<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Penganyam Kata &#187; The Waiting Is Almost Over</title>
	<atom:link href="http://www.penganyamkata.net/category/the-waiting-is-almost-over/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.penganyamkata.net</link>
	<description>The Untoldstories of Daniel Mahendra</description>
	<lastBuildDate>Fri, 30 Apr 2010 03:53:12 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
<image>
<link>http://www.penganyamkata.net</link>
<url>http://www.penganyamkata.net/wp-content/mbp-favicon/dmbd2.ico</url>
<title>Penganyam Kata</title>
</image>
		<item>
		<title>Wilwatikta</title>
		<link>http://www.penganyamkata.net/2009/04/06/wilwatikta/</link>
		<comments>http://www.penganyamkata.net/2009/04/06/wilwatikta/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Apr 2009 09:20:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Daniel Mahendra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ceritera]]></category>
		<category><![CDATA[The Waiting Is Almost Over]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.danielmahendra.com/?p=1586</guid>
		<description><![CDATA[(The Waiting Is Almost Over: 28) Tembok batu merah tebal lagi tinggi mengitari keraton. Itulah benteng keraton Majapahit. Pintu besar di sebelah barat yang disebut purawaktra menghadap ke lapangan luas. Di tengah lapangan itu mengalir parit yang mengelilingi lapangan. Di tepi benteng ditanami brahmastana, berderet-deret memanjang dan berbagai-bagai bentuknya. Di situlah tempat tunggu para perwira [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>(<strong><a href="http://www.danielmahendra.com/2009/01/07/the-waiting-is-almost-over/" target="_blank">The Waiting Is Almost Over: 28</a></strong>)</p>
<p style="text-align: center;"><em>Tembok batu merah tebal lagi tinggi mengitari keraton. Itulah benteng keraton Majapahit. Pintu besar di sebelah barat yang disebut purawaktra menghadap ke lapangan luas. Di tengah lapangan itu mengalir parit yang mengelilingi lapangan. Di tepi benteng ditanami brahmastana, berderet-deret memanjang dan berbagai-bagai bentuknya. Di situlah tempat tunggu para perwira yang sedang meronda menjaga paseban (Prapanca, Nagarakretagama)</em></p>
<p>Katanya, menjadi seorang petualang mesti siap dengan kondisi apa pun yang ditemui di jalanan. Tak kalah penting, ia pun mesti bisa luwes terhadap keadaan. Bisa jadi di saku kemejanya terselip setumpuk peta perjalanan. Namun jika sesuatu berbelok dari rencana semula, ia pun dituntut tanggap serta bisa berdamai dengan kenyataan.</p>
<p>Ketika kereta mampir di Stasiun Mojokerto pada pukul 07.35 pagi, tiba-tiba seperti ada yang memanggil-manggil diriku untuk turun di kota ini. Padahal aku masih harus menempuh sekitar 55 kilometer menuju kota Surabaya. Sementara Mojokerto tidak termasuk ke dalam peta perjalananku. Akhirnya aku berpikir keras: mengapa aku merasa harus turun di kota ini?</p>
<p>Tiba-tiba terngiang sebuah sajak dalam film <em>Cinta dalam Sepotong Roti</em> yang sudah kutonton ratusan kali itu. Kalimat itu selalu berkelebatan di kepalaku kemana pun aku pergi: <em>tunduklah kepada Salmah, pergilah kemana ia pergi, dan ikuti angin takdir, bergeraklah kemana angin ini bergerak </em>*. Tanpa pikir panjang lagi kuseret ranselku dari rak gerbong, permisi pada gadis yang sejak dari Jogja duduk di sebelahku, dan bergegas meninggalkan kereta. Si gadis hanya kaget dan berseru:</p>
<p><span id="more-1586"></span></p>
<p>“Lho, Mas?! Kok turun di sini?!”<br />
“Mengikuti angin takdir!” jawabku asal.<br />
“Katanya mau kutemani jalan-jalan di Surabaya?”<br />
“<em>Thank’s</em> ngobrolnya ya.” ucapku tersenyum tak menggubrisnya. Berlalu dan ngeloyor turun dari kereta.</p>
<p>Setelah gosok gigi dan mencuci muka alakadarnya di kamar mandi stasiun, aku nongkrong di warung nasi pecel depan stasiun. Waktunya santap pagi! Pada ibu penjual nasi pecel aku bertanya-tanya kendaraan menuju Trowulan. Ya. Rupanya inilah jawaban hatiku: aku ingin menyusuri sisa-sisa kejayaan Majapahit yang ditengarai secara ilimiah beribukota di Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur kini. Letaknya sekitar 70 km ke arah baratdaya Surabaya.</p>
<p>Tak lama kemudian aku sudah berdiri di sisi jalan dan mengibaskan debu yang bertamu di kemeja hitamku. Jalan ini jalan utama di mana orang yang berangkat dari Surabaya menuju Solo dan dari Mojokerto ke Kediri atau ke Tulungagung mesti melewati jalan nasional ini. Aku berdiam sejenak. Melempar pandangan. Mengira-ngira arah mana yang bakal kutuju lebih dulu. Inilah Trowulan! batinku.</p>
<p>Di kecamatan ini bersemayam puluhan situs seluas hampir 100 kilometer persegi berupa bangunan, arca, gerabah, serta pemakaman peninggalan Kerajaan Majapahit. Ditengarai, pusat kerajaan berada di wilayah ini seperti yang dirawi oleh Mpu Prapanca dalam kitab <em>Kakawin Nagarakretagama</em>.</p>
<p>Kitab <em>Nagarakretagama</em> menyebutkan deskripsi puitis mengenai keraton Majapahit dan lingkungan sekitarnya, tetapi penjelasannya hanya terbatas pada perihal upacara kerajaan dan keagamaan. Detail keterangannya tidak jelas, beberapa ahli arkeologi masih berusaha memetakan ibukota kerajaan tersebut.</p>
<p>Memang, sejak pudarnya Majapahit pada 1500 Masehi, reruntuhan kota kuna di Trowulan baru ditemukan lagi pada abad 19. Sir Thomas Stamford Raffles yang menjabat gubernur Jawa dari tahun 1811 hingga 1816, dalam bukunya <em>History of Java</em> menyebutkan bahwa; &#8216;terdapat reruntuhan candi&#8230; tersebar bermil-mil jauhnya di kawasan ini&#8217;.</p>
<p>Aku menyeret ranselku, berjalan kaki mengitari sebagian kawasan. Tampak begitu banyak situs-situs yang bertebaran di sana sini. Namun tanah-tanah di sini juga dimiliki oleh penduduk sekitar untuk area persawahan, usaha produksi batu bata, juga tempat tinggal.</p>
<p>Tanah di Trowulan memang “mengerikan”. Ibaratnya, menggali tanah 3 inci saja, kita nyaris menemukan pecahan keramik, tembikar, atau mata uang logam yang jumlahnya sudah tak terbilang lagi. Belum lagi sisa-sisa batu bata bekas bangunan perumahan penduduk Majapahit, lantai persegi enam, sumur, saluran air, kolam, waduk, serta selokan dari pipa-pipa tanah liat yang berkelok-kelok dalam jalur-jalur pemukiman kota kuna.</p>
<p>Meski tak semegah Angkor Wat di Kamboja, atau Acropolis di Yunani, namun situs Trowulan kerap kali membikin tercengang para arkeolog. Bagaimana tidak, karena sepanjang mata memandang, tanah-tanah di sini menunjukkan bukti-bukti ilmiah berupa kompleks istana Kerajaan Majapahit, pemukiman penduduk, serta kota yang belum pernah diketahui sampai mana batasnya.</p>
<p>Pada sebuah jarak kulihat lahan yang tampak ditutupi seng serta plastik-plastik pembatas. Di areal seluas enam hektar sebelah selatan Kolam Segaran tersebut tampak beberapa lahan bagaikan pekerjaan yang tak rampung dituntaskan. Itulah proyek prestisius yang awalnya dirancang bakal didirikan sebuah bangunan megah sebagai Pusat Informasi Majapahit atau belakangan disebut Majapahit Park.</p>
<p>Proyek mercusuar tersebut dihentikan karena ditengarai telah merusak situs-situs yang ada di tanah “terlarang” Trowulan. Bagaimana tidak, tanah Trowulan yang sarat dengan peninggalan purbakala yang tak terkira jumlahnya itu, apa jadinya jika di atasnya bakal berdiri bangunan megah bertiang pancang yang fondasi betonnya dicor ke dalam tanah berukuran 1 x 1 meter yang dibuat di tengah galian 2 x 2 meter dengan kedalaman sekitar dua meter. Weh!</p>
<p>Kasus perusakan pun merebak. Berbagai media mencecar pemerintah. Berbagai pihak pun mulai turun tangan. Akhirnya pemerintah menghentikan proyek yang sarat dengan sengkarut persoalan tersebut. Namun apa boleh buat: perusakan situs telah terjadi.</p>
<p>Aku jadi teringat pada preseden yang menimpa Bernard Tschumi, arsitek Museum New Acropolis di Athena, Yunani, yang mengundang kontroversi dan dituntut International Council on Monuments and Sites karena besarnya bangunan yang dirancangnya-lebih dari 100 tiang pancang dipakai-dianggap merusak situs. Yah, aku hanya menghela nafas, memandang dan mencatat sebisaku di sini.</p>
<p>Hari beranjak siang. Setelah santap siang di warung seberang Kolam Segaran, berupa ikan wader goreng yang disajikan dengan sambal serta nasi hangat mengepul, aku bergeser dan <em>ngungun</em> sendirian di samping Wringin Lawang.</p>
<p>Wringin Lawang adalah gapura agung terbuat dari bahan bata merah dengan luas dasar 13 x 11 meter setinggi 15,5 meter. Letaknya tak jauh ke selatan dari jalan utama di Jatipasar. Dalam bahasa Jawa, Wringin Lawang berarti &#8216;Pintu Beringin&#8217;. Diperkirakan dibangun pada abad ke-14. Gaya arsitekturnya disinyalir muncul pada era Majapahit dan kini banyak ditemukan dalam arsitektur Bali.</p>
<p>Kebanyakan sejarahwan sepakat bahwa gapura ini adalah pintu masuk menuju kompleks bangunan penting di ibukota Majapahit. Namun dugaan mengenai fungsi asli bangunan ini masih mengundang banyak spekulasi. Salah satu dari spekulasi yang paling populer adalah; gerbang ini diduga justru menjadi pintu masuk ke kediaman Gajah Mada.</p>
<p>Ah, Sang Mahapatih itu…</p>
<p>Dalam lamunanku, tiba-tiba pikiranku terlempar ke masa di mana Rakrian Kuti melakukan makar dan mengangkat diri sendiri sebagai raja negeri Wilwatikta. Kawula Majapahit merasa kecewa, geram, marah, sekaligus takut. Selain karena Ra Kuti mendongkel Jayanegara dari kursi raja dengan cara yang culas, licik, serta penuh pola adu domba, para punggawa kerajaan <em>gedibal</em> Ra Kuti melakukan perampokan, penjarahan, serta pemerkosaan terhadap penduduk kotaraja.</p>
<p>Punggawa kerajaan yang mestinya bertindak mengayomi, melindungi, serta membantu masyarakat, malah berbuat sebaliknya. Adalah wajar jika kawula Majapahit bertanya: “Lantas apa yang dimaui Ra Kuti dengan mengangkat dirinya sebagai raja Majapahit?” Hal ini jelas menjauhi Ra Kuti dari masyarakat. Kapasitas Ra Kuti yang mengangkat diri sendiri sebagai raja tidak mengakar. Tidak mendapat simpati rakyat, justru malah sebaliknya.</p>
<p>Aku jadi ingat beberapa hari lalu ketika masih menjelajahi bumi Jawa Tengah. Aku bertemu dengan seseorang yang baru saja kehilangan sepeda motor persis di depan rumahnya. Okelah, motornya hilang. Setelah urus sana sini, akhirnya asuransi berhasil mengganti penuh seharga motor yang hilang tersebut. Namun ada hal yang cukup mengganggu, yaitu: ia mesti mengeluarkan uang sebesar 1,5 juta perak pada pihak kepolisian.</p>
<p>Aku masih belum lagi mengerti: legalitas apa yang dipakai pihak kepolisian untuk mengutip “upeti” sebesar satu juta lima ratus ribu perak pada masyarakat yang kebetulan terkena musibah kehilangan kendaraannya. Bukankah mestinya sebagai “punggawa kerajaan”, mereka membantu kawula negerinya yang sedang tertimpa musibah?</p>
<p>Kalian pasti sangat jamak mendengar hal seperti ini dan memang kerap terjadi. Lantas apakah kalau sudah jadi kebiasaan lantas kita mesti mahfum begitu terus? Kalau demikian adanya, kita, sebagai kawula negeri, pun memiliki kontribusi menjadikan negeri ini sebagai negeri perampok bukan?</p>
<p>Ah, kenapa pikiranku jadi terlempar-lempar dan mengaitkan satu persoalan dengan persoalan lainnya? Weh, mungkin karena sebentar lagi bekas negeri Wilwatikta yang kini telah bernama Indonesia ini bakal menghadapi pemilu.</p>
<p>Kalau dulu kekuasaan Majapahit dipimpin oleh raja secara turun temurun sebanyak 13 keturunan, dalam bentuk monarki di mana urusan pemerintahan dipegang oleh seorang Mahapatih kerajaan, kini bagaimana kita menentukan seorang pemimpin negeri? Akankah kita memilih pemimpin seperti Raden Wijaya? Jayanegara? Tribhuwana Wijayatunggadewi? Hawam Wuruk? Atau Brawijaya?</p>
<p>Ah, aku masih kerasan di Trowulan&#8230;</p>
<p>6 April 2009</p>
<p>* Ucapan Ahmad-Al Hadhrami kepada muridnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.penganyamkata.net/2009/04/06/wilwatikta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>30</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Angkringan</title>
		<link>http://www.penganyamkata.net/2009/03/30/angkringan/</link>
		<comments>http://www.penganyamkata.net/2009/03/30/angkringan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 29 Mar 2009 22:00:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Daniel Mahendra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ceritera]]></category>
		<category><![CDATA[The Waiting Is Almost Over]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.danielmahendra.com/?p=1583</guid>
		<description><![CDATA[(The Waiting Is Almost Over: 27) Persembahkan yang terindah demi persahabatan. Jika ia harus tahu musim surutmu, biarlah dia mengenal pula musim pasangmu (Kahlil Gibran, Sang Nabi) Bagaimana kalian menemukan sahabat? Pasti ada banyak cara. Entah itu kualitas pertemanan yang gemilang, jalinan kuantitas yang terus bersemayam, bertemu sekelebatan di jalan, atau bahkan dari sebatang rokok [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>(<strong><a href="http://www.danielmahendra.com/category/the-waiting-is-almost-over/" target="_blank">The Waiting Is Almost Over</a>: 27</strong>)</p>
<p style="text-align: center;"><em>Persembahkan yang terindah demi persahabatan. Jika ia harus tahu musim surutmu, biarlah dia mengenal pula musim pasangmu (Kahlil Gibran, Sang Nabi)</em></p>
<p>Bagaimana kalian menemukan sahabat? Pasti ada banyak cara. Entah itu kualitas pertemanan yang gemilang, jalinan kuantitas yang terus bersemayam, bertemu sekelebatan di jalan, atau bahkan dari sebatang rokok kita bisa tetap menciptakan sebuah persahabatan.</p>
<p>Setelah beristirahat dan menikmati udara pegunungan di Gunung Kelir selama beberapa hari, hari ini aku memutuskan untuk turun. Ya, aku harus turun. Kondisi tubuhku memang belum sehat benar. Tapi perjalanan mesti terus dilanjutkan.</p>
<p>Boleh percaya atau tidak, dalam perjalanan kali ini aku betul-betul banyak ditolong oleh kawan-kawan baru yang usia pertemanannya belum lagi satu tahun. Tak ada teman lama, dan mereka adalah: blogger! Mereka betul-betul kukenal melalui blog. Lain tidak.</p>
<p>Aku memutuskan akan terus ke timur menggunakan kereta. Aku cek jadwal perjalanan kereta di website <a href="http://www.infoka.kereta-api.com/jadwal_dan_tarif/" target="_blank">PT. KAI</a>. Rupanya aku telah kehilangan jam keberangkatan kereta Argowilis dari stasiun Jogjakarta pada siang hari. Tapi aku sudah meniatkan untuk turun dari Gunung Kelir siang ini. Kulihat jadwal kereta lagi.</p>
<p><span id="more-1583"></span></p>
<p><a href="http://www.arai.web.id/" target="_blank">Mas Tok</a> sedang repot dengan pekerjaannya. Telpon CDMA-nya belum bisa kupinjam (di Gunung Kelir tak ada sinyal GSM. Kalau pun ada CDMA, hanya satu-satunya dari Mobile8. –baca <em><a href="http://www.danielmahendra.com/2009/03/22/sayapku-patah-patah-di-gunung-kelir/" target="_blank">Sayapku Patah-patah di Gunung Kelir</a></em>). Kulihat <a href="http://blog.ardyansah.com/" target="_blank">Mas Ardyansah</a> dan <a href="http://gajahpesing.web.id/web/index.php" target="_blank">Mas Gajah Pesing</a> sedang berbincang di ruang tamu. <a href="http://www.suryaden.com/" target="_blank">Mas Suryaden</a>, <a href="http://wawawuwiwowa.blogspot.com/" target="_blank">Mas Senoaji</a>, dan <a href="http://www.arai.web.id/" target="_blank">Kang Arai</a> sedang tadarus internet. Tak ada blogger yang sedang <em>online</em> di YM. Aku mengirimkan sinyal pada semesta: berharap ada yang <em>online</em>.</p>
<p>Semensta mendengar permohonanku: sekonyong-konyong <a href="http://tantikris.wordpress.com/" target="_blank">Mbak Tanti</a> <em>online</em>. Kuceritakan kondisiku. Aku sedang butuh seseorang di Jogjakarta untuk memesankan tiket kereta. Rupanya, Mbak Tanti sedang berada di Surabaya (setiap dua minggu sekali ia selalu pulang ke Jogja). Sementara adiknya tak bisa dimintai tolong, karena baru pagi tadi berangkat ke Denpasar.</p>
<p>Tak lama <a href="http://hemmayulfi.blogspot.com/" target="_blank">Mas Melo</a> <em>online</em>. <a href="http://amaliaonearth.wordpress.com/" target="_blank">Agoy</a> pun <em>online</em>. Disusul oleh <a href="http://noengkiprameswari.blogspot.com/" target="_blank">Prameswari</a>. Weh, semesta mengembalikan sinyal yang kukirimkan secara berlebihan. Aku bersyukur. Empat orang blogger <em>online</em> secara bersamaan. Mas Melo di Medan, Agoy di Jakarta, dan Prameswari di Surabaya. Weh, aku mesti minta tolong siapa? Akhirnya kuceritakan kondisiku pada Mas Melo.</p>
<p>“<a href="http://ladangkata.com/" target="_blank">Lisa</a> masih ada di Jogja?” tanya Mas Melo melalui YM.<br />
“Aku ragu. Sejak terakhir ketemu, katanya hanya seminggu di Jogja. Setelah itu kembali ke Jakarta.”<br />
“Coba dulu. Sini nomor hp-nya. Biar kutelpon.”<br />
Dan aku memberikan nomor hp Lisa.</p>
<p>Kuceritakan kondisiku pada kawan-kawan di Gunung Kelir. Akhirnya aku bisa meminjam telpon CDMA Mas Tok. Mas Senoaji menghubungi orang kantornya. Mas Suryaden menelpon istrinya. Semua bertujuan mencarikan tiket bagi seorang petualang sableng yang tak tahu diri ini.</p>
<p>“Aku sudah telpon Lisa, tapi nggak diangkat. Aku kirim SMS aja ya?”<br />
“Oke.”</p>
<p>Tak berapa lama kudengar kabar dari Mas Melo melalui YM: Lisa sudah balik menelpon. Rupanya Lisa masih berada di Jogja, tapi sedang tidak di kota. Namun ia berjanji mencarikan seorang kawan untuk dimintai tolong pergi ke Stasun Tugu untuk mencarikan tiket. Sementara itu istri Mas Suryaden sudah mulai mencarikan tiket ke sebuah agen perjalanan. Weh, aku malah bingung sendiri, karena orang-orang mulai bergerak.</p>
<p>Aku mesti berpikir cepat serta memutuskan: siapa yang kupilih. Kalau semua orang dapat tiket, bisa bingung aku. Mas Suryaden menginformasikan posisi istrinya. Sementara Mas Melo mengabarkan teman yang dimintai tolong Lisa sudah berada di stasiun. Weh, kok jadi genting begini!</p>
