<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>

<channel>
	<title>Penganyam Kata</title>
	<atom:link href="http://www.penganyamkata.net/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.penganyamkata.net</link>
	<description>The Untoldstories of Daniel Mahendra</description>
	<pubDate>Wed, 03 Feb 2010 00:07:45 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.5</generator>
	<language>en</language>
	<image>
<link>http://www.penganyamkata.net</link>
<url>http://www.penganyamkata.net/wp-content/mbp-favicon/dmbd2.ico</url>
<title>Penganyam Kata</title>
</image>
		<item>
		<title>Menunggu Purnama di Pagi Hari</title>
		<link>http://www.penganyamkata.net/2010/02/03/menunggu-purnama-di-pagi-hari/</link>
		<comments>http://www.penganyamkata.net/2010/02/03/menunggu-purnama-di-pagi-hari/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Feb 2010 23:59:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Daniel Mahendra</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Catatan Harian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.penganyamkata.net/?p=1634</guid>
		<description><![CDATA[Jiwa yang tersiksa, itulah neraka. Jiwa yang bahagia, itulah surga
[Cok Sawitri, Sutasoma]
Sudah lama tak berkunjung ke Bandung. Sekali ada kesempatan ke Bandung yang pertama-tama dituju malah sebuah warung kopi di Jalan Alketeri dekat Kantor Pos Besar Asia Afrika. Turun dari kereta langsung melesat ke sana. Jaraknya tak begitu jauh dari stasiun kota.
Hari masih jam tujuh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><em>Jiwa yang tersiksa, itulah neraka. Jiwa yang bahagia, itulah surga<br />
</em>[Cok Sawitri, Sutasoma]</p>
<p>Sudah lama tak berkunjung ke Bandung. Sekali ada kesempatan ke Bandung yang pertama-tama dituju malah sebuah warung kopi di Jalan Alketeri dekat Kantor Pos Besar Asia Afrika. Turun dari kereta langsung melesat ke sana. Jaraknya tak begitu jauh dari stasiun kota.</p>
<p>Hari masih jam tujuh pagi. Seperti kebanyakan kota, pagi selalu ramai sebagai permulaan hari. Orang-orang berkendara menuju tempat kerja. Pedagang membuka tokonya. Dan anak-anak berangkat ke sekolah. Mobil, motor, bus, angkot, dan sepeda saling berebut tempat. Semua memiliki satu tujuan: rutinitas! Maka ketika aku melihat diriku, aku jadi geli sendiri. Seorang lelaki dengan ransel di punggung. Menyibak pagi mencari secangkir kopi. Apa yang hendak dicari?</p>
<p>Kumasuki warung kopi itu. Warung Kopi Purnama namanya. Berada di deretan bangunan tua. Dulu, ketika Jalan Asia Afrika masih terkenal sebagai <em>De Groote Postweg</em> atau Jalan Raya Pos, jalur itu memang digunakan sebagai pembatas antara daerah inlander di selatan dengan irlander di utara. Itulah mengapa, hingga kini kalau diperhatikan betul, bangunan-bangunan di selatan Jalan Asia Afrika di kota Bandung akan tampak sangat pribumi sekali. Sementara di bagian utara masih begitu banyak gedung-gedung perkantoran atau hunian bercorak Eropa peninggalan pemerintah Hindia Belanda.</p>
<p><span id="more-1634"></span>Lalu siapa di tengah-tengahnya? Pemerintah Hindia Belanda sengaja menempatkan hunian Cina di sepanjang Jalan Raya Pos. Mengapa Cina? Karena bangsa Cina-lah yang bisa dengan luwes berhubungan baik dengan pribumi di selatan maupun dengan Eropa di utara. Maka tak aneh bila sepanjang Jalan Raya Pos terkenal sebagai tempat bertemunya bisnis dan perdagangan. Hingga kini.</p>
<p>Warung Kopi Purnama berada di sana. Bangunannya tua. Arsitekturnya biasa saja. Tapi interiornya cukup menarik. Dengan hiasan-hiasan dinding khas Cina serta lampu gantung kuno, membuat kesan zaman dulu masih terasa di dalamnya. Ruangannya tak begitu besar, tapi hangat. Meja-meja kayu berdiri di berbagai jarak, dipeluk kursi berwarna cokelat. Lampu warung masih menyala pada jam tujuh pagi. Menambah suasana akrab bagi pengunjung.</p>
<p>Aku menebar pandang. Mengangguk pada beberapa tamu. Mereka membalas dengan senyuman. Orang-orang di sini terlihat begitu akrab. Yang awalnya tak saling kenal, namun karena rutin meluangkan waktu sarapan pagi di warung ini, menjadi mudah dikenali. Lihatlah, di meja pojok sana empat bapak keturunan Cina sedang asyik berdiam-diam sembari menyeruput teh hangat. Usianya ada kalau kutaksir delapan puluhan. Meraka pelanggan tetap di sini. Setiap pagi dengan pakaian tersetrika, rambut tersisir rapi, dan bersepatu kulit. Tampak sedap dipandang.</p>
<p>Di meja sebelahnya, masih keturunan Cina, lima orang lelaki tampak sedang berkelakar. Sebagian mengisap rokok. Di meja mereka tersaji bubur ayam, bihun goreng, dan roti bermentega. Ditemani cangkir-cangkir kopi dengan harum semerbak. Percakapan mereka menggunakan Bahasa Sunda. Bahasa Sunda para keturuan Cina di Bandung memang halus-halus. <em>Nu Lemes</em>, kata orang Sunda (<em>kromo</em> dalam Bahasa Jawa). Maklum, nenek moyang mereka sudah berabad-abad tinggal di Tatar Parahyangan. Bagiku sudah sulit untuk dibedakan mereka Cina atau bukan. Karena itu tak penting. Di mataku mereka layaknya pribumi pada umumnya. Menggunakan Bahasa Sunda yang halus dan bergaul secara egaliter.</p>
<p>Di meja tengah tampak sejoli muda lelaki dan perempuan. Dari pakaiannya sepertinya baru pulang olahraga pagi. Bahasa tubuh mereka tampak mesra. Sembari menyeruput kopi susu, tangan si lelaki sudah siap menyendok mangkuk kembang tahu. Sementara si perempuan mengunyah ketan hangat mengepul. Tak jauh dari sana kulihat seorang lelaki melipat koran. Menyantap telur setengah matang, meneguk teh tubruk dan beringsut pergi ke kasir. Dari cara jalan dan pakaiannya, mudah ditebak: rasanya ia mesti segera bergegas ke tempat kerja. Hal seperti itu hampir dapat ditemui di Warung Kopi Purnama setiap pagi.</p>
<p>Aku mengambil tempat di sebuah meja bulat dilapisi marmer putih yang memojok dekat dinding ruangan. Tempat paling strategis untuk melihat ke seluruh isi warung. Berbagai aktivitas, berbagai tamu, dan berbagai pesanan, dapat kutangkap dari mejaku. Seorang perempuan muda mendatangi mejaku. Menyodorkan daftar menu. Aku memesan kopi hitam dan roti dengan selai srikaya kesukaanku. Kukeluarkan bungkus rokok dan selembar koran pagi. Tapi tak segera kubaca. Sajak pagi di depan mataku terlalu sayang untuk kulewatkan dengan membaca koran terburu-buru. Aku sedang menikmati sajak pagiku.</p>
<p>Kubakar sebatang rokok. Tak lama pesanan pun datang mengepul. Seperti kucing yang mendapat binatang buruan, aku menggeram demi menghadapi menu sarapan kali ini. Aroma pahit kopi dan manisnya selai srikaya di atas roti menimbulkan kesedapan tersendiri. Aku merokok lagi…</p>
<p>Jarum panjang pada jam di dinding makin bergeser. Matahari mulai tak lagi malu-malu unjuk kebolehan. Orang datang silih berganti. Kalau aku tergoda membaca salah sebuah berita di koran, begitu selesai, orang di meja tertentu sudah ganti pemain. Begitu membaca lagi, lantas kemudian mendongak lagi, di meja lain sudah beda lagi yang menempati. Terus seperti itu. Seperti tak ada yang berlama-lama di warung ini. Mereka sekadar sarapan, bertemu teman, dan pergi ke tempat rutinitas. Terus seperti itu. Hanya orang sableng seperti aku yang (tak tahu diri) berlama-lama tanpa aktivitas yang berarti di warung ini.</p>
<p>Apa sebetulnya yang sedang kulakukan? Aku menunggu seseorang. Ya, seseorang. Pukul tujuh ia janji menemuiku di sini. Di warung kopi ini. Tapi jarum panjang sudah bergeser makin menukik, tak kunjung jua ia datang. Aku masih sabar menanti. Meja sudah gonta-ganti pemain berkali-kali. Makanan sudah keluar masuk tanpa henti. Orang yang kutunggu tak juga datang.</p>
<p>Sudah beberapa orang pamit padaku. “Yuk, duluan.” tukas mereka sembari tersenyum ramah. Aku hanya menganggukan kepala. Meski kami tak saling kenal, namun beginilah keakraban di warung kopi ini. Guyub dan bersahabat. Membuat orang kerasan untuk mampir dan mampir lagi ke mari. Kubaca lagi koranku. <em>Headline-headline</em>-nya sungguh memuakkan. Orang masih saja ribut soal politik, dan uang, dan kekuasaan. Semua masih sibuk soal bagaimana membuat hidup menjadi lebih baik lagi dengan segala macam ragam versinya. Tipikal manusia dalam seribu tahun terakhir ini.</p>
<p>Hari mulai menginjak pukul sembilan. Matahari mulai terasa hangat menyelinap kisi-kisi warung. Seperti angin yang kedatangannya mengerjap-ngerjap tanpa permisi. Kendaraan di jalan makin berseliweran ramai. Tukang makanan keliling mulai unjuk gigi. Aku lirik jam tanganku. Seseorang yang kutunggu belum juga muncul. Apakah betul hidup ini memang semata penungguan?</p>
<p>Bangun pagi, bergegas ke tempat rutinitas, menunggu pulang, kembali ke rumah, kembali menunggu keesokan harinya lagi. Menunggu hari libur. Menunggu gaji bulanan. Menunggu jatah cuti. Menunggu mati. Terus seperti itu. Apa yang dilakukan manusia dalam seribu tahun terakhir ini sebetulnya? Menunggu? Atau bergerak dalam penungguan itu sendiri? Sembari di antaranya diisi dengan halte-halte di sisi jalan sebagai tempat pemberhentian sementara dalam kosmos kehidupan? Seperti warung kopi ini.</p>
<p>Orang datang dan pergi. Makan, menyeruput kopi, bertemu teman, untuk lantas pergi lagi. Mereka menghentikan sejenak penungguan atas hidup dengan diselingi aktivitas yang bersifat manusiawi. Masuk ke dalam habitat sosial, sejenak mengangkat mata, melihat sekeliling area dan dalam hati berkata: bahwa sebagai manusia aku ada. Pernahkah memikirkan apa hakekat sesungguhnya manusia hidup di dunia? Seperti di warung kopi ini.</p>
<p>Hidup memang sebuah penungguan. Tetapi kita bergerak dalam penungguan tersebut. Tidak pasif. Tidak statis. Ada yang kita lakukan. Seperti aku yang sedang menunggu seseorang yang tak kunjung datang di warung kopi ini. Haruskah aku menunggunya terus? Atau mulai bergerak dan mengisi hari dengan sesuatu yang lebih berarti? Untuk kemudian kembali mengatur janji untuk bertemu di warung kopi ini lagi?</p>
<p>Selamat pagi. Mari menyeruput kopi…</p>
<p>3 February 2010 | 05.30 wib</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.penganyamkata.net/2010/02/03/menunggu-purnama-di-pagi-hari/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>The Epitaph Trilogy</title>
		<link>http://www.penganyamkata.net/2010/01/27/the-epitaph-trilogy-2/</link>
		<comments>http://www.penganyamkata.net/2010/01/27/the-epitaph-trilogy-2/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 Jan 2010 10:57:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Daniel Mahendra</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Catatan Harian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.penganyamkata.net/?p=1633</guid>
		<description><![CDATA[Dear Teman-teman,
Untuk selanjutnya, setiap ulasan novel Epitaph akan disimpan di The Epitaph Trilogy secara khusus. Hal ini dimaksud agar usaha pendokumentasian dapat dilakukan lebih cermat serta rapi, dan tak tercampur dengan tulisan-tulisan lain.
