Archive for the 'Epitaph Review' Category

Membaca Epitaph, Terasa Burhan Piliang Hidup Kembali

[Harian Analisa, Rubrik Rebana, Medan, Sumatera Utara]

oleh Idris Pasaribu

Judul : Epitaph
Penulis : Daniel Mahendra
Cetakan : Pertama-I, Jakarta, Nopember 2009
Tebal : viii + 358 halaman
Penerbit : Kakilangit Kencana, Jakarta
Ukuran Buku : 12,5 x 20 Cm
Jenis Buku : Novel/Sastra

Dengan kening yang lebar, janggut yang tipis di dagunya yang tirus, berhidung mancung dan rambut ikal, laki-laki itu melangkah menapaki kota Medan. Dengan celana jeans bersepatu kets dan menyandang kamera merk Minolta, bergantian dengan Asahi Pentax. Kehadirannya sangat ditunggu untuk latihan teater. Teater Nasional atau sering disebut Tena. Saya sendiri bergabung di Tena bersama teman-teman.

Sekian lama bersamanya, laki-laki itu pun bergabung bersama Harian Analisa menjadi fotografer, ditarik oleh Zakria M Passe (almarhum). Ketika itu Zakaria M Passe menjadi redaktur mingguan dan aku salah seorang wartawan yang dipercaya sebagai wartawannya bersama Buoy YA Hardjo (almarhum). Laki-laki itu bernama Burhan Piliang yang kami selalu menyebutnya Bang Burpil.

Continue Reading »

EPITAPH; Kejujuran yang Tanggung

oleh Cok Sawitri*

Membaca novel Epitaph, karya Daniel Mahendra, terbitan Kaki Langit Kencana, November 2009, adalah pembacaan fragmen-fragmen yang diutuhkan menjadi kesatuan kisah. Fragmen terbesar adalah kisah Laras Sarasvati, mahasiswi IKJ yang hilang saat melakukan shouting film dokumenter di Gunung Sibayak, Medan. Fragmen kedua adalah Kisah Haikal, kekasih Laras, yang menjadi ‘pencerita’ mengenai tokoh-tokoh yang ikut hilang dalam musibah yang dialami Laras dan menjadi ‘penganalisa’ adanya kejanggalan dalam pencarian korban dalam musibah itu. Fragmen lain, adalah tokoh Langi, teman Haikal yang difungsikan sebagai penulis dari kejadian musibah helikopter itu.

Kecanggungan sejak awal telah alamiah terjadi pada Daniel Mahendra ketika menuliskan kisah yang realitas memang terjadi, penyebutan IKJ, instansi militer di Medan, kutipan berbagai berita Koran, serta ‘rasa takut’ yang menyertai apabila menggunakan ‘dugaan’ haikal dan Yudin, salah satu crew film yang dipimpin Birhi, bahwa ada pihak yang hendak menutupi soal sewa menyewa helicopter itu untuk kepentingan komersial membuat Daniel terhenti pada gaya tutur yang canggung, ragu untuk membiarkan diri secara utuh menuliskan apa, siapa dalam proses sublimasi. Pilihan lain sebenarnya, memfiksikan secara total keseluruhan, hingga menjadi karya total yang justru dengan kliping detail akan menghadirkan runutan kisah yang menggetarkan hati.

Continue Reading »

Epitaph: Cahaya Indah dari Serpihan Luka

[Sebuah Oleh-oleh dari Malam Akikah di Newseum Indonesia]
oleh Sugiarto
*

Bagaimana cara manusia memperlakukan mimpi? Tentu, tak akan ada satu jawab yang pasti. Ada orang yang langsung membuang impian itu, bahkan beberapa saat saja setelah mimpi itu melintas. Ada yang mengangankan mimpi itu untuk beberapa waktu, tetapi, dengan alasan pemenuhan hasrat atau kebutuhan lain, mimpi satu segera tergusur oleh mimpi berikutnya. Dan, ada juga, kumpulan orang ini biasanya berjumlah sedikit, yang tetap menggendong mimpi yang datang, memberinya asupan gizi ‘materi’ tiap hari, dan tetap menjaga stamina, hasrat, gelora jiwa untuk berikhtiar melahirkan mimpi tersebut ke dunia nyata. Kemarin malam, di antara berderet bingkai kaca tergantung penuh di sepanjang dinding Newseum Indonesia, aku berkesempatan menjadi saksi transformasi indah ‘akikah’ kelahiran sebuah mimpi ke dalam dunia fana ini.

Daniel Mahendra. Dua tahun lalu aku mengenalnya. Bukan jenis perkenalan biasa dimana saling berbentur di jalan lalu berjabat tangan. Bukan juga perkenalan dengan penuh protokoler yang segera melahap pribadi baru dengan berondongan pertanyaan seputar ‘sensus kependudukan’. Atas nama urusan profesional pekerjaan kami bertemu. Beberapa jam negosiasi, hingga diakhiri dengan makan siang di warung sebelah kantornya, cukup bagiku untuk menangkap kilatan mata ‘sastrawan berbakat’ menggelegak dalam teduh sorot maskulinnya.

Continue Reading »

DM: Epitaph, Rindu Adik Pada Kakaknya

Diposting: Sabtu, 16 Januari 2010 / 05:09:51 | Oleh: annida | Kategori: Berita Penulis

Annida-Online—Ada banyak cara seseorang memaknai sebuah kematian. Daniel Mahendra, penulis novel trilogy Epitaph, memilih menorehkan perspektifnya mengenai kematian lewat sebuah karya. Bermula dari rasa rindunya pula, DM, begitu ia biasa disapa, selalu mengingat proses kematian.

Epitaph berbicara mengenai kematian. Tapi jauh di balik itu, makna yang ingin saya hadirkan dari sebuah kematian bukan sekadar kematian, tapi juga kehidupan, pemanusiaan, dan cinta. Epitaph mewakili itu semua, juga mewakili rasa rindu adik, kepada kakaknya yang hilang,” ungkap DM.

Novel pertama dari trilogi Epitaph ini memang diangkat dari kejadian nyata. Sang kakak, Diaz, adalah sumber inspirasi penulisnya. Novel yang penuh dengan nuansa kematian ini bertutur tentang kisah cinta Laras, mahasiswi IKJ, dan Haikal yang harus dipisahkan oleh sebuah kecelakaan helikopter. Romansa percintaan ini dikemas dalam liku misteri karena kecelakaan helikopter yang dialami oleh sang tokoh utama dalam sebuah pengambilan gambar film dokumenter di Pegunungan Sibayak, Medan, pada pertengahan 1994 lalu, ditutup-tutupi dari pemberitaan media.

Continue Reading »

Next Page »