<p>“Ini Lisa sedang telpon. Katanya ada kereta Turangga. Malam hari tapi. Dia bilang tinggal kelas eksekutif yang ada. Gimana? Mau?” tukas Mas Melo tetap melalui YM.<br />
“Sebentar,” balasku.<br />
Dengan cepat kutanya Mas Suryaden, “Mas, sudah ada kabar?”<br />
“Istriku sudah nelpon agennya, Mas Dan. Sedang dicarikan, jadi masih nunggu jawaban.”<br />
“Kalau kuiyakan yang ini gimana, Mas? Soalnya ada, tinggal nunggu jawabanku.”<br />
“Wah kalo memang ada, iyakan saja, Mas Dan.”<br />
“Nggak pa-pa ya, Mas?”<br />
“Lho nggak pa-pa, Mas Dan.”<br />
“Tengkyu banget, Mas…”<br />
Dan aku beralih ke YM lagi: “Oke, Mas Melo. Ambil.”<br />
“Ambil ya? Oke. Kata Lisa dia baru bisa menemui temannya maghrib nanti. Jadi begitu turun ke Jogja, langsung kontak Lisa aja.”<br />
“Tengkyu banget, Mas Melo…”<br />
“Jangan lupa makan!”<br />
“Iya…”<br />
“Obatnya!”<br />
“Iyaaa…”<br />
“Jangan merokok!”<br />
“Baweeelll…”</p>
<p>Akhirnya aku mulai bisa bernafas lega. Tiket kereta sudah ada meski belum di tangan. Aku tertawa geli ketika menyadari betapa untuk memesan tiket kereta dari stasiun Jogja saja mesti mengontak Mas Melo melalui YM di Medan, lantas Mas Melo menghubungi Lisa melalui telpon di pinggiran Jogja, dan Lisa minta tolong temannya, juga lewat telpon, untuk memesan tiket di stasiun Jogja. Weh, betul-betul sableng aku ini!</p>
<p>Tapi aku senang karena bisa mempertemukan Mas Melo dan Lisa. Mereka kerap berkomen di blog-ku, namun tak pernah saling berkomen di antara blog mereka sendiri (setelah “peristiwa” ini mereka jadi saling berkomen. Hihihi!). Aku sangat berterima kasih pada Lisa karena meski sedang tidak di kota, namun mengusahakan temannya yang sedang berada di kota Jogja untuk memesan tiket. Kurasakan betul arti dari sebuah persahabatan! (<em>Thanx</em>, Lis!)</p>
<p>Sore itu aku baru tahu bahwa Mas Ardyansah, Mas Gajah Pesing, dan Kang Arai memutuskan pulang ke Surabaya sore itu juga. Weh, padahal aku baru saja memesan tiket kereta.</p>
<p>“Kalo gitu kalian bisa turun bareng ke Jogja. Nanti kuantar. Tapi hanya sampai terminal Wates ya. Aku mesti nengok adikku ke rumah sakit soalnya.” ujar Mas Tok.<br />
Aku hanya nyengir girang.</p>
<p>Aku mulai mengemas ransel. Meski kondisku belum baik benar, namun rasanya sudah bisa diajak bergerak turun. Sebelum loncat ke mobil, para blogger ini masih juga sempat-sempanya berfoto di depan rumah Mas Tok. Mas Suryaden, Mas Senoaji, Mas Ardyansah, Mas Gajah Pesing, Kang Arai, Mas Tok, dan aku sendiri. Kali ini naik Panther (Ini orang banyak betul mobilnya sih?).</p>
<p>Menyusuri pegunungan, jalanan berbukit, dan perumahan penduduk membuatku sedikit lebih segar. Sinyal GSM pelan-pelan mulai tertangkap. Bunyi SMS mulai berebut masuk di hp para blogger. Berduyun-duyun SMS mulai masuk ke <em>inbox</em> setelah beberapa hari ter-<em>pending</em>.</p>
<p>Hari mulai menjelang Maghrib. Kami sudah sampai di terminal Wates, Kabupaten Kulon Progo. Saatnya berpisah dengan Mas Tok. Kuucapkan ribuan terima kasih atas keramahannya mengundangku ke Gunung Kelir. Ia hanya tertawa-tawa. Tak berapa lama Mas Tok pun berlalu. Kini tinggal kami berempat di pinggir trotoar: menunggu bis jurusan Jogja.</p>
<p>“Kata Mas Tok kita bisa langsung naik bis jurusan Surabaya dari jalur ini.” tukas Mas Ardyansah.<br />
“Kita makan dululah…” pinta Kang Arai.<br />
Mas Gajah Pesing hanya senyum-senyum saja.<br />
“Gimana?” tanya Mas Ardyansah.<br />
“Aku mesti ke Jogja sekarang. Karena yang mengusahakan tiket kereta memintaku ketemu Maghrib. Nggak sekalian naik kereta aja? Kan bisa bareng.” tawarku.<br />
“Iya juga. Tapi kendaraan kita ada di Terminal Bungurasih. Mau nggak mau mesti naik bis.”</p>
<p>Akhirnya kami mesti berpisah di trotoar Wates. Sebuah bis jurusan Solo tampak dari kejauhan. Kugenggam tangan mereka satu per satu dengan seulas senyuman. Dalam hati aku merasa akan bertemu mereka lagi.</p>
<p>“Makasih ya!” dan aku meloncat ke dalam bis seorang diri.<br />
Kini si petualang sableng seorang diri lagi.</p>
<p>Entah siapa yang merancang semua ini, sesampai di Gamping, bis berhenti tepat di depan sebuah apotik besar. Aku sampai terbelalak. Bukankah ini yang kubutuhkan sejak tadi? batinku dalam hati. Maka jangan salahkan aku jika aku tampak kalap di apotik. Mas Melo sudah membuatkan aku daftar serombongan obat dan vitamin yang harus kusikat.</p>
<p>Kukontak Lisa. Janjian untuk bertemu. Awalnya kami hendak bertemu di Toko Buku Togamas. Aku <em>manut</em> saja. Namun ia kembali mengontak: lebih baik bertemu di <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Angkringan" target="_blank">angkringan</a> samping Stasiun Tugu. Agar tak terlalu jauh dengan stasiun kereta. Aku lebih setuju. Dan kami janji bertemu jam delapan malam.</p>
<p>Kulirik jam, masih sekitar pukul tujuh. Karena sudah tak sabar hendak melahap obat, kuputuskan untuk segera santap malam. Kulihat sebuah warung tenda penjual gudeg. Weh, aku kangen makan gudeg, pikirku. Dengan segera aku menyeberang jalan, memesan menu dan makan dengan kalap tak terkira!</p>
<p>Sehabis makan aku ngobrol-ngobrol dengan si ibu penjual gudeg. Ketimbang taksi, ia menyarankan agar aku menggunakan ojek saja ke Stasiun Tugu. Lebih cepat. Aku pikir boleh juga. Lantas ia mengeluarkan hp dan memesan ojek. Dan aku ngakak. Weh, ojek pun kini sudah bisa dipesan melalui telpon rupanya.</p>
<p>Jam delapan kurang sepuluh aku sudah berada di angkringan Lik Man. Kukontak Lisa, mengabarkan posisiku. Kukirim sebuah SMS ke Jepang: <em>Aku sudah di Jogja lagi. Dekat Stasiun. Kondisiku sudah lebih baik kukira</em>. <a href="http://imelda.coutrier.com/" target="_blank">Mbak Imelda</a> membalas: <em>Kamu bikin aku khawatir saja. Hati-hati</em>, tulisnya. Tak lama <a href="http://goenoeng.dagdigdug.com/" target="_blank">Goen</a> pun SMS: <em>Orang Bandung kerasan banget di Gunung Kelir?</em> Aku hanya nyengir dan membalas: <em>Jangan diketawain: </em><em>aku habis terkapar di Gunung Kelir. Tapi sekarang sudah di Jogja lagi. Janjian sama si Miss, eh, sama Lisa. Hehehe</em>. Goen ngakak.</p>
<p>“Aku bilang apa? Kamu pasti kembali lagi ke Jogja. Bener kan?” Lisa sudah tertawa-tawa mengolokku ketika bertemu. Ia datang bersama <a href="http://yainal.web.id/" target="_blank">Yainal</a> (baca <em><a href="http://www.danielmahendra.com/2009/03/15/perjalanan-menggelikan/" target="_blank">Perjalanan Menggelikan</a></em>).<br />
“Sialan!” aku langsung duduk lesehan di trotoar.</p>
<p>Atmosfir angkringan terasa ramai, guyup, dan mesra. Tak hanya anak muda, kulihat banyak juga serombongan bapak-bapak yang duduk santai, makan, menyeruput kopi, serta membakar rokok. Suasana betul-betul bersahabat ditingkahi tembang pengamen jalanan.</p>
<p>Lisa menyodorkan tiket yang kupesan. Mengikuti saran Lisa, aku memesan wedang jahe. Seorang pengamen datang. Ia menawarkan lagu-lagu untuk dinyanyikan. Dasar sableng, Lisa malah memesan tembang <em>Saat Terakhir</em>, dari ST12.</p>
<p>“Lagu apaan itu?”<br />
“Itu lho, yang ada <em>kamu-kamu-kamu</em>…” terangnya ngakak.<br />
“Ya ampuuunnn…” aku menepuk jidat.<br />
Yainal hanya nyengir.<br />
Sahabatku Lisa ini lama-lama makin sableng saja. Kini ia bahkan mulai mengikuti secara serius tayangan sinetron <em>Cinta Fitri</em> setiap malam. Setiap malam! Sableng!</p>
<p>Dan si pengamen pun mulai menyanyikan lagu yang diminta Lisa. Pada bagian <em>refrain</em>, Lisa ikut melantun bebas mengikuti si pengamen: “Kamu-kamu-kamu…” lantunnya dengan mulut dimonyong-monyongkan. Aku hanya memutar-mutarkan mata mirip <em>emoticon</em> di YM.</p>
<p>Hingga pukul setengah sebelas kami nongkrong di angkringan. Ngobrol apa saja. Ditemani tembang-tembang manis dari pengamen, kepul rokok, minuman penghangat, dan ceriwis gadis-gadis muda yang membuat angkringan terasa semarak.</p>
<p>Aku sudah mulai menggendong ranselku. Kami berpisah di trotoar. Kugenggam tangan mereka.<br />
“Kali ini yakin bakal meninggalkan Jogja?” Yainal tertawa mengolokku.<br />
“Tiket sudah di tangan, Dab!”<br />
Lisa hanya ngakak. “Hati-hati…”<br />
“Yup. Makasih ya, Lis!” aku meninggalkan mereka.</p>
<p>Tak ada angin kota Jogja yang mengusikku. Yang kurasakan hanya satu: kegerahan! Aku menyusuri trotoar, masuk ke halaman Stasiun Tugu. Bersiap melanjutkan perjalanan ke kota berikutnya.</p>
<p>Kapal memang kerap berlabuh. Membuang sauh. Tapi ia mesti tetap terus berlayar lagi. Tak pernah mengizinkan jangkar bersemayam terlalu lama di sebuah pelabuhan. Seperti halnya cinta. Tsah!</p>
<p>Jadi, bagaimana kalian menemukan sahabat? Kualitas pertemanan yang gemilang? Jalinan kuantitas yang terus bersemayam? bertemu sekelabatan di jalan? Atau dari sebatang rokok? Kalian punya jawabannya masing-masing…</p>
<p>30 Maret 2009 | 03.33 wib</p>
<p>* * *</p>
<p><a href="http://www.danielmahendra.com/category/the-waiting-is-almost-over/" target="_blank">The Waiting Is Almost Over</a>:</p>
<p>1.	<a href="http://www.danielmahendra.com/2009/01/07/the-waiting-is-almost-over/" target="_blank">The Waiting Is Almost Over</a><br />
2.	<a href="http://www.danielmahendra.com/2009/01/15/apa-yang-membuat-kalian-bertahan-hidup/" target="_blank">Apa yang Membuat Kalian Bertahan Hidup?</a><br />
3.	<a href="http://www.danielmahendra.com/2009/01/17/bagaimana-kalian-bertahan-hidup/" target="_blank">Bagaimana Kalian Bertahan Hidup?</a><br />
4.	<a href="http://www.danielmahendra.com/2009/01/18/kali-ini-datang-tanpa-pesan/" target="_blank">Kali Ini Datang Tanpa Pesan</a><br />
5.	<a href="http://www.danielmahendra.com/2009/01/19/agar-naskah-dilirik-penerbit/" target="_blank">Agar Naskah Dilirik Penerbit</a><br />
6.	Kencan (belum pernah di-publish)<br />
7.	<a href="http://www.danielmahendra.com/2009/01/20/istirah-dan-menyepi/" target="_blank">Istirah dan Menyepi</a><br />
8.	<a href="http://www.danielmahendra.com/2009/01/24/bukan-tiket-sekali-jalan/" target="_blank">Bukan Tiket Sekali Jalan</a><br />
9.	<a href="http://www.danielmahendra.com/2009/01/27/petaka-di-pantura/" target="_blank">Petaka di Pantura</a><br />
10.	<a href="http://www.danielmahendra.com/2009/01/30/mafela/" target="_blank">Mafela</a><br />
11.	<a href="http://www.danielmahendra.com/2009/02/01/sebuah-surat-tanpa-alamat-surat/" target="_blank">Sebuah Surat Tanpa Alamat Surat</a><br />
12.	<a href="http://www.danielmahendra.com/2009/02/04/petualang-manapun-rindu-pulang/" target="_blank">Petualang Manapun Rindu Pulang</a><br />
13.	<a href="http://www.danielmahendra.com/2009/02/07/jalan-menuju-pulang/" target="_blank">Jalan Menuju Pulang</a><br />
14.	<a href="http://www.danielmahendra.com/2009/02/08/1000-purnama-di-kota-blora/" target="_blank">1000 Purnama di Kota Blora</a><br />
15.	<a href="http://www.danielmahendra.com/2009/02/11/penyanyi-malam/" target="_blank">Penyanyi Malam</a><br />
16.	<a href="http://www.danielmahendra.com/2009/02/13/pacar/" target="_blank">Pacar!</a><br />
17.	<a href="http://www.danielmahendra.com/2009/02/17/kerani/" target="_blank">Kerani</a><br />
18.	<a href="http://www.danielmahendra.com/2009/02/19/sahabat/" target="_blank">Sahabat</a><br />
19.	<a href="http://www.danielmahendra.com/2009/02/22/persinggahan-dan-melacur/" target="_blank">Persinggahan dan Melacur</a><br />
20.	<a href="http://www.danielmahendra.com/2009/02/23/pangeran-berkuda-dan-putri-di-menara/" target="_blank">Pangeran Berkuda dan Putri di Menara</a><br />
21.	<a href="http://www.danielmahendra.com/2009/03/12/kweni/" target="_blank">Kweni</a><br />
22.	<a href="http://www.danielmahendra.com/2009/03/15/perjalanan-menggelikan/" target="_blank">Perjalanan Menggelikan</a><br />
23.	<a href="http://www.danielmahendra.com/2009/03/18/zippo/" target="_blank">Zippo</a><br />
24.	<a href="http://www.danielmahendra.com/2009/03/20/haks/" target="_blank">Haks!</a><br />
25.	<a href="http://www.danielmahendra.com/2009/03/22/sayapku-patah-patah-di-gunung-kelir/" target="_blank">Sayapku Patah-patah di Gunung Kelir</a><br />
26.	<a href="http://www.danielmahendra.com/2009/03/25/pangeran-berjanggut-dari-negeri-timur/" target="_blank">Pangeran Berjanggut dari Negeri Timur</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.penganyamkata.net/2009/03/30/angkringan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>59</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pangeran Berjanggut dari Negeri Timur</title>
		<link>http://www.penganyamkata.net/2009/03/25/pangeran-berjanggut-dari-negeri-timur/</link>
		<comments>http://www.penganyamkata.net/2009/03/25/pangeran-berjanggut-dari-negeri-timur/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Mar 2009 20:03:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Daniel Mahendra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ceritera]]></category>
		<category><![CDATA[The Waiting Is Almost Over]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.danielmahendra.com/?p=1576</guid>
		<description><![CDATA[(The Waiting Is Almost Over: 26) Petualang merasa sepi, merasa sunyi, sendiri di kelam hari. Petualang jatuh terkulai, namun semangatnya bagai matahari (Kantata Takwa, Sang Petualang) Selama di Gunung Kelir, kerjaku hanya tergeletak di kasur dengan laptop yang terus terbuka dalam keadaan online. Kepalaku masih berat bagaikan diganduli batu sebesar gunung. Mas Totok sudah berusaha [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>(<strong><a href="http://www.danielmahendra.com/category/the-waiting-is-almost-over/" target="_blank">The Waiting Is Almost Over: 26</a></strong>)</p>
<p style="text-align: center"><em>Petualang merasa sepi, merasa sunyi, sendiri di kelam hari. Petualang jatuh terkulai, namun semangatnya bagai matahari (Kantata Takwa, Sang Petualang)</em></p>
<p>Selama di Gunung Kelir, kerjaku hanya tergeletak di kasur dengan laptop yang terus terbuka dalam keadaan <em>online</em>. Kepalaku masih berat bagaikan diganduli batu sebesar gunung. <a href="http://www.gunungkelir.com/" target="_blank">Mas Totok</a> sudah berusaha mencarikan obat warung alakadarnya. Betapa pun terima kasihku untuk itu.</p>
<p>Namun praktis selama di sana aku tak bisa beraktivitas lepas di alam bebas. Ke kamar mandi sempoyongan, berjalan saja limbung, apalagi mesti melakukan aktivitas berat. Hari Jum’at sakitku makin menjadi. Badan ini  maunya digolekkan saja tanpa hasrat keinginan.</p>
<p><a href="http://www.suryaden.com/" target="_blank">Mas Suryaden</a> dan <a href="http://wawawuwiwowa.blogspot.com/" target="_blank">Mas Senoaji</a> masih asyik berinternet tanpa tanding. Mas Totok sesekali nimbrung ke ruangan. Suasana senyap, sepi, seperti di kuburan. Padahal ada orang. Lha, gerangan apa yang mereka lakukan? Ya <em>nge-net</em>. He-he.</p>
<p>Aku absen Jum’atan siang ini. (Weh, jangan kalian tiru!). Seharian aku tidur, bangun, sarapan, tidur, makan siang, lalu tidur lagi. Keluarga Mas Totok selalu menghidangkan jamuan makan tanpa terlewat sedikit pun. Sampai-sampai aku sedikit protes pada Mas Totok:</p>
<p><span id="more-1576"></span></p>
<p>“Mas, perasaan di sini kok sering banget makan sih? Dikit-dikit makan. Habis makan, diajak makan lagi.”<br />
“Lho… di sini itu dingin. Jadi mesti banyak makan.” terang Mas Totok sembari menyendok nasi tambah. Ia memang selalu tambah kalau makan.</p>
<p>Sorenya aku tertidur lagi karena tak kuat mendirikan badan. Aku betul-betul lemah. Selepas Isya aku terbangun. Keadaan sunyi senyap. <em>Bablas</em> lagi sholat Maghrib (betul-betul tak terpuji kelakuan petualang sableng satu ini!).</p>
<p>Weh, pada ke mana orang-orang? Aku berjalan limbung ke kamar mandi. Adik Mas Totok menghidangkan kopi dan singkong goreng yang mengepul-ngepul nikmat.</p>
<p>“Kopinya, Mas.” ujar adik Mas Totok.<br />
Aku mengangguk sembari menelan ludah. Haih, sedang sakit begini kok disuguhi kopi? (tak tahu diri benar tamu Mas Totok yang satu ini. Sudah disuguhi, protes pulak!).</p>
<p>Mas Totok mengerti gelagatku. “Teh panas aja ya, Mas? Pasti sedap!”<br />
Aku tersenyum girang. “Mas Suryaden sama Mas Senoaji ke mana, Mas?”<br />
“Sudah pulang sore tadi. Sampeyan masih tidur.”<br />
Duh, ada perasaan gulana di hatiku. Aku belum ngobrol banyak dengan mereka. Baru ngobrol sekadarnya saja.</p>
<p>“Rokok Sampeyan masih ada?” tanya Mas Totok.<br />
“Duh Mas, aku kan sedang sakit. Masa’ ngerokok. Tapi absen merokok berarti mengkhianti sumpah perokok sejati ya, Mas?”<br />
“Wah, iya.” jawab Mas Totok nyengir. Sableng juga gentho Kelir satu ini, batinku ngakak.<br />
“Kalo sakit gini biasanya <em><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Dji_Sam_Soe" target="_blank">Dji Sam Soe</a></em>, Mas. Racikannya lebih pas di tenggorakan” kelakarku menggoda Mas Totok.</p>
<p>Siapa nyana, Mas Totok sontak memanggil adiknya untuk membelikan sebungkus <em>Dji Sam Soe</em> di warung.<br />
“Woi Mas, aku ki guyooonnn…”<br />
“Alah. Wis ndak po-po!”<br />
“Mas?!”<br />
“Wis!”<br />
“Mas?!”<br />
“Hus!”<br />
Dan aku pasrah. Hi-hi-hi.</p>
<p>Malam itu Mas Tok sedang <em>chatting</em> dengan seseorang di Surabaya. Awalnya tiga ekor siluman dari Surabaya itu hendak menggunakan kereta <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kereta_api_Sancaka" target="_blank">Sancaka</a> ke Jogja. Merapat ke Gunung Kelir. Namun Mas Totok berhasil mengompori mereka untuk secepatnya datang. Akhirnya tiga ekor siluman itu berangkat menggunakan bis malam itu juga. Aku tertidur lagi.</p>
<p>Esok paginya, meski keadaan tubuh sudah sedikit membaik, aku sempoyongan ke kamar mandi. Tujuan? Cuci pakaian. Apa boleh buat, pakaianku habis! Setelah itu, tergeletak lagi di tempat tidur. Mas Totok mengabari hendak turun ke Jogja. Menjemput tiga ekor siluman asal Surabaya. Tiba-tiba terbersit untuk ikut turun ke Jogja. Tujuan? Reservasi tiket kereta.</p>