Tak lupa kuucapkan ribuan terima kasih pada teman-teman, baik yang telah mengulas maupun yang mengikuti tulisan-tulisan tersebut. Dukungan teman-teman adalah energi yang tak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dear Teman-teman,</p>
<p>Untuk selanjutnya, setiap ulasan novel <em>Epitaph</em> akan disimpan di <a href="http://www.danielmahendra.net/" target="_blank">The Epitaph Trilogy</a> secara khusus. Hal ini dimaksud agar usaha pendokumentasian dapat dilakukan lebih cermat serta rapi, dan tak tercampur dengan tulisan-tulisan lain.</p>
<p>Tak lupa kuucapkan ribuan terima kasih pada teman-teman, baik yang telah mengulas maupun yang mengikuti tulisan-tulisan tersebut. Dukungan teman-teman adalah energi yang tak terhingga bagiku secara pribadi.</p>
<p>Selepas ulasan dari Pak Idris Pasaribu kemarin ini, tiga pucuk ulasan sudah termuat di <a href="http://www.danielmahendra.net/" target="_blank">The Epitaph Trilogy</a> sebagai kelanjutan:</p>
<p>1.	<a href="http://www.danielmahendra.net/2010/01/25/menyusuri-misteri-epitaph/" target="_blank">Menyusuri Misteri &#8220;Eptaph&#8221;</a> oleh Rara Ajeng Dewantari Radesya,<br />
2.	<a href="http://www.danielmahendra.net/2010/01/25/novel-berita-dan-sastra/" target="_blank">Novel, Berita, dan Sastra</a> oleh Ipon Bae, dan<br />
3.	<a href="http://www.danielmahendra.net/2010/01/26/epitaph-2/" target="_blank">Epitaph</a> oleh Amang Suramang.</p>
<p>Hingga saat ini sudah 14 ulasan yang berkenaan dengan novel <em>Epitaph</em>. Tentu saja aku berharap ini tak berhenti hingga di sini semata. Sehingga dari sana pula aku dapat belajar dan bercermin melalui sudut pandang pemikiran yang berbeda.</p>
<p><span id="more-1633"></span>Sekali lagi terima kasih. Semoga aku tetap dapat produktif di blog PK ini, serta menyambangi rumah teman-teman pula. Tolong ingatkan aku jika aku lalai ya. Karena pasca <em>Epitaph</em> terbit, kesibukan tak lantas sirna.</p>
<p>Jabat erat serta salam hangat selalu,<br />
Tabik!</p>
<p>D.M.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.penganyamkata.net/2010/01/27/the-epitaph-trilogy-2/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Membaca Epitaph, Terasa Burhan Piliang Hidup Kembali</title>
		<link>http://www.penganyamkata.net/2010/01/25/membaca-epitaph-terasa-burhan-piliang-hidup-kembali/</link>
		<comments>http://www.penganyamkata.net/2010/01/25/membaca-epitaph-terasa-burhan-piliang-hidup-kembali/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 Jan 2010 05:41:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Daniel Mahendra</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Epitaph Review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.penganyamkata.net/?p=1632</guid>
		<description><![CDATA[[Harian Analisa, Rubrik Rebana, Medan, Sumatera Utara]
oleh Idris Pasaribu
Judul : Epitaph
Penulis : Daniel Mahendra
Cetakan : Pertama-I, Jakarta, Nopember 2009
Tebal : viii + 358 halaman
Penerbit : Kakilangit Kencana, Jakarta
Ukuran Buku : 12,5 x 20 Cm
Jenis Buku : Novel/Sastra
Dengan kening yang lebar, janggut yang tipis di dagunya yang tirus, berhidung mancung dan rambut ikal, laki-laki itu melangkah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.analisadaily.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=41575:membaca-epitaph-terasa-burhan-piliang-hidup-kembali&amp;catid=126:tinjauan-buku&amp;Itemid=154" target="_blank">[Harian Analisa, Rubrik Rebana, Medan, Sumatera Utara]</a></p>
<p><strong>oleh Idris Pasaribu</strong></p>
<p>Judul : Epitaph<br />
Penulis : Daniel Mahendra<br />
Cetakan : Pertama-I, Jakarta, Nopember 2009<br />
Tebal : viii + 358 halaman<br />
Penerbit : Kakilangit Kencana, Jakarta<br />
Ukuran Buku : 12,5 x 20 Cm<br />
Jenis Buku : Novel/Sastra</p>
<p>Dengan kening yang lebar, janggut yang tipis di dagunya yang tirus, berhidung mancung dan rambut ikal, laki-laki itu melangkah menapaki kota Medan. Dengan celana jeans bersepatu kets dan menyandang kamera merk Minolta, bergantian dengan Asahi Pentax. Kehadirannya sangat ditunggu untuk latihan teater. Teater Nasional atau sering disebut Tena. Saya sendiri bergabung di Tena bersama teman-teman.</p>
<p>Sekian lama bersamanya, laki-laki itu pun bergabung bersama Harian Analisa menjadi fotografer, ditarik oleh Zakria M Passe (almarhum). Ketika itu Zakaria M Passe menjadi redaktur mingguan dan aku salah seorang wartawan yang dipercaya sebagai wartawannya bersama Buoy YA Hardjo (almarhum). Laki-laki itu bernama Burhan Piliang yang kami selalu menyebutnya Bang Burpil.</p>
<p><span id="more-1632"></span>Bang Burhan atau Burpil, adalah sahabatku, guruku dalam teater dan kamera. Ketika sama-sama di Harian Analisa, Bang Burpil mengajariku banyak tentang kamera, termasuk mencetaknya di kamar gelap, karena ketika itu kami masih memakai foto hitam-putih. Bang Zakaria M Passe mengajariku bagaimana mengedit berita dan tulisan.</p>
<p>Dalam setiap kesempatan, Bang Burpil yang enakdiajak ngomong dan kemudian tidak pelit pada ilmunya mengajariku dan memberikan banyak buku teater (stensilan) yang diterjemahkan oleh Bang Sori Siregar. Bagaimana menyutradarai, bagainmana menjadi seorang aktor dan sebagainya. Kemudian kami sama-sama bergabung di Majalah Berita (MBM) Tempo di Biro Medan yang dikepalai oleh Zakaria M Passe, saya menjadi stranger ketika itu selama hampir dua tahun. Sampai akhirnya Bang Zakaria M Passe dan Burpil pindah ke Jakarta.</p>
<p>Tak lama aku mendapat surat dari Bang Burpil untuk mengajakku bergabung ke majalah Prospek, sebagai wartawannya di Medan. Dengan halus aku menolaknya, karena aku hanya tertarik pada majalah Tempo dan ternyata aku tak bisa masuk ke dalamnya dan aku tetap berada di Harian Analisa.</p>
<p>Sering aku terkenang pada Bang Burpil. Tau-tau aku membaca sebuah sinopsi di Face Book. Aku pun langsung berkomunikasi dengan penulis buku yang berjudul Epitaph, Daniel Mahendra. Epitaph menceritakan sebuah kejadian sebenarnya, tentu dengan sedikit bumbu penyedap, membuat buku ini enak dibaca dan pelu (meminjam mottio TEMPO). Dalam Epitaph diceritakan, bagaimana Burpil Lantang yang saya yakini adalah Burhan Piliang. Bagaimana tidak? Semua apa yang ditulis dalam Epitaph adalah kejadian yang sebenarnya, kemudian nama diganti, namun tempat dan kejadian tetap.</p>
<p>Beberapa hari sebelum kedatangan Burpil dari Jakarta, dia menelpon saya ke kantor Harian Analisa, dia akan datang dan akan menggarap sebuah film dokumenter. Aku siap menyambutnya. Wartawan yang menggantikan Basyir Azhar (almarhum) bertugas meliput di Polonia Medan saat Basyir mengambil cuti tahunan, saya sempat mengantar Bang Burpil sampai ke pagar pembatas yello line. Saya sempat menyaksikan helikopter itu mengangkasa dan saya pun kembali duduk di kantin membaur dengan wartawan lainnya.</p>
<p>Dua jam kemudian, sebagai wartawan kami curiga, meliat kesibukan pasukan Pas Khas yang bergegas. Kami pun mencari tahu. Ternyata heli yang baru ditumpangi Bang Burpil, jatuh? Jatuh? Entah dimana.</p>
<p>Setengah mampu mencari informasi. Tak sedikit pun yang tersisa dari informasi yang kami kumpulkan dengan cepat saya kembali ke kantor membuat beritanya. Apa yang terjadi? Besok pagi berita itu tak muncul. Di sebuah papa pengumuman di kantor, saya membaca ada nota telepon dari Dinas Penerangan Kodam Bukit Barisan, kalau berita itu tidak dimuat. Ingin saya menjerit sekuat-kuatnya. Berita yang sudah payah saya kumpulkan tak bisa dimuat. Bahkan atasan mengingatkan saya, untuk menyudahi liputannya.</p>
<p>Dua kali novel Epitaph saya baca. Kisah antara Haikal dan Laras, aku anggap sebuah pemicu untuk menghadirkan karya ini, walau tanpa membaca kisah Haikal dan Laras, sebenarnya Epitaph tak pernah hadir.</p>
<p>Dalam novel juga diceritakan seniman berkumpul di sanggar tari Taman Budaya mengenang Burpil. Saya juga hadir di sana. seniman menyampaikan kesan-kesannya tentang Burpil. Saya tak berani bicara. Saya melihat seseorang sedang asyik mengikuti acra dan memantau. Seseorang itu adalah aparat berpakaian sipil dengan memakai wig. Mungkin dia ingin mengetahui apa yang dibicarakan.</p>
<p>Mengenang, atau membicarakan sebuah heli milik siapa. Bila saya bicara saya takut akan membicarakan tentang heli itu, sementara hal itu sudah diwanti-wanti. Saya pun diam dan meninggalkan tempat itu, karena saya tak mampu mengikutinya.</p>
<p>Ketika membuat fotostrip (bukan foto arsip seperti yang ditulis dalam Epitaph), setuiap malam aku ikut mengeditnya bersama bang Burpil. Fotostrip berjudul Ramon dan Julia. Yang lain aku tidak ikut karena kesibuan lain.</p>
<p>Saat opementasan Tok… Tok… Tok, saya diajak oleh Bang Burpil, tapi saya tak bisa, karena saya juga sedang menggarap pementasan lain. Benar seperti apa yang dikatakan oleh Gerson Poyk dalam endorsmen-nya pada Novel ini: ”Tragis! Memainkan emosi pembaca. Kita mereka-reka, mana fiksi dan mana fakta.”</p>
<p>Setelah heli ditemukan beberapa tahun kemudian, terjadia perdebatan. Ada yang membantah, kalau itu heli milik TNI-AD. Para crew pembuatan film dokumenter berfoto ria sebelum penerbangan. Foto-foto ini akan menjadi saksi, kalau benar itu adalah heli milik TNI-AD. Saat membaca pada bagian ini, aku kembali terkesima dan menyesal sekali. Ketika perpindahan kantor Harian Analisa dari yang lama ke Jalan Balaikota, banyak sejkali film-film hitam putih yang saya buang karena sudah berdebu. Saya yakin, sekali dalam beberapa rol film hitam putih itu, pasti ada foto pesawat itu. Oh… maafkan aku!</p>
<p>Orang yang hanya mengetahui nama Burhan Pilian sebagai seniman di Medan pasti terbangun emosinya membaca novel ini. Apalagi saya dan teman-teman ang demikian dekat dengan Burhan Piliang, pasti tak mampu membendung rasa haru.</p>
