantuk batu di jalan yang berdebu. Namun bukankah kita bisa belajar arti kesetiaan dari sejumput pengkhianatan. Kita pun dapat belajar berbuat benar dari sederet kesalahan. Karena setiap jengkal yang terjadi pada apa yang dapat disebut hidup selalu mengajarkan secupuk makna yang mendalam.

Entah apa pun sebutanmu. Entah itu Allah, Bapa, Brahman, Buddha, Widhi, Tao, Yehovah, Satnaam, atau Ahura-Mazda, pulang adalah satu-satunya cara kita memandang hidup dalam alam kesadaran. Bukankah ia yang tak sadar sesungguhnya masih tersesat dan belum lagi tau jalan pulang?

Dari tanah kembali ke tanah. Setiap bilangan selalu berpulang pada nol. Karena kosong adalah kesempurnaan. Di sanalah pucuk ekstasi dari meditasi hidup kita yang terdalam. Dalam alam keheningan kita tau: hidup ini tak lebih dari sebatas pengelanaan untuk kembali mencari jalan pulang…

How To Be A Humble Person? (2)

Mbak Surip sudah meninggal. Kemunculan bagaikan komet yang membelah keheningan langit malam: indah, bercahaya, mystery, memberi kesan, namun cepat sekali. Sebelum betul-betul meledak dengan albumnya yang melejit, siapa yang mengenal Mbah Surip? Mungkin kawan-kawan dekatnya semata, atau para teman seniman di Pasar Seni Ancol, TIM, atau Bulungan, Jakarta.

Ya, sulit dipungkiri, kita jarang melihat proses hidup seseorang. Yang dilihat tentu masa suksesnya. Masa ketika seseorang berada di puncak keemasan. Soichiro Honda, pendiri kerajaan otomotif Honda, pernah berkata: “Lihat kegagalan saya.” Kalau kita melintasi jalan raya, sulit untuk tak mendapati mobil merk Honda yang telah mendunia. Padahal kisah hidup pendirinya sungguh penuh kegagalan.

Honda bukan siswa yang memiliki otak cemerlang, nilainya jelek, berasal dari keluarga miskin, sering kelaparan, jatuh sakit, kehabisan uang, dikeluarkan dari kuliah, dan pabrik yang ia dirikan terbakar sampai dua kali. “Orang melihat kesuksesan saya hanya satu persen. Tapi, mereka tidak melihat 99% kegagalan saya.” tukas Honda. Dan Honda terus bermimpi, bermimpi, dan bermimpi.

Siapa yang mengenal Mbah Surip? Hidupnya nyaris tak mulus. Miskin, kelaparan, tak punya uang, nekat mengendarai sepeda onthel dari Mojokerto ke Jakarta, numpang tinggal di sana-sini, tak mulus seperti apa yang kita lihat kemarin-kemarin ini. Baru pada album terakhir lagunya tiba-tiba meledak dan disukai. Lirik lagunya sederhana. Musiknya ringan dicerna. Penjualan kaset dan cakram padatnya mungkin tak seberapa. Namun dari nada dering dan nada panggil telepon genggam ia memperoleh Rp4,6 miliar. Belum dari honor manggung, mengisi acara di TV, juga iklan. Namun apakah Mbah Surip lantas bergelimang kekayaan? Nyatanya tidak.

Continue Reading »

Next Page »