<p>Mas Totok menyarankan agar aku menggunakan bis saja  untuk melanjutkan perjalanan ke kota berikutnya. Awalnya aku bersikeras pakai kereta demi menyadari kondisiku. Tapi aku kalah argumen. Lagi-lagi masih belum tahu kapan hendak turun dari Gunung Kelir. Lantas Mas Totok turun ke Jogja dengan pesanan vitamin dariku. Aku tertidur lagi.</p>
<p>Siang hari terbangun, kudengar ramai-ramai di ruang sebelah. Sepertinya tiga ekor siluman dari Surabaya telah datang. Aku berusaha bangun. Berjalan tertatih. Aha, betul saja! Di ruang sebelah kulihat Mas Totok sedang kumpul bersama Mas Ardyansah yang <a href="http://blog.ardyansah.com/" target="_blank">Mantan Kyai</a> itu, <a href="http://gajahpesing.web.id/web/index.php" target="_blank">Mas Gajah Pesing</a>, dan <a href="http://www.arai.web.id/" target="_blank">Kang Arai</a>. Kami bersalaman.</p>
<p>Ini rupanya sosok Mantan Kyai yang tersohor itu? Weh-weh-weh, dagunya berjanggut. Kiranya tidak lah berlebihan jika kugelari dia dengan sebutan ‘<em>Pangeran Berjanggut</em>’. Badannya tinggi besar. Kalau berjalan kukuh sekali. Sekilas orang yang melihat bakal mendapat  kesan seram dan serius. Tapi tungguhlah beberapa menit sampai ia mengeluarkan kata-kata pertama, niscaya kita bakal tahu: Mantan Kyai kocak tanpa tanding!</p>
<p>Blog Mantan Kyai, meski hitam kelam, sesungguhnya cukup menarik. Rawian-rawiannya sangat lincah. Ia sangat menguasai kosakata. Tak banyak kutemui blogger yang kaya akan kosakata. Kalau kita membaca, tulisannya terasa bergerak. Ia bisa meracik tulisan yang sesungguhnya serius dengan olahan yang empuk, renyah, dan sedap ketika disuguhkan. Sudah lama aku mengikuti tulisannya yang amit-amit kocak tapi gurih itu.</p>
<p>Aku tahu, sejak mulai aktif berkunjung ke blog-nya, aku merasa bakal bertemu dengannya. Entah di mana, entah kapan, aku merasa bakal bertemu. Siapa nyana, kami bertemu di Gunung Kelir. Masih dalam keadaan sempoyongan aku ikut bergabung bersama mereka.</p>
<p>“Kutunggu di Surabaya nggak nongol-ngongol, Mas?” tembak Mantan Kyai.<br />
“He-he. Nyatanya kita ketemu di Gunung Kelir toh.”<br />
Kami pun tertawa-tawa.</p>
<p>Sore harinya Mas Totok mengajak ke Gua Seplawan. Letaknya tak jauh dari rumah Mas Totok. Yah, jaraknya kira-kira sepelemparan tombak lah. Menghabiskan waktu paling banyak satu batang rokok mungkin. Masih dengan kondisi sempoyongan aku ikut mereka. Kali ini berlima naik Katana.</p>
<p>Gua Seplawan berada di ketinggian 700 mdpl. Terletak di Desa Donorejo, Kecamatan Kaligesing, sekitar 20 km ke arah timur kota Purworejo. Daya tarik gua ini berupa lukisan alam yang sangat artistik pada dinding guanya. Di sana kita masih bisa menyaksikan <em>stalagmit</em>, <em>stalaktit, flow stone, helekit, soda straw</em> dan <em>gouwer dam</em>.</p>
<p>Panjang Gua Seplawan kurang lebih sejauh 700 m dengan cabang-cabang gua yang memiliki panjang sekitar 150–300 m serta berdiameter 15 m. Gua alam ini mulai menjadi sangat terkenal pada saat ditemukannya arca emas Dewa Syiwa dan Dewi Pawestri seberat 1,5 kg pada 28 Agustus 1979 yang kini sudah disimpan di Museum Nasional Jakarta.</p>
<p>Satu hal yang tak kalah menarik, di sana terdapat gardu pandang dengan latar belakang Gunung Kelir. Melalui gardu ini kita dapat menikmati indahnya panorama alam di mana bila cuara cerah, Kota Jogjakarta dapat terlihat dengan jelas. Maka sebelum turun ke gua, kami naik ke gardu pandang.</p>
<p>“Yang sebelah kiri itu Gunung Merapi. Dan di sebelahnya Merbabu. Sementara di kanan itu laut selatan. Kelihatan kan garis pantainya?” terang Mas Totok.</p>
<p>Wih, betul juga. Dari sini kita  bisa memandang ke segala arah. Meski masih sakit, aku tetap nekat duduk di bibir bukit. Sekitar atu meter di depan kami merupakan jurang. Berdua dengan Mas Totok aku bincang-bincang di sana. Dia menjeprat-jepretkan kameranya.</p>
<p>“Weh, wajahku kuyu sakit begini kok difoto-foto.”<br />
“Lha, kalau nggak sakit apa nggak kuyu juga?”<br />
“Sialan!”</p>
<p>Tak berapa lama kami turun. Bertiga dengan Kang Arai dan Mas Totok kami turun ke Gua Seplawan. Hari sudah melewati waktu Maghrib. Keadaan gelap gulita. Gua Seplawan berada di bawah bukit.</p>
<p>“Nggak mungkin masuk. Nggak ada lampu. Gelap sama sekali.” kata Mas Totok.</p>
<p>Weh, keadaan memang sungguh gelap dan sunyi. Apalagi waktu Maghrib baru saja lewat. Suasana mencekam mulai terasa. Mas Totok mengajak kembali ke atas. Aih, padahal yang seram-seram begitu selalu membuatku tertantang. Tapi mengapa mesti gegabah, pikirku. Aku pun manda pada Mas Totok.</p>
<p>Berlima kami nongkrong di warung dekat pintu masuk. Menyeruput kopi, teh panas, dan singkong goreng yang mengepul-ngepul nikmat. Aku menyulut sebatang kretek, tapi mulutku rasanya tak nikmat sama sekali. Usai obrol-obrol, kami turun, kembali ke rumah. Perjalanan pulang menggunakan Katana sungguh gelap sama sekali.</p>
<p>Sesampai di rumah, rupanya malam itu Gunung Kelir kedatangan tamu lagi. Mas Suryaden dan Mas Senoaji kembali naik ke Gunung Kelir. Maka jumlah blogger dalam sidang terbuka forum Gunung Kelir pun bertambah. Total jenderal: tujuh orang blogger menyemut di sana. Mas Totok, Mas Ardyansah si Mantan Kyai itu, Mas Gajah Pesing, Kang Arai, Mas Suryaden, Mas Senoaji, dan tentu saja si Pengayam Kata. Acara? Majelis blogger berupa ha-ha hi-hi sembari <em>nge-net</em> tentu saja. Sableng tenan!</p>
<p>Atmosfir semarak, mesra, penuh kelakar, dan nge-blog! Weh, para blogger ini nggak bisa nggak nge-blog barang sesaat apa? Demikian juga aku. Tapi dengan sangat menyesal aku mesti pamit undur diri. Tubuhku belum bisa diajak begadang dan terjaga berlama-lama. Tanpa sadar aku tertidur dengan laptop masih dalam pelukan.</p>
<p>Aku merasa seri <em><a href="http://www.danielmahendra.com/category/the-waiting-is-almost-over/" target="_blank">The Waiting Is Almost Over</a></em> kali ini terasa datar dengan alur yang lamban. Terkesan sangat <em>diary</em> yang sesungguhnya tak begitu kusuka. Apa boleh buat, kondisi tubuh tak mengizinkan pikiran untuk berolah rasa secara lebih luas. Namun aku harus menuliskan pertemuan kali ini. Karena menulis bagiku adalah tugas. Baik tugas pribadi maupun tugas nasional (tsah!).</p>
<p>Pertemuan kali ini memiliki kesan tersendiri bagiku. Dalam perjalanan panjang ini, makin hari makin banyak kawan-kawan blogger yang kutemui. Orang-orang yang sebelumnya tak kukenal sama sekali kecuali melalui dunia maya.</p>
<p>Apakah perjalanan ini mesti tetap dilanjutkan, atau kembali pulang sejenak? Dalam kondisi sakit begini tiba-tiba aku merasa ingin berada di rumah. Apa sebetulnya yang hendak kucari? Petualangan? Pengalaman batin? Atau sekadar pemenuh catatan harian? Aku <em>ngungun</em> sendiri menghadapi pertanyaan-pertanyaan itu. Sayapku patah-patah di Gunung Kelir.</p>
<p>Namun demikian, ribuan terima kasihku pada Mas Totok, Mas Ardyansah, Mas Gajah Pesing, Kang Arai, Mas Suryaden, dan Mas Senoaji yang membuat pertemanan ini terasa nyata. Daftar nama sahabatku makin bertambah saja di setiap kota.</p>
<p>Di luar bulan mulai mengantuk. Malam minggu kali ini aku kembali menggigil di balik selimut.</p>
<p>Gunung Kelir, 15 Maret 2009.</p>
<p><img class="alignleft" src="http://penganyamkata.files.wordpress.com/2009/03/siluman.jpg?w=300&amp;h=225" alt="" /></p>
<p>gajah_pesing, Mantan Kyai, aRai, dan Penganyam Kata.<br />
Foto dipinjam dari blog <a href="http://www.arai.web.id/" target="_blank">Kang Arai</a>. Nuhun.</p>
<blockquote><p>sebebas camar engkau berteriak<br />
setabah nelayan menembus badai<br />
seikhlas karang menunggu ombak<br />
seperti lautan engkau bersikap<br />
.<br />
ya, sang petualang terjaga<br />
ya, sang petualang bergerak<br />
ya, sang petualang terkapar<br />
ya, sang petualang sendiri<br />
.<br />
(Kantata Takwa, Sang Petualang)</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.penganyamkata.net/2009/03/25/pangeran-berjanggut-dari-negeri-timur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>50</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sayapku Patah-patah di Gunung Kelir</title>
		<link>http://www.penganyamkata.net/2009/03/22/sayapku-patah-patah-di-gunung-kelir/</link>
		<comments>http://www.penganyamkata.net/2009/03/22/sayapku-patah-patah-di-gunung-kelir/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Mar 2009 15:17:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Daniel Mahendra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ceritera]]></category>
		<category><![CDATA[The Waiting Is Almost Over]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.danielmahendra.com/?p=1575</guid>
		<description><![CDATA[(The Waiting Is Almost Over: 25) Seorang blogger belum dianggap blogger sejati manakala belum menginjakkan kaki di Gunung Kelir (ucapan kelakar Daniel Mahendra pada Totok Kelir di puncak Kelir) Kalau bukan karena ‘Ferrari Hijau’ yang tampil demikian seksinya di sisi jalan, mungkin bis yang kunaiki sudah bablas entah ke mana. Titik turun yang Mas Totok [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>(<strong><a href="http://www.danielmahendra.com/category/the-waiting-is-almost-over/" target="_blank">The Waiting Is Almost Over: 25</a></strong>)</p>
<p style="text-align: center;"><em>Seorang blogger belum dianggap blogger sejati manakala belum menginjakkan kaki di Gunung Kelir (ucapan kelakar Daniel Mahendra pada Totok Kelir di puncak Kelir)</em></p>
<p>Kalau bukan karena ‘Ferrari Hijau’ yang tampil demikian seksinya di sisi jalan, mungkin bis yang kunaiki sudah bablas entah ke mana. Titik turun yang <a href="http://gunungkelir.com/" target="_blank">Mas Totok</a> rujukan sulit kutemukan. Maka begitu memasuki kota Purworejo, mataku sudah nyalang ke mana-mana. Hingga satu-satunya tanda ya si ‘Ferrari Hijau’ seksi itu yang tampil manis menggoda.</p>
<p>Sebetulnya sebutan ‘Ferrari’ bukan pengertian Ferrari dalam arti sebenarnya (baca <a href="http://www.danielmahendra.com/2009/03/12/kweni/" target="_blank">Kweni</a>). Mobilnya sendiri entah apa. Kalau aku tak salah dengar dari Mas Totok sih, Ford, dengan moncong mirip Mitsubishi. “Tapi kenapa peleknya Honda?” tanyaku protes. “Ha-ha-ha-ha!!” dan Mas Totok hanya tertawa.</p>
<p>Sekitar 50 meter sejak bisku berhenti, aku berjalan menuju si ‘Ferari Hijau’ yang nangkring di pinggir warung. Aku tertawa-tawa melihat lelaki berbadan gempal itu terbelalak atas kedatanganku.<br />
“Lho?! Turun di mana, Mas?! Kok tiba-tiba nongol dari sana? Aku nggak liat bisnya.”<br />
“Aku nggak naik bis, Mas. Aku langsung turun dari langit. He-he-he. Aku kan dikirim Tuhan untuk menjemput nyawamu!”<br />
“Ha-ha-ha-ha!” kami pun bersalaman. “<a href="http://sawali.us/" target="_blank">Pak Sawali</a> barusan SMS, tanya Mas Dan udah sampai apa belum. Nah, ini dia telpon lagi. Halo, Pak Sawali…” dan Mas Totok pun menerima telpon dari Pak Sawali.</p>
<p><span id="more-1575"></span></p>
<p>“Kemarin sebelum nelpon aku, Pak Sawali kan SMS aku, Mas Dan.”<br />
“SMS?”<br />
“Iya. Katanya; <em>jangan ngomong sama Mas Dan, ya. Aku bilang ke dia bis jurusan ke Purworejo sulit kalau sore. Biar dia nginap di rumahku dulu. Aku masih pingin ngobrol dengannya</em>. Gitu katanya.”<br />
“Huaaaaa…… Jadi kalian bersengkongkol rupanya!!”<br />
“Ha-ha-ha-ha…” tawa Mas Totok pun meledak.<br />
Rupanya aku memang habis dikerjai.</p>
<p>“Mau minum dulu?” tawar Mas Totok.<br />
“Ya. Es teh manis. Whew, panas banget! AC di bis tadi rupanya cuma basa-basi. Nggak terasa sejuk sama sekali.”<br />
“<em>Welcome to</em> Purworejo, Mas…”<br />
“He-he-he.”<br />
“Tapi nanti di rumahku hawanya sejuk sekali. Maklum, di gunung.”<br />
“Berapa sih ketinggiannya?”<br />
“Sembilan ratusan mungkin ada.”<br />
“Hah?! Lebih tinggi dari Bandung?! Yang bener aja? Sebelah mana sih?” tanyaku sembari memandang barisan gunung di pinggir halaman warung.<br />
“Itu Mas, Mas lihat gunung itu? Nah, di atas situ. Di situlah Gunung Kelir.”<br />
“Wow!!”</p>
<p>Tak lama kemudian kami sudah nangkring di atas ‘Ferrari Hijau’. Tujuan: kota. Kami berhenti di depan warung sate kambing. Acara: Santap siang! Minumnya? Tak bisa tidak: es teh manis!</p>
<p>“Apa rokok Mas Dan?”<br />
“Persediaanku masih ada, Mas.”<br />
“Apa itu?”<br />
“Rasanya nggak ada di toko ini. Tuh kan bener, nggak ada.”<br />
“Penggantinya apa kalo gitu?”<br />
“Weh, bisa diganti-ganti ya?”<br />
“Dalam keadaan kepepet, mana ada perokok yang nggak mulut asbak, Mas.”<br />
“Ha-ha-ha!”</p>
<p>Ini mutlak ditanyakan, karena menurut Mas Totok, jika sudah di atas, bakal kesulitan cari rokok. Namun yang membuatku heran, mengapa setiap hendak berkunjung ke rumah seseorang, si tuan rumah selalu menanyakan apa rokokku, dan hendak membelikan stok. Aku jadi teringat Pak Sawali. Beliau menanyakan hal yang persis sama padaku.</p>
<p>Usai santap siang, mobil pun meluncur, bersiap naik ke puncak Kelir. Di tengah sebuah perempatan kulihat sebuah patung berdiri dengan gagah rupawan.<br />
“Wage Rudolf Supratman?” tanyaku heran.<br />
“Iya. WR Supratman kan kelahiran Purworejo, Mas.”<br />
“Haih?”</p>
<p>Ya. WR Soepratman, pencipta lagu <em>Indonesia Raya</em> itu tercatat oleh umum lahir di Jakarta pada 9 Maret 1903. Bahkan oleh Presiden kelima RI diresmikan sebagai Hari Musik Nasional. Namun tanggal kelahiran ini sebenarnya masih diperdebatkan, karena ada pendapat yang menyatakan Soepratman dilahirkan pada 19 Maret 1903 di Dukuh Trembelang, Desa Somongari, Kecamatan Kaligesing, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Pendapat ini –selain didukung keluarga Soepratman– dikuatkan keputusan Pengadilan Negeri Purworejo pada 29 Maret 2007. Maka aku jadi mahfum atas kehadiran patung gagah di tengah perempatan tersebut. Hebat juga kota ini! batinku.</p>
<p>Setelah berputar-putar, melewati tanjakan terjal, belokan tajam, dan tikungan curam, sampailah kami di vila Gunung Kelir. Para blogger yang pernah ke mari menyebutnya ‘surga bandwidth’. Aku meloncat turun dan mengitari pandang. Wauuuwww…</p>
<p>Halamannya luas, posisinya tersembunyi dan menyendiri. Sejauh mata memandang: melulu pugunungan, pokok-pokok hijau, hutan, dan keaslian alam. Ini di mana, tanyaku dalam hati. Tiba-tiba kulihat sayap kiri rumah, weh, ini dia rupanya: deretan kandang kambing Etawa. Aku dipersilahkan masuk ruang tamu. Bertemu lagi dengan istri dan anak Mas Totok yang sudah sempat berjumpa di Jogja tempo hari.</p>
<p>Rupanya Mas Totok masih ada tamu yang telah lama menunggu. Ia mesti menemui.<br />
“Mana hotspotnya?” tanyaku tak sabar.<br />
“Lho, buka saja. Nggak pake password-password-an. Bebas sebebas-bebasnya!”<br />
Nyatanya memang iya. Tapi tiba-tiba aku terhenyak dan berteriak pada Mas Totok yang sedang menemui tamu.</p>
<p>“Maaasss….!!! Di sini nggak ada sinyal <em>handphone</em>?!!”<br />
“GSM? Jangan haraaappp…”<br />
“Huaaaaaaaaaaa……………” mati aku!<br />
“Ha-ha-ha-ha!” Mas Totok ngakak.</p>
<p>Tapi dalam hati aku berpikir: nggak ada sinyal? Weh, boleh juga! Berarti PDA-ku bisa istirahat sejenak dari dering telpon dan SMS yang bertubi-tubi. Hihihi… (jangan senang dulu, Dan, justru itulah yang membuatmu sulit mencari jalan pergi dari Gunung Kelir kelak!).</p>
<p>Setelah online sejenak, aku pikir-pikir: ngapain juga jauh-jauh ke puncak gunung kalau hanya untuk online internet. Aku mulai meninggalkan laptopku. Memandang ke luar. Weh, kenapa aku tidak mencoba berkenalan dengan kambing-kambing Mas Totok saja ya. Pasti seru!</p>
<p>Maka aku mendekati kandang kambing itu. Melihat tamunya penasaran ingin berkenalan dan menghadiri sidang para kambing, Mas Totok menghampiriku. Menerangkan jenis-jenis kambing, ciri-ciri, usia serta harga jualnya.</p>
<p>“Semahal itu harga jualnya?”<br />
“Iya.”<br />
“Kalau gitu lebih mantap melihara kambing Etawa ketimbang sapi?”<br />
“Tentu saja. Dan jangan lupa, kemungkinan berkembang biak antara kambing Etawa dibanding sapi dalam satu tahun. Mas udah mempelajari soal kambing Etawa di blog-ku kan?”<br />
“He-eh.” tukasku manggut-manggut. “Kalau dibanding melihara macan, untung mana, Mas?”<br />
“Kenapa nggak sekalian melihara gajah aja Sampeyan!!” lengos Mas Totok kesal karena tahu aku isengi.<br />
“Wakakakakkk!!!”</p>
<p>Pada sebuah kandang aku terkaget-kaget.<br />
“Wah Mas Tok, yang ini besar sekali?!!”<br />
“Itu belum satu tahun, Mas.”<br />
“What?!!! Tinggi sekali!!”<br />
“Iya. Mau kukeluarkan?”<br />
“Weh, boleh juga.”<br />
Dan Mas Totok mengeluarkan kambing itu dari kandangnya.</p>
<p>Weh, gagah juga kambing ini, batinku kagum. Dan aku mulai bermain-main dengan tanduknya. Namun dalam hati aku berpikir: nggak sopan banget kamu, Mbing, masa’ usia belum lagi setahun sudah bisa merangkak di angka 10 juta perak! Bagaimana jika sudah dewasa nanti? Betapa tidak sopannya kamu!</p>
<p>“Ada ratusan yang seperti itu, Mas.” ujar Mas Totok meringis. “Aku titip-titipkan.”<br />
“Whaaattt?!!!”</p>
<p>Duh, Mbing, batinku lagi dalam hati, ternyata ada yang lebih sableng dari kamu. Dan si kambing pun mengembik: mbeeekkk… (arti dalam bahasa kambing: “Siapa memangnya?” tanyanya penasaran). Ya majikanmu, Mbing. Sableng kuadrat dia! Masa’ punya kambing kayak kamu ratusan. Bukankah itu lebih tidak sopan lagi? Haha!</p>
<p>Setelah puas bermain dengan ‘Si Bung Etawa’, kami kembali ke dalam rumah (dengan tubuh bau kambing tentu saja!). Kali ini Mas Totok mengajakku ke ruang khusus. Kusebut khusus karena di ruang itu memang kerap dipakai Mas Totok untuk mengakses internet lengkap dengan <em>sound system</em> berkekuatan lumayan. Aku sempat mengernyitkan dahi.</p>
<p>“Untuk karaoke, Mas.” terang Mas Totok.<br />
“Karaoke? Lagunya?”<br />
“Ya langsung dari <em>youtube</em> aja.”<br />
“Whaatt?!!”</p>
<p>Sableng!! Aku mengumpat-umpat sableng!! Aku mungkin termasuk ketinggalan dibanding blogger-blogger lain yang lebih dulu pernah mampir ke Gunung Kelir. Tapi siapa pun yang pernah ke sini atau kembali dan kembali lagi ke sini tetap saja akan berkata: sableng!!</p>