<p>Kenangan terakhir bersamanya, saat dia di Majalah Tempo dan saya menjadi koresponden Majalah Kartini merangkap di Harian Analisa. kami pernah sama-sama melakukan liputan. Gempa di Tarutung dan berbagai peristiwa. Aku menguntitnya.</p>
<p>Aku selalu berada di sisinya. Ketika dia membidik kameranya aku juga dan sama-sama cret. Hasilnya, foto saya dan foto Burhan Pilian memliki sudut yang sama dan dimuat di majalah Tempo dan Kartini bersamaan pula terbitnya. Orang pun susah membedakan mana foto Burhan Piliang dan mana Foto Idris Pasaribu, karena sudutnya sama dan objeknya sama. Oleh Poltak Pangabean di Majalah Kartini di oleh Maza Yudha, aku tersebut fotografer Kartini yang handal walau aku di daerah, mampu mengalahkan fotografer Kartini yang sebenarnya ada di Jakarta.</p>
<p>Epitaph, sebuah novel yang sangat menarik untuk dibaca, bagaimanan kisah seorang Burhan Piliang seniman Medan yang punya prinsip, sederhana dan dekat dengan siapa saja. Daniel Mahendra mampu membangkitkan sebuah kisah sebenarnya dalam garapan fiksi yang menarik dan bagus. Rugi rasanya untuk tidak membaca Epitaph dengan teliti. Bagaimana Haikal dan Laras, sebuah kisah yang menarik juga untuk disimak dalam novel ini. <strong>Jan, 2010</strong></p>
<p>__________________</p>
<p><img class="alignnone" src="http://www.danielmahendra.net/wp-content/uploads/2010/01/idris-pasaribu1.jpg" alt="" width="257" height="192" /></p>
<p><strong>Idris Pasaribu</strong><br />
Wartawan, Sastrawan, Penulis novel &#8220;<em>Acek Botak</em>&#8220;, tinggal di Medan.</p>
<p><strong>Catatan DM</strong>: Pak Idris, ribuan terima kasih. Baru ini yang bisa kulakukan.  Tugasku masih begitu panjang untuk menyibak peristiwa tersebut. Semoga diberi usia. Salam hangat selalu&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.penganyamkata.net/2010/01/25/membaca-epitaph-terasa-burhan-piliang-hidup-kembali/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Menulis: Dari Blog ke Buku</title>
		<link>http://www.penganyamkata.net/2010/01/23/menulis-dari-blog-ke-buku/</link>
		<comments>http://www.penganyamkata.net/2010/01/23/menulis-dari-blog-ke-buku/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 Jan 2010 20:27:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Daniel Mahendra</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Buku]]></category>

		<category><![CDATA[Penulisan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.penganyamkata.net/?p=1631</guid>
		<description><![CDATA[Kepada Ersis Warmansyah Abbas
Aku yakin sebelum ada media bernama blog, Pak Ersis Warmansyah Abbas sudah menjadi penulis dengan banyak buku. Tetapi dosen di FKIP Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin yang sedang mengambil program doktor di Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung ini memang kukenal melalui blog.
Sejak kali pertama (kira-kira tahun 2008) berkunjung ke blognya, aku sudah bisa menduga: [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Kepada Ersis Warmansyah Abbas</strong></p>
<p>Aku yakin sebelum ada media bernama blog, Pak Ersis Warmansyah Abbas sudah menjadi penulis dengan banyak buku. Tetapi dosen di FKIP Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin yang sedang mengambil program doktor di Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung ini memang kukenal melalui blog.</p>
<p>Sejak kali pertama (kira-kira tahun 2008) berkunjung ke blognya, aku sudah bisa menduga: tulisan-tulisan Pak EWA, begitu biasa ia disapa, selalu punya kans untuk terbit sebagai buku. Dan ketika ia mulai rajin mengirimiku buku-buku karyanya (sudah enam buku yang kuterima), tak syak lagi: tulisan-tulisan di dalam buku tersebut memang banyak yang berupa materi dari blog-nya (<a href="http://www.webersis.com/" target="_blank">www.webersis.com</a>)</p>
<p>Apakah Pak EWA menulis blog untuk bisa diterbitkan sebagai buku, atau menulis buku yang untuk sementara di-<em>share</em> melalui blog terlebih dahulu, sudah tak penting lagi. Karena prinsip Pak EWA sudah jelas: menulis, menulis, dan menulis!</p>
<p>Sulit dibantah, Pak EWA memang motivator penulisan yang tangguh. Begitu banyak kutemui penulis maupun orang penerbitan di Indonesia ini, tapi belum pernah kujumpai seseorang yang tanpa lelah mendengungkan untuk terus menulis, menulis, dan menulis pada orang lain. Bahkan, di status-status facebook-nya, tak jarang kujumpai ia sekadar menuliskan satu kalimat: <em>Selamat malam jama’ah fesbukiyah. Menulis apa malam ini?</em> Setiap hari!</p>
<p><span id="more-1631"></span></p>
<p>Maka meski tulisan-tulisan di blog-nya kerap tak taat pakem bahasa maupun tanda baca, hal itu tetap sulit untuk menggugurkan kenyataan bahwa Pak EWA memang seorang motivator penulisan yang dapat menggedor hasrat banyak orang untuk bergerak menulis.</p>
<p>Kemarin pagi (22 Januari 2010) datang dua pucuk bukunya ke alamatku: <em>Menulis Tanpa Berguru</em> dan <em>Menulis Membangun Peradaban</em>. Keduanya terbitan Penerbit Gama Media, Jogjakarta. Baru malam tadi tersempat membuka kedua buku tersebut. Dan isinya? Ya, seperti sudah kuduga: tulisan-tulisan yang pernah ia <em>posting</em> di blog-nya. Namun ada yang menarik!</p>
<p><img class="alignnone" src="http://penganyamkata.files.wordpress.com/2010/01/menulis-tanpa-berguru.jpg?w=200&amp;h=300" alt="" width="178" height="266" /><img class="alignnone" src="http://penganyamkata.files.wordpress.com/2010/01/menulis-membangun-peradaban.jpg?w=195&amp;h=300" alt="" width="176" height="264" /></p>
<p>Pada buku <em>Menulis Tanpa Berguru</em>, di halaman penghargaan ia menyebutkan bahwa buku ini memang produk blog. Di sana ia mencantumkan 34 nama blogger lengkap beserta url-nya. Asyiknya lagi, tulisan-tulisan di dalamnya merupakan jawaban dari apa yang ditanyakan para blogger untuk kemudian dikembangkan menjadi satu tulisan yang padat berisi.</p>
<blockquote><p>Buku menulis tanpa berguru, setitel pampangan www.webersis.com, bermula dari postingan tulisan <em>Mengapa Menulis?</em> 1 Januari 2009. Tulisan tersebut dikomentari teman-teman blogger. Dari komentar tersebut ditulis tulisan tentang menulis sesuai muatan komentar. Dikomentari lagi, ditulis lagi. Tanpa dikira terkumpul sekitar 40 tulisan, dan jadilah buku ini.</p></blockquote>
<p>Sudah barang tentu nama-nama seperti <a href="http://imelda.coutrier.com/" target="_blank">Imelda Coutrier Miyashita</a>, <a href="http://sawali.info/" target="_blank">Sawali Tuhusetya</a>, <a href="http://edratna.wordpress.com/" target="_blank">Enny Dyah Ratnawati</a>, <a href="http://hemmayulfi.blogspot.com/" target="_blank">Hemma Yulfi</a>, <a href="http://donnyverdian.net/" target="_blank">Donny Verdian</a>, <a href="http://spektrumku.wordpress.com/" target="_blank">Yari NK</a>, atau <a href="http://tantikris.wordpress.com/" target="_blank">Kristanti Parisihni</a>, berseliweran di dalamnya (Hei, kalian mesti punya bukunya. Siapa tahu ada nama kalian juga toh?). Lucunya, ketika aku baru saja menuliskan beberapa nama di atas dalam tulisan ini, aku baru <em>ngeh</em>, di halaman 93 ternyata ada juga namaku dibahas. Hehe.</p>
<p>Di sana Pak EWA menulis: <em>…Begitu penggalan komentar Daniel Mahendra. Maknanya dalam. Sahabat dunia maya satu ini, sungguh saya gemari tulisannya. Saya pengunjung tetap www.danielmahendra.com</em> (sekarang penganyamkata.net). Eih, bolehlah GR barang sedikit. Dalam skala kecil tak dosa-dosa amat toh? Huehehe.</p>
<p>Apa yang hendak kusampaikan dalam tulisan ini? Tak diragukan lagi: Pak EWA memang motivator penulisan yang jempolan. Terlepas ada tidaknya namaku di sana, tak menggugurkanku untuk mengakui hal tersebut. Aku membayangkan: sepertinya yang ada dalam pikiran Pak EWA tak lepas dari bagaimana memotivasi orang untuk terus menulis. Tak henti-hentinya. Tak ada letihnya. Apa saja bisa jadi tulisan olehnya. Bahkan komentar dari pada blogger atas tulisannya pun menjelma tulisan tersendiri. Terbit sebagai buku pula. Sudah puluhan buku tercatat.</p>
<blockquote><p>Semula, ditargetkan pada akhir Januari 2009 menjadi buku dengan satu postingan setiap hari. Rupanya, pengunjung www.webersis.com semakin membanjir, sehingga semakin bersemangat menulis. Dalam dua minggu materi buku dianggap cukup. Tulisan dipilah sesuai kelompok, disiapkan sampulnya sampai daftar isi, dan jadilah. Menulis buku sangat mudah. Buku ini buktinya.</p></blockquote>
<p>Memang, tak ada aturan tertulis bahwa menjadi seorang blogger yang menulis di blog, tulisannya mesti terbit sebagai buku. Tetapi bagi individu yang memang berhasrat ingin menjadi penulis, produktif pula, rasanya tak salah jika kuanjurkan mengikuti tulisan-tulisan Pak EWA baik di blog-nya maupun di facebook. EWT (Ersis Writing Teory) memang cespleng! Tak percaya? Coba saja…</p>
<p>23 Januari 2010 | 02.40 wib</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.penganyamkata.net/2010/01/23/menulis-dari-blog-ke-buku/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>EPITAPH; Kejujuran yang Tanggung</title>
		<link>http://www.penganyamkata.net/2010/01/21/epitaph-kejujuran-yang-tanggung/</link>
		<comments>http://www.penganyamkata.net/2010/01/21/epitaph-kejujuran-yang-tanggung/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 Jan 2010 22:41:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Daniel Mahendra</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Epitaph Review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.penganyamkata.net/?p=1630</guid>
		<description><![CDATA[oleh Cok Sawitri*