<p>Istilah ‘surga bandwidth’ memang nyata adanya. Bagaimana tidak, di sini kekuatan aksesnya tidak main-main. Gambaran paling mudah adalah: orang membuka <em><a href="http://youtube.com/" target="_blank">youtube</a></em> seperti memutar DVD. Membuka <em><a href="http://imeem.com/" target="_blank">imeem</a></em> seperti memutar lagu di MP3. Cepat tanpa jeda dan kendala. Sableng!! Betul-betul sableng!! Dan Mas Totok hanya tertawa-tawa ngakak melihat ke-ndesoan-ku (jadi siapa sebetulnya yang ndeso? Dia atau aku? Hhh!).</p>
<p>Sore itu kita habiskan untuk bincang-bincang serta diskusi soal teknis penulisan. Soal paragraf yang mesti dipecah sehingga tidak menumpuk dan membuat ngos-ngosan pembaca. Soal penempatan tanda baca, juga soal menggelontorkan emosi di dalam sebuah tulisan. Nge-blog memang suka-suka. Tapi kalau sudah menjadi rutinitas, alangkah bagusnya kalau juga memperhatikan teknis penulisan.</p>
<p>Menjelang Maghrib aku merasa ada yang tak beres dengan badanku. Seluruh persendianku terasa pegal dan kepalaku berat. Gejala flu mulai menghampiriku. Setelah Isya jalanku mulai terseok-seok lemas.</p>
<p>Malam itu <a href="http://www.suryaden.com/" target="_blank">Mas Suryaden</a> dan <a href="http://wawawuwiwowa.blogspot.com/" target="_blank">Mas Senoaji</a> datang dari Jogja dan merapat ke Gunung Kelir. Mas Suryaden ini sudah pernah bertemu saat aku masih di Jogja tempo hari. Forum Gunung Kelir makin ramai dan semarak. Tapi kepalaku mulai limbung dan bicaraku sudah tak terarah. Aku merasa akan jatuh sakit di sini (hati-hati dengan <em>mindset</em> atau sugesti. Kalau kau berpikir sakit, niscaya kau akan betul jatuh sakit. Camkan itu!).</p>
<p>Malam setelah santap malam bersama, Mas Totok mengajak ke puncak Kelir di mana terdapat banyak tower di sana. Dengan penerangan lampu senter, berempat kami berjalan beriringan dalam kegelapan.</p>
<p>“Ini malam Jum’at kan?” bisikku pada Mas Totok di tengah tanjakan menuju puncak.<br />
“Weh, iya.”<br />
“Jum’at tanggal tiga belas pulak.” bisikku lagi.<br />
“Weh, iya-ya. Ada apa memangnya, Mas?”<br />
“Nggak. Nggak pa-pa.” bisikku buru-buru melengos dari dahan sebuah pohon.</p>
<p>Sesampai di puncak Kelir, weh, benar saja, di sana berdiri begitu banyak tower. Entah itu BTS perusahaan komunikasi, ISP, atau entah apa lagi, aku tak hapal. Di ujung kejauhan sana tampak kerlap-kerlip kota Jogja. Aku suka sekali istilah Mas Totok akan hal itu: “<em>Pating kemerlip!</em>” Ha-ha.</p>
<p>“Lanjutkan ceritamu tentang tower-tower ini, Mas Tok.”<br />
Dan Mas Totok mulai melanjutkan cerita tentang sejarah tower-tower ini kenapa bisa berdiri di sini. Di tanahnya.</p>
<p>“Jadi mereka kontrak sekian tahun begitu?” tanyaku.<br />
“Ya. Ada yang lima tahun, sepuluh tahun, macam-macam.”<br />
“Sedemikian mahal harga sewa setahunnya?”<br />
“Iya. Kalau mereka nggak mau nyewa di sini, ya nggak pa-pa kok. Cuma kabar buruknya adalah: tanah ini satu-satunya tempat strategis yang menghubungkan Jogja dan Jawa Tengah bagian barat. Tinggal pilih: tetap menyewa di sini atau membangun BTS mengelilingi pesisir pantai atau memutar gunung.”<br />
“Ha-ha-ha-ha!!! Ya pantas aja Sampeyan bisa libur selama setahun tanpa ngapa-ngapain.”<br />
“He-he-he-he. Tapi di samping itu, tahun ini aku memang ingin libur dari bisnisku, Mas.”<br />
“Yang kantor pusatnya di Jakarta itu?”<br />
“He-eh.”<br />
“Kenapa?”<br />
“Pemilu Mas. Riskan. Tau sendiri kan?”<br />
“Iya juga. Hmmm… tapi memang dahsyat tempat ini.”<br />
“Kenapa Mas Dan? Mau beli tanah di sini? Di sini beli tanah mudah lho…”<br />
“Mudah gimana?”<br />
“Gampang ngitungnya. Kuat-kuatan ngelempar batu aja. Sejauh batu itu jatuh, ya di situlah batas tanah Sampeyan. Murah lagi.”<br />
“Ha-ha-ha-ha. Oke, aku tertarik beli tanah di daerah sini kalo gitu.”<br />
“Serius?”<br />
“Iya. Serius. Tapi tanah yang di sini. Yang ada towernya ini. Ya yang kita injak ini. Gimana? Dijual nggak?”<br />
Dan Mas Totok sudah melengos <em>misuh-misuh</em>.<br />
Wakakakakkk! Mas Suryaden dan Mas Senoaji ikut ngakak.</p>
<p>Tak berapa lama kami pun kembali meluncur ke bawah. Jalanku sudah betul-betul limbung. Yang kubayangkan hanyalah empuknya kasur.</p>
<p>“Sampeyan <em>kekeselan</em>, Mas.” ucap Mas Suryaden perhatian.<br />
“Ya, terlalu cepat berpindah-pindah tempat dengan suhu dan kondisi yang berbeda-beda. Ditambah sering begadang kan?” timpal Mas Totok.<br />
“Istirahat, Mas.” tambah Mas Senoaji.<br />
Aku hanya meringis menahan nyeri.</p>
<p>Aku menyesal tak bisa menemani Mas Suryaden, Mas Senoaji, dan Mas Totok berbincang hingga larut malam. Aku juga menggerutui diri: kenapa mesti tumbang di saat baru saja tiba di Gunung Kelir.</p>
<p>Pandanganku mulai berkunang-kunang. Tubuhku menggigil dan badanku mulai terasa panas. Aku tak mau merepotkan Mas Totok lebih jauh. Kondisi ini akan kubawa tidur saja.</p>
<p>Di bawah selimut aku betul-betul merana…</p>
<p><img class="alignleft" src="http://penganyamkata.files.wordpress.com/2009/03/tower-gk1.jpg?w=180&amp;h=240" alt="" /></p>
<p>Gunung Kelir, 14 Maret 2009.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.penganyamkata.net/2009/03/22/sayapku-patah-patah-di-gunung-kelir/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>50</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Haks!</title>
		<link>http://www.penganyamkata.net/2009/03/20/haks/</link>
		<comments>http://www.penganyamkata.net/2009/03/20/haks/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Mar 2009 07:38:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Daniel Mahendra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ceritera]]></category>
		<category><![CDATA[The Waiting Is Almost Over]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.danielmahendra.com/?p=1574</guid>
		<description><![CDATA[(The Waiting Is Almost Over: 24) Bekerjalah bagaikan tak butuh uang. Mencintailah bagaikan tak pernah disakiti. Menarilah bagaikan tak seorang pun sedang menonton (Mark Twain) Ketika kutinggalkan kota Semarang, bumi Jawa bagian utara masih berkelakuan sama: gerah! Secara geografis, kondisi gerah kadang memang menganggu petualang karena terlampau sering berkeringat, sehingga kerap kehabisan pakaian di perjalanan. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>(<strong><a href="http://www.danielmahendra.com/category/the-waiting-is-almost-over/" target="_blank">The Waiting Is Almost Over: 24</a></strong>)</p>
<p style="text-align: center"><em>Bekerjalah bagaikan tak butuh uang. Mencintailah bagaikan tak pernah disakiti. Menarilah bagaikan tak seorang pun sedang menonton (Mark Twain)</em></p>
<p>Ketika kutinggalkan kota Semarang, bumi Jawa bagian utara masih berkelakuan sama: gerah! Secara geografis, kondisi gerah kadang memang menganggu petualang karena terlampau sering berkeringat, sehingga kerap kehabisan pakaian di perjalanan. Namun barangkali di situlah tantangannya; mencoba beradaptasi serta belajar mengenal setiap daerah yang disinggahi.</p>
<p>Perjalananku menuju kota Kendal ternyata lebih cepat dari perkiraan semula. 40 menit sejak berpisah dengan <a href="http://goenoeng.dagdigdug.com/" target="_blank">Goen</a>, sekonyong-konyong kulihat gerbang ‘Selamat Datang di Kota Kendal’. Weh, cepat sekali! Di atas bis jurusan Tegal aku kelimpungan mengontak <a href="http://sawali.info/" target="_blank">Pak Sawali</a>: mesti turun di mana?</p>
<p>Titik yang <a href="http://sawali.us/" target="_blank">Pak Sawali</a> berikan sudah jauh terlewati. Mau tidak mau naluri seorang petualang mesti ambil peran (tsah!). Akhirnya aku meloncat turun di Jalan Raya Barat. Sebuah halte di depan SD Langenharjo jadi pilihanku. Tidak gerah, cukup teduh, serta strategis untuk melihat ke segala arah. Setelah menginformasikan titik koordinat, Pak Sawali memintaku untuk menunggu, ia akan segera menjemput, tukasnya tak sabar.</p>
<p>Weh, padahal beliau masih ada pertemuan di Pendopo Kabupaten Kendal. Aku masih bisa menunggu kalau beliau suka. Ini hanya gara-gara bisku lebih cepat sampai dari perkiraan semula. “Nggak pa-pa, saya bisa izin pulang lebih dulu. Tenang saja.” ujarnya tersenyum mengabarkan.<br />
Akhirnya selembar <em>Koran Tempo</em> dan sebatang rokok pun jadi pilihanku.</p>
<p><span id="more-1574"></span></p>
<p>Tak berapa lama, tiba-tiba dari kejauhan terdengar sebuah sepeda motor membunyikan klaksonnya berulang-ulang dengar keras: TIN!! TIN!! TIN!! TIN!! Lantas berhenti begitu saja di depanku. Weh, ini kah Pak Guru Sawali Tuhusetya yang tersohor itu? Namun mengapa ia bersembunyi di balik helm? Atau jangan-jangan ini Pak Sawali palsu yang mencoba mengecohku? Weh, jangan macam-macam. Aku bisa pasang kuda-kuda, batinku bersiap.</p>
<p>Seketika lelaki itu membuka helmnya. Tersenyum meringis dan berseru: “Mas Dan!”<br />
Weh, ternyata pangeran berhelm ini betul-betul Pak Sawali Tuhusetya. Aku pun memburunya. Kami berpelukan. Mirip  Teletubbies di pinggir jalan. Kalau ada orang lain yang kebetulan melihat, bisa jadi mereka bakal membatin; mungkin yang baru berpelukan itu dua orang sahabat lama yang telah puluhan tahun tak bersua. Padahal sumprit: ini kali pertama kami berjumpa!</p>
<p>“Akhirnya ketemu juga, Mas Dan!”<br />
“Ya, Pak Sawali. Saya senang sekali dengan pertemuan ini.”<br />
“Ayo!” ajaknya naik sepeda motor.<br />
“Lho, siapa takut…” aku pun meloncat ke motornya.</p>
<p>Kami mengitari kota Kendal. Belum lima menit kami bertemu, aku sudah menarik sedikit kesimpulan: Pak Sawali orangnya sangat hati-hati. Untuk menyeberangi jalan dengan sepeda motor, ia tidak hanya menunggu kendaraan dari arah berlawanan betul-betul sepi. Tapi ia menunggu kendaraan betul-betul tidak ada sama sekali. Weh…</p>
<p>Kami memasuki jalan kecil, menerobos gang, keluar di sebuah jarak, lalu menyeberang jalan lagi. Dalam hati aku mulai bertanya; sebetulnya hendak dibawa ke mana aku ini? Kok berputar-putar tanpa kompas tujuan. Muncul pikiran nakal dalam hati: jangan-jangan aku mau diajak karnaval keliling kota siang-siang. Awas saja!</p>
<p>Oh rupanya tidak. Kami berhenti di depan sebuah warung nasi Padang (Weh, Padang lagi? Bukankah di Semarang sempat santap siang dengan Goen di warung Padang juga?).</p>
<p>“Kita makan dulu, Mas Dan.”<br />
“Wah, saya sudah makan, Pak Sawali. Baru saja, dengan Goen. Belum ada satu jam.”<br />
“Lho, sungguh?”<br />
“Potong kuku saya kalau saya bohong, Pak Sawali. Tapi kalau Pak Sawali mau makan, nggak pa-pa. Saya temani.”<br />
“He-he-he. Sebetulnya saya juga sudah makan.”<br />
“Lhaaa… Kalau begitu kita minum saja, Pak.”<br />
“Ya, kita minum saja.” ujarnya mencari meja yang cocok. “Lho, kok Mas Dan yang nawari? Yang jadi tuan rumah kan saya?”<br />
“Lho, iya-ya. Kok saya yang nawari? Pak Sawali dong yang nawari…”<br />
“Yo wis kita minum saja…” tukasnya tersenyum riang. “Mbak, Mbak…”</p>
<p>Maka dua gelas es teh manis mengguyur segar kerongkongan kami berdua. Ditemani kepulan asap rokok yang tak ada hentinya, kami berbincang. Seperti perkiraanku semula: Pak Sawali perokok berat. Tak syak lagi, siang itu kami menjelma menjadi sejoli yang klop. Puff! Puff! Puff!</p>
<p>“Jadi seri cerita perjalanan di blog itu memang sungguhan tho, Mas Dan?”<br />
“Aha! Saya datang ke kota Kendal, menggendong ransel, dan bertemu Pak Sawali. Tadi siang di Semarang, sekarang di Kendal, dan nanti sore akan ke Purworejo. Wajah yang saya pakai ini asli lho, Pak.”<br />
“Wah-wah, betul juga. Mirip dengan foto di blog.”<br />
“Nah, jadi bagaimana menurut Pak Sawali? Apa seri cerita perjalanan itu nyata?” tanyaku tersenyum.<br />
“Iya-ya. Tadinya saya kira cerita perjalanan itu fiktif belaka, Mas Dan.”<br />
Kami pun tertawa ngakak dan meneguk es teh manis lagi.</p>
<p>“Nampaknya malam ini Mas Dan mesti menginap di gubuk saya.”<br />
“Tapi saya sudah janji pada <a href="http://www.gunungkelir.com/" target="_blank">Mas Totok</a> untuk naik ke Gunung Kelir sore ini, Pak Sawali.”<br />
“Biar saya bicara pada Mas Totok nanti.”<br />
“Tapi…”<br />
“Mari.”<br />
Entah mengapa, seperti kerbau yang dicocok hidungnya, aku manda saja pada Pak Sawali. Di sisi lain, ajakan mampir ke rumah seorang guru, seorang penulis, serta seorang pegiat seni yang aktif seperti Pak Sawali malah membuatku penasaran.</p>
<p>“Apa rokok Mas Dan?” tanya Pak Sawali sembari melongok etalase warung.<br />
“Persediaan saya masih cukup, Pak Sawali.”<br />
“Sungguh?”<br />
“Ya, sungguh. Potong kuku saya kalau saya bohong.”<br />
Pak Sawali hanya meringis.<br />
Tak lama kami pun karnaval kota lagi. Hanya kali ini langsung ke rumahnya.</p>
<p>Suasana teduh, ayem, tentrem, dihembusi semilir angin yang datang berkesiur dari lahan persawahan yang membentang luas, aku meloncat turun dan mengitari pandang ke seluruh sisi rumah Pak Sawali yang bersahaja.</p>
<p>“Inilah gubuk saya, Mas Dan.”<br />
“Ini bukan gubuk, Pak Sawali. Ini istana kedamaian. Saya suka suasananya.”</p>
<p>Kami pun masuk. Aku diperkenalkan pada istri Pak Sawali, juga anak-anaknya. Beliau tampak <em>gopah-gapah</em> menyiapkan kipas angin. Satu-satunya alat yang paling kugemari selama perjalanan di belahan bumi Jawa bagian pesisir ini.</p>
<p>Tak berapa lama Pak Sawali sudah mengeluarkan kamera dan bersiap-siap minta tolong anaknya untuk memotretkan.<br />
“Sebentar, Pak Sawali, sebentar…”<br />
“Kenapa, Mas Dan?”<br />
“Begini, Pak. Setiap kali ada tamu blogger datang ke mari, selalu berfoto di ruang tamu. Sampai saya hapal sudut serta bentuk kursi ruang tamu Pak Sawali, meski belum pernah ke mari.”<br />
“Ha-ha-ha. Jadi?”<br />
“Bagaimana kalau kita cari suasana lain? Saya yakin banyak sudut rumah ini yang yang tak kalah menarik. Di pekarangan misalnya?”<br />
“Ah ya. Betul juga. Jeli betul Mas Dan ini.”<br />
“Waktu kecil saya ikut Pramuka, Pak.”<br />
Pak Sawali hanya mengernyit heran. “Pramuka?” bisiknya dalam hati.</p>
<p>Betul kan perkiraanku: pekarangan belakang rumah Pak Sawali tampak mengagumkan. Halamannya luas, dipagari bambu yang mengitari beberapa pohon yang meneduhkan. Jauh di belakang sana bentangan sawah terhampar luas. God! Bukankah ini menyenangkan. Aku selalu suka dengan hal seperti ini. Kalau aku jadi Pak Sawali, sudah kubagun sebuah gubuk bambu di pekarangan ini. Tempat mengaso, menulis, bermain gitar, atau melamun. Amboi, pasti sungguh menyenangkan!</p>
<p>Melihat gelagatku, Pak Sawali langsung mengajakku jalan-jalan ke pematang sawah.<br />
“Saya menemukan surga, Pak Sawali.”<br />
“Jangan berlebihan, Mas Dan.”<br />
“Lho, sungguh. Saya jarang sekali mendapati hal seperti ini. Saya tidak begitu suka tinggal di kota. Di sini begitu tenang.”<br />
“Ah, betul Mas Dan. Yang paling saya sukai dari daerah ini adalah kesunyian.”<br />
“Kesunyian?”<br />
“Ya. Tapi sayang, sawah-sawah itu kini sudah dipatok. Tuh lihat patoknya. Dalam kurun waktu lima tahun mendatang, sawah-sawah ini akan berubah menjadi perumahan.”<br />
“Oh…” tiba-tiba aku merasa sedih.<br />
Setelah bercerita tentang sesuatu yang berbau mistis di sudut sebuah jarak, kami kembali masuk ke dalam rumah.</p>
<p>Seharian itu waktu kami habiskan untuk berbicang, bercakap-capak, ngopi, merokok, mengupas jeruk, berbincang lagi, sembari guyonan. Tiba-tiba,<br />
“Mas Dan, saya kok nggak tenang kalau Mas Dan tetap akan melanjutkan perjalanan ke Purworejo sore ini.”<br />
“Kenapa, Pak Sawali?”<br />
“Saya khawatir bis ke arah Purworejo sudah jarang. Bisa malam hari Mas Dan sampai sana. Dan itu membuat saya tidak tenang.” sambil berkata begitu, tangan Pak Sawali memencet-mencet <em>handphone</em>-nya. Tampak sedang mengetik SMS.<br />
“Bukankah itu jalur selatan, Pak Sawali?”<br />
“Ya, tapi saya tau betul bis ke arah sana.”<br />
Pak Sawali membuatku deg-degan dan bimbang: tetap terus ke Purworejo, atau membuang sauh di Kendal dulu?</p>
<p>Tiba-tiba ia masuk ke dalam kamar, menelpon Mas Totok, dan berbicang di sana. Begitu keluar, beliau sudah cengar-cengir. Aku tersenyum curiga dibuatnya.<br />
“Ya, Mas Totok setuju. Besok pagi saja Mas Dan ke Gunung Kelir.”<br />
Weh, ada persekongkolan apa antara kedua blogger ini? batinku bertanya-tanya.</p>
<p>(esok siangnya, saat ketemu Mas Totok di Purworejo, kalimat pertama yang Mas Totok lontarkan adalah:<br />
“Sebelum nelpon aku, Pak Sawali kan SMS aku, Mas Dan.”<br />
“SMS?”<br />
“Iya. Katanya; jangan ngomong sama Mas Dan, ya. Aku bilang ke dia bis jurusan ke Purworejo sulit kalau sore. Biar dia nginap di rumahku dulu. Aku masih pingin ngobrol dengannya. Gitu katanya.”<br />
“Huaaaaa…… Jadi kalian bersengkongkol rupanya!!”<br />
“Ha-ha-ha-ha…” tawa Mas Totok pun meledak.)</p>
<p>Maka pada akhirnya aku betul-betul menginap di Kendal. Di kediaman Pak Sawali. Kami bicara banyak hal. Banyak topik. Banyak tema. Ada banyak hal yang mempertautkan kami berdua. Ada begitu banyak relasi nilai di antara kami yang membuat kami begitu asyik bercakap-cakap. Mulai dari blog, blogger, terutama soal sastra, sastrawan, serta bumi Indonesia raya dengan segala jagat isinya.</p>
<p>Kami mengupas nama-nama seperti Taufik Ismail, Pramoedya Ananta Toer, Saut Situmorang, Maman S. Mahayana, Mochtar Lubis, Zamawi Imron, Manifes Kebudayaan, Lekra, Teater Utan Kayu, sampai golongan blogger “berdarah” aristokrat.</p>
<p>Sampai mandi, maghrib, bersantap malam di ruang dalam, kami terus berbicang asyik di ruang tamu. Sarung, kopi, asap rokok, dan <em>blogwalking</em> terus menemani kami. Aku merasa kerasan di sini.</p>
<p>Tiba-tiba aku terhenyak!</p>
<p>Rasa-rasanya aku sudah pernah membayangkan suasana ini. Berbicang dengan Pak Sawali, ditemani kopi, rokok, dan sekaranjang topik pembicaraan yang tak pernah habis untuk kami kupas. Aku betul-betul pernah berada pada suasana seperti ini. Tapi di mana? Bukankah ini pertemuan pertama kami? Tiba-tiba aku merasa Pak Sawali bagaikan seorang sahabat lama yang sudah tahunan lamanya saling jumpa. Aku merasa cocok dengannya.</p>