Membaca novel Epitaph, karya Daniel Mahendra, terbitan Kaki Langit Kencana, November 2009, adalah pembacaan fragmen-fragmen yang diutuhkan menjadi kesatuan kisah. Fragmen terbesar adalah kisah Laras Sarasvati, mahasiswi IKJ yang hilang saat melakukan shouting film dokumenter di Gunung Sibayak, Medan. Fragmen kedua adalah Kisah Haikal, kekasih Laras, yang menjadi ‘pencerita’ mengenai tokoh-tokoh yang ikut [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>oleh Cok Sawitri</strong>*</p>
<p>Membaca novel Epitaph, karya Daniel Mahendra, terbitan Kaki Langit Kencana, November 2009, adalah pembacaan fragmen-fragmen yang diutuhkan menjadi kesatuan kisah. Fragmen terbesar adalah kisah Laras Sarasvati, mahasiswi IKJ yang hilang saat melakukan shouting film dokumenter di Gunung Sibayak, Medan. Fragmen kedua adalah Kisah Haikal, kekasih Laras, yang menjadi ‘pencerita’ mengenai tokoh-tokoh yang ikut hilang dalam musibah yang dialami Laras dan menjadi ‘penganalisa’ adanya kejanggalan dalam pencarian korban dalam musibah itu. Fragmen lain, adalah tokoh Langi, teman Haikal yang difungsikan sebagai penulis dari kejadian musibah helikopter itu.</p>
<p>Kecanggungan sejak awal telah alamiah terjadi pada Daniel Mahendra ketika menuliskan kisah yang realitas memang terjadi, penyebutan IKJ, instansi militer di Medan, kutipan berbagai berita Koran, serta ‘rasa takut’ yang menyertai apabila menggunakan ‘dugaan’ haikal dan Yudin, salah satu crew film yang dipimpin Birhi, bahwa ada pihak yang hendak menutupi soal sewa menyewa helicopter itu untuk kepentingan komersial membuat Daniel terhenti pada gaya tutur yang canggung, ragu untuk membiarkan diri secara utuh menuliskan apa, siapa dalam proses sublimasi. Pilihan lain sebenarnya, memfiksikan secara total keseluruhan, hingga menjadi karya total yang justru dengan kliping detail akan menghadirkan runutan kisah yang menggetarkan hati.</p>
<p><span id="more-1630"></span></p>
<p>Kecanggungan kedua, gemuruh tekanan yang dialami haikal kehilangan kekasihnya, mewakili kegumuruh duka seluruh keluarga yang juga kehilangan ayah, adik mereka, tidak terungkap, hampir tidak terasa, menjadi barisan dialog; andai Daniel sabar mengeksploarasi, memasuki posisi haikal disaat menanti kepastian ketemu ataukah tidak Laras, atau ketika rasa kehilangan yang membuat Haikal dalam fase menunggu, hingga TPI menyiarkan adanya penemuan kerangka pesawat itu; akan memberi tanjakan, detak dalam novel ini, sayangnya, Daniel memilih jalan datar, jalan beku, kaku seperti judul novelnya: Tulisan di nisan (Epitahp), yang jelas terkecoh dengan cover novel yang menggunakan simbol jalan dalam temaram, mengesankan seakan ada misteri di ujungnya.</p>
<p>Dari awal cerita telah jelas, tidak ada yang berkelok-kelok seperti memasuki misteri. Daniel, hanyut dengan pengetahuan informasinya, telah memastikan dugaannya sebagai realitas sehingga ketika hendak menempatkannya sebagai prosesi misteri, menjadi tanggung dan canggung. Berawal dari tumpukan catatan yang diberikan Haikal, lalu pembangunan tokoh Laras yang berpuluh-puluh halaman diberi porsi mengenai ‘kegilaannya’ akan film, menjadi pemicu gadis itu memilih IKJ, kemudian ingatan masa kecil Laras akan kota masa kecilnya, melompat sesekali kepada fungsi Langi sebagai penutur, yang sejak awal telah tahu kisah utuhnya, tidak masuk dalam proses pencarian pengungkapan misteri, ‘penyebab musibah itu, mengapa militer menutup-nutupi ikutnya crew film itu’ dijelaskan dalam verbal; mengaburkan posisi Langi dan Haikal, ada kejanggalan yang canggung dalam proses penuturannya. Kisah yang datar, militer tidak akan mengakui kalau ada crew film dalam pesawat itu sejak awal tidak menjanjikan akan menjadi bahan perenungan bagi pembaca, bahwa Daniel akan membawa pada kisah pengungkapan, minimal ketegangan pengungkapan ‘misteri’ yang menjadi sebab adanya ‘tidak tahu menahunya pemilik pesawat ada penumpang dalam musibah itu’. Sebab alasannya, akhirnya: tidak ada misteri, sudah jelas: penyewaan helikopter untuk kegiatan komersial akan menimbulkan masalah dalam prosedur tata krama kemiliteran. Begitu pula ketika Haikal ketemu Yadin membahas potret bukti: kisah misteri tidak sampai kegelisahan Yudin yang merasa dikuntit, plotnya menjadi lemah pada bagian ini. Kedataran alur, tidak membawa pembacaan untuk berpikir, yang ada dalam fragmen yang telah disusun, datar, tanpa tanjakan, yang ada adalah kerepotan untuk memberi tempat kepada berbagai tokoh dalam percakapan yang tidak mengesankan arah kegalauan, kerisauan, tekanan rasa kehilangan, kehampaan, rasa kalah ketika menghadapi orang-orang yang tercinta. Judul Epitaph: harfiah, tulisan pada Nisan, hanya muncul menjelang akhir, rasa gigir, penuh tanya dalam narator (Langi) ketika berada di depan nisan Laras Sarasvati, memperhatikan dompet milik gadis itu, tidak memberi tanjakan baru, menjadi luncuran kedataran, tidak menyentak, tanpa kejutan.</p>
<p>Kejujuran yang tanggung, sebenarnya mulai nampak ketika muncul nama ‘Karin Nugraha’, pembantu Rektor III tiga IKJ, dalam footnote, jelas IKJ yang dimaksud adalah Institute Kesenian Jakarta-artinya, siapapun tahu siapa “Karin nugraha itu’, bandingkan kemudian dengan hal 192 : <em>Kompas misalnya, pada 26 Agustus 1994 menurunkan berita bahwa Kepala Dinas Penerangan Angkatan Darat Brigjen TNI A.T mengakui, sejak senin lalu (22/08) TNI AD telah ‘kehilangan’ satu peswat helicopter. Peswat HS 7060…</em>.dst”- yang tidak menjelaskan adanya tiga orang crew yang menumpang dalam pesawat itu. Secara konsisten kutipan-kutipan Koran yang disusun Daniel memaparkan ‘kekonsistenan’ sikap dari pihak pemilik pesawat bahwa tidak ada penumpang dalam pesawat yang hilang, namun beberapa Koran dengan bijak pula menyatakan, bersamaan dengan itu, tiga orang crew film telah hilang di pegunungan sibayak, yang kelak ketika Haikal ketemu Yudin; yang sempat memotret teman-temannya sebelum berangkat, menjadi pemilik barang bukti, yang telah dicetak dan sepanjang proses pencarian oleh Tim gabungan setelah pencarian resmi dihentikan, menyembunyikan potret itu (bukti crew itu adalah penumpang heli) dan potret itu tetap tak berfungsi menjelaskan apapun ketika ketiga kerangka itu ditemukan: hal 305, “<em>dari harian pembaharuan yang terbit 2 April 1996 dapat diikuti sebuah berita bahwa:…</em>.dst”</p>
<p>Fragmen yang tersusun dalam Novel Epitaph; penyusunan ulang kliping yang tanggung, walau menghadirkan figur-figur yang terlibat secara emosional dalam kisah nyatanya, namun Daniel tanggung membawa ke wilayah proses pencarian kebenaran, dalam kerangka sastra sebagai proses pengungkapan kebenaran sekalipun diungkapkan secara imaji. Kejujuran pada perasaan ‘bersalah’, tak berdaya, tak puas, terhadap bias informasi apakah crew itu diakui ataukah tidak diakui ada dalam pesawat itu, kemudian kliping yang lain toh mengakui akan adanya data pribadi dari dompet; termuat dalam epilog yang hampir mubazir. Agaknya, peran editor dan teman diskusi yang ‘tega’ diperlukan Daniel disaat proses finishing novel ini, namun tidak dilakukan, nyaris terlupakan.</p>
<p>Namun novel sepanjang 358 halaman, dengan 66 catatan kaki ini, sebenarnya menjanjikan menjadi novel yang luar biasa, sebab menggunakan informasi dari fakta jurnalistik, tetap dapat menjadi bahan bandingan bacaan yang mengugah. Selayaknya, dibaca untuk kemudian menemukan tantangan, bagaimana bila kelak menuliskan ‘masa lampau’ ke dalam kekinian dengan memakai penutur, tokoh yang difungsikan sebagai narator ‘masa lampau’ itu. Bahwa fiksi sesungguhnya adalah &#8216;kisah nyata&#8217; yang diproses oleh kreatornya, bukanlah imaji yang kosong tanpa fakta.</p>
<p>_____________<br />
<strong></strong></p>
<p><strong>Cok Sawitri</strong> bernama lengkap Cokorda Sawitri, tinggal di Denpasar, Bali. Selain aktivis teater, Cok juga menulis artikel, puisi, cerita pendek serta aktif dalam berbagai aktivitas sosial budaya. Selain <em>Janda dari Jirah</em>, novel teranyarnya adalah <em>Sutasoma</em>.</p>
<p><img class="alignnone" src="http://penganyamkata.files.wordpress.com/2010/01/coksawitri.jpg" alt="" width="251" height="187" /></p>
<p>Foto: Dokumentasi Cok Sawatri / fb.</p>
<p><strong>Catatan DM</strong>: Mbok Cok, matur suksma. Inilah dedahan paling detail dan rinci atas <em>Epitaph</em>. Ribuan terima kasih, Mbok. Segala penilaian tetap merupakan masukan yang berharga bagiku. Bersaluir aku…</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.penganyamkata.net/2010/01/21/epitaph-kejujuran-yang-tanggung/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Epitaph: Cahaya Indah dari Serpihan Luka</title>
		<link>http://www.penganyamkata.net/2010/01/19/epitaph-cahaya-indah-dari-serpihan-luka/</link>
		<comments>http://www.penganyamkata.net/2010/01/19/epitaph-cahaya-indah-dari-serpihan-luka/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 Jan 2010 09:25:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Daniel Mahendra</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Epitaph Review]]></category>

		<category><![CDATA[Epitaph Serba Serbi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.penganyamkata.net/?p=1628</guid>
		<description><![CDATA[[Sebuah Oleh-oleh dari Malam Akikah di Newseum Indonesia]
oleh Sugiarto*
Bagaimana cara manusia memperlakukan mimpi? Tentu, tak akan ada satu jawab yang pasti. Ada orang yang langsung membuang impian itu, bahkan beberapa saat saja setelah mimpi itu melintas. Ada yang mengangankan mimpi itu untuk beberapa waktu, tetapi, dengan alasan pemenuhan hasrat atau kebutuhan lain, mimpi satu segera [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>[<strong><a href="http://kalengbiru.blogspot.com/2010/01/epitaph-cahaya-indah-dari-serpihan-luka.html" target="_blank">Sebuah Oleh-oleh dari Malam Akikah di Newseum Indonesia</a></strong>]<strong><br />
<a href="http://kalengbiru.blogspot.com/" target="_blank">oleh Sugiarto</a></strong><a href="http://kalengbiru.blogspot.com/" target="_blank">*</a></p>
<p>Bagaimana cara manusia memperlakukan mimpi? Tentu, tak akan ada satu jawab yang pasti. Ada orang yang langsung membuang impian itu, bahkan beberapa saat saja setelah mimpi itu melintas. Ada yang mengangankan mimpi itu untuk beberapa waktu, tetapi, dengan alasan pemenuhan hasrat atau kebutuhan lain, mimpi satu segera tergusur oleh mimpi berikutnya. Dan, ada juga, kumpulan orang ini biasanya berjumlah sedikit, yang tetap menggendong mimpi yang datang, memberinya asupan gizi ‘materi’ tiap hari, dan tetap menjaga stamina, hasrat, gelora jiwa untuk berikhtiar melahirkan mimpi tersebut ke dunia nyata. Kemarin malam, di antara berderet bingkai kaca tergantung penuh di sepanjang dinding Newseum Indonesia, aku berkesempatan menjadi saksi transformasi indah ‘akikah’ kelahiran sebuah mimpi ke dalam dunia fana ini.</p>
<p>Daniel Mahendra. Dua tahun lalu aku mengenalnya. Bukan jenis perkenalan biasa dimana saling berbentur di jalan lalu berjabat tangan. Bukan juga perkenalan dengan penuh protokoler yang segera melahap pribadi baru dengan berondongan pertanyaan seputar ‘sensus kependudukan’. Atas nama urusan profesional pekerjaan kami bertemu. Beberapa jam negosiasi, hingga diakhiri dengan makan siang di warung sebelah kantornya, cukup bagiku untuk menangkap kilatan mata ‘sastrawan berbakat’ menggelegak dalam teduh sorot maskulinnya.</p>
<p><span id="more-1628"></span></p>
<p>Dunia Daniel adalah dunia menulis. Tak usah ditanya apa golongan darah dia. Andai ia tersayat, darah yang muncrat pasti jua darah kepenulisan. Beberapa saat ngobrol dengannya, sudah cukup mengetahui luas cakupan pengetahuannya seputar dunia perbukuan. Persoalan teknis kepenulisan hingga paket besar tata kelola penerbitan dan marketing perbukuan, tuntas ia kuasai. Hanya, yang terlewat olehku dari pertemuan itu, rupanya saat itu, tengah &#8216;bertempur&#8217; dendam dan mimpi besar di nurani Daniel.</p>
<p>Lelaki ini dibesarkan oleh dendam. Demikian kelebatan Daniel kemudian mewujud dalam pikiranku. Bukan jenis dendam yang kemudian menggerakkan berjuta pasukan menghancurkan. Bukan juga jenis dendam yang lalu tersesat dalam kubangan hitam kotor pikiran dan tindakan. Daniel mampu mentransformasi dendam yang sekian lama mengendap dalam kalbu menjadi sebuah energi positif dalam wujud karya sastra. Dendam yang demikian luruh mengalir dalam laju darah Daniel, dendam yang menemaninya sekian puluh tahun berkelana mencari kebenaran, dendam yang (mungkin juga) menghalanginya menenggak kenikmatan ‘palapa dunia’ sebelum ia tuntas terselesaikan, sekarang telah terbayarkan, meski memang baru sebagian.</p>
<p>Epitaph, seri pertama dari Trilogi Epitaph, yang malam itu di-akikah-kan di Newseum Jakarta, adalah perwujudan anak dendam Daniel Mahendra. Staminanya yang luar biasa untuk tetap menyimpan bara dendam itu menyala akhirnya melahirkan purnama yang menerangi jalan sesama. Epitaph adalah sebuah jeritan. Ketika semua pintu dibungkam, ketika matahari kebenaran redup oleh gerhana kekuasaan, Epitaph lahir menawarkan terang nyala sebuah lilin. Dan memang, malam itu, Epitaph baru mewujud menjadi lilin. Ia hadir dalam balut binar terang sebuah cahaya. Meski, bulatan cahaya itu masih kecil melingkar. Tidak mustahil, asuhan waktu dan didikan promosi yang tepat, akan membuat lingkar lilin itu membesar. Hingga kemudian, terang kebenaran yang disuluhnya, melahirkan sebuah kekuatan baru menjadi awal jalan kebenaran.</p>
<p>Epitaph bercerita tentang luka. Tentang sebentuk kehilangan. Tentang cinta yang direnggut menghilang tanpa kejelasan pertanggung jawaban. Bersama 2 teman, Haikal, terbang ke Medan menumpang helikopter sewaan milik Angkatan Darat Republik Indonesia. Naas. Kecelakaan terjadi. Helikopter dinyatakan hilang. Lebih buruk lagi, otoritas Angkatan Darat tidak mengakui keberadaan Haikal dan kedua temannya dalam pesawat tersebut. Penyangkalan Angkatan Darat membuat proses evakuasi helikopter menjadi suram. Kabut yang penuh menyelimuti medan kecelakaan, makin lamat saja akibat pengingkaran Angkatan Darat tersebut.</p>
<p>Saat kejadian, tahun 1994, Daniel masih terbilang muda. Tak ada yang dapat ia lakukan selain berdoa, menyimak berita demi berita untuk mengetahui kabar keberadaan Haikal, tak lain adalah perwujudan kakak kandungnya. SAR dan relawan IKJ diterjunkan. Tapi tetap saja semua masih berselimut gelap. Dua tahun kemudian, tahun 1996, bangkai helikopter ditemukan. Dengan negosisasi panjang yang teramat alot, kerangka jenazah sang kakak dapat dibawa pulang dan disemayamkan.</p>
<p>Kesewenangan kekuasaan itulah yang kemudian mengeruk ceruk luka di hati Daniel. Ia pun tumbuh dengan menyemai dendam. Hari-harinya diisi dengan melata mengumpulkan segala kliping berita yang mewartakan peristiwa kecelakaan di Gunung Sibayak tersebut. Semakin tebal kliping berita yang terkumpul, semakin dalam juga lara yang tergali di hatinya. Hingga akhirnya, Daniel tak kuasa mengelak. Dendam membesarkan bakat sastrawan yang memang telah berdiam di hatinya. 16 tahun kemudian, di antara redup lampu yang lamat menggurat bayang-bayang pengunjung Newseum Jakarta, Dendam Daniel terbayarkan jua. Monolog magis Lisa Febriyanti, diantara denting piano Da&#8217;an Danang Setiawan, mengawali prosesi resmi kelahiran Epitaph ke dunia.</p>
<p>Semua orang mempunyai mimpi, dan juga dendam. Malam itu, diantara matanya yang tetap mengkilat, rambut yang tetap jua dibiarkan gondrong, dan tetap saja kesetiaan yang terjaga terhadap sepatu gunung, Daniel Mahendra menunjukkan cara terbaik mengelola mimpi dan dendam. Tak perlu ada kucur darah. Tak perlu jua ada lingkaran dendam tiada berkesudahan. Dengan kearifan dan kesabaran, dendam, ternyata, dapat menghadirkan sebuah pencerahan yang bermanfaat untuk perbaikan diri dan kehidupan umat manusia.</p>
<p>*Penulis adalah penikmat sastra, staf ahli DPR RI</p>
<p>______________</p>
<p><strong>Catatan DM</strong>: Catatan ini dimuat di blog Penganyam Kata tak lain sekadar usaha pendokumentasian. Versi asli dan lengkap dari catatan ini tetap mesti dilihat di blog <a href="http://kalengbiru.blogspot.com/" target="_blank">kalengbiru.blogspot.com</a></p>
<p>Terima kasih, Mas Sugi… Percayalah, jika lenganku disayat, darah yang muncrat tetap darah manusia biasa tanpa kasta.</p>
<p>Sekali lagi terima kasih sudah menyempatkan hadir. Betul-betul tak menyangka. Sebuah kehormatan bagiku. Sukses selalu untuk Njenengan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.penganyamkata.net/2010/01/19/epitaph-cahaya-indah-dari-serpihan-luka/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Epitaph: Sebuah Kenyataan</title>
		<link>http://www.penganyamkata.net/2010/01/19/epitaph-sebuah-kenyataan/</link>
		<comments>http://www.penganyamkata.net/2010/01/19/epitaph-sebuah-kenyataan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 Jan 2010 09:19:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Daniel Mahendra</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Epitaph Serba Serbi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.penganyamkata.net/?p=1629</guid>
		<description><![CDATA[oleh Hardi Vizon
Sebetulnya sudah lama aku tuliskan sebuah ulasan untuk novel terbaru sahabatku Daniel Mahendra (DM) yang berjudul “Epitaph”. Tapi entah mengapa, tulisan itu tak kunjung ku publikasikan. Ada saja yang membuatku mengulur waktu. Sampai akhirnya, akupun berkesempatan untuk menghadiri soft-launch novel tersebut di Newseum Indonesia-Jakarta, 12 Januari 2010 kemarin, menghadirkan sebuah kenyataan yang membuatku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><a href="http://hardivizon.com/" target="_blank">oleh Hardi Vizon</a></strong></p>
<p>Sebetulnya sudah lama aku tuliskan sebuah ulasan untuk novel terbaru sahabatku Daniel Mahendra (DM) yang berjudul “Epitaph”. Tapi entah mengapa, tulisan itu tak kunjung ku publikasikan. Ada saja yang membuatku mengulur waktu. Sampai akhirnya, akupun berkesempatan untuk menghadiri soft-launch novel tersebut di Newseum Indonesia-Jakarta, 12 Januari 2010 kemarin, menghadirkan sebuah kenyataan yang membuatku sangat terkejut.</p>
<p>Epitaph bercerita tentang catatan perjalanan cinta dua anak manusia bernama Laras dan Haikal. Perjalanan cinta yang penuh romantika tidak biasa. Tidak biasa, karena mereka menjalankannya dengan penuh kualitas. Kualitas yang benar-benar kualitas. Tapi terpaksa terpisah untuk selamanya karena sebuah kecelakaan helikopter.</p>
<p>Laras, mahasiswa IKJ, yang terlibat dalam pengambilan gambar sebuah film dokumenter di Pegunungan Sibayak, Medan pada Agustus 1994 dinyatakan hilang bersama kedua sahabatnya, Birhi dan Tedi, serta dua awak helikopter tersebut. Jatuhnya sebuah helikopter sesungguhnya hal yang biasa saja. Namun, di sini menjadi sangat luar biasa, karena jatuhnya helikopter milik Angkatan Darat itu harus ditutup-tutupi dari pemberitaan. Media tidak mendapatkan berita yang sesungguhnya mengenai jumlah korban. Demi menjaga nama baik militer, mereka sama sekali tidak mengakui adanya warga sipil yang menjadi korban. Karena dikhawatirkan akan adanya citra buruk terhadap angkatan darat yang telah dengan semena-mena menyewakan peralatan milik negara kepada warga sipil.</p>
<p><span id="more-1629"></span></p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" src="http://penganyamkata.files.wordpress.com/2010/01/epitaph23.jpg" alt="" width="442" height="305" /></p>
<p>Dua tahun kemudian, yakni pada April 1996, puing heli itu beserta kerangka para korban ditemukan. Lagi-lagi dalam hal ini pihak angkatan darat hanya memberitakan ada dua korban di situ, yakni para awak heli tersebut. Ketiga kerangka warga sipil tersebut, disembunyikan. Pihak keluarga yang hendak mengambilnya diberi tiga persyaratan yang sungguh menyakitkan.</p>