<p>“Tulisan apa sih ini. <em>Posting</em> kok nggak jelas. Bikin bingung mau komen apa. Haks!” sungut Pak Sawali tiba-tiba.<br />
“Ha-ha-ha-ha…!!!”<br />
“Kenapa, Mas Dan?”<br />
“Rupanya Pak Sawali itu bisa guyon dan kesal juga.”<br />
“Lho, kenapa memangnya?”<br />
“Lha kalau saya perhatikan komen-komen Pak Sawali itu selalu serius dalam menanggapi tulisan blogger. Tapi ternyata begitu santai saat <em>blogwalking</em>. Bahkan ngakak-ngakak.”<br />
“He-he-he. Nge-blog itu <em>tombo</em> stres, Mas Dan.” (<em>tombo</em>: obat, dalam Jawa).<br />
Aku hanya tersenyum mendengarkan.</p>
<p>“Malah saya pikir, guru yang tidak nge-blog itu rugi sekali. Bayangkan, dia punya waktu yang cukup banyak di luar jam ngajar. Dengan nge-blog justru meningkatkan kualitasnya sebagai pengajar.”<br />
“Sudah banyak guru nge-blog di Kendal ini, Pak Sawali?”<br />
“Ya, kini sudah mulai banyak.<br />
“Lalu, ungkapan haks itu, bagaimana penjelasannya?”<br />
“Ha-ha-ha-ha…”<br />
“Haks!”<br />
“Ha-ha-ha-ha… Mas Dan ini. Itu kan ungkapan kekagetan saja, Mas Dan. Haks! Seperti orang tercekat gitu lah…”<br />
“Haks!”<br />
“Lho, kenapa Mas Dan?”<br />
“Kurang minum, Pak. He-he.”<br />
“Ah, Mas Dan ini. Saya kira kenapa.”</p>
<p>Hingga Pak Sawali mulai memasuki obrolan yang hampir selalu dilontarkan oleh setiap orang yang bertemu denganku.<br />
“Mas Dan ini kelahiran tahun berapa tho?”<br />
Dan aku menjawab tahun kelahiranku.<br />
“Wah, Mas Dan, tunggu apa lagi. Kenapa masih saja sendiri?”<br />
Aku hanya tersenyum.<br />
“Saya paham sih, setiap orang pasti punya argumen serta alasan yang kuat terhadap jalan hidupnya. Tapi dulu saya menikah karena ingat Rasul, Mas Dan.”<br />
“Ingat Rasul?”<br />
“Ya. Ingat usia Rasul saat menikah, maka saya putuskan untuk menikah saat itu juga.”<br />
“Weh, itu keputusan hebat, Pak Sawali. Saya selalu hormat pada orang-orang yang punya keberanian.”<br />
“Ah, tapi saya yakin, sudah ada seseorang di hati Mas Dan.”<br />
“Kenapa Pak Sawali seyakin itu?”<br />
“Terasa saja. Tapi Mas Dan belum juga memutuskan.”<br />
Tiba-tiba aku tercenung. Benarkah apa yang dikatakan Pak Sawali barusan?</p>
<p>“Pernikahan itu indah, Mas Dan. Malah bagi saya, belajar hidup sesungguhnya itu justru pada saat kita menikah. Belajar bertanggung jawab, terhadap istri, terhadap keluarga, terhadap hidup itu sendiri dengan segala ragam persoalannya.”<br />
Aku mencerna setiap kata yang keluar dari mulutnya. Secara gegabah aku menyimpulkan: ia tipe orang yang bahagia terhadap hidupnya.<br />
“Menikahlah, Mas Dan. Maka Mas Dan akan menemukan kebahagiaan jauh melebihi kebahagiaan yang Mas Dan kecap selama ini.”<br />
Kebahagiaan yang kukecap selama ini? Adakah selama ini aku bahagia? tanyaku dalam hati. Aku hanya mengangguk mengamini kata-kata Pak Sawali.</p>
<p>Kami terus berbicang sampai dini hari. Memelototi laptop masing-masing, tapi tetap saling melempar topik. Ketika jarum pendek sudah bertengger di angka satu, aku merasa sudah mesti pamit undur diri. Maklum, aku dalam perjalanan dan butuh stamina.</p>
<p>Di kamar, rupanya godaan laptop tak bisa kukibaskan. Aku masih meneruskan ngetik sampai beberapa halaman, hingga betul-betul tertidur sembari tanpa sadar memeluk laptop. Pak Sawali sendiri baru tidur jam 3 dini hari.</p>
<p>* * *</p>
<p>Esoknya aku bangun jam lima pagi, demi mengingat beliau seorang guru, pasti mesti pergi ke sekolah pagi-pagi sekali. Setelah Subuh di mushola, aku menyelusup ke belakang rumah seorang diri. Hari sudah mulai tampak. Aku berjalan-jalan ke pematang sawah. Weh, aku betul-betul jarang menikmati hal <em>nature</em> seperti ini. Pagi-pagi, merasakan kesiur angin pedesaan, ceriwis burung, seliweran capung, kecipak ikan, suara kodok, dan bau sawah. Ini surga, batinku tenang.</p>
<p>Kupejamkan mata beberapa saat. Mencoba meleburkan diriku dengan lingkungan sekitar. Begitu kubuka, tiba-tiba semua yang ada di depanku tampak bersahabat, akrab, dan mesra. Aku menyatukan diriku dengan mereka, dengan meminjam energinya. Segalanya tampak terasa kuat dan menjadi temanku. Ah, aku kerasan sekali di sini. Mungkin ini terdengar sentimentil. Tapi begitulah yang kurasakan.</p>
<p>Setelah hampir satu jam berjalan-jalan, aku kembali ke rumah untuk mandi dan berkemas. Aku tidak mau beliau jadi telat ke sekolah hanya karena ada tamu di rumahnya. Aku memperlekas jalanku. Tapi, olala! Lihatlah siapa yang sedang duduk santai, menyeruput kopi, dan mengepulkan asap rokok di ruang tamu?</p>
<p>“Ngopi dulu, Mas Dan…”<br />
“Lho, kok masih santai, Pak Sawali?”<br />
“Tenang… Hari-hari ini masih <em>try out</em> menghadapi UN.”<br />
Maka aku pun ikut duduk menyeruput kopi. Dasar!</p>
<p>Tak lama aku segera mandi dan mengepak ransel. “Kita jalan lagi, Kawan!” ajakku pada ranselku.<br />
Kini aku sudah siap. Pak Sawali masih mengajak sarapan. Usai sarapan, kukira kami akan segera berangkat. Tapi lagi-lagi beliau masih juga mengeluarkan sebatang rokok, dan menyulut dengan penuh ketenangan. Weh, aku jadi iri dibuatnya.</p>
<p>Hingga akhirnya kami betul-betul menyudahi sajak pagi ini. Pak Sawali membekaliku dengan sepucuk buku kumpulan cerpen karyanya, <em>Perempuan Bergaun Putih</em>. Aku pamit pada istrinya, mengucapkan ribuan terima kasih dan mulai meninggalkan rumah Pak Sawali. Rumah yang membuatku kerasan berada di dalamnya.</p>
<p>Sudah begitu banyak tempat yang menjadi pelabuhanku dalam perjalanan panjang ini. Tapi jarang ada rumah di mana aku dapat begitu kerasan dan merasa di rumah sendiri seperti di kediaman Pak Sawali ini. Aku senang dapat bermalam di sini.</p>
<p>Dengan motor Pak Sawali mengantarkanku ke jalan raya. Jalur Pantura. Aku hendak naik bis jurusan Semarang untuk terus melanjutkan perjalanan ke Purworejo.<br />
“Terima kasih untuk semuanya, Pak Sawali. Aku senang bisa bertemu.”<br />
“Sama-sama, Mas Dan. Terima kasih sudah mampir. Maaf kalau jamuannya kurang memuaskan.”<br />
“Oh, tidak sama sekali. Saya malah merasa senang sekali.”<br />
“Sampai bertemu!”<br />
“Sampai bertemu!”<br />
Sekali lagi kami berpelukan.</p>
<p>Ia seorang guru, seorang penulis, juga seorang pegiat seni yang aktif. Tapi jauh di dalam hatiku, ia bagaikan kakak laki-lakiku yang kuhormati sepenuh hati keberadaannya.</p>
<p>Dengan bis jurusan Cilacap, aku menuju Purworejo. Hendak naik ke Gunung Kelir. Mas Totok telah menunggu di sana. Haks!</p>
<p>Gunung Kelir, 13 Maret 2009 | 19.19 wib</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.penganyamkata.net/2009/03/20/haks/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>42</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Zippo</title>
		<link>http://www.penganyamkata.net/2009/03/18/zippo/</link>
		<comments>http://www.penganyamkata.net/2009/03/18/zippo/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Mar 2009 18:00:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Daniel Mahendra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ceritera]]></category>
		<category><![CDATA[The Waiting Is Almost Over]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.danielmahendra.com/?p=1573</guid>
		<description><![CDATA[(The Waiting Is Almost Over: 23) Tunduklah kepada Salmah, pergilah kemana ia pergi, dan ikuti angin takdir, bergeraklah kemana angin ini bergerak (ucapan Ahmad-Al Hadhrami kepada muridnya) Benda apa yang paling sering kalian pegang setiap hari? Handphone? Mouse? Kalkulator? Lipstick? Kacamata? Atau tak ada sama sekali? Apa pun jawaban kalian, hal itu tidak menentukan siapa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>(<strong><a href="http://www.danielmahendra.com/category/the-waiting-is-almost-over/" target="_blank">The Waiting Is Almost Over: 23</a></strong>)</p>
<p style="text-align: center"><em>Tunduklah kepada Salmah, pergilah kemana ia pergi, dan ikuti angin takdir, bergeraklah kemana angin ini bergerak (ucapan Ahmad-Al Hadhrami kepada muridnya)</em></p>
<p>Benda apa yang paling sering kalian pegang setiap hari? <em>Handphone</em>? <em>Mouse</em>? Kalkulator? <em>Lipstick</em>? Kacamata? Atau tak ada sama sekali? Apa pun jawaban kalian, hal itu tidak menentukan siapa dan bagaimana kalian. Tapi bagi seorang perokok sejati, mungkin benda paling sering ia pegang adalah: zippo!</p>
<p>Merk korek api legendaris tahan angin buatan Amerika itu memang tampak karismatik. Saking berkarismanya, tak hanya para perokok yang mengoleksinya. Orang yang tidak merokok pun banyak yang menjadi kolektor zippo.</p>
<p>Seorang perokok sejati akan memperlakukan zippo dengan sangat apik. Merawatnya dengan cermat serta mengandalkannya. Maka kehilangan zippo bisa diibaratkan kehilangan orang yang sangat dicintai. Entah karena tahun keluarannya, modelnya, atau karena pemberian seseorang yang sangat dikasihi. Lalu bagaimana kiranya jika seorang perokok betul-betul kehilangan zippo? Begini cerita ini dimulai.</p>
<p><span id="more-1573"></span></p>
<p>Sesampai di terminal Banyumanik, <a href="http://goenoeng.dagdigdug.com/" target="_blank">Goen</a> mengajak masuk ke sebuah warung makan. Di sana ia menyeruput <em>wedhang jahe</em>, sementara aku meneguk es teh manis. Sembari bercerita soal <a href="http://www.danielmahendra.com/2009/03/15/perjalanan-menggelikan/" target="_blank">perjalanan menggelikan</a> yang baru saja kualami, kami menyulut rokok bersama.</p>
<p>Usai ngobrol-ngobrol, dan hari makin larut, kami bersiap melanjutkan perjalanan. Kami berebut mengeluarkan dompet untuk membayar belanja kami.</p>
<p>“Biar aku aja.” ujarnya cepat mengeluarkan uang dua puluh ribuan.<br />
“Nggak-nggak, biar aku.” aku mengambil lembar uang miliknya, menyerahkan padanya, dan menggantinya dengan uangku.<br />
“Aku.”<br />
“Nggak, aku.”</p>
<p>Maka malam itu aku diantarnya ke rumah nenekku. Perjalanan tidak jauh, tapi cukup memakan waktu. Sesampai di tujuan, Goen langsung pamit pulang. Tak lupa kuucapkan ribuan terima kasih padanya.</p>
<p>“Mungkin besok pagi aku mau ke stasiun dulu. Mau lihat kemungkinan naik kereta malam.” ujarku.<br />
“Oke. Sepulang kerja berarti kita masih bisa ketemu. Besok sore aku ke sini lagi.”<br />
“<em>Suwun, Dab</em>.”</p>
<p>* * *</p>
<p>Esok harinya aku bangun jam 5 pagi untuk kemudian tidur lagi. Sampai jam 11 siang aku baru betul-betul bangun. Mau ke Stasiun Tawang kok rasanya malas. Belum lagi aku mesti mencuci pakaian. Ah, rasanya aku ingin istirahat dulu barang beberapa hari di Semarang. Perjalanan toh dapat dilanjutkan kapan pun aku mau. Yup. Kuputuskan besok saja aku mulai bergerak kembali.</p>
<p>Sore harinya, sepulang kerja, Goen datang. Ia mengenakan kemeja gelap bercorak yang dimasukkan ke dalam celana hitam berkain. Sepatunya hitam gagah. Tas pinggangnya melilit berwibawa. Gelang dan cincinnya tak pernah ditanggalkan. Kami membuka forum bakar rokok di ruang tamu.</p>
<p>“Ini kakekmu?” tanyanya ketika melihat foto sekumpulan orang memegang biola.<br />
“He-eh.”<br />
“Persis seperti yang kamu ceritakan di <em><a href="http://www.danielmahendra.com/category/the-waiting-is-almost-over/" target="_blank">The Waiting Is Almost Over</a></em>.”<br />
“Aku kan memang nggak mengkhayal.”<br />
Ia kembali mengamati ruang tamu.</p>
<p>Sesaat sebelum Goen datang, aku memang sedang duduk di ruang tamu, berhadapan dengan laptop. Ketika ia datang dan obrol sana sini, entah bagaimana awalnya, tiba-tiba ia bercerita tentang sejarah hidupnya, juga salah sebuah puzzle dalam kisah kehidupannya.</p>
<p>Aku terkelu mendengarnya. Aku terbata-bata mencari padanan yang pas untuk melukiskan kisahnya itu.<br />
“Tragis?” usulnya.<br />
“Ah, kamu lebih tau. Ya, tragis!”<br />
Ia hanya tersenyum. “Makanya aku pernah komen seperti itu kan di <em>The Waiting Is Almost Over</em>?”<br />
“Ya, aku ingat.” anggukku.</p>
<p>Tiba-tiba respekku terhadapnya menjadi lipat kali dari sebelumnya. Ia seorang lelaki, seorang suami, serta seorang bapak yang tahu betul akan tujuan hidupnya. Ia berani mengorbankan banyak hal demi keluarganya. Aku tidak tahu, pada siapa saja ia ceritakan kisah hidupnya itu. Dan itu bukan urusanku untuk mengetahuinya. Tapi satu hal pasti, aku memetik banyak pelajaran dari kisahnya itu. Sesuatu yang membuatku berkaca dan bertanya: apa yang sudah kamu lakukan, Dan?</p>
<p>“Kita cari makan?” ajaknya.<br />
“Weh, dari tadi aku pingin soto.”<br />
“Aku tau tempat yang enak.”<br />
Dan kami pun berangkat <em>nyoto</em>.</p>
<p>Sembari menyikat soto, kami ngobrol apa saja. Termasuk tertawa ngakak pada SMS yang jumpalitan masuk ke <em>handphone</em>-ku dan <em>handphone</em>-nya secara bergantian dari orang yang sama. Padahal isinya pun nyaris serupa.</p>
<p>“Nggak pingin ke <a href="http://sawali.info/" target="_blank">Pak Sawali</a>?” tanyanya sembari mulutnya mulai menggarap lumpia isi rebung.<br />
“Pak Sawali?”<br />
“Ya. Semarang-Kendal kan cuma sejam.”<br />
“Weh?”<br />
“Iya. Kalau memang mau, besok pagi kujemput sebelum kerja, terus kamu bawa saja motorku untuk ke Kendal. Ketemu Pak Sawali. Siang atau sore kan sudah bisa kembali ke Semarang lagi. Malamnya tetap bisa melanjutkan perjalanan dengan kereta malam.”</p>
<p>Dalam hati aku membatin: baik benar lelaki ini. Belum-belum sudah hendak meminjamkan kendaraannya untuk kugunakan ke luar kota. Padahal kami baru bertemu dua kali. Aku timang-timang tawarannya. Segera kukontak Pak Sawali.</p>
<p>Ketika aku hendak menyulut rokok lagi, ia mencegah, “Mau nyantai di sini terus apa? Nggak pingin dilanjut nongkrong di angkringan Simpang Lima?”<br />
“Lho, aku sih ayuk-ayuk saja. Lha kamu apa nggak pa-pa pulang malam?”<br />
“Weh, sudah jam berapa ini? Ta’ kira masih sore.”<br />
“Oalah…”<br />
“Istriku sih nggak pa-pa. Tapi anak-anak.”<br />
“Ya, lebih baik pulang. Aku sih nyantai.”</p>
<p>Maka kami mulai memanggil pelayan untuk minta dihitungkan belanja makan kami. Seperti biasa: kami berebut mengeluarkan dompet.<br />
“Biar aku.” sergaku cepat.<br />
“Aku!”<br />
“Nggak, aku.”<br />
“A-k-u.”</p>
<p>Tiba-tiba ia menyodorkan lima puluh ribuan pada si mas pelayan dan berkata: “Mas, ini diterima dulu saja. Baru hitung.”<br />
Aku ngakak sejadi-jadinya. Ada-ada saja caranya. Sialan!</p>
<p>Malam itu kami berpisah.</p>
<p>* * *</p>
<p>Pagi harinya tiba-tiba aku terbius oleh godaan <a href="http://gunungkelir.com/" target="_blank">Mas Totok</a> yang mengompori untuk mampir ke Gunung Kelir. Weh, rute apalagi ini? Setelah mengetahui Pak Sawali baru bisa ditemui selepas jam dua siang, aku malah berpikir sore harinya meluncur ke Purworejo dan naik ke Gunung Kelir. Weh-weh-weh, ini sungguh rute yang amburadul. Jogja-Semarang-Kendal-Purworejo. Selatan-utara-selatan. Apa-apaan ini!</p>
<p>Awalnya pagi itu aku sudah hendak melesat ke Stasiun Tawang untuk reservasi tiket kereta malam hari. Tapi tiba-tiba kuurungkan niat berkendara dengan kereta demi tergoda pesona Gunung Kelir. Goen ngakak sejadi-jadinya di telpon begitu kusodorkan peta baruku.</p>
<p>“Siang saat jam istirahat aku ke kantormu saja. Makan siang, lantas dari sana aku naik bis ke Kendal. Baru sore harinya tancap gas ke Purworejo, naik ke Gunung Kelir.”<br />
“Edaaannn…  Edaaannn…” ia masih juga ngakak.<br />
Aku tak kalah menggeleng-gelengkan kepala terhadap rute sablengku ini.</p>
<p>Jam 12.10 wib aku telah berada di depan halaman kantornya. Ia membawaku makan siang. Sebuah warung Padang jadi pilihan kami.</p>
<p>“Sore nanti tetap jadi ke Gunung Kelir?”<br />
“Yup!”<br />
“Sudah yakin dengan jalur bisnya?”<br />
“Harus yakin!”<br />
“Weh… Kenapa jadi berubah begini peta perjalananmu?”<br />
“Aku mencoba menikmatinya saja. Bukahkah hidup pun begitu, eh?”<br />
Ia hanya menggeleng-gelengkan kepala.</p>
<p>Usai santap siang, kebiasaan kami tak kunjung berubah: berebut mengeluarkan dompet!<br />
“Aku!” sergahnya cepat.<br />
“Nggak, aku!”<br />
“Aku!”<br />
“Sudahlah, aku saja.”<br />
“Pak, ini diterima saja dulu ya, Pak. Baru nanti dihitung.” ujarnya pada bapak penjual nasi Padang sembari menyodorkan selembar lima puluh ribuan.<br />
Dengan cepat kuambil lembar lima puluh ribu dari tangan si bapak, dan kumasukkan ke dalam saku kemeja Goen. “Itu untuk bayar es kelapa muda saja.”<br />
“Lima puluh ribu untuk bayar es kelapa muda <em>thok</em>?”<br />
“Hahaha. Iya!”<br />
“<em>Asem tenan!</em>”</p>
<p>Setelah urusan belanja makanan beres, Goen mengantarku ke halte bis. Jalur ini memang dilewati jalur bis jurusan barat. Ia memarkir motornya. Di halte aku sudah hendak mengeluarkan sebatang rokok. Ketika hendak menyulut, aku kebingungan mencari korek gasku.</p>
<p>Tiba-tiba ia menyodorkan zippo-nya. Dan aku mulai menyulut. Setelah rokokku nyala, kukembalikan zippo-nya.</p>
<p>“Bawa aja.” katanya.<br />
“Hei?”<br />
“Bawa aja.”<br />
“Nggak bisa. Ini benda kesayanganmu.”<br />
“Bawa aja.”<br />
“Aku nggak bisa bawa ini. Aku tau ini benda kesayanganmu.”<br />
“Sudahlah. Bawa aja.”</p>
<p>Kupandangi matanya, lalu beralih ke zippo, ke matanya lagi, kembali ke zippo lagi. Tampaknya ia bersungguh-sungguh dengan kata-katanya. Tak pantas aku menolak sesuatu yang diberikan dengan kesungguhan seperti itu. Aku mengangguk.</p>
<p>“Tapi tak ada sesuatu yang dapat kutinggalkan saat ini.” tukasku.<br />
“Sudahlah.”<br />
Aku terkelu.</p>
<p>Lagi-lagi kupandangi zippo itu. Kutimang-timang, kunyalakan, ting! terdengar suaranya nyaring, untuk kemudian kututup kembali. Akan kubawa ke mana pun aku pergi sobat, batinku dalam hati.</p>
<p>Dari kejauhan bis jurusan Tegal datang. Tanda lonceng perpisahan mulai berbunyi. Aku berdiri. Menggendong ranselku.</p>
<p>“<em>Thank’s</em> untuk semuanya.” tukasku menggenggam tangannya.<br />
“Sama-sama. Salam buat Pak Sawali.”<br />
“Yup.”</p>
<p>Aku meloncat ke atas bis menuju kota Kendal. Zippo itu tetap berada di dalam genggaman tanganku.</p>
<p>Gunung Kelir, 12 Maret 2009 | 23.32 wib</p>
<blockquote><p><em>cukup lama aku jalan sendiri<br />
tanpa teman yang sanggup mengerti<br />
hingga saat kita jumpa hari ini<br />
tajamnya matamu tikam jiwaku<br />
kau tampar bangkitkan aku, sobat</em></p>
<p>(Iwan Fals, Belum Ada Judul)</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.penganyamkata.net/2009/03/18/zippo/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>54</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perjalanan Menggelikan</title>
		<link>http://www.penganyamkata.net/2009/03/15/perjalanan-menggelikan/</link>
		<comments>http://www.penganyamkata.net/2009/03/15/perjalanan-menggelikan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Mar 2009 00:20:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Daniel Mahendra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ceritera]]></category>
		<category><![CDATA[The Waiting Is Almost Over]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.danielmahendra.com/?p=1572</guid>
		<description><![CDATA[(The Waiting Is Almost Over: 22) Apa perbedaan antara hambatan dan kesempatan? Perbedaannya terletak pada sikap kita dalam memandangnya. Selalu ada kesulitan dalam setiap kesempatan; dan selalu ada kesempatan dalam setiap kesulitan (J. Sidlow Baxter) Jogja siang hari masih menunjukkan wajah aslinya: panas! Kejadian berulang selalu menimpaku: kehabisan pakaian karena sering gonta-ganti kaus akibat kegerahan. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>(<strong><a href="http://www.danielmahendra.com/category/the-waiting-is-almost-over/" target="_blank">The Waiting Is Almost Over: 22</a></strong>)</p>
<p style="text-align: center;"><em>Apa perbedaan antara hambatan dan kesempatan? Perbedaannya terletak pada sikap kita dalam memandangnya. Selalu ada kesulitan dalam setiap kesempatan; dan selalu ada kesempatan dalam setiap kesulitan (J. Sidlow Baxter)</em></p>
<p>Jogja siang hari masih menunjukkan wajah aslinya: panas! Kejadian berulang selalu menimpaku: kehabisan pakaian karena sering gonta-ganti kaus akibat kegerahan. Bertiga (aku, <a href="http://imelda.coutrier.com/" target="_blank">Mbak Imelda</a>, dan Riku) menuju stasiun. Tujuan: hendak mencari kemungkinan berkendara dengan kereta.</p>
<p>Pagi harinya aku sudah mengontak <a href="http://ladangkata.com/" target="_blank">Lisa</a>, memintanya untuk menemaniku kalau-kalau aku mesti menggunakan kereta malam menuju kota selanjutnya. Ia memang sedang berada di Jogja sejak Minggu pagi. Pada Minggu sore sebetulnya kami sempat bertemu di Ambarukmo Plaza.</p>
<p>“Iyaaa… kutemani sampai puaass!!” teriaknya tertawa-tawa di telepon.<br />
“Apanya yang sampai puas?”<br />
“Ngobrolnyaaa…”<br />
“Hahahaha! <em>Thank’s</em>, Lis.”</p>
<p><span id="more-1572"></span></p>
<p>Seperti sudah kuperkirakan: aku kehabisan tiket kereta ke jurusan manapun. Ini memang akhir dari masa libur panjang. Tiket habis tuntas. Weh! Mesti ke mana aku hari ini? Tidak mungkin terus bertahan di Jogja. Akhirnya aku mengontak <a href="http://goenoeng.dagdigdug.com/" target="_blank">Goen</a>. Minta izin pada hulubalang Semarang untuk bertandang ke kotanya. Paling tidak aku bisa istirah dulu di sana. Ia tertawa-tawa sembari mengabarkan bahwa ia sedang bersama <a href="http://www.tembang-pejalan.co.cc/" target="_blank">Jamal eL Ahdi</a>.</p>
<p>“Ya udah, ke Semarang aja. Kami tunggu.”<br />
“Oke!”</p>
<p>Maka aku mengantar Mbak Imelda dan Riku ke Bandara Adi Sucipto, Jogja. Di stasiun Riku sempat naik becak yang kemudian kami foto. Ia memang belum pernah naik becak karena selama enam tahun usianya, praktis tinggal di Jepang. Dan aku yakin, di Jepang tidak ada becak model Jogja</p>
<p>Sesampai di bandara, setelah Mbak Imelda <em>check-in</em>, kami menyeruput kopi di warung Dunkin’ Donuts. Tak lama seorang blogger dari Kalimantan datang. <a href="http://theafdhal.blogspot.com/" target="_blank">Mas Afdhal</a> namanya. Ia memang sudah mengikat janji dengan Mbak Imelda untuk bertemu di bandara. Ia muncul bersama kekasihnya.</p>
<p>Tepat pukul 14.30 wib Mbak Imelda dan Riku hendak <em>boarding</em>. Kami mengucapkan salam perpisahan. Aku berlutut di depan Riku.</p>
<p>“Kita berpisah di sini, Riku.”<br />
Ia memandangku gulana. “Kenapa nggak ikut ke Jakarta, Om?” tanyanya dalam Bahasa Indonesia.<br />
“Nggak, Riku. Om masih harus melanjutkan perjalanan. Jangan sedih. Kita bakal ketemu lagi kan?” ia pun mulai tersenyum kembali. “Peluk Om.” pintaku. Dan ia memeluk Omnya. Sebuah kecupan lembut mendarat di pipiku dari bibirnya yang mungil. Aku mengacak-acak rambutnya.</p>
<p>Aku berdiri. Memandang Mbak Imelda. “<em>Thank’s</em> untuk semuanya.” ujarku.<br />
Ia tersenyum dan membalas pelukanku. Kukecup kedua pipinya. “<em>Take care</em>, Danny.” tukasnya.<br />
Aku mengangguk. “Kita akan bertemu lagi?”<br />
“Di Tokyo!”<br />
“Hah?!”<br />
“<em>Who knows</em>, Danny.”<br />
“Yeah!” aku tersenyum. “Tetap bersentuhan.”<br />
“<em>I will</em>.”</p>
<p>Mereka pun masuk. Kulihat Riku terus melambai-lambaikan tangannya dari dalam. Ah, anak itu… Betapa manis sikap serta tutur katanya. Di setiap kesempatan ia selalu mencari-cari cara agar aku menggendongnya. Kalau di tempat tidur, ia selalu berguling-guling denganku hingga tertidur. Kalau menonton TV, ia selalu tidur tengkurap di punggungku.</p>
<p>Aku masih mematung di plaza bandara. Hari masih lagi siang. Ke mana sekarang? tanyaku dalam hati berulang-ulang. Langsung ke Semarang, atau?</p>
<p>Ouw!! Bukankah aku punya janji dengan Lisa untuk bertemu di Toko Buku Toga Mas? Meski aku tak jadi naik kereta malam dan memutuskan melanjutkan perjalanan ke Semarang menggunakan bis, tapi dengan Lisa aku sudah terlanjur mengikat janji. Maka aku pun meluncur ke Jalan Gejayan.</p>
<p>Sesampai di Toga Mas aku langsung menaiki tangga menuju Djendelo Café, tempat yang ditawarkan Lisa untuk bertemu karena ada <em>hotspot</em> di sana. Begitu mengakhiri anak tangga terakhir, sudah kulihat tampangnya yang cengar-cengir melihat kehadiranku.</p>
<p>Di sana sudah duduk <a href="http://yainal.web.id/" target="_blank">Yainal</a>, yang kemarin pada pertemuan di Ambarukmo Plaza bertemu denganku juga. Tak lama <a href="http://lamaoyan.wordpress.com/" target="_blank">Yosef</a>, teman Lisa, pun bergabung. Suasana bertambah hangat dan mesra. Aku memesan <em>Es Mangoen Widjaja Loear Biasa</em>. Di bawah nama menu itu tertulis: <em>Es Teh Hijau yang menyehatkan</em>. Ada-ada saja, tapi menarik. Berempat kami berbincang soal novel, tema serta teknis penulisan, perjalanan dengan kereta, urban kota, film, blog, blogger, komunitas, dan nasi kucing.</p>
<p>Perempuan ini menarik, batinku. Ia bisa berbicara apa saja, terutama pada soal-soal yang kusebutkan di atas. Ia bisa serius, tapi bisa juga ngakak sembari misuh. Pembawaannya terasa tampil apa adanya dan tidak dibuat-buat. Berbicang dengannya membuatku merasa menjadi diri sendiri. Aku sendiri baru-baru saja mengenal dirinya. Lewat apa? Tentu saja lewat blog.</p>
<p>Saking asyiknya berbicang, aku sampai lupa: jarum pendek sudah mulai merembet di angka lima.<br />
“Haih!! Sudah jam lima! Aku mesti ke Semarang!” seruku kaget.<br />
“Whaaa… Bis jurusan Semarang sudah habis mungkin.” ucap Yainal tertawa-tawa.<br />
“Perasaanku kok nggak enak ya. Aku merasa malam ini kamu bakal tetap di Jogja.” Lisa menakut-nakuti.<br />
“Weeehhh… Jangan gitu, Lis. Sudah terlalu lama aku di Jogja.” aku pun mulai mengemasi ranselku.</p>
<p>“Gini aja.” potong Lisa. “Kamu tetap kejar aja ke terminal. Nanti kalo’ bisnya memang habis, kamu tau ke mana mesti mencari kami. Kami akan tetap berada di tempat yang sama kok sampai malam hari. Haha!”<br />
“Sialan! Nggak. Aku mesti ke Semarang, apa pun yang terjadi.”<br />
Yainal tambah ngakak. Yosef hanya senyam-senyum.</p>
<p>“Aku antar naik motor ke terminal, Mas.” Yosef menawarkan diri.<br />
“Serius nih?” baik betul dia, batinku dalam hati.<br />
“Iya.”<br />
“Oh, bener-bener.” timpal Lisa. “Nanti kalo’ bisnya habis kamu kan bisa balik lagi ke sini sama Yosef.”<br />
“Woi! Jangan didoain gitu dong…”<br />
“Hahahaha!!” mereka tertawa berbarengan.</p>
<p>Aku pun bergegas meninggalkan Toga Mas. Lisa mengantar sampai area parkir.<br />
“<em>Thank’s</em>, Lis. Pertemuan ini menyenangkan sekali.”<br />
“Yup. Sama-sama. Ati-ati, Dab!” ia balas menggenggam tanganku.<br />
Dan dengan Yosef aku melesat ke terminal Jombor.</p>
<p>Sesampai di terminal Yosef berseru menunjuk sebuah bis patas AC jurusan Semarang: “Masih ada tuh, Mas, bisnya.”<br />
“Oke!” jawabku bersemangat.</p>
<p>Setelah mengucapkan ribuan terima kasih pada Yosef, aku meloncat ke dalam bis. Meletakkan ransel, mengirim SMS pada Lisa bahwa aku dapat bis. <em>Rezekimu kuwi!</em>, balasnya lewat SMS pula. Maka aku pun duduk tenang di dalam bis. Tapi tak berapa lama, terjadilah awal dari perjalanan yang menggelikan itu:</p>
<p>Seorang lelaki muda datang menghampiriku. “Maaf Mas, tempat duduknya nomor berapa ya?”<br />
What?!!! aku terbelalak!<br />
“Nomor tempat duduk? Lho, kok pakai nomor tempat duduk? Bukannya biasanya bayar tiket di atas?”<br />
“Iya, Mas. Tapi kalau Minggu atau hari libur, mesti pesan dulu.” ujarnya tersenyum.<br />
Aku pun masih bisa membalas senyumnya sembari berkata, “Makasih informasinya, Mas.” dan aku mencelat berlari ke P.O. bis tersebut yang letaknya hanya sekitar 20 meter dari tempat parkir bis.</p>
<p>Tapi apa yang terjadi? Ketika kutanya pada petugas di P.O. bis tersebut, katanya:<br />
“Tempat duduk sudah habis, Mas. Ini bis terakhir.” ujarnya kalem tanpa dosa.<br />
Mati aku!</p>
<p>Weh, mesti naik apa aku? Tetap ke Semarang? Bertahan di Jogja? Kembali ke Surabaya? Atau… terpikir untuk bergeser ke Purworejo, naik ke Gunung Kelir tempat kediaman <a href="http://gunungkelir.com/" target="_blank">Mas Totok</a>. Weh, aku berada di persimpangan. Aku mesti berpikir cepat. Hari makin redup.</p>
<p>Seorang petugas P.O. menyarankan aku naik bis ekonomi.<br />
“Ada sampai malam?”<br />
“Ada Mas. Nggak banyak, tapi masih ada.”<br />
Aku tersenyum girang.</p>
<p>Dengan berlari kecil aku menuju pintu terminal. Kulihat ada sebuah bis ekonomi yang sedang kampanye mencari calon penumpang. Aku pun meloncat ke dalamnya. Tempat duduk masih banyak. Aku memilih duduk di dekat jendela. Penumpang makin penuh. Tak lama bis pun bergerak.</p>
<p>Di sebelahku duduk seorang perempuan muda usia tiga puluhan. Kutanya padanya:<br />
“Mbak mau ke mana?”<br />
“Magelang, Mas.”<br />
“Tapi bis ini terus sampai Semarang kan?”<br />
“Oh, nggak Mas. Kalau sudah jam segini biasanya hanya sampai Magelang.”<br />
WHAAATTT???!!! Mati aku!</p>
<p>“Terus, gimana melanjutkan perjalanan ke Semarang, Mbak?”<br />
“Oh, nanti turun di Magelang. Ganti bis jurusan Semarang.”<br />
“Pasti ada?”<br />
“Pasti ada, tapi mungkin ya mesti nunggu dulu beberapa saat.”<br />
Weh! Makin menggelikan saja ini, batinku. Tapi paling tidak aku mulai dijalari rasa tenang. Bis terus bergerak menunaikan tugasnya sebagai angkutan berbadan besar.<br />
“Makasih, Mbak.”</p>
<p>Sesampai di Magelang jarum pendek sudah bertengger di angka tujuh malam. Aku mesti mengeluarkan 7000 perak untuk jarak 41 km Jogja-Magelang. Aku turun bersama beberapa penumpang senasib tapi belum tentu sepenanggungan. Bis jurusan Semarang belum menunjukkan batang hidungnya. Seorang mahasiswa Universitas Diponegoro mengajakku duduk di pinggir terminal, untuk menunggu bis bersama.</p>
<p>Di tengah terminal kulihat Espass hijau metalik terparkir manis. Beberapa orang yang hilir mudik di sekitarnya berteriak-teriak menawarkan Espass: “Semarang! Semarang! Semarang!”</p>
<p>Jujur saja aku sempat tergoda untuk naik si Espass, karena bisa lebih cepat sampai ke Semarang. Tapi di samping banyak ibu-ibu dan perempuan muda yang berebut tempat di Espass, kupikir aku sudah menjalin tenggang rasa dengan si mahasiswa Undip itu (<a href="http://sawali.info/" target="_blank">Pak Sawali</a> menyebutnya: persekutuan senasib!). Jadi kuputuskan untuk tetap menunggu bis jurusan Semarang yang entah kapan datangnya (inilah akibatnya jika menjalin persekutuan senasib di perjalanan).</p>
<p>“Mereka lebih membutuhkan, Mas.” katanya menunjuk penumpang yang berebut naik Espass. “Cowok mah gampang lah. Sampai jam berapa pun masih oke kan, Mas?”<br />
Aku tersenyum kecut menganggukkan kepala. Namun dalam hati aku berpikir: kalau datang terlampau larut, kasihan juga nenekku nanti, mesti kubangunkan malam-malam.</p>
<p>Jarum jam terus bergerak. Setiap ada bis masuk terminal, kami melongok-longok: gerangan bis jurusan mana yang baru masuk itu. Tapi tetap saja, bis jurusan Semarang tak kunjung datang. Kami menunggu dan menunggu…</p>
<p>Hingga beberapa saat berselang, masuklah sebuah bis jurusan Semarang yang tampak sarat penumpang. Kami segera menyongsong. Siapa yang mengira: tak ada tempat duduk lagi. Tapi, kalau tak naik, bakal jam berapa dapat bis jurusan Semarang. Weh, akhirnya bis sarat penumpang itu kami naiki juga.</p>
<p>Setelah berada di atas bis, aku menoleh ke belakang. Lho, kemana si mahasiswa Undip tadi?! Kok menghilang? heranku dalam hati. Weh, kalau dia cari tempat duduk di bagian depan, bakal kukutuk dia jadi kodok. Inilah akibatnya jika menjalin persekutuan senasib di perjalanan.</p>
<p>Siapa yang mengira, setelah berada di atas bis (tentu saja dalam keadaan berdiri), bis tidak juga jalan selama hampir 1 jam. Weh, penumpang lain sudah banyak yang menggerutu. Padahal isi bis sudah penuh sesak. Apalagi yang mesti ditunggu? Sausana makin bertambah panas.</p>
<p>Waktu terus bergeser. Hingga akhirnya bis betul-betul bergerak menuju Semarang. Itu pun masih juga ditambahi penumpang yang diangkut di sepanjang perjalanan. Aku tetap berdiri di tengah, dalam keadaan gerah, hanya memberikan ruang pada tubuh bergerak terbatas, dan tak bisa mengangkat telpon maupun melihat SMS.</p>
<p>Aku mesti membayar 11 ribu perak untuk berdiri selama dua jam sepanjang 75 km jarak Magelang-Semarang. Tapi untunglah Goen SMS, mengabarkan agar turun saja di Banyumanik. Nanti diantar ke Semarang, katanya. Aku baru dapat tempat duduk di Ungaran, yang tinggal beberapa saat saja ke Banyumanik. Apa artinya…</p>
<p>Begitu kernet berteriak Banyumanik, aku berdiri dan meloncat turun. Goen ngakak mendengar ceritaku di sebuah warung di seberang terminal. Waktu sudah tepat tengah malam.</p>
<p>Kendal, 11 Maret 2009 | 22.22 wib</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.penganyamkata.net/2009/03/15/perjalanan-menggelikan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>33</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kweni</title>
		<link>http://www.penganyamkata.net/2009/03/12/kweni/</link>
		<comments>http://www.penganyamkata.net/2009/03/12/kweni/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Mar 2009 11:04:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Daniel Mahendra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ceritera]]></category>
		<category><![CDATA[The Waiting Is Almost Over]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.danielmahendra.com/?p=1571</guid>
		<description><![CDATA[(The Waiting Is Almost Over: 21) Ketika satu pintu tertutup, pintu lain terbuka, namun terkadang kita melihat dan menyesali pintu tertutup tersebut terlalu lama hingga kita tidak melihat pintu lain yang telah terbuka (Alexander Graham Bell) Awalnya aku tak begitu memperhatikan soal rencana beberapa kawan blogger yang hendak bertemu di Jogja pada bulan Maret 2009. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>(<strong><a href="http://www.danielmahendra.com/category/the-waiting-is-almost-over/" target="_blank">The Waiting Is Almost Over: 21</a></strong>)</p>
<p style="text-align: center;"><em>Ketika satu pintu tertutup, pintu lain terbuka, namun terkadang kita melihat dan menyesali pintu tertutup tersebut terlalu lama hingga kita tidak melihat pintu lain yang telah terbuka (Alexander Graham Bell)</em></p>
<p>Awalnya aku tak begitu memperhatikan soal rencana beberapa kawan blogger yang hendak bertemu di Jogja pada bulan Maret 2009. Aku hanya tahu dari sebuah <em>postingan</em> seorang blogger: bahwa ada pertemuan di Jogja. Dan kalau tak salah kira, rasanya itu pertemuan para blogger perempuan. Weh, apa iya aku mesti datang ke pertemuan para perempuan? Lagi pula perjalananku sudah mulai bergerak ke timur. Mesti kah aku kembali ke Jogja?</p>
<p>Namun tiba-tiba aku berubah pikiran. Aku tak merasa rugi dengan perjalananku yang sudah kutempuh hingga ke timur jika mesti kembali ke Jogja. Satu alasan utama aku balik arah adalah karena kekagetanku mengetahui bahwa di acara tersebut <a href="http://goenoeng.dagdigdug.com/" target="_blank">Goen</a>, seorang blogger asal Semarang yang akhir-akhir ini cukup mesra denganku, mengabarkan hendak hadir.</p>
<p>“Kamu mau datang?!” tanyaku terbelalak di <em>handphone</em>.<br />
“Sepertinya begitu.”<br />
“Ke acara kopdar para perempuan itu?!”<br />
“He-eh.”<br />
“Olala!!”</p>
<p><span id="more-1571"></span></p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" src="http://penganyamkata.files.wordpress.com/2009/03/kweni2.jpg?w=450&amp;h=342" alt="" /></p>
<p>Ini menarik, batinku. Sudah lama aku ingin sekali bertemu Goen. Aku merasa cocok dengannya. Obrolan kami selama ini di YM maupun melalui telepon sungguh kurasakan mesra. Jarang sekali kutemui ada kawan baru yang dapat begitu akrab, baik isi obrolannya, celetukannya, hingga ejekan-ejekannya. Tanpa pikir panjang Goen sudah kumasukkan ke daftar kawan baikku.</p>
<p>Dan lagi, rupanya acara di Jogja tersebut tidak sekadar kopdar-kopdar biasa. Selain Goen, alasan terkuatku untuk kembali ke Jogja adalah kerangka acara yang dirancang para blogger itu untuk mengunjungi anak-anak asuhan <a href="http://surauinyiak.wordpress.com/" target="_blank">Uda Vizon</a> dan istrinya di desa Kweni, Bantul. Weh, ini yang menarik! Maka kuputuskan: kembali ke Jogja.</p>