<p>Pertama, tidak boleh ada pihak pers yang mengetahui kejadian ini. Kedua, tidak boleh ada upacara penyambutan, baik di bandara maupun di kampus IKJ. Dan yang ketiga, kerangka-kerangka tersebut tidak boleh dibawa pakai peti mati, melainkan dimasukkan ke dalam sebuah tas jinjing kecil dan dibawa ke dalam kabin! Aih… syarat ketiga benar-benar membuat emosi kita tersulut. Namun, itulah yang terjadi. Pihak keluarga tidak hanya bersedih yang sangat atas meninggalnya salah seorang anggota mereka, tapi juga sangat berduka atas perlakuan yang tidak manusiawi terhadap rangka tersebut. Meski sudah berupa rangka, tapi bukankah itu juga manusia yang mesti diperlakukan seperti manusia? Mengapa hanya demi nama baik sebuah institusi, kita musti mengorbankan rasa kemanusiaan kita? Bukankah kita harus memperlakukan mayat dengan cara yang baik dan halus? Argh… berbagai kekecewaan bergelayut di benak ini ketika membaca cerita di novel tersebut.</p>
<p>Lantas, apakah yang membuatku benar-benar terkejut dengan novel ini? Dalam acara tersebut, DM memutarkan film dokumentasi kejadian asli yang mengilhami novel tersebut. Sangat miris melihatnya. Dan yang tak kalah mengejutkan adalah bahwa ternyata tokoh Laras itu tidak lain adalah kakak kandung DM sendiri! Aku benar-benar tidak mengetahuinya. Aku terkejut bukan alang kepalang. Barangkali banyak sahabat narablog yang sudah mengetahuinya, tapi sungguh, aku baru saja mengetahuinya.</p>
<p>Keterkejutan itu membuatku tercekat. Sehingga, ketika giliranku tiba, sesaat setelah tayangan itu diputar untuk memimpin doa, aku kehilangan kemampuan berkata-kata. Tenggorokanku seolah tersumbat. Dadaku bergemuruh. Pikiranku kacau. Untaian kalimat doa yang sudah kupersiapkan hilang seketika. Cukup lama aku terdiam hingga akhirnya Cuma sanggup meminta hadirin untuk mengheningkan cipta dan berdoa dalam hati masing-masing.</p>
<p>Terbayang olehku betapa pergolakan emosi yang dialami DM sejak usianya 18 tahun, hingga saat ini. Sebuah rasa yang dipendam sebegitu lama. Dan dari rasa itulah novel ini terwujud. Namun, sungguhpun demikian, novel ini tidak lantas menjadi melankolis dan penuh luapan emosi. DM berhasil menyajikannya dengan manis dan membuat kita larut dalam kisahnya. Aku sangat menyarankan sahabat narablog untuk membaca novel ini. Bukan karena dia sahabatku, tapi karena novel ini memang pantas untuk dibaca, dan perlu…</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" src="http://penganyamkata.files.wordpress.com/2010/01/epitaph07.jpg" alt="" width="424" height="297" /></p>
<p><strong></strong></p>
<p style="text-align: center;">Ori Rahman [kiri], putra almarhum bapak Burhan Piliang dan D.M. [kanan], adik D.B.<br />
Tak menyangka, &#8216;Epitaph&#8217; mempertemukan mereka kembali, para keluarga korban peristiwa Gunung Sibayak.</p>
<p><strong>Catatan DM</strong>: Catatan ini dimuat di blog Penganyam Kata tak lain sekadar usaha pendokumentasian. Versi asli dan lengkap dari catatan ini tetap mesti dilihat di blog <a href="http://hardivizon.com/2010/01/15/epitaph-sebuah-kenyataan/" target="_blank">Surau Inyiak</a>.</p>
<p>Terima kasih Uda… Semoga Allah selalu melimpahi bertubi-tubi kebahagiaan bagi keluarga serta sahabat-sahabatmu.</p>
<p>Foto: Dokumentasi Enny Dyah Ratnawati.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.penganyamkata.net/2010/01/19/epitaph-sebuah-kenyataan/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Dari Hati ke Hati</title>
		<link>http://www.penganyamkata.net/2010/01/19/dari-hati-ke-hati/</link>
		<comments>http://www.penganyamkata.net/2010/01/19/dari-hati-ke-hati/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 Jan 2010 07:59:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Daniel Mahendra</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Epitaph Serba Serbi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.penganyamkata.net/?p=1626</guid>
		<description><![CDATA[Diskusi dalam Akikah Novel “Epitaph” di Newseum Café
oleh Enny Dyah Ratnawati

Saya mendapat undangan dari FB-nya Daniel Mahendra (atau lebih dikenal dengan nama singkatan DM), penulis Epitaph sebagai berikut:
Bincang Publik:
“Fakta di balik Novel Trilogi Epitaph”
bersama Taufik Rahzen, Sihar Ramses Simatupang, dan Daniel Mahendra.
Selasa, 12 Januari 2010
19.30 wib
Newseum Indonesia
Jalan Veteran I No.31
Jakarta Pusat

Saya mengenal DM dari ngeblog, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><a href="http://edratna.wordpress.com/2010/01/13/dari-hati-ke-hati%E2%80%A6diskusi-dalam-akikah-novel-%E2%80%9Cepitaph-di-newseum-cafe/" target="_blank">Diskusi dalam Akikah Novel “Epitaph” di Newseum Café</a><br />
<a href="http://edratna.wordpress.com/" target="_blank">oleh Enny Dyah Ratnawati</a></strong></p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" src="http://penganyamkata.files.wordpress.com/2010/01/epitaph21.jpg" alt="" width="451" height="318" /></p>
<p>Saya mendapat undangan dari FB-nya Daniel Mahendra (atau lebih dikenal dengan nama singkatan DM), penulis Epitaph sebagai berikut:</p>
<p>Bincang Publik:<br />
“Fakta di balik Novel Trilogi Epitaph”<br />
bersama Taufik Rahzen, Sihar Ramses Simatupang, dan Daniel Mahendra.<br />
Selasa, 12 Januari 2010<br />
19.30 wib<br />
Newseum Indonesia<br />
Jalan Veteran I No.31<br />
Jakarta Pusat</p>
<p><span id="more-1626"></span></p>
<p style="text-align: left;">Saya mengenal DM dari ngeblog, yang berkelanjutan kopdar saat Imelda pulang kampung ke Jakarta. Dari mengobrol inilah saya mengetahui bahwa DM seorang penulis, editor, dan banyak karya lainnya. DM menulis sejak masih SMP, dan tulisannya dimuat di media di kota tempatnya sekolah, di ujung timur pulau Jawa.</p>
<p>Tentu saja, saya berusaha untuk menghadirinya, apalagi teman-teman blogger yang lain, seperti Uda Vizon (dari Yogya), Nungki (dari Surabaya), beserta blogger Jakarta (Eka, Yoga) banyak yang hadir. Juga ketemu Koelit Ketjil, yang baru saya tahu setelah melihat dia komentar pada hasil foto acara di Newseum. Jadi ceritanya acara tersebut menjadi acara diskusi buku dan kumpul blogger dalam skala kecil, siapa yang ingin ikutan?</p>
<p>Saya mencoba menuliskan dari sisi pandang saya, acara di Newseum hari Selasa malam tersebut, namun ternyata konsepnya saja sudah menghabiskan 5 (lima) lembar, jadi mau tak mau harus terdiri dari dua artikel. Apalagi, yang menarik, justru acara bincang-bincang yang dipandu oleh Taufik Rahzen dan Sihar Ramses Simatupang, yang mencoba mencari fakta apa dibalik penulisan novel ini.</p>
<p>Taufik mengawali dengan menanyakan latar belakang mengapa DM menulis novel ini, setelah sepuluh tahun berlalu. DM menjawab bahwa pada saat kejadian, umur DM baru sekitar 18 tahun menjelang 19 tahun, masih sangat muda, emosinya juga belum tertata. Media saat itu tak bisa mempublish secara terbuka, bagaimana kejadian yang sebenarnya. Dia merasakan kesedihan, ada rasa ingin memberontak, saat melihat kerangka kakaknya yang hanya  dimasukkan dalam tas kecil hitam, di dalam kabin pesawat, seolah-olah hanya sebuah barang, tak boleh disemayamkan di IKJ dan harus langsung dibawa pulang ke rumah duka untuk dimakamkan. DM berjanji pada diri sendiri, suatu ketika ingin dituliskan.</p>
<p>Mengapa 10 tahun kemudian? Karena memerlukan pengendapan, dan riset, karena DM tak mengenal dekat bagaimana kampus IKJ, bagaimana kota Medan, walau saat kecil pernah tinggal di sana. Dia mulai mengumpulkan semua tulisan yang berkaitan dengan kejadian tersebut dan menyimpannya. Mengapa akhirnya menuliskannya? Karena ingin mengungkapkan sesuatu yang dulunya pernah di coba untuk ditutupi, hal yang sangat biasa terjadi dimasa lalu. menimbulkan berbagai pertanyaan yang tak kunjung ada jawaban.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" src="http://penganyamkata.files.wordpress.com/2010/01/epitaph33.jpg" alt="" width="431" height="317" /></p>
<p>Sihar mengungkapkan, bahwa inilah sebuah pembocoran paling kuat yang terjadi dalam suatu karya sastra. Dalam jurnalisme, pengungkapan sering tak bertahan lama, karena kemudian tertutup oleh berita lainnya yang lebih layak menjadi berita. Kekuatan buku sastra, adalah bisa menuliskan sesuatu yang ada sangkut pautnya dengan kejadian atau sejarah yang ada pada saat itu. Di dalam karya sastra, kekuatan emosi sulit dilepaskan. Jika  Martin Aleyda mengatakan, bahwa dahulu, dalam setiap novel mengandung unsur sejarah, menggambarkan bagaimana situasi pada saat itu,  pada saat ini novel sastra seperti ini bisa dikemas dari kisah nyata.</p>
<p>Dalam novel sastra, penulis bisa menyalurkan emosi yang membetot perasaan, tak sekedar nama, dan di novel ini DM bisa menahan suspense sampai akhir cerita. Seringkali seorang novelis tak bisa menahan diri, misalnya dengan memperpanjang atau mengeksplore cerita Laras, sampai panjang sekali. Namun DM justru menceritakan kembali ke cerita masa lalu Haikal-Laras sehingga mampu menahan pembaca tetap  membaca sampai akhir cerita. DM mampu menahan emosi, walau novel ini seperti mosaik kejadian-kejadian, namun DM berani membawa cerita dengan setiap kali membalik dari depan kebelakang dan balik lagi ke depan, tanpa kehilangan arah. Bagaimana Haikal bisa tahu cerita Laras yang merangkak di bawah helikopter, Sihar sempat bertanya melalui chatting, menanyakan apakah tokoh Langi adalah gambaran dari seorang Daniel? Kemampuan membuat suspense Daniel, membuat pembaca mau membaca sampai akhir.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" src="http://penganyamkata.files.wordpress.com/2010/01/epitaph51.jpg" alt="" width="441" height="294" /></p>