<p>Kudengar ada tiga orang blogger asal Surabaya yang hendak turut serta ke Jogja. Tapi dari ketiganya mereka pun berangkat sendiri-sendiri. <a href="http://tantikris.wordpress.com/" target="_blank">Mbak Tanti</a> dengan kereta Sancaka pada Jum’at sore, <a href="http://jeunglala.com/" target="_blank">Lala</a> dengan bis pada Jum’at malam, dan <a href="http://noengkiprameswari.blogspot.com/" target="_blank">Noengki</a> menggunakan kereta Argo Wilis pada Sabtu pagi. Aku? Kuputuskan untuk ke Jogja sendiri dan diam-diam.</p>
<p>Selain <a href="http://imelda.coutrier.com/" target="_blank">Mbak Imelda</a>, si penggagas acara, sudah berada di Jogja bersama Riku anaknya, barangkali akulah peserta luar kota pertama yang lebih dulu sampai di Jogja (tak perlu kusebutkan hari apa aku tiba lebih dulu di Jogja pada tulisan ini). Yang aku tahu, Mbak Imelda memang hendak memperkenalkan anaknya pada Indonesia. Mereka mengunjungi Kraton Jogja, Borobudur, dan beberapa tempat lainnya. Tapi seperti niatku semula: aku akan datang dengan diam-diam.</p>
<p>Siang sekitar pukul setengah dua aku sudah nongol di <a href="http://www.villahanis.com/" target="_blank">Vila Hani’s</a> di Jalan Palagan. Di sana kujumpai Mbak Imelda dan Riku, Goenoeng, Mas Arif, Lala, <a href="http://soerjahrhezra.blogspot.com/" target="_blank">Hesra</a>, Noengki, Tyan, dan Ipi. Kulihat mereka sedang berkemas-kemas menyiapkan bingkisan untuk dibawa ke desa Kweni, kediaman Uda Vizon. Maka inilah kali pertama aku bertemu dengan Goen.</p>
<p>“<a href="http://www.gunungkelir.com/" target="_blank">Mas Totok</a> jadi datang?” tanyaku pada Goen yang langsung menggelar forum bakar rokok bersama Mas Arif di teras vila.<br />
“Jadi, tapi rada telat katanya. Soalnya istrinya mau ke Jogja juga. Tapi ke acara Sekaten. Paling dia datang saat kita sudah pulang dari Desa Kweni.”<br />
Maka kami pun bersiap-siap berkemas menuju desa Kweni.</p>
<p>Dengan dua mobil kami meluncur ke sana. Aku dan Riku semobil dengan Goen serta Mas Arif. Satu hal yang menarik, baik di perjalanan pergi maupun pulang dari Desa Kweni, tak habis-habisnya kami membahas senyum manis seorang blogger yang sempat hadir di vila.</p>
<p>“Sayang sudah punya anak ya&#8230;”<br />
“Padahal anaknya bisa dititipkan.”<br />
“Lho, punya anak itu nggak masalah. Kan <em>buy one get one free!</em>” sambungku ngakak.<br />
“Hahahaha!!” dan kami pun terus membahas senyum manis si <em>Miss</em> tersebut.</p>
<p>Sampai di Desa Kweni, kami disambut seorang pria dengan senyum maha ramah.<br />
“Itu pasti Uda Vizon.” tebakku dari balik kaca mobil.<br />
“Iya. Cukup mirip dengan foto di blog-nya.” Goen mengakuri.<br />
Kami pun turun dari mobil.</p>
<p>Uda Vizon berperawakan sedang. Kulitnya lebih gelap ketimbang foto di blog-nya. Namun senyumnya sungguh ramah dan mudah diajak akrab. Entah mengapa, aku selalu bisa memperkirakan dengan blogger mana aku merasa akan bertemu. Hal seperti itu terkadang tidak diniatkan. Perasaan seperti itu terbit begitu saja di hati. Dan Uda Vizon adalah salah satunya.</p>
<p>Beriring-iringan kami menuju ke sebuah tempat di mana telah berkumpul lebih dari 60 anak asuhan Uda Vizon dan istrinya, Mbak Icha. Begitu memasuki ruangan besar berdinding kayu itu, aku merasakan atmosfir yang luar biasa. Ini bukan sekadar kopdar, batinku. Ada sesuatu yang diperbuat. Tak sekadar berkumpul, makan, serta cengar-cengir tanpa kompas tujuan.</p>
<p>Selama dua jam kami berkumpul bersama puluhan anak. Menyanyi, menari, menggambar, bercerita, tertawa, belajar menggosok gigi, bagi-bagi bingkisan dan foto-foto. Suasana sungguh menggembirakan. Meski hujan sempat tumpah begitu deras dari langit, acara tetap berlangsung ceria namun bersahaja.</p>
<p>Tak lama, suasana bertambah meriah dengan kehadiran <a href="http://tutinonka.wordpress.com/" target="_blank">Ibu Tuti Nonka</a> dan <a href="http://dyahsuminar.com/" target="_blank">Ibu Dyah Suminar</a>. Aku dapat merasakan betul arti kebersamaan dari orang-orang yang awalnya hanya dipertautkan oleh dunia maya ini. Sesuatu yang kadang tak pernah bisa kita perkirakan sama sekali. Maka usai acara, kami mampir ke kediaman Uda Vizon.</p>
<p>Ketika hari beringsut maghrib, kami pun berpamitan dengan Uda Vizon dan istrinya untuk kembali sejenak ke vila sebelum malam harinya memenuhi undangan bertandang ke kediaman Ibu Dyah Suminar. Mandi-mandi dan dandan (untuk blogger perempuan tentu saja. Hehe!). Di perjalanan, Si <em>Miss</em> kembali menjadi topik utama pembicaraan hangat.</p>
<p>“Eh, Mas Totok jadinya nunggu di mana?” tanyaku.<br />
“Katanya dia parkir di dekat Hotel Hyatt.” jawab Goen.<br />
“Gimana kita tau itu mobil Mas Totok atau bukan?” Mas Arif penasaran.<br />
“Gampang.” sela Goen. “Kalau dia bawa <a href="http://www.kambingetawa.org/" target="_blank">kambing Etawa</a>, berarti itu Mas Totok.”<br />
“Hahahaha!!!”<br />
“Eh, jangan-jangan saat kita temui, dia sedang ngobrol dengan si <em>Miss</em> di mobil.” kelakarku.<br />
“Hahaha! Awas aja!” sambung Mas Arif dan Goen berbarengan.</p>
<p>Begitu melewati Hotel Hyatt, kami melihat sebuah mobil yang cukup akrab di mata kami. Mobil itu terlampau sering tampil di blog Mas Totok. Sehingga, meski belum pernah melihat, kami cukup familiar dengan warnanya. Kami sepakat menyebutnya dengan ‘Si Ferrari Hijau’.</p>
<p>Kami pun menepi. Aku keluar menyongsong si Ferrari. Sontak si pemilik Ferrari keluar dari gerobak, eh, dari kandangnya. Siapa nyana, si pemilik Ferrari alias si ganteng Gentho Kelir itu memelukku.</p>
<p>“Mas Dan!” serunya. “Akhirnya kita ketemu. Sudah lama aku pingin ketemu.” ujarnya melepaskan pelukan. Aku membalasnya dengan cengar-cengir.<br />
“Aku ikut di mobilmu aja, Mas Tok. Vilanya sudah dekat kok.”<br />
“Lho, nggak pa-pa nih naik mobil jelek?”<br />
“Jelek? Oh, nggak pa-pa, Mas. Aku biasa naik mobil jelek kok.”<br />
“Asem!”<br />
“Hahaha!! Lagian Ferrari yahud begini kok dibilang jelek tho, Mas…”</p>
<p>Maka kami pun berkumpul di vila. Satu per satu mandi dan berganti pakaian. Tak lama kulihat Mbak Tanti datang dengan pakaian hitam-hitam. Dandanannya manis. Senyumnya menawan. Pembawaan dirinya berwibawa. Senang sekali bisa bertemu dengannya lagi. Ia bagaikan kakak perempuanku dalam arti sebenarnya. Aku selalu merindukan sosok seperti dirinya.</p>
<p>Tak dinyana, si <em>Miss</em>, blogger yang sejak perjalanan ke Desa Kweni hingga balik lagi ke vila menjadi pembicaraan tiga pria, sekonyong-konyong kembali datang ke vila. Maka kini, si <em>Miss</em> bukan lagi pembicaraan tiga pria dengan kedatangan Mas Totok. Hehehe.</p>
<p>Malam itu kita bersantap malam, berbincang-bincang, berkelakar, bernyanyi, dan berfoto-foto di kediaman Ibu Dyah Suminar, lengkap bersama Mbak Imelda, Mbak Tanti, Goen, Mas Arif, Mas Totok, Lala, Noengki, Ibu Tuti Nonka, serta Uda Vizon dan istrinya. Suasana terasa hangat dan akrab.</p>
<p>Siapa nyana, rupanya acara kumpul-kumpul santap malam tersebut tak hanya terjadi di kediaman Ibu Dyah Suminar. Acara santap malam pun berlangsung di Balai Melayu, atas undangan Ibu Tuti Nonka. Rupanya ada seorang blogger lagi yang ikut serta, <a href="http://ceritahesty.blogspot.com/" target="_blank">Mbak Hesti</a>, perempuan Minang yang sedang mengambil S2 di Jogja. Ia kukenal sudah beberapa kali komen di tempatku (siang harinya <a href="http://suryaden.blogspot.com/" target="_blank">Mas Anto</a> pun sempat bertandang ke vila).</p>
<p>Di tempat ini kurasakan tak kalah menarik. Karena <a href="http://melayuonline.com/" target="_blank">Balai Melayu</a> adalah sebuah tempat atau lembaga yang <em>concern</em> di bidang pengkajian serta pendokumentasian berbagai hal yang berhubungan dengan Melayu se-dunia. Aku mendapatkan asupan bervitamin tentang budaya Melayu di sana.</p>
<p>Aku yakin, acara di Jogja ini sudah banyak yang mem-<em>posting</em> baik dalam bentuk tulisan, sajak,  maupun foto-foto. Tulisan ini sekadar usaha pendokumentasian sebuah catatan perjalanan dengan teman-teman baru yang lahir dari dunia maya. Bahwa kita pernah ada!</p>
<p>Tak luput kuucapkan ribuan terima kasih pada seluruh kawan-kawan yang membuat acara ini menjadi berarti. Khususnya Imelda Emma Veronica Coutrier-Miyashita.</p>
<p>Dirgahayu semuanya!</p>
<p>Semarang, 10 Maret 2009 | 16.16 wib</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.penganyamkata.net/2009/03/12/kweni/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>41</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pangeran Berkuda dan Putri di Menara</title>
		<link>http://www.penganyamkata.net/2009/02/23/pangeran-berkuda-dan-putri-di-menara/</link>
		<comments>http://www.penganyamkata.net/2009/02/23/pangeran-berkuda-dan-putri-di-menara/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Feb 2009 12:16:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Daniel Mahendra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ceritera]]></category>
		<category><![CDATA[The Waiting Is Almost Over]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.danielmahendra.com/?p=1568</guid>
		<description><![CDATA[(The Waiting Is Almost Over: 20) Dongeng Cinderalla, Putri Salju, Putri Tidur, Pretty Woman tamat pada upacara, tukar cincin, dentang lonceng, atau ciuman pada balkon. Tak ada dongeng tentang perkawinan itu sendiri (Ayu Utami, Si Parasit Lajang) Tengah malam sepulang dari toko buku Toga Mas Surabaya, kemudian terdampar di alun-alun Sidoarjo, aku mengetik semalaman hingga [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>(<strong><a href="http://www.danielmahendra.com/category/the-waiting-is-almost-over/" target="_blank">The Waiting Is Almost Over</a>: 20</strong>)</p>
<p style="text-align: center;"><em>Dongeng Cinderalla, Putri Salju, Putri Tidur, Pretty Woman tamat pada upacara, tukar cincin, dentang lonceng, atau ciuman pada balkon. Tak ada dongeng tentang perkawinan itu sendiri (Ayu Utami, Si Parasit Lajang)</em></p>
<p>Tengah malam sepulang dari toko buku Toga Mas Surabaya, kemudian terdampar di alun-alun Sidoarjo, aku mengetik semalaman hingga Subuh hari di rumah Sasongko. Aku berkejaran dengan <em>deadline</em> yang telah ditetapkan penerbit. Ada naskah yang mesti kuselesaikan. Beginilah caraku mengongkosi perjalananku: menulis.</p>
<p>Tulisan kukirim via e-mail. Honor dikirim via rekening bank. Sementara aku terus menggelandang dari satu kota ke kota lainnya. Kantorku adalah laptop. Bahan tulisanku adalah apapun yang kutemui di jalanan. Perpustakaanku adalah alam. Dan semangatku adalah senyum perempuan (tsah!).</p>
<p>Selepas Subuh, pukul setengah enam aku sudah tergolek pasrah. Mataku seperti diganduli batu sebesar gunung. Aku terlelap memeluk laptop yang masih menyala. Rasanya aku bakal tidur panjang setelah seharian kemarin tiba di Surabaya belum lagi sempat istirahat sama sekali.</p>
<p>Baru saja memejamkan mata sekitar setengah jam, aku merasa pintu kamarku ada yang mengetuk. Huh. Tidak bisakah aku memiliki diriku barang sejenak? Dengan sempoyongan aku berjalan ke pintu. Dengan mata masih terkantuk-kantuk kulihat Reni, istri Sasongko berdiri di depan pintu kamar menyodorkan teh manis.</p>
<p>Jantungku berdegup!</p>
<p><span id="more-1568"></span></p>
<p>Aku menggosok-gosok mata. Kupastikan lagi wajahnya. Betul, dia Reni, istri sahabatku Sasongko. Tapi yang membuatku berdegup adalah pakaian yang dikenakan Reni. Ia menyodorkan teh manis hanya menggenakan <em>lingerie</em> dengan buah dada yang menyembul di permukaan. Duh Gusti, sarapan pagi model apa lagi ini… Tiba-tiba naluri lelakiku mengatakan agar aku berhati-hati.</p>
<p>“Udah bangun, Dan?” sapanya masih di depan pintu.<br />
“He-eh.”<br />
“Aku bikinkan teh manis.”<br />
“Mestinya aku bisa bikin sendiri nanti. Makasih.” jawabku sambil menerima sodoran mug warna putih mengkilat.</p>
<p>Reni masih berdiri di depan pintu. Aku jadi salah tingkah dibuatnya. Duh, kenapa kami jadi mematung begini. Aku tak bisa memandang wajahnya.<br />
“Mas Sas baru aja berangkat. Katanya mendadak ada yang mesti dia urus di kantor. Tadi dia mau bilang sama kamu, tapi khawatir membangunkan. Jadi dia pergi duluan. Katanya nanti mau nelpon.”<br />
“Oh…” jawabku bingung.</p>
<p>Kami terdiam lagi. Untuk menutupi kebisuan, aku meletakkan mug berisi teh manis itu ke atas meja samping pintu. Tanpa diduga Reni malah menerobos masuk ke dalam kamar.<br />
“Ren?” ujarku kaget.<br />
Ia menubrukku. Memeluk dan menciumi wajahku. Aku terbelalak.<br />
“Aku menginginkan kamu, Dan.” ujarnya dengan nafas memburu.</p>
<p>Aku mendorong bahunya. Ia malah balik mendorong tubuhku hingga aku terjerembab ke ranjang. Kini ia tepat berada di atasku.<br />
“Ren!!!” teriakku.<br />
“Jangan bilang kamu nggak mau, Dan!”<br />
“Reni!!!” aku mendorong tubuhnya. Ia masih mengejarku.</p>
<p>Kutepis tangannya. Aku berhasil berdiri dan melepaskan tubuhnya. Kulihat nafasnya berkejaran dengan dada naik turun.<br />
“Apa-apaan kamu, Ren?! Aku sahabat suamimu!!”<br />
“Aku menginginkan kamu!”<br />
“Gila!!”<br />
“<em>Please</em>, Dan…”<br />
“Cukup, Ren!! Aku mau kamu keluar dari kamar!!”<br />
“Ini rumahku, Dan.”<br />
“Kalau gitu aku yang keluar dari kamar!!”<br />
“Dan…”</p>
<p>Aku menggebrak pintu kamar. Di ruang tengah aku bingung mesti melakukan apa. Aku masih belum percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Aku berada pada posisi yang membingungkan. Berada di rumah sahabatku sendiri bersama istrinya. Duh, kenapa Sas tidak ngomong ke aku kalau mau pergi pagi. Aku mulai mengumpat-umpat.</p>
<p>Reni mengejarku ke ruang tengah.<br />
“Jangan kamu permalukan aku dengan menolakku, Dan.”<br />
“Gila kamu!!” mataku menghujam tajam ke matanya.<br />
“Aku menginginkan kamu.”<br />
“Aku sahabat Sas, Ren!! Sahabat suami kamu!!”<br />
“Lalu, kalo kamu sahabat suamiku, kenapa memangnya?”<br />
“Kamu pikir aku bisa mengkhianati sahabatku sendiri, ha?!”<br />
“Toh yang kamu hadapi aku, bukan suamiku.”<br />
“Sudah gila kamu, Ren!!” aku ngeloyor kembali ke kamar.</p>
<p>Rencanaku buyar sudah. Pagiku rusak dengan kejadian ini. Aku memutuskan mengemasi ransel dan segera pergi dari rumah ini. Tanpa mandi, tanpa meneguk teh, tanpa basa-basi, kuseret ransel ke luar kamar. Mengenakan sepatu gunung dan bersiap pergi. Reni menahanku di pintu ruang tamu.</p>
<p>“Aku bisa teriak bahwa kamu hendak memerkosa aku, Dan!”<br />
“Teriak saja!! Biar semua tetangga dengar!! Aku lebih baik dipukuli orang ketimbang mengkhianati sahabatku sendiri!!”<br />
“Kamu betul-betul tidak menginginkan aku, Dan?”<br />
“Nggak!!!”<br />
“Dan…?!!”</p>
<p>Kugebrak pintu ruang tamu. Dengan paksa kubuka kuncinya. Aku bergegas meninggalkan rumah itu secepatnya. Setengah berlari aku menuju jalan raya. Kustop sebuah taksi. Dengan nafas masih berkejaran aku masuk dan membaringkan tubuh di jok belakang.</p>
<p>“Ke mana, Mas?”<br />
“Jalan saja, Pak.”<br />
“Jalan ke mana?”<br />
“Manyar, Pak.”</p>
<p>* * *</p>
<p>Aku mengetuk pintu sebuah kamar di lantai dua. Terasnya tampak rimbun dinaungi pohon mangga yang seringkali berbuah. Dulu aku sering memanjat pohon mangga itu. Atau naik ke genting menenteng gitar, bernyanyi-nyanyi di sana sambil menikmati kota Surabaya di malam hari.</p>
<p>Sebiji kepala muncul di balik pintu. Matanya merah sehabis bangun tidur. Ia tercekat melihat penampilanku yang kusut belum mandi.<br />
“Dan?! Kenapa kamu?” tanya Ayu kaget.</p>
<p>Aku ngeloyor masuk. Melepas sepatu gunung dan menggeletakkan ransel di pojokan kamar. Tanpa banyak bicara aku langsung menelungkupkan badan di ranjangnya.</p>
<p>Ayu masih heran. Ia mendekatiku. “Sesuatu terjadi, Dan?”<br />
“He-eh.” jawabku masih tertelungkup dengan mata terpejam.<br />
“Kamu butuh istirahat?”<br />
“Banget.”<br />
“Mau kubikinkan teh manis?”<br />
“Nanti aja.”<br />
“Ya udah, kamu tidur aja dulu. Aku mau mandi terus ke Toga Mas. Mau ngecek penjualan semalam. Pintu nggak kukunci.”<br />
Aku sudah tak mendengar kalimat terakhir Ayu. Aku terlelap.</p>
<p>* * *</p>
<p>Siang hari matahari tampak malu-malu, tapi tidak mendung. Aku terbangun dan memastikan sedang berada di mana gerangan. Rupanya di kamar Ayu. Aku ngeloyor ke kamar mandi. Sehabis segar mencuci muka, kubuka kulkas. Weh, tak ada apa-apa selain air mineral dingin, sebatang coklat dan sebiji jeruk. Pemalas betul anak ini, batinku tersenyum geli. Aku menyikat jeruk yang dingin kesepian.</p>
<p>Aku sedang merokok di teras ketika Ayu datang dengan dua bungkus nasi Padang yang menggugah selera makan.<br />
“Sudah bangun, Dan? Yuk kita makan.” ajaknya dengan senyum berseri-seri.<br />
Aku mengambil alih dua bungkus nasi Padang itu, membukanya, dan menghirup aroma nasi yang mengepul-ngepul tertaburi wangi bumbu yang khas. Hmmm…</p>
<p>Sehabis makan kami sama-sama merokok di teras.<br />
“Kenapa kamu tadi pagi?&#8221; tanya Ayu.<br />
Sebetulnya aku ragu menceritakan kejadian pagi tadi. Karena ini menyangkut istri Sasongko, sahabatku. Tapi Ayu pun sahabatku. Akhirnya aku memilih diam. Ayu mengerti perasaanku. Ia tidak mendesakku. Ia tahu, sesuatu telah terjadi pada diriku.</p>
<p>“Kamu sudah mengontak Sas?”<br />
Aku menoleh kepadanya. Memincingkan mata, lantas tersenyum. “Sudah. Tadi di taksi. Dia heran, kok pagi-pagi aku sudah pergi dari rumahnya.”<br />
“Yang penting kamu sudah mengontak Sas.”<br />
Aku kembali menoleh ke arahnya. Tersenyum penuh arti. “Kamu selalu tau apa yang bergejolak di pikiranku.”<br />
“Arwah kita satu, darah kita satu. Yang terluka padamu, berdarah padaku.” ucapnya tersenyum menyitir sajak Sutardji Calzoum Bachri.<br />
Aku mengacak-acak rambutnya.</p>
<p>“Kamu memang mesti menikah, Dan.” tukasnya tiba-tiba.<br />
“Heeeiii…”<br />
“Biar nggak ada lagi godaan.”<br />