<p>Berbagai pertanyaan yang muncul saya rangkum seperti di bawah ini, mohon maaf jika tak bisa menuliskannya satu per satu, karena terkadang saya lupa menulis, karena sibuk mengambil foto, atau larut mendengarkan pembicaraan. Namun semoga tulisan ini tetap masih dapat menggambarkan apa yang terjadi pada diskusi akikah novel Epitapth di Newseum Café, Selasa Malam tanggal 12 Januari 2009.</p>
<p>Titi dari Tangerang, menanyakan karena peristiwa ini ada kaitan dengan kakak penulis, mengapa ditulis sebagai novel dan bukan non fiksi. Lisa, yang baru menyelesaikan membaca novel Selasa pagi, menanyakan tentang benda yang ditemukan di dekat kerangka…yang kemudian benda tsb diserahkan kembali pada DM,  sebelumnya selama pembacaan monolog rupanya dipakai oleh Lisa. Lisa juga mengatakan bahwa novel ini menyuguhkan hal-hal lain, ada rasa-rasa lain, rasa manis, yang terhanyut pada kisah cinta Laras dan Haikal. Mengapa Daniel menulis yang menjadi korban adalah Laras Sarasvati, tokohnya seorang cewek, padahal kisah aslinya seorang cowok? Apakah ada pertimbangan tertentu?</p>
<p>Fani Poyk (putri Gerson Poyk) menanyakan, jika ada keterikatan, biasanya unsur subyektivitas dan obyektivitas sangat mempengaruhi penulisan. Apa unsur subyektivitas dan obyektivitas dalam novel ini telah sesuai dengan kondisi saat itu? Apa behind the scene, dibelakang kejadian itu? Karena efeknya bisa luas.</p>
<p>Tria Arifin, mengucapkan selamat, mengatakan belum membaca buku tersebut. Kenapa pengungkapan tak dilakukan secara fair saja, misalkan  tulisan dengan judul “in memoriam hilangnya pesawat”. Kisah yang dibuat dalam bentuk in memoriam ini contohnya  banyak, seperti Sum Kuning, dan di Padang pernah ada kisah kapal yang hilang. Mungkin juga dalam epitaph ini Daniel dekat dengan korban, sehingga punya kemampuan dan keinginan untuk menulis serta mengungkapkan fakta yang ada, sehingga berguna bagi masa yang akan datang.</p>
<p>Hardi Vizon mengatakan mendapat surprise dalam dua hal: a) Kenyataan bahwa tokoh Laras terinspirasi dari kakak kandungnya DM. b) Hardi Vizon mulai merasakan ada unsur spiritualitas. Perjalanan dari Yogya ke Jakarta, Hardi Vizon mengulang lagi membaca novel Epitaph. Pas di udara, saat baca episode pesawat  meledak…saat itu pula pesawat yang di tumpanginya melalui turbulensi dan terjadi lonjakan-lonjakan. Buku langsung ditutup, ternyata Lisa juga mengalami hal yang sama. Dan saat diminta membaca doa, setelah tahu bahwa novel ini mendapat inspirasi dari kakaknya Daniel, Hardi Vizon merasakan nyaris tak sanggup lagi membacakan doa. Buku ini menambah pengetahuan Hardi Vizon, banyak yang kemudian menempel di otak , ada permenungan-permenungan dari  masing-masing kisah, yang banyak memberikan pembelajaran. Para penggiat pena, telah mengajarkan pada manusia dalam banyak hal, melalui penanya.</p>
<p>Nungki  merasakan kesedihan si penulis dari awal sampai akhir saat membaca novel ini. Ada rasa kesedihan penulis saat menggoreskan penanya. Ada beban penulis, konflik  yang terjadi…Nungki memang mengenal keluarga DM dari dekat, karena pernah menjadi tetangganya saat tinggal di kota kecil di ujung timur pulau Jawa. Bagaimana tanggapan keluarga saat novel epitaph di buat?</p>
<p>Lia Christie menanyakan apakah ada kemungkinan nanti novel ini bakal difilmkan?  Kenapa trilogi? Kenapa tak diselesaikan dalam satu buku?</p>
<p>Ada endorsement Sihar tentang hegemoni Negara pada novel ini. Sandika dari majalah Gatra, mengungkapkan pendapat Sihar yang mengemukakan bahwa Epitaph adalah tentang sebuah cerita yang berbingkai. Yang membutuhkan waktu untuk menelaahnya. Bagaimana perasaan DM setelah menuliskannya, apa ada rasa “plong”, rasa bahagia setelah menuliskannya?</p>
<p>Penanya dari Bandung (?), mengatakan bahwa saat Laskar Pelangi “booming”, dia menanyakan kepada DM, kenapa DM hanya selalu ingin di balik layar,  kenapa tak menulis novel sendiri? a). Jika dia dalam posisi DM, akan  menulis novel karena ada ceruk yang lebih banyak dibanding jika karya non fiksi. b) Kenapa Trilogi? Karena jika yang pertama tak sukses, ada risiko akan sulit memasarkan buku ke 2 dan selanjutnya.</p>
<p>Karena pertanyaan sudah banyak, dan buku yang dihadiahkan pada penanya juga sudah habis, panitia memutuskan menghentikan pertanyaan. Sihar mengemukakan bahasa yang digunakan DM cair, enak dibaca dan perlu….ini istilah yang tepat jika digunakan untuk mengomentari novel ini. Dibalik suspense, antar peristiwa yang dirangkum dalam novel ini, memperlihatkan sampai dimana kedalaman DM dalam membangun suspense dan untuk ini diperlukan suatu kontemplasi.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" src="http://penganyamkata.files.wordpress.com/2010/01/epitaph12.jpg" alt="" width="432" height="330" /></p>
<p>DM memberikan jawaban  secara garis besar atas semua pertanyaan, karena sulit jika dijawab satu per satu, apalagi banyak pertanyaan yang senada. Pertanyaan dapat dikategorikan dalam beberapa hal.</p>
<p>a). Kenapa novel? Puluhan media, saat itu sudah menulis. Namun siapa yang masih ingat? Pram juga menulis sebuah novel,  dan mengapa kok menulis novel? Kenapa bukan sejarah? Jika sejarah, siapa yang mau baca? Novel, usia berapapun bisa mengkonsumsi novel, dapat disimpan dan dikenang sampai kapanpun. Tulisan jurnalis akan terlupakan karena tertumpuk oleh berita-berita baru yang lebih  layak untuk diberitakan.</p>
<p>b) Mengapa nama tokohnya Laras? Ini dimaksudkan agar tak lebay…istilah anak muda sekarang. Bukan merupakan cerita asli, namun dikembangkan menjadi sesuatu yang baru. Justru karena bukan orang lain, DM dapat merasakan emosi yang ada. Bayangkan  mendapatkan kehilangan yang tak jelas, kalau mati, matinya dimana, caranya bagaimana, emosi ini yang diusahakan untuk dapat ditangkap. Bagaimana perasaan ayah, ibu, yang ditonjolkan ada rasa kehilangan, bukan subyektivitasnya. Pembaca diajak untuk membayangkan bagaimana kejadian ini menimpa keluarganya.</p>
<p>c). Mengapa trilogi? Pada tahun 2007 ditemukan lagi puing-puing helikopter, dan masih ditemukan tulang-tulang berserakan. Pada tahun 1996, ditemukan dot tag, dan pada tahun 2007 selain tulang belulang, masih ditemukan lempengan (DM menunjukkan lempengan yang tadi digunakan sebagai kalung oleh Lisa saat pembacaan monolog). Siapa yang menjamin bahwa tulang belulang yang ada, adalah milik kakak DM,  dan bukan milik pak Burhan Piliang (salah satu korban).  Dan kenapa trilogi, karena ingin menggali emosi yang ada. Bagaimana emosi keluarga pak Burhan alm, kel Temmy alm, dan keluarga  DM sendiri. Novel ini bukan berniat mendobrak atau menuju agar dicapai tatanan baru, hanya menceritakan apa yang terjadi, apa yang ada dan apa yang menjadi kenyataan. DM memerlukan riset, karena sejak tahun 1979 telah meninggalkan Medan. Pada saat itu, komunikasi hanya bisa lewat telepon rumah karena belum ada Hape. Sejak kejadian mulai mengumpulkan semua media yang menuliskan artikel berkaitan dengan kejadian tsb, serta mencoba membayangkan dan merangkaikannya.</p>
<p>d). Menjawab pertanyaan, apa daya tarik pasar bagi novel ini? Hal ini tentunya sulit  dijawab oleh DM sendiri. Sebelum ditelepon Kaki Langit Kencana, DM  mendapat desakan dari berbagai pihak, agar menuliskan cerita tersebut dalam bentuk kisah nyata. Karena kebenaran sesulit apapun, jika bisa kita ungkap, kenapa tidak dilempar keluar?</p>
<p>Taufik Rahzen menutup diskusi pada pukul 21.35 wib dengan memberikan tanggapan, bahwa  “DM adalah seorang penulis yang berbakat. Mengingatkan nya pada Pram saat awal-awal menulis, walau pada akhirnya DM telah bisa terlepas dari pengaruh itu. Dan karena tahu masalahnya, saya sekarang menunggu buku ke-2…, “kata Taufik sambil menutup acara dikusi.</p>
<p><strong>Catatan Enny Dyah Ratnawati</strong>: Mohon maaf jika masih ada kekurangan, saya mencoba menuliskannya diskusi yang terjadi pada malam itu.</p>
<p><img class="aligncenter" src="http://penganyamkata.files.wordpress.com/2010/01/epitaph43.jpg" alt="" width="207" height="310" /></p>
<p><strong>Catatan DM</strong>: Catatan ini dimuat di blog Penganyam Kata tak lain sekadar usaha pendokumentasian. Versi asli dan lengkap dari catatan ini tetap mesti dilihat di blog Ibu <a href="http://edratna.wordpress.com/2010/01/13/dari-hati-ke-hati%E2%80%A6diskusi-dalam-akikah-novel-%E2%80%9Cepitaph-di-newseum-cafe/" target="_blank">Enny Diah Ratnawati</a>.</p>
<p>Ribuan terima kasih Bu Enny, atas catatannya yang lengkap dan kronologis.</p>
<p>________________<br />
Foto: Dokumentasi Enny Dyah Ratnawati, Nike Rifa Sofania, dan Lisa Febriyanti.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.penganyamkata.net/2010/01/19/dari-hati-ke-hati/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>DM: Epitaph, Rindu Adik Pada Kakaknya</title>
		<link>http://www.penganyamkata.net/2010/01/18/dm-epitaph-rindu-adik-pada-kakaknya/</link>
		<comments>http://www.penganyamkata.net/2010/01/18/dm-epitaph-rindu-adik-pada-kakaknya/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 17 Jan 2010 17:53:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Daniel Mahendra</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Epitaph Review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.penganyamkata.net/?p=1624</guid>
		<description><![CDATA[Diposting: Sabtu, 16 Januari 2010 / 05:09:51 &#124; Oleh: annida &#124; Kategori: Berita Penulis
Annida-Online—Ada banyak cara seseorang memaknai sebuah kematian. Daniel Mahendra, penulis novel trilogy Epitaph, memilih menorehkan perspektifnya mengenai kematian lewat sebuah karya. Bermula dari rasa rindunya pula, DM, begitu ia biasa disapa, selalu mengingat proses kematian.
“Epitaph berbicara mengenai kematian. Tapi jauh di balik [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><a href="http://www.annida-online.com/berita-penulis/dm-epitaph-rindu-adik-pada-kakaknya.html" target="_blank">Diposting: Sabtu, 16 Januari 2010 / 05:09:51 | Oleh: annida | Kategori: Berita Penulis</a></strong></p>
<p><strong><a href="http://www.annida-online.com/" target="_blank">Annida-Online</a></strong>—Ada banyak cara seseorang memaknai sebuah kematian. Daniel Mahendra, penulis novel trilogy <em>Epitaph</em>, memilih menorehkan perspektifnya mengenai kematian lewat sebuah karya. Bermula dari rasa rindunya pula, DM, begitu ia biasa disapa, selalu mengingat proses kematian.</p>
<p>“<em>Epitaph</em> berbicara mengenai kematian. Tapi jauh di balik itu, makna yang ingin saya hadirkan dari sebuah kematian bukan sekadar kematian, tapi juga kehidupan, pemanusiaan, dan cinta. Epitaph mewakili itu semua, juga mewakili rasa rindu adik, kepada kakaknya yang hilang,” ungkap DM.</p>
<p>Novel pertama dari trilogi <em>Epitaph</em> ini memang diangkat dari kejadian nyata. Sang kakak, Diaz, adalah sumber inspirasi penulisnya. Novel yang penuh dengan nuansa kematian ini bertutur tentang kisah cinta Laras, mahasiswi IKJ, dan Haikal yang harus dipisahkan oleh sebuah kecelakaan helikopter. Romansa percintaan ini dikemas dalam liku misteri karena kecelakaan helikopter yang dialami oleh sang tokoh utama dalam sebuah pengambilan gambar film dokumenter di Pegunungan Sibayak, Medan, pada pertengahan 1994 lalu, ditutup-tutupi dari pemberitaan media.</p>
<p><span id="more-1624"></span></p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" src="http://penganyamkata.files.wordpress.com/2010/01/epitaph53.jpg" alt="" width="450" height="301" /></p>
<p>“Tokoh Laras adalah kakak saya tercinta; Diaz. Ada kejadian lain yang selalu membangkitkan saya untuk menyelesaikan novel ini saat mengenang kepergian kakak saya tersebut,” jelas DM.</p>
<p>Menurut DM, hal yang selalu menyisakan kesedihan adalah perlakuan tak semena-mena dari petugas militer setempat yang diterima oleh keluarganya saat membawa pulang jenazah sang kakak yang ditemukan dua tahun pascakecelakaan. Tak banyak yang tahu tentang peristiwa tersebut karena salah satu syarat yang diajukan oleh petugas adalah dengan menyimpan rapat-rapat peristiwa tersebut dari media.</p>
<p>“Ini yang saya tuangkan pula dalam <em>Epitaph</em>, sehingga <em>Epitaph</em> juga tengah menyajikan cerita tentang kemanusiaan,” imbuh DM.</p>
<p>Meskipun diilhami oleh kisah nyata yang dialami oleh sang penulisnya, DM mengakui bahwa karyanya ini hanyalah sebuah novel, yang artinya tak semua bagian dalam novel ini benar nyata adanya. Ada bagian-bagian di mana ia menggunakan imajinasinya sebagai seorang penulis. “Bagian mana yang fiktif dan fakta, silahkan menilai dan membacanya sendiri,” ujar DM penuh teka-teki.</p>
<p>Namun yang terpenting, kombinasi antara imajinasi dan fakta yang dirasakan oleh DM sendiri telah menghadirkan <em>Epitaph</em> sebagai novel yang bukan sekadar humanis, tapi juga turut menggugah emosi setiap pembacanya. [<strong>nyimas</strong>]</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" src="http://penganyamkata.files.wordpress.com/2010/01/epitaph03.jpg" alt="" width="450" height="336" /></p>
<p><strong>Catatan DM</strong>: Ini wawancaranya kapan ya&#8230; Hehehe. But thanx.<br />
Foto: Dokumentasi Lisa Febriyanti dan Enny Dyah Ratnawati.<strong><br />
</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.penganyamkata.net/2010/01/18/dm-epitaph-rindu-adik-pada-kakaknya/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Penerbit Kaki Langit Kencana Gelar Diskusi Buku “Akikah Novel Trilogi Epitaph”</title>
		<link>http://www.penganyamkata.net/2010/01/17/penerbit-kaki-langit-kencana-gelar-diskusi-buku-%e2%80%9cakikah-novel-trilogi-epitaph%e2%80%9d/</link>
		<comments>http://www.penganyamkata.net/2010/01/17/penerbit-kaki-langit-kencana-gelar-diskusi-buku-%e2%80%9cakikah-novel-trilogi-epitaph%e2%80%9d/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 17 Jan 2010 04:59:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Daniel Mahendra</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Epitaph Serba Serbi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.penganyamkata.net/?p=1625</guid>
		<description><![CDATA[Diposting: Kamis, 14 Januari 2010 / 09:46:34 &#124; Oleh: annida &#124; Kategori: Berita Penerbit

Annida-Online—Alunan denting biola dimainkan apik oleh Da’an Danang Setiawan untuk mengiringi monolog yang dibawakan oleh Lisa Febriyanti. Aksi dua orang tersebut mengawali acara bedah buku bertajuk “Akikah Novel Trilogi Epitaph” yang digelar oleh penerbit Kaki Langit Kencana di Newseum Café, Jakarta, Selasa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><a href="http://www.annida-online.com/berita-penerbit/penerbit-kaki-langit-kencana-gelar-diskusi-buku-%E2%80%9Cakikah-novel-trilogi-epitaph%E2%80%9D.html" target="_blank">Diposting: Kamis, 14 Januari 2010 / 09:46:34 | Oleh: annida | Kategori: Berita Penerbit</a></strong></p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" src="http://penganyamkata.files.wordpress.com/2010/01/epitaph30.jpg" alt="" width="457" height="316" /></p>
<p><strong><a href="http://www.annida-online.com/" target="_blank">Annida-Online</a></strong>—Alunan denting biola dimainkan apik oleh Da’an Danang Setiawan untuk mengiringi monolog yang dibawakan oleh Lisa Febriyanti. Aksi dua orang tersebut mengawali acara bedah buku bertajuk “Akikah Novel Trilogi Epitaph” yang digelar oleh penerbit Kaki Langit Kencana di Newseum Café, Jakarta, Selasa (12/11) lalu. Diskusi yang mendatangkan sang penulisnya; Daniel Mahendra dan dua orang pembicara; Taufik Razen dan Sihar Ramzes Simatupang, berlangsung mengalir juga mengharukan. Hal ini karena peserta yang datang tidak saja disuguhkan obrolan mengenai proses kreatif penulisnya dalam meramu <em>Epitaph</em>.</p>
<p>“Kami juga memutar film yang bercerita tentang tiga orang awak helikopter yang tengah membuat film dari udara, sebelum helikopter tersebut hilang dan ketiga awaknya tak ditemukan hingga saat ini. Salah satu awaknya adalah Diaz, kakak kandung Daniel. Dan, kisah inilah yang menginspirasi Daniel dalam menulis novel <em>Epitaph</em>,” jelas Syarifuddin Azhar, dari penerbit Kaki Langit Kencana.</p>
<p><span id="more-1625"></span></p>
<p>Saat pemutaran film dokumentasi milik mahasiswa Institut Kesenian Jakarta ini, nampak DM, sapaan akrab sang penulis, larut dalam suasana haru mengenang sang kakak tercinta. DM mengakui bahwa <em>Epitaph</em> memang diangkat dari kisah nyata. Dan inspirasi terbesarnya adalah kehilangan sang kakak yang dicintainya.</p>
<p>“Epitaph ini berkisah tentang kematian, namun gambaran kematian yang dikemas oleh DM menjadi sesuatu yang indah dan patut untuk direnungi karena olahan cerita dan alur yang baik dari sang penulis,” lanjut Syarifuddin.</p>
<p><em>Epitaph</em> bercerita tentang proses pencarian kekasih yang hilang di udara. Haikal, sang tokoh utama dalam novel, harus menempuh jalan yang berliku dalam membongkar jejak hilangnya Laras, kekasihnya yang hilang dalam sebuah misi kemanusiaan. Namun, dalam proses pencariannya, Haikal justru menemukan sejumlah fakta lain yang menarik untuk diungkap.</p>
<p>Meskipun membahas kematian, Syarifuddin menegaskan bahwa misi novel ini adalah mengajak para pembacanya tentang esensi dari kematian itu sendiri. Bahwasanya kematian adalah sebuah keniscayaan, maka hanya dengan membekali diri dengan segala kebaikan di dunialah setiap orang bisa bersiap untuk menghadapinya. [<strong>nyimas</strong>]</p>
<p>Foto: Dokumentasi Nike Rifa Sofania.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.penganyamkata.net/2010/01/17/penerbit-kaki-langit-kencana-gelar-diskusi-buku-%e2%80%9cakikah-novel-trilogi-epitaph%e2%80%9d/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