“Godaan? Ha-ha-ha. Ada-ada saja.” tiba-tiba aku teringat kata-kata <a href="http://tantikris.wordpress.com/" target="_blank">Mbak Kris</a>; <em>belum tentu kalau kau menikah lalu tidak akan ada lagi godaan. Masih mungkin saja terjadi. Dalam </em>setting<em> yang berbeda</em>.</p>
<p>“Paling tidak hidupmu tenang.” lanjut Ayu lagi.<br />
“Hei-hei-hei, kamu bisa ngomong kayak gitu. Bagaimana dengan kamu sendiri, eh? Umurmu sudah tiga-tiga!”<br />
“Ini konteksnya kan kamu.”<br />
“Kamu dululah yang nikah… Ntar aku baca sajak di hari pernikahanmu.” ujarku ngakak.</p>
<p>Kulihat ia menarik nafas. “Rasanya aku sudah tak memikirkan lagi soal pernikahan.”<br />
“Aneh.”<br />
“Sampai sekarang aku masih membayangkan diriku seperti seorang putri yang ditawan di menara. Aku mengimpikan seorang pangeran berkuda lewat dan datang menyelematkanku.”<br />
“Ha-ha-ha-ha…”<br />
“Ternyata selama tiga puluh tiga tahun, tak pernah ada seorang pangeran berkuda lewat.”<br />
“Jadi siapa saja yang lewat?” aku menahan tawa.<br />
“Tukang sayur, tukang tahu tek-tek, tukang lontong balap…”<br />
“Dodol!” aku sudah ngakak tanpa perisai. “Sama kalo gitu.” sambungku.<br />
“Apa?”<br />
“Aku membayangkan diriku adalah pengeran berkuda.”<br />
“Ha-ha-ha-ha…”<br />
“Tapi setiap aku mendapati menara, tak kulihat ada seorang putri yang ditawan di atasnya.”<br />
“Kenapa?”<br />
“Karena sebelum aku datang, putri-putri itu sudah menungguku di bawah menara.”<br />
“Huuu&#8230;”<br />
“Tak pernah ada putri yang betul-betul kuselamatkan. Jadi aku pergi lagi.”<br />
“Dasar! Sok laku kamu!”<br />
“Terus begitu setiap ketemui menara.”<br />
“Gayamu, Dan… Dan…”</p>
<p>Setelah kami puas merokok di batang kesekian,<br />
“Nyeberang ke Madura yuk?” ajakku pada Ayu.<br />
“Siang ini?”<br />
“He-eh.”<br />
“Ngapain?”<br />
“Jalan-jalan aja. Pingin lihat dermaga. Lihat laut. Nggak ada acara kan?”<br />
“Ayok.” Ayu tersenyum girang. “Mandi dulu sana!”<br />
“Oke…”</p>
<p>Aku pun beringsut, membokar ransel, mengeluarkan alat mandi, dan bernyanyi-nyanyi riang. Ah, sahabat memang telaga yang tak pernah habis untuk diteguk airnya. Ia pengobat hati yang dahaga, penyejuk jiwa-jiwa yang kekeringan. Siang ini aku sudah bisa melupakan kejadian pagi tadi.</p>
<p>23 Februari 2009 | 18.02 wib</p>
<p><em>makanlah denganku, tidurlah di alas tidurku<br />
kubasuh tanganmu, hingga mewangi<br />
pakailah bajuku, pilih mana yang kau suka<br />
sematkan cincinku, di seluruh jarimu</p>
<p>teman baikku berkata gunakan aku<br />
tak perlu kurisau membayar pamrih yang tersirat</p>
<p>minumlah airku, habiskan<br />
hisaplah rokokku, sedalam dalam dalamnya<br />
makanlah denganku, tidurlah di alas tidurku<br />
kubasuh tanganmu, hingga mewangi</em></p>
<p>(<a href="http://www.imeem.com/biru/music/DNSbBFcb/nugie_teman_baik/" target="_blank">Nugie, Teman Baik</a>)<br />
<em> </em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.penganyamkata.net/2009/02/23/pangeran-berkuda-dan-putri-di-menara/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>50</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Persinggahan dan Melacur</title>
		<link>http://www.penganyamkata.net/2009/02/22/persinggahan-dan-melacur/</link>
		<comments>http://www.penganyamkata.net/2009/02/22/persinggahan-dan-melacur/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Feb 2009 01:53:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Daniel Mahendra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ceritera]]></category>
		<category><![CDATA[The Waiting Is Almost Over]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.danielmahendra.com/?p=1567</guid>
		<description><![CDATA[(The Waiting Is Almost Over: 19) Tergantung dari kerja yang keras. Tanah yang tandus, udara yang ganas, dan bibit yang baik selalu berserah pada manusia yang berani mengubah. Dan tanpa kerja keras, jangan harap panen yang bagus (Sobron Aidit, Panen yang Bagus) Toko Buku Toga Mas mulai tampak ramai. Musik berdentang-dentang. Ayu terlihat sibuk. Kubiarkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>(<strong><a href="http://www.danielmahendra.com/category/the-waiting-is-almost-over/" target="_blank">The Waiting Is Almost Over</a>: 19</strong>)</p>
<p style="text-align: center;"><em>Tergantung dari kerja yang keras. Tanah yang tandus, udara yang ganas, dan bibit yang baik selalu berserah pada  manusia yang berani mengubah. Dan tanpa kerja keras, jangan harap panen yang bagus (Sobron Aidit, Panen yang Bagus)</em></p>
<p>Toko Buku Toga Mas mulai tampak ramai. Musik berdentang-dentang. Ayu terlihat sibuk. Kubiarkan dia. Aku bergabung dengan kawan-kawannya. Lagi-lagi bertemu teman-teman lama, seniman-seniman Surabaya. Kemudian Ayu mendatangiku. Menyuruh Sasongko duduk. Sementara ia sendiri sibuk memperkenalkan setiap tamu yang datang kepadaku.</p>
<p>Banyak sekali yang dapat kukenal. Aku menarik kesimpulan: jaringan pertemanan Ayu luar biasa luasnya. Terutama kalangan seniman Surabaya. Aku terlibat diskusi dengan beberapa orang. Sangat mengasyikan! Ayu pernah bilang: tinggal di Surabaya memang bikin gerah. Selain secara geografis berada di pesisir, orang-orangnya memiliki karakter keras. Namun, katanya, jalinan pertemanan di sini sangat kuat. Malam ini kuakui: sangat!</p>
<p>Di sana aku seolah-olah dianggap kawan lama oleh mereka. Padahal tak sedikit yang baru kukenal. Mereka menganggapku bagian dari komunitas mereka. Itu yang luar biasa! Mereka begitu <em>welcome</em> dan sangat-sangat bersahabat. Untuk orang <em>introvert</em> seperti aku, hal itu sungguh menyenangkan. Karena aku tidak memulai, tapi orang lain yang mendahului membangun komunikasi.</p>
<p><span id="more-1567"></span></p>
<p>Tiba-tiba Ayu memperkenalkanku pada seseorang berkepala plontos. Tampangnya mirip tentara Jepang zaman pendudukan. Ini dia: Pak Hade. Salah satu pembicara yang juga akan berdampingan denganku di panggung nanti. Aku bersalaman. Selain basa-basi, aku mengobrol cukup erat dengannya.</p>
<p>Orang-orang terus berdatangan. Ruangan makin bertambah ramai. Di meja depan tampak <em>display</em> buku <em>Persinggahan</em>, novel terbaru Ayu, ditata begitu apik. Berdampingan dengan buku kumpulan cerpennya, <em>Melacur</em>.</p>
<p>Tiba-tiba, “Kamu mbaca cerpen sebelum diskusi ya, Ni?” todong Ayu.<br />
“Hopla!!” aku terbalalak. “Nggak mau! Mendadak sekali. Tanpa persiapan dan latihan begini? Kenapa nggak bilang dari pagi sih?” umpatku.<br />
“<em>Please</em>… Satu cerpen aja.”<br />
“<em>Wong edhan!</em>” umpatku lagi. Namun akhirnya aku mengiyakan.</p>
<p>Acara pun dimulai. Catur Meita Sari, sang MC sudah naik ke panggung. Catur ini dulu pernah kukenal di friendster. Ia suka Pramoedya. Dan dia add account Pramoedya diselipi sebuah pertanyaan: “Apa Mas Dan yang megang accout Pramoedya ini, Mas Dan temannya Mbak Ayu? Kalau iya, aku sudah mbaca buku kumpulan cerpen punya Mas.” tanyanya suatu hari dulu. Aku jawab: iya! Ternyata ia kawan kampus Ayu saat kuliah dulu. Gila! Begitu kecil dunia ini.</p>
<p>Orang demi orang berdatangan. Ruangan makin bertambah ramai. Pers tak kalah memadati suasana. Bahkan seniman Sawung Jabo pun nongol. Luar biasa sekali jaringan pertemanan Ayu, batinku.</p>
<p>Acara dimulai dengan pembacaan karya-karya Ayu. Lantas Ayu naik pentas bersama kelompok musiknya, menyanyikan tembang dengan judul <em>Melacur</em>, gubahannya sendiri. Suaranya menggelitik, musiknya akustik. Aku terpana.</p>
<p>Saat Ayu masih di pentas, tiba-tiba ada seseorang yang begitu kukenal wajahnya, namun aku lupa siapa dia. Ia menghampiriku. Todongnya:<br />
“Kamu pasti lupa sama aku! Pasti lupa, kamu!” dalam Jawa yang kental memberondong.<br />
“Hah?! Iya-iya. Dari awal kamu masuk, aku udah liat, sangat famliar! Sangat familiar! Tapi siapa ya… lupa aku!” ujarku tak kalah memberondong, juga dalam Jawa. “Ayo sebutkan… sebutkan…”<br />
“Jadi lupa kamu ya?! Sialan!! Bener lupa kamu?!”<br />
“Aduh, ayo sebutkan… Aku kenal sekali wajahmu!”<br />
“Sialan!! Aku Komang! Nyoman! Kakaknya Ayu!” serunya menang.<br />
“Hah?! Komang…!!!” teriakku lantang. Aku menjabat tangannya. Kami berpelukan.<br />
“Komang!!” ujarku lagi. “Udah kawin kamu, ha?”<br />
Ia tertawa. “Ini calonku.” sebutnya sembari memperkenalkan calon istrinya. Manis! batinku dalam hati. (yang manis-manis memang selalu menarik. Berbeda dengan yang cantik; cenderung membosankan).<br />
“Udah berapa anakmu?” tanya Komang.<br />
“Sialan! Kok yang ditanya anak!” jawabku kecut. “Tanya sudah berapa karyaku, kek, atau apa… Aku belum menikah, Mang!”<br />
“Belum menikah?!” Komang pun ngakak. Pertanyaan semacam itu selalu memburuku setiap bertemu dengan orang dari dunia masa lalu. Sial kan? Begitu parah pola pikir serta paradigma orang terhadap: umur! Tapi ya itu kuanggap wajar saja. Aku tak terusik sama sekali.</p>
<p>Akhirnya, berdua kami ngobrol di pojokan. Cerita-cerita apa saja, seperti mengobati kerinduan. Tiba-tiba namaku dipanggil ke atas panggung. Pak Hade sudah beranjak dari duduknya. Ayu sudah berjalan ke pentas. Moderator Luhur Kayungga sudah nangkring di panggung. Aku menyusul kemudian (Moderator diskusi yang sedianya Agus Bing, Redaktur Majalah Gong, urung datang).</p>
<p>Tak lama diskusi pun berlangsung. Pertanyaan dan jawaban saling susul menyusul. Diskusi nyaris bergulir selama satu jam. Para undangan betul-betul dari berbagai kalangan. Dalam hati aku berpikir: sableng! Siapa sih aku ini? Orang tak jelas asal-usulnya kok ditangkringkan di pentas sebagai pembicara di Surabaya. Dasar Ayu sableng… sableng…</p>
<p>Diskusi pun usai. Kami turun pentas. Para undangan memberi ucapan pada Ayu. Juga padaku dan Pak Hade. Mereka responsif sekali. Banyak sekali yang menyalami aku. Aku sendiri heran dengan tabiat orang Surabaya ini. Akrab sekali mereka!</p>
<p>Ayu naik pentas lagi. Kelompok musik ikut mengiringi. Melantun ia dengan tembang terbarunya, <em>Persinggahan</em>. Jadi, dua bukunya: <em>Melacur</em> dan <em>Persinggahan</em> digubahnya dalam bentuk lagu (konsep ini jauh ia siapkan sebelum Dee meluncurkan <em>Recto Verso</em>). Bahkan, semua cerpen dalam buku <em>Melacur</em>, ada lukisannya. Dahsyat!</p>
<p>Di saat orang-orang yang merubung sudah mulai membuyar, ada seorang lelaki tua, bersama seorang perempuan setengah baya, dengan tertatih-tatih mendatangiku. Aku terbelalak dan menyambutnya. Senang sekali melihat ia lagi. Aku menjabat tangannya sebagai tanda kesantunan. Tiba-tiba beliau malah memelukku.</p>
<p>“Pak Ketut! Sehat Bapak?” ujarku gembira.<br />
“Yah… beginilah.” jawabnya tersenyum. Tanganku lama tak dilepaskan. Ia genggam terus seperti tak boleh dilepas. “Terima kasih ya, Dan.” lanjutnya. Ia tampak bahagia sekali bertemu aku. Aku dapat merasakan itu.</p>
<p>Pak Ketut adalah ayah Ayu. Kini ia tinggal di Tabanan Bali setelah istrinya meninggal beberapa tahun lalu. Meski seorang Hindu, Pak Ketut sangat kerap mengenakan sarung dan peci. Aku suka ngakak kalau melihat itu. Kalau sudah seperti itu, Pak Ketut hanya mesem-mesem saja.</p>
<p>Aku dan keluarga Ayu memang sangat dekat. Aku dapat merasakan sekali arti dari hubungan persahabatan sesungguhnya. Seperti halnya aku dengan seluruh keluarga Sasongko. Almarhum kakakku sendiri kenal dengan Komang dan ibu Ayu. Adik dan mamaku sendiri begitu kenal dengan Ayu. Terlebih aku, sudah barang tentu sangat kenal dengan seluruh keluarganya.</p>
<p>Perempuan setengah baya di samping Pak Ketut ternyata ibu dari calon Komang. Tak berapa lama Komang pun datang bersama calon istrinya. Lupi, adik Ayu pun turut bergabung. Jadinya kami membentuk lingkaran kecil di sudut ruangan. Seperti reuni keluarga saja.<br />
“Saya harus pulang ke Bali malam ini, Dan.” ujar pak Ketut.<br />
“Malam ini?!” heranku terbelalak.<br />
“Ya, ada upacara agama hari Minggu pagi.”<br />
“Kenapa tidak besok pagi saja, Pak? Kan bisa tidur di tempat kost Ayu malam ini?”<br />
“Yah… harus pulang cepat memang.” Pak Ketut masih memeluk pundakku. Kemudian katanya, “Saya dengar sedang melakukan perjalanan? Main ke Bali ya, Dan. Saya tunggu di sana.”<br />
“Beres, Pak.” balasku girang.</p>
<p>Kerumunan keluarga pun hendak beranjak pergi. Mata mereka mencari-cari Ayu. Ayu tampak masih dikerubuti orang yang meminta tanda tangannya. Senang sekali aku melihat kejadian itu. Tapi karena Pak Ketut sudah hendak beranjak, aku menghampirinya. Menyibak kerumunan peminta tanda tangan.<br />
“Bapak mau pulang, Yu.” bisikku.<br />
Ayu menoleh. Berlari menghampiri Pak Ketut. Memeluk dan mencium ayahnya, mencium Komang, juga Lupi. Dan keluarga pun berpamitan. Waktu mereka saling memeluk dan mencium, aku terenyuh dibuatnya. Aku membuang muka. Dalam hati aku membatin: indah sekali hubungan keluarga mereka. Aku memandang langit-langit…</p>
<p>“Jangan lupa ke Bali, Dan…” seru pak Ketut.<br />
Aku hanya menggangguk. Komang dan Lupi menyalami aku.</p>
<p>Orang-orang masih berubung Ayu. Wartawan masih menunggu giliran wawancara. Aku terlibat pembicaraan dengan Pak Hade, juga beberapa pekerja seni Surabaya.</p>
<p>Kawan-kawan Ayu tampak membereskan properti. Aku membantu sebisanya. Letih ngobrol-ngobrol, aku memilih merokok di sudut ruangan. Aku memperhatikan Ayu dari kejauhan. Sahabatku ini makin bersinar saja. Ia sibuk menandatangani buku dan melayani wartawan.</p>
<p>Aku kagum padanya. Seorang pekerja keras! Usianya nyaris 33 tahun. Tapi seperti tak pernah menggubris deretan angka yang terus merambat. Aku tersenyum sendiri. Aku merasa senang malam ini. Dengan acara ini. Dengan suasananya. Juga dengan diriku sendiri.</p>
<p>Malam makin merembet. Orang-orang sudah mulai berangsur pulang. Wajah Sasongko sudah tampak lelah dan bertanya padaku: apa sudah bisa pulang? Sahabatku Sasongko memang bukan dari kalangan pekerja seni. Aku bisa mengerti karena ia pekerja kantoran yang tak pernah bersentuhan dengan hal-hal seperti ini. Terlebih ada istri yang menunggu di rumah (salah sendiri: kenapa menikah! He-he).</p>
<p>“Sebentar, Sas…” aku meminta pengertiannya. “Aku bukan tamu di acara ini. Aku nggak bisa pulang begitu saja.” lanjutku. Ia bisa memaklumi.</p>
<p>Ayu masih melayani satu wartawan lagi dari <em>Surabaya Post</em>. Aku menggoda si wartawan. Setiap kali ia hendak menanyakan sesuatu pada Ayu, aku mengajak Ayu bicara.</p>
<p>“Aku cabut ya, Yu.” selaku tiba-tiba. Ayu sontak menoleh.<br />
“Jangan dulu, Ni…” ujarnya memelas. Si wartawan menunda pertanyaannya.<br />
“Besok kita ketemu lagi kan…”<br />
“Ni, <em>please</em>… Kamu ikut aku malam ini.”<br />
Sasongko tersenyum kecut mendengar itu.<br />
Aku pun terdiam sambil mengulum senyum. Saat si wartawan mau bertanya lagi pada Ayu, lagi-lagi aku mengajak Ayu bicara, “Sampai besok, Yu…” ujarku seolah beranjak pergi.<br />
Ayu pun menarik tanganku. Menahanku untuk tidak pergi. Si wartawan tampak jengkel. Hehe. Aku memang ingin menggoda si mbak wartawan yang manis.<br />
“Tinggal beberapa pertanyaan lagi kok, Mas.” ujar si mbak wartawan.<br />
“He-he. Iya-ya, Mbak… Silahkan…” ujarku cengar-cengir.</p>
<p>Akhirnya Ayu difoto si wartawan dengan memegang dua buah bukunya. Aku jadi pengatur gaya dadakan demi melihat gaya foto Ayu yang norak. Si mbak wartawan pun pamit. Kami beres-beres.</p>
<p>“Ni, kamu ikut aku ke DKS ya…” rajuknya.<br />
Aku hanya tersenyum, “Sas gimana?”<br />
Ayu menoleh Sasongko, “Sas, biar Dan ikut aku, ya…”<br />
Sasongko tersenyum tak bisa bicara.<br />
“Kawan-kawan lain juga pada nongkrong di sana…” ajaknya memelas.</p>
<p>Sebetulnya kalau kukatakan aku ikut dengan Ayu, Sas pun tak bisa apa-apa. Dia pasti akur saja. Tapi, aku pikir tak etis juga kalau Sasongko harus pulang sendirian. Sementara sesiang tadi aku di rumahnya. Lagipula, barang-barangku ada di sana. Seolah aku hanya numpang titip barang dan minta diantar belaka.</p>
<p>“Ya, Ni, ya…” rajuk Ayu lagi.<br />
Akhirnya kuputuskan, “Malam ini aku pulang ke rumah Sas deh.” ujarku pasti. “Besok pagi kita ketemu lagi. Langsung di DKS aja. Gimana?” Ayu masih memelas, tapi masih mencoba menawar-nawar keputusanku.</p>
<p>Aku, Ayu, Sas, Catur, Putu dan beberapa kawan lain beranjak ke lift, menggeret troli berisi buku. Karena lift tampak penuh, aku dan Sas masih tertinggal di luar.<br />
“Kalian turun saja duluan. Nanti kami nyusul.” tukasku.<br />
“Tapi?!” Ayu tampak curiga.<br />
“Duluan deh…”</p>
<p>Pintu lift pun mulai bergerak merapat. Ini kesempatan kabur, ujarku dalam hati. “Sampai ketemu besok ya, Yu!!” teriakku tertawa saat pintu lift makin bersatu.<br />
Ayu hanya bisa terbelalak dan teriak, “Lho?! Ni………!!!” dan pintu lift pun betul-betul tertutup.</p>
<p>Aku pulang bersama Sasongko. “Oke, Sas. Malam ini kamu boleh tanpa AC!” ujarku ngakak.</p>
<p>Di perjalanan pulang, SMS demi SMS mulai berdatangan. Menanyakan sedang berada di mana aku. Kenapa sampai Surabaya tak memberi kabar. Padahal kalau bilang kan bisa dijemput. Aku hanya tersenyum geli membacai SMS-SMS itu.</p>
<p>“Kita makan, Dan?” tanya Sasongko.<br />
“Yup!”<br />
“Makan apa?”<br />
“Apa pun yang tak berdaging.”<br />
“Nasi pecel pincuk, mau?”<br />
“Wah… asyik itu, Sas. Mau! Mau!”<br />
“Kita ke alun-alun Sidoarjo. Tempatnya lesehan di trotoar alun-alun. Pokoknya kamu pasti suka dengan suasana kayak gitu.”</p>
<p>Dan benar saja. Suasana alun-alun Sidoarjo memang sungguh mengasyikan. Orang merubung, makan, ngobrol, ngopi, kencan dan jualan di sana. Tampak mengasyikan sekali. Begitu sederhana. Begitu merakyat. Begitu guyub. Aku suka sekali suasana seperti itu. Tak salah Sasongko mengajakku makan di sini.</p>
<p>Dan aku sudah melahap pincuk kedua. Dasar!</p>
<p>21 Februari 2009 | 20.03 wib</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.penganyamkata.net/2009/02/22/persinggahan-dan-melacur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>31</